Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 5-Habis)

BEGITU SATU KANTONG kopi robusta kuamankan, saatnya memuaskan rasa lapar. Beberapa peserta yang sebelumnya bersantap sore kemudian terlihat bergerak menuju pojok penjualan kopi khas Petung. Kacang godok yang sempat disebutkan Mas Eko tak ayal menari-nari menjanjikan kelezatan. Aku merapat ke kedai makan ketika antrean sudah agak sepi. Di depan kedai tersaji satu tampah singkong dan pisang kukus sementara kacang godok terlihat menggoda di beberapa pincuk daun pisang di sebelahnya.

Kulihat Mas Fajar fotografer tengah kebingungan memilih lauk ketika saya memasuki kedai. Aku sendiri memutusan meraih nasi beras hitam plus nasi jagung ditambah ikan asin berbalut tepung, telur balado, urap, tempe goreng, dan tentu saja kerupuk. Musik yang didominasi perkusi masih terdengar meriah. Karena Mas Eko sudah beres makan, saya merapat ke Mak Uniek dan Nia tak jauh dari kedai. Mereka yang telah duluan bersantap sore segera semringah mendapati saya membawa satu sisir pisang Lampung. Seluruh peserta kemudian duduk khusyuk berderet di depan kedai-kedai, siap mendengarkan sambutan Ibu wakil bupati yang akan menyampaikan kesan sekaligus menutup perhelatan Amazing Petung National Explore 2017.

petung5

Tenggat yang ketat

“Kalau harus nulis malam ini, rasanya bakal berat banget deh. Gimana kalau usul deadline maksimal seminggu?” ujarku kepada Uniek dan Nia menyoal tenggat lomba menulis seputar kegiatan satu hari itu. “Gak perlu semingguan deh. Dua tiga hari cukup kok!” sergah Nia serius. Mak Uniek mengamini. “Coba nanti kuusulkan lewat grup WA pas kita dah nyampe di hotel,” jawabku singkat. Saya katakan kalau ternyata permohonan pengunduran tenggat tidak dikabulkan, aku akan memilih absen berlomba.

Suara kami segera tenggelam ditelan musik yang dimainkan band lokal selepas sambutan wakil bupati. Tempat duduk lesehan perlahan-lahan kosong ditinggalkan peserta, baik untuk merapat ke kedai kopi maupun menjelajah bumi perkemahan Curug Lawe dalam waktu yang lumayan singkat. Saya pun hanya sempat mengabadikan satu dua foto di sini dengan hasil yang cukup menyedihkan lantaran tabir malam hampir sempurna menyelimuti pohon-pohon dan kawasan sekitar.

Tak lama berselang, satu per satu dari kami bergegas menuju Anggun Paris yang sudah standby di depan pintu gerbang. Saya, seperti biasa, wajib mengeksplorasi satu tempat khusus di setiap wahana. Apa lagi kalau bukan kamar mandi, hehe. Rupanya kondisinya cukup ramai; sejumlah peserta mengantre menunggu giliran. Problem air, gaes. Sembari menanti, kulihat beberapa peserta sedang melakukan negosiasi dengan salah satu anggota panitia soal pengunduran tenggat lomba. Nihil ternyata sodara-sodara! Gagal.

Kejutan dari para bloger

Delapan unit Doplak atau Anggun Paris kembali bergerak membawa kami ke Terminal Doro. Hari itu saya tiga kali berganti formasi tim saat menumpang Anggun Paris. Kali ini saya satu rombongan bersama Mbak Nunik yang sudah kondang sebagai penulis buku. Gelap semakin tebal melingkupi sekeliling. Laju mesin terdengar berderum meninggalkan kepulan asap pekat di belakang. Jalan berkelok-kelok, naik turun, membuatku sedikit mual—padahal saat berangkat sebelumnya tidak. Saat itu barulah kusadari manfaat sepotong selendang batik yang kami terima pagi harinya. Kubebatkan sedikit longgar pada hidung untuk menghalau asap, baik yang keluar dari mesin maupun akibat gesekan ban dan kerikil jalanan.

