15 Permainan Masa Kecil yang Penuh Kenangan (Bagian II)

main2

Setelah melihat dua permainan pada tulisan sebelumnya, berikut lima permainan lain yang tak kalah menarik.

3. Damparan

Damparan biasa dimainkan oleh beberapa orang tanpa berkelompok. Setiap pemain harus memiliki obak berupa lempengan batu agak besar karena batu-batu tersebut akan ditata secara tegak di atas tanah sebagai target lemparan pemain lain. Saya kurang jelas mengingat aturan permainan ini. Kalau tak salah ingat, setiap pemain bergiliran melemparkan obaknya untuk merobohkan obak lain yang berdiri nun di sana.

Tahap pertama adalah melemparkan menggunakan tangan, sedangkan tahap kedua melemparkan obak dengan bantuan punggung kaki yang dihentakkan ke depan agar meraih kekuatan peluncuran menuju obak lain yang disasar. Ketepatan melempar sangat diandalkan di sini karena biasanya letak obak dan pemain cukup jauh.

Ada satu kejadian pahit dalam permainan ini ketika saya berbohong akibat takut saat diinterogasi oleh bapak guru sewaktu SD kelas 5. Saat melemparkan obak saya menuju obak yang dipasang, rupanya obak terlalu kencang dan menghantam akar pohon akasia yang menyembul di atas tanah. Walhasil, teman sekelas bernama Eko harus menanggung insiden itu. Batu mental dari akar dan melesat menggores keningnya. Semua berjalan begitu cepat hingga ia mengaduh kesakitan.

Mungkin saat itu tidak berhati-hati memilih medan yang lebih luas. Menyenangkan tapi butuh akurasi dan ketangkasan.

4. Karetan

Seperti namanya, karetan berarti melibatkan karet gelang warna-warni itu. Permainan ini sangat mudah. Bila tiga permainan sebelumnya melatih olah fisik dan daya tahan, karetan lebih fokus pada ketepatan. Setiap pemain bergiliran melempar karet miliknya menuju empat kotak nun di sana yang dijaga oleh seorang pemain.

Jika karet tepat masuk di dalam kotak, ia akan mendapat imbalan karet lebih banyak sesuai angka. Namun jika karet jatuh di luar kotak, maka karet itu berhak dimiliki pemain yang berjaga. Kalau lemparannya lihai, karetnya bisa bertambah dan bertambah. Bisa dipakai buat sementronan.

5. Sementronan

Apa itu sementronan? Saya tak pernah tahu arti harfiahnya. Yang jelas ia mirip lompat tali menggunakan karet yang dipilin bersusun-susun memanjang. Siapa bilang lompat tali monopoli anak cewek doang? Oh, tidak. Saya sering ikut sementronan dan cukup lihat melompat tinggi—waktu kecil, hehe….

Bisa dimainkan secara berkelompok, biasanya masing-masing terdiri dari 2 orang. Dua orang memegang tali di kedua sisi sedangkan dua pemain lawan akan mengikuti lompatan demi lompatan dari yang terendah hingga tertinggi tanpa boleh tersentuh oleh kakinya. Biasanya ketinggian tali dimulai dari mata kaki, naik ke lutut, pinggang, dagu, hingga kepala. Namun ada pula saatnya tali diangkat hingga ketinggian maksimal sesuai jangkauan tangan kedua pemain.

Seingat saya, mulai setinggi dagu pemain boleh menyentuhkan kakinya asal tali terlewati. Karena kaki saya panjang, saya paling suka melakukan gerakan nlelang yaitu menjangkau tali dengan kedua kaki sementara kedua tangan menjadi tumpuan di bawah. Semacam kayang tapi bergerak ke samping, berputar seperti roda kendaraan. Setinggi apa pun pemain lawan, saya biasanya bisa melewati tali. Horeee!

6. Jamuran

Ini tak ada hubungan sama sekali dengan jamur kulit loh meskipun saya menduga nama permainannya merujuk pada tumbuhan yang subur di musim hujan yakni jamur. Cara bermainnya sangat mudah, sesuai nama yang disandang. Jumlah pemain tak terbatas, yang penting ada penjaga dan sisanya mendengarkan perintah penjaga tersebut.

Mendengarkan perintah? Bukan cuma mendengar kok tetapi melaksankannnya juga. Dari sinilah mungkin kata jamur diadopsi. Para pemain biasanya bertanya kepada penjaga, “Jamur opo?” yang akan dijawab dengan mengucapkan, “Jamur godhong jambu!” yang merupakan perintah agar seluruh pemain mencari, menyentuh atau memegang daun jambu.

Ketika ada pemain yan terlambat meraihnya atau gagal menemukannya, maka penjaga akan mengejar dan menyentuhnya agar ia terbebas menjadi pemain biasa. Perintah yang diberikan sepenuhnya terserah pada penjaga. Tak hanya benda mati yang harus disentuh atau dipegang. Tak jarang penjaga sengaja iseng dengan meminta pemain untuk menyentuh siapa saja yang sedang lewat di area permainan. Suatu kali seorang nenek yang hendak ke toko kebingungan karena harus diserbu banyak anak untuk dipegang. Suasana tentu saja heboh. Yang telat memegang dan keburu ditangkap penjaga harus mengganti posisinya sebagai penjaga baru.

7. Alus-Duran

Entah apa makna alus-dur di sini, tak ada yang pernah bercerita. Menurut yang bisa saya ingat, ini permainan tebak-tebakan yang menuntut kerja sama tim. Biasanya dimainkan oleh dua kelompok. Kelompok yang pertama menyajikan sesuatu, entah benda atau kegiatan, lalu kelompok lain mencoba menebaknya. Saat benda tau kegiatan sedang diperagakan, kelompok lain boleh melemparkan jawaban kepada kelompok peraga disusul dengan pertanyaan, “Alus?”

Jika jawaban salah, kelompok peraga akan menjawab, “Alus.” Namun jika tebakan benar, mereka akan menjawab, “Dur!” dan kelompok bisa bertukar peran. Permainan ini sangat menyenangkan karena menguji imajinasi dan memerlukan kontribusi dari setiap anggota untuk merumuskan jawaban yang tepat atau mendekati.

Adakah yang sama dengan permainan yang biasa BBC Mania mainkan sewaktu kecil? Sampai jumpa di tulisan terakhir berisi 8 permainan berikutnya. Selamat berakhir pekan!

Advertisements

One thought on “15 Permainan Masa Kecil yang Penuh Kenangan (Bagian II)

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s