10 Merek Ponsel yang Pernah Menemani

ponsel

Dua dasawarsa lalu ponsel (telepon seluler) atau yang juga kita kenal dengan telepon genggam belum semasif sekarang kondisinya. Bukan hanya langka kepemilikannya, tetapi perkembangan peranti lunaknya pun tidak seekstrem saat ini. Yang paling fenomenal adalah revolusi bentuk dan kemampuan bawaannya. Dahulu ponsel kebanyakan besar bentuknya hingga beralih ke aneka bentuk unik bahkan menyerupai daun.

Tren saat itu adalah semakin kecil ponsel yang kita miliki maka semakin keren dan bergengsilah kita. Namun ketika imperium Nokia runtuh oleh penetrasi Android, bentuk ponsel boleh dibilang tidak berkembang secara signifikan. Justru sebaliknya, dari layar yang sempit menuju bentang layar yang lebih lega. Semua berawal dari inovasi Apple yang meluncurkan Iphone seri pertama kira-kira tahun 2007. Sejak saat itu hampir semua merek ponsel, baik nasional maupun global, memproduksi smartphone (dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan ponsel pintar) berlayar datar dengan mode sentuh, geser, dan ketuk.

Kemampuan prosesor dan kameranya pun berkembang sangat pesat. Dengan dutemukannya kanal Internet 4G atau LTE, ponsel pintar semakin moncer pamornya. Alih-alih membahas peralihan bentuk atau teknologi ponsel pintar, saya akan menuliskan sejumlah merek yang produknya pernah menemani hari-hari penuh suka dan duka. Tentu selalu ada alasan di balik bergantinya ponsel satu ke ponsel berikutnya. Mari kita simak.

1 – Nokia

Siapa tak kenal raksasa teknologi dari Finlandia ini? Ketika membuka tabloid Pulsa yang sangat akrab di kalangan anak kos, ponsel besutan Nokia nangkring di urutan pertama hingga beberapa halaman. Harga beli dan jualnya relatif stabil. Bentuknya pun variatif, makin unik makin mahal tentu saja.

Ponsel pertama dari pabrikan Nokia saya dapatkan secara tak sengaja. Maksudnya tanpa rencana. Awalnya saya dihibahi nomor perdana yang waktu itu harganya masih terbilang lumayan—apalagi bagi anak kos hehe. Saya lalu bergantian menggunakan ponsel milik teman sekamar yang juga donatur nomor tersebut. Jadi untuk mengecek pesan atau sms yang masuk, saya harus meminjam ponselnya. Itu kalau dia tak pulang kampung setiap akhir pekan.

Cerita berubah ketika seorang temannya butuh bantuan saya dan sebagai imbalannya saya mendapat upah yang nilainya cukup untuk memboyong ponsel Nokia batangan. Batangan tentu saja menyiratkan ponsel itu bekas orang lain. Konter-konter kecil hingga besar banyak sekali menjajakan ponsel Nokia kala itu.

Senang bukan kepalang, ponsel pertama akhirnya di genggaman. Namun sayang, ponsel itu rupanya tak tahan lama. Layarnya perlahan sering tidak memunculkan gambar/teks sehingga perlu direkat dengan karet gelang. Haha, tahu kan sekarang sejarahnya kenapa ada ponsel yang dibilang pedas? Karena karetnya dua! Karena waktu itu sudah bekerja sebagai pengajar di suatu lembaga kursus, saya pun tukar tambah ponsel lama dengan ponsel Nokia dengan ukuran jumbo yang sangat legendaris. “Nggo mbalang kirik!” ujar banyak teman yang berarti “buat lempar anjing” mengingat bentuknya yang kokoh dan besar, hihi.

Setelah baterainya soak dan sulit cari gantinya, beralihlah ke ponsel ketiga.