Untunglah dalam perjalanan selama 1,5 jam itu aku sedikit terhibur sebab duduk tak jauh dari Mbak Nunik. Layaknya dua kolega yang sudah kenal lama, kami segera melebur dalam percakapan asyik seputar dunia penerbitan dan penulisan. Terlebih kami pernah terhimpun dalam grup penerbit yang sama. Sekali lagi saya terpukau pada tahi lalat Mak Uniek produktivitas wanita. Selain bekerja full-time di sebuah kantor, Mbak Nunik masih produktif menulis buku di beberapa penerbit. Dari percakapan singkat malam itu, bisa kusimpulkan kesibukannya yang cukup padat dan butuh manajemen waktu tingkat tinggi. Belum lagi ditambah menulis di blog dan peran utama sebagai ibu rumah tangga. Pfuihhh

Sebutlah itu sebagai kejutan pertama. Pada bagian ini izinkan kuceritakan beberapa bloger yang sempat kutemui selama APNE 2017 berlangsung. Selain Mbak Nunik, ada pula Mak Uniek yang namanya mirip-mirip. Dia ini boleh dibilang rival yang selalu ngajak gelut selama berinteraksi di medsos. Kali pertama bertemu rupanya orangnya memang ngeselin, haha. Sewaktu berbicara dengan Mbak Nunik, sesekali kulemparkan pandangan ke sekeliling. Uniek, juga Mbak Lidya, tampak kelelahan dan terlihat memilih memejamkan mata. Walau auranya ngajak berantem, Mak Uniek beberapa kali dipercaya oleh pabrikan gawai asal Taiwan loh untuk menghelat lomba blog dengan sponsor dari mereka. Kok bisa ya, hihi. Selain ibu rumah tangga, Uniek juga aktif bekerja di sebuah perusahaan swasta di Semarang.

Masih dari Kota Lumpia, ada bloger lain yang juga mengejutkan. Mengejutkan maksudnya tak terduga. Nia Nurdiansyah, bloger yang kumaksud, adalah mojang Priangan yang menikahi lelaki Semarang dan kini menetap di Kota Atlas. Setelah gelaran APNE 2017, belakangan kuketahui ternyata dia seangkatan denganku di kampus yang sama, hanya berbeda jurusan. Nia lulus sebagai sarjana psikologi, sama seperti seorang teman yang kukenal sewaktu kegiatan KKN. Tak heran jika di kemudian hari ia menelurkan Buku Pintar Ibu & Bayi (Bukune, 2011). Selain nonfiksi, Nia ternyata gemar menggubah karya fiksi yang ia buktikan lewat novel berjudul 29 ½ Hari (Grasindo, 2011) dan My Cup of Tea (GagasMedia, 2013) dan beberapa buku keroyokan. Googling deh buat tahu lebih banyak soal ibu dua anak yang kini menekuni naturopati dan gerakan gaya hidup sehat secara alami.

Satu lagi yang menarik adalah Catur, bloger Jakarta asal Sumatera Barat. Selain kerap memenangkan lomba blog, Catur rupanya menawarkan jasa travel lokal yang ia kelola bersama istrinya di www.jelajahsumbar.com. Berawal dari minatnya dalam dunia pelesiran, Catur lantas mengubah hobinya dengan menjual potensi wisata daerahnya dalam bentuk badan usaha CV. Lewat usaha sampingan itu, ia meraup pundi rezeki yang lumayan seperti yang ia tuturkan di grup APNE beberapa waktu lalu. Saya pikir langkah Catur bisa diduplikasi oleh bloger lain yang ingin memajukan wisata daerahnya. Bikinlah blog atau website khusus untuk mengeksplorasi potensi turisme lokal untuk ditawarkan kepada pelancong di seluruh dunia. Tak perlu biaya besar kan? Cerdas!

Beberapa bloger lain yang kutemui selama APNE sudah saya sebutkan dalam penggalan cerita sebelumnya. Semoga beberapa nama yang saya perkenalkan meninggalkan inspirasi bagi BBC Mania.

Sama seperti semula

Yang kami tunggu akhirnya tiba. Anggun Paris mengantar kami di Teminal Doro kira-kira pukul 8 malam. Jangan bayangkan betapa capek badan ini. Untung aku bukan Hayati, jadi enggak perlu mengeluh, “Hayati lelah, Bang!” Sebelum beranjak menuju bus yang akan membawa kami balik ke hotel, saya sempatkan mampir ke gerai pulsa untuk membeli paket data. Ditemani Mas Eko, saya sedikit tenang, jadi enggak takut ditinggal bus seperti yang terjadi esok paginya, hiks.

Selama perjalanan dalam bus, tak banyak peserta yang bercakap. Masing-masing tenggelam dalam lamunan dan rekaman memori indah yang baru saja mereka lalui—meski tentu saja masih belum puas. Terbatasnya waktu membuat kami harus menyingkat wisata di gunung. Sejurus kemudian derum bus melaju dengan kecepatan normal. Memejamkan mata rasanya jadi pilihan paling masuk akal buat siapa saja yang akan berjibaku menuntaskan tulisan untuk lomba, malam itu juga!

Pukul 9 malam bus memasuki halaman parkir hotel. Peserta langsung turun dan menjemput nasi boks di depan lobi. Wajah-wajah kuyu, sepertinya bukan lantaran lapar, terlihat dominan begitu aku menumpang lift ke lantai dua. Capek dan senang bercampur jadi satu. Bayangan tenggat lomba mungkin tengah mendera, tapi cuma satu yang kupikirkan: mandi! Tiba di kamar, Zain teman sekamar rupanya belum kembali. Kubuka ponsel dan di grup sudah ramai soal permintaan pengunduran tenggat. Kendati banyak yang meminta, panitia bersikeras untuk tetap pada skedul semula sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pemerintah daerah sebagai penyelenggara. Demikian sesuai permintaan tim pemda.

Setelah mandi, kubuka laptop—namun tak banyak yang bisa kutulis. Terngiang-ngiang pesan istriku saat berangkat, “Pokoknya nanti nulisnya dalam bahasa Inggris ya Yah. Biar jangkauan pembaca lebih luas.” Aku mengangguk saja. Dan ketika panitia merilis syarat bahwa entri lomba harus dalam bahasa Indonesia, aku limbung. Bagaimana pun iming-iming hadiah yang besar tak ayal sangat menggoda. Tapi tekad sejak berangkat dari rumah untuk menulis dalam bahasa asing membuatku sedikit goyah. Di WA kuterima pesan dari Zain yang tengah berjuang menulis di lobi bersama Nyi Penengah dan lain-lain. Aku tak tergiur ikut. Beberapa menit kemudian, Mas Zain fotografer asal Lumajang datang ke kamar untuk menggunakan Photoshop yang tak banyak terinstal di laptop kawan-kawan.

Sambil berbincang seputar dunia foto dan blogging, Mas Zain akhirnya tuntas memilih dan mengedit sejumlah foto yang akan mewakili dirinya di lomba kategori fotografi. Begitu dia kembali ke kamarnya, aku sempat menulis kira-kira dua paragraf sebelum akhirnya tak sanggup menahan kantuk. Pukul 2 pagi, kutarik selimut, laptop kubiarkan sendiri. Zzzzzzz…..

