Masa Depan Pertanian dan Optimisme Ketahanan Pangan

Ketika mengunjungi rumah ibu beberapa waktu lalu, ada pemandangan menarik di area persawahan kampung kami. Pada sore hari kami membawa anak-anak terjun ke sawah yang kering kerontang untuk mengikuti jejak ibu. Beliau menuturkan sore itu seluruh warga kampung yang punya petak sawah akan melakukan pemasangan racun guna membasmi tikus yang mewabah.

sawah2

Hanya tangis

Selama ini tindakan peracunan dilakukan secara sporadis oleh masing-masing pemilik sawah. Terbukti tidak efektif, karena tikus justru kian merajalela, perangkat desa setempat pun menganjurkan untuk meracun secara massal pada waktu bersamaan. Entahlah bagaimana hasilnya kemudian. Yang jelas, tikus memang menjadi momok bagi petani pada musim panen kali ini. Menurut Pakde saya, hampir seluruh petak yang ditanami jagung, semangka, kedelai, atau kacang hijau ludes dimakan tikus–hanya menyisakan kerugian dan tangis bagi petani lokal.

Dari situlah terasa betul betapa berat hidup bertani pada masa kini. Anak-anak zaman sekarang, termasuk saya, sudah tak punya gairah untuk melanjutkan estafet pengolahan pertanian. Karena selain berat dan pupuk mahal, hasilnya sering tidak s epadan dengan modal. Tak heran bila banyak tanah pekarangan dan sawah yang dijual untuk diubah menjadi kompleks pertanian. Sejenak saya pesimis dengan gerakan ketahanan pangan di negeri ini.

Ulus sang penggerak

Nah, di tengah minat terhadap dunia pertanian yang kian menurun, apalagi di kalangan muda, sosok Ulus Pirmawan seolah mengembuskan angin optimisme mengenai ketahanan pangan di negeri ini. Sudah bukan rahasia lagi kita dengar ketahanan pangan sebagai isu yang mendesak meskipun praktiknya begitu kompleks dan kadang kontraproduktif.

Petani asal Lembang bernama Ulus Pirmawan telah diganjar penghargaan “Petani Teladan se-Asia-Pasifik” dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) pada pertengahan Oktober silam. Ulus dianggap telah berhasil menciptakan kemandirian dalam pertanian, dari hulu sampai hilir, termasuk mengangkat nasib para petani di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Selain Ulus, ada empat petani lain yang menerima penghargaan serupa yakni Shafiqa Wahidi dari Afghanistan, Eri Otsu dari Jepang, Boonpheng Nasomyon asal Thailand, dan Indra Kumari Lawati dari Nepal.

Ekspor dan kesohor

Kendati hanya menamatkan pendidikan SD, Ulus nyatanya mampu mengolah lahan pertanian dan dipercaya menjadi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Pangupay di kampungnya. Berkat ketekunan dan keuletannya, komoditas unggulan Gapoktan Wargi Pangupay yakni buncis Kenya (baby buncis) dapat diekspor ke Singapura sejak tahun 2015.

“Selain baby buncis yang jadi andalan kami, sayuran lainnya yang dihasilkan para petani di Kampung Gandok di antaranya ialah tomat, buncis, kol, brokoli, sawo, terong, dan cabai,” ujar Ulus.

Pada tahun 2005 sejumlah peneliti dari Jepang berkunjung ke Lembang dan mencicipi baby buncis dan buncis tersebut dinyatakan sempurna dan layak diekspor.

Menurut Sisca wakil FAO Indonesia Ulus berhasil memenuhi tiga kriteria atau triple-win yakni peningkatan produksi, penambahan penghasilan petani, dan peningkatan nutrisi. Semoga kisah Ulus bisa menginspirasi pemuda lain sehingga ketahanan pangan bukan lagi menjadi slogan.

Advertisements

One thought on “Masa Depan Pertanian dan Optimisme Ketahanan Pangan

  1. Bertani selain tekun dan kerja fisik, hasil akhir harus benar-benar percaya dan ikhlas.
    Kalau tidak, pas gagal, bisa berhenti dalam linangan air mata. Ternyata petani tetap bangkit.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s