2 – Siemens

Lepas dari Nokia, saya terpikat oleh ponsel besutan perusahaan Jerman. Kali ini ada kemajuan sebab saya membeli ponsel dalam keadaan baru, bukan bekas. Bangga tentu saja apalagi saat itu ponsel silver dari Siemens yang saya punya termasuk jajaran keren. Bisa beli ponsel baru setelah meraup honor menerjemahkan dari seorang dosen yang sudah seperti ayah sendiri.

Dosen ini juga meminjami saya komputer miliknya untuk merampungkan proyek penerjemahan tersebut plus akhirnya menghibahkannya untuk saya miliki sebagai senjata mengerjakan skripsi. Ceritanya pernah saya singgung di sini. Namun sayang ponsel Siemens ini tak bertahan lama sebab rupanya ia produk BM alias black market. Penyakitnya seragam: biasanya gambar atau teks mendadak hilang dari layar.

3 – Samsung

Lulus kuliah, jam mengajar di tempat kursus pun bertambah. Saatnya berganti ponsel sebab Siemens sudah tak memadai. Jatuhlah pilihanku ke Samsung yang saat itu punya produk keren dengan fitur polyphonic dan sudah full color pula layarnya. Tidak mudah untuk mendapatkan ponsel kece ini sebab harus kutebus dengan kredit.

Untungkah bukan kredit di rentenir jahat, tapi mencicil pada seorang sahabat yang kebetulan ingin berganti ponsel. Ia memang dari keluarga berada dan cukup mudah membeli barang mewah saat itu, semisal ponsel dan komputer baru. Saya bersyukur ia berkenan mengizinkan saya memiliki ponselnya dengan metode mengangsur. Kalau tak salah dua kali atau tiga kali bayar karena harganya cukup besar untuk tenaga lepas di lembaga kursus.

Samsung yang kusayang, yang sering menempel di pinggang setiap kali mengajar dengan suara nyaring itu, akhirnya raib digondol orang. Sedih banget tentu saja. Saat mengantar anak-anak tur ke Yogya, ponsel itu bebrpindah ke tangan lain. Malam hari ketika akan balik ke Semarang, ada sejumlah peserta yang belum kembali ke bus. Saya yang bertugas jadi ketua panitia akhirnya mencari mereka di Malioboro yang gemerlapan. Saat mencari mereka itulah, ponsel hilang—entah jatuh entah dirogoh orang. Namun kemungkinan besar yang kedua. Syeedihhhh ….

Hilangnya ponsel besutan pabrik dari Korea itu jujur bikin shocked. Betapa tidak, bukan hanya bagus banget namun belinya tuh harus pakai mencicil sampai mata mecicil, hiks. Setelah itu sepertinya agak lama baru punya ponsel lagi karena faktor finansial. Cinta lama bersemi kembali; saya balik ke Nokia batangan: mungkin 3310 atau 3330 yang terkenal bandel itu.

4 – LG

Pindah ke Bogor, saya masih setia dengan pabrikan Finlandia itu. Hingga kira-kira setahun kemudian saya melirik ponsel yang dibuat rekan senegara Samsung, yakni LG yang jelas tak bisa dipandang sebelah mata. Waktu itu Android belum gempar di Indonesia, baru sebatas polyphonic dengan warna yang tajam dilengkapi kamera yang semakin meningkat sensornya.

Ponsel cakep ini pun raib selepas Jumatan pada bulan Ramadhan. Ceritanya, saya kebagian jadi ketua panitia buka bersama di kantor dan hari itu harus memastikan kehadiran penceramah. Entah bagaimana ponsel itu terjatuh atau terlepas dari kantong baju/celana—yang jelas saya saat itu kalut karena jadi tak bisa lagi berkomunikasi.

Setelah itu agak lupa apakah pindah lagi ke Nokia atau beli ponsel LG lagi dengan tipe yang lebih rendah.

5 – Haier

Sewaktu menikah dan sudah resign dari tempat kerja, saya butuh terkoneksi ke jaringan Internet untuk menerima dan mengirimkan pekerjaan serta mencari anke informasi di Google. Sebenarnya ponsel ini bukan peranti utama sebab memang saya beli sebagai modem walaupun tetap bisa dipergunakan sebagai ponsel untuk melakukan panggilan atau berkirim pesan. Produsen asal Tiongkok ini terbilang punya banyak produk elektronik, terutama mesin cuci, televisi, hingga AC. Kini kurang terdengar seiring munculnya merek baru dari negara yang sama.

6 – Motorola

Merek Amerika yang kini diakuisisi oleh Lenovo ini sudah lama saya incar. Desainnya sangat menarik dan unik dengan daya tarik utama adanya MS Word bawaan pabrik sebab saat itu Android belum populer. Saya butuh banget MotoQ9 ini sebab akses Internetnya sudah HSDPA sehingga berkirim email atau browsing sangat mudah. adanya PDF reader menjadi keuntungan lain sebab saya bisa membaca ebook sebab kala itu belum populer ePub yang nyaman seperti sekarang.

Pengalaman bersama Motorola terbilang romantis. Daya baterai oke, layar mumpuni, prosesor juga bisa diandalkan untuk bekerja. Lama-lama warna huruf pada papan ketik mulai pudar sehingga saya tak nyaman lagi menggunakannya. Terpikatlah saya oleh pesona Lenovo yang kala itu dijual secara eksklusif lewat gerai Indomaret.

7 – Lenovo

Selain harganya hemat, ponsel berwarna hitam dan kuning ini sudah menawarkan fitur dual sim card sehingga saya tak perlu bongkar pasang baterai untuk berganti nomor. Saat itu pabrikan lokal seperti Nexian dan Imo juga Mito jjuga gencar menawarkan fitur dua bahkan triple sim card slot. Namun Lenovo yang saya pilih mengingat pamor komputer besutannya sudah saya kenal terlebih dahulu.

Setelah membeli divisi PC milik IBM, langkah perusahaan asal Cina ini memang seolah tak terbendung. Lihatlah seri laptop yang dikeluarkannya, bentuk dan desainnya beragam dengan harga yang cukup menggiurkan. Saat ini pun saya menggunakan laptop Lenovo untuk mengetik dan keperluan lainnya termasuk mendesain atau yang agak berat. Raksasa ini semakin kuat setelah ia membeli Motorola dari Google sebab Google seperti ogah mengembangkannya.

8 – Blackberry

Di luar lingkaran negara penghasil perangkat teknologi pada umumnya, Kanada punya Blackberry. Ponsel inilah yang kemudian menggantikan Lenovo yang sudah uzur. Lemot dan pupusnya warna huruf akhirnya membuat saya memensiunkaannya. Beli Blackberry (BB) tentu bukan sekadar ikut tren belaka meski harus diakui kala itu membuat status di Facebook dengan logo enam titik khas BB akan menunjukkan kelas tersendiri.

bbm

Saya tidak termasuk dalam golongan tersebut. Seperti pembelian ponsel lainnya, saya terdorong membeli ponsel BB karena kebutuhan—juga kemampuan finansial tentu saja. Saat itu saya dipercaya menerjemahkan lirik lagu oleh penulis lagu dari Kuala Lumpur yang lebih nyaman dan cepat jika kami bertukar pesan melalui BBM (Blakcberry Messenger). Biasanya kami melakukan chat di kolom message Facebook dengan syarat harus terlebih dahulu janjian.

Ponsel BBM lipat itu masih saya simpan hingga kini meskipun sudah tak bisa dioperasikan lagi. Secara fisik memang masih keren karena bentuk clamshell yang jarang ada apalagi untuk ponsel Android sekarang. Ponsel BBM ini waktu itu adalah ponsel sekunder sebab saya juga pakai ponsel Samsung yang juga bermodel clamshell seperti pernah saya tulis ulasannya di sini.

9 – ZTE

Pabrikan dari Tiongkok satu ini mungkin tak sepopuler beberapa teman senegaranya. Namun di Amerika atau Eropa ia punya pasar yang loyal loh. Sebagaimana istri saya, saya juga pernah menggunakan ponsel ZTE sebagaimana saya ceritakan kehebatan kameranya di sini.

Waktu itu beli ZTE karena sedang ada promo di supermarket Giant dekat rumah dengan spesifikasi yang sangat lumayan. Sudah Android tentu saja sehingga saya mupeng jajdinya. Apalagi saya sudah menyaksikan istri merampungkan sebuah buku berkat ponsel ZTE juga. Tak ada keluhan selama memakai ZTE ini selain akhirnua baterai melemah dan sulit cari baterai orisinalnya. Ponsel ini masih ada di rumah sebagai mainan anak-anak.

10 – Xiaomi

Ini merek ponsel yang tak habis-habis menggebrak pasar dengan sensasi. Beberapa bulan lalu Xiaomi merilis Redmi 5A dengan harga 999 ribu rupiah dengan jeroan yang bikin kompetitor kalang kabut. Sayang banget banyak calon konsumen mengeluh sebab flash sale di Lazada sering berujung pada kekecewaan. Saya sendiri pun hendak ikut dan mengurungkan niat lantaran sentimen tersebut.

Saya sangat puas menggunakan Redmi 2 hingga kini atau lebih dari dua tahun lamanya. Ini boleh dibilang rekor terlama bagi saya memiliki ponsel yang mumpuni. Hanya sekali sempat diservis di gerai resmi saat masih di Bogor dan setelah itu tak pernah lagi ada masalah. Prosesornya gegas, kameranya bening, kemampuan akses Internet 4G-nya juga mengesankan.

Sayang sekali sejak ikut APNE 2017 di Pekalongan tahun lalu, kameranya mulai buram—sepertinya akibat banyak goresan. Sudah saatnya ganti kali ya. Tapi masih betah nih! Kalau butuh kamera yang lebih bening, tinggal pinjam ponsel LG milik Bunda duo Xi.

Bagaimana dengan BBC Mania, pernah pakai merek ponsel apa saja? Tentu ada alasan atau story-nya kan?! Sambil liburan, yuk cerita di kolom komentar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “10 Merek Ponsel yang Pernah Menemani

  1. Hohooooo
    Cukup banyak juga ya merk2 hp yang sempat singgah

    Kalau aku.. Saat SMP pake LG yang gak ada kameranya, tapi berwarna, buat komunikasi aja
    Saat SMA, pake nokia x2 yang kameranya oke meski keypadnya belum qwerty
    Saat kuliah, pake asus zenfone seri 1, harga gak ssampe satu juta
    Asus nya gak kuat lagi setelah 2 tahun, terus pake oppo yang 2juta. Lah kok hapenya hilaaaang. Aku suedih
    Pas hape hilang, aku menang lomba, dapat duit 1 juta, kubelikan xiomi bekas
    Alhamdulillah… Ini hapenya baru jalan bulan ketiga, udah minta ganti baterai… Huuu laaaaah…

    Duuuh aku pengen nulis juga nih di blog

    Like

  2. Wah, kebalikannya aku nih. Aku hape pertama, kedua, dan ketiga Siemens semua. Mulai dari A35 (hak guna pakai), C35 (beli second), lalu M35 yang beli baru pakai uang tips tamu selama magang sebagai bellboy di Novotel Solo. Setelah itu Nokia merajalela, tapi aku malah pilih ZTE entah tipe apa, yang jelas dia hape CDMA. Baru setelahnya pakai Nokia N70 selama bertahun-tahun lamanya, sebelum akhirnya ikut-ikutan pakai Blackberry untuk memperlancar urusan dagang, dan akhirnya aneka merek dan tipe hape Android hingga sekarang.

    Btw, kayanya menarik juga nih kalau dituliskan sebagai blogpost. Karena cerita di balik masing-masing hape itu yang nostalgic banget hehehe.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s