Batik Petungkriyono – Masterpiece Failasuf

selfie

swafoto dululah jarang-jarang

Pukul 8 pagi, selepas sarapan, peserta digiring ke meeting room untuk mengikuti briefing terkini seputar tenggat lomba. Setelah negosiasi alot, akhirnya disepakati bahwa peserta boleh mengedit tulisannya hingga tanggal 10 namun tetap wajib menyerahkan link post hari itu juga meskipun masih belum final. Keputusan ini memang seolah win-win solution, namun saya masih membayangkan betapa lelahnya kawan-kawan yang begadang sepanjang malam kalau akhirnya tulisan ternyata boleh disunting hingga beberapa ke depan. Adapun saya, seperti rencana awal, tetap mengunggah tulisan berbahasa Inggris—terlepas dari mutunya—sesuai niat dari rumah yang sinkron dengan pesan Bupati Asip untuk mengglobalkan Pekalongan. Saya pikir salah satu caranya adalah menampilkan hasil eksplorasi Petung dalam bahasa global. Terbukti beberapa pembaca mancanegara telah menyambangi post yang ‘bandel’ itu.

Agenda puncak tanggal 6 Agustus atau hari terakhir adalah mengunjungi Padepokan Batik Pesisir di kawasan Wiradesa. Di tempat ini Pak Bupati akan meluncurkan secara resmi batik motif Hutan Petungkriyono sebagai masterpiece H. Failasuf seorang seniman dan pebisnis pribumi yang punya minat besar dalam pelestarian batik khas Pekalongan. Ada insiden kecil yang mewarnai hari itu. Karena sibuk merapikan barang di kamar, saya tertinggal rombongan yang terlebih dahulu meluncur ke Wiradesa. Untunglah masih ada panitia yang bisa kutumpangi ke sana. Walhasil, aku tak bisa ikut berfoto di depan lobi, hiks.

Tiba di padepokan, saya langsung disambut makan siang. Setelah mengisi perut, sambil menunggu kehadiran Bupati, kami mengeksplorasi padepokan di mana proses pembuatan batik bisa disaksikan secara langsung mulai dari mencanting hingga pewarnaan dan penjemuran. Melihat proses pembuatan kain batik membuat saya memahami mengapa ada yang dihargai sangat fantastis. Selain ketekunan dan kesabaran, dibutuhkan pula kekuatan fisik terutama saat melorot warna dan menanamkan batik dengan cap. Dari pintu gerbang tampak sekian helai kain berkibar-kibar diterpa angin. Warna-warna mencolok membuatku pengin mencomot saja. Tapi harganya lumayan wow, hehe.

padepokan

Jangaan sampai melewatkan tempat ini, BBC Mania!

Tapi jangan kahawatir, di depan padepokan disediakan gerai khusus yang menjual aneka kain dan batik jadi dengan harga beragam. Tak sedikit teman-teman wanita yang membungkus daster cantik seharga 50 ribuan untuk ibu atau mertua tercinta. Sayang saat itu persediaan terbatas. Dan kalaupun ada yang lain, motif atau model kurang saya minati. Pokoknya di gerai Failasuf ini hati-hati membawa uang karena bisa kalap lantaran motif dan coraknya bagus-bagus banget.

Kira-kira pukul 13.30 acara dibuka di padepokan dan disusul sambutan dari H. Failasuf sebagai tuan rumah. Orangnya ternyata masih muda, namun sudah sukses dan punya kepedulian pada budaya lokal. Pak Bupati lantas meluncurkan batik khas Petungkriyono yang selama ini belum pernah ada. Seperti nama yang disandangnya, batik ini mengabadikan lanskap alam hutan Petungkriyono hingga adanya pohon selfie. Unik betul motifnya, seperti tampak saat dibentangkan oleh model sewaktu dirilis secara resmi. Suatu saat saya ingin melihat motif ini tampil dalam versi yang sudah diwarnai.

Naik kereta lagi

Mendekati pukul 4 sore bus membawa kami meninggalkan Padepokan Failasuf menuju Batik Centre. Karena tak terencana, plus mungkin lagi pada bokek, tak banyak peserta yang turun untuk melihat-lihat lapak batik yang berderet sangat banyak. Saya sempat menyambangi sebuah lapak dan kembali ke bus dengan dua kemeja batik untuk anak-anak plus satu lagi untuk keponakan cewek. Catur juga terlihat menenteng daster untuk ibunya. Mbak Icha, Siti, dan Mbak Kiki pun tampak menyusuri beberapa lapak—mungkin tengah mencari busana yang cocok.

Puas lihat-lihat, bus membawa kami balik. Sebagian pergi ke hotel sedangkan rombongan Jakarta, Semarang, dan Jawa Timur memilih singgah di Pawon Mbok’e kedai makan milik ketua panitia sambil menunggu jadwal kereta. Cahaya sore semakin redup saat kami tiba di kedai meskipun masih menyisakan pendar tipis matahari senja. Bloger Semarang memesan makanan dan bloger Jakarta plus Jember memutuskan pelesir lagi guna mencicipi lezatnya tauto. Adapun saya dan Mas Zain fotografer tetap tinggal karena masih kenyang.

Menjelang Magrib, panitia mengantar kami ke Stasiun Pekalongan agar tidak ketinggalan kereta. Kami di sini terdiri dari para bloger Semarang, seorang bloger Demak, dan saya. Sedangkan Mas Zain bertahan di kedai karena jadwal kereta lumayan larut. Menumpang mobil berbeda, kami kemudian terpisah di stasiun hingga saat menaiki kereta masing-masing. Selepas Magriban, saya merapat ke sayap kiri stasiun dan memantau kondisi lewat grup APNE. Saya membuka lagi buku cerpen karya Danarto yang baru dua buah terselesaikan sejak datang ke Pekalongan. Payoye, haha…

Pukul setengah 7 tadi para bloger Semarang telah mengucap sayonara dan tengah ejegejus ke Kota Lumpia. Beberapa swafoto di kereta mereka kirimkan di grup, yang segera disambut ucapan dan doa dari peserta APNE yang lain. Pukul 8 lewat sekian menit giliran kereta saya tiba. Alunan musik Jawa segera mengalun lembut, tak berbeda seperti saat aku menginjak kota ini Kamis dini hari lalu. Tiga hari berlalu, teman-teman baru sudah kembali ke kota masing-masing.

otw ke failasuf

Nampang nih ye ….

Ya beginilah akhirnya. Tak ada yang abadi selain memori, tak ada yang bertahan selain kenangan. Hanya cerita baru yang diwetkan dalam bilik waktu. Kenangan manis itulah yang kami bawa pulang. Bahwa kami pernah berjumpa untuk membantu mempromosikan wisata sebuah kota yang ramah. Kota yang sarat budaya, dengan kekayaan alam dan wisata. Setidaknya kami diam-diam berjanji untuk memajukan wisata daerah kami sendiri, dengan cara yang kami mampu. Di mana pun kami berada.

Sayup-sayup ada rindu menyelusup dalam hati: rindu yang menggantung di langit Petung. Aku pun tersadar bahwa hatiku telah tertawan oleh pesona Pekalongan. Sayonara, sayonara …. Sampai jumpa lagi!

Baca juga keseruan lain dalam cerita-cerita sebelumnya:

Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 1)

Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 2)

Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 3)

Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 4)

 

 

 

Advertisements

15 thoughts on “Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 5-Habis)

  1. Kenangan tak terlupakan. Cuma sayang kita telat berangkat ke Petung, jadi gak puas eksplore di atasnya. Padahal kalo datengnya pagi, lebih banyak cerita yang didapat. Apalagi kalo nge-camp di sana, seru banget kayanya ya.

    Like

  2. terima kasih telah mengabadikan kisha ini, kalau kangen dengan runtutannya…aku bakal baca lagi. ngga nyangka jika acara ini bagian penting dalam puzzle hidup aku. banyak perubahan yang terjadi seusainya.

    Liked by 1 person

  3. Alangkah bagusnya tiap kota/kabupaten punya kegiatan keren kayak begini dalam memajukan pariwisata. Cuma tidak tiap kepala daerah punya “insting” begini. Salut.

    Saya juga merindukan kopdar, hehehe…

    Like

    1. Saya juga mikir gitu, Mas. Andai setiap kota atau kabupaten punya usaha kayak begitu, potensi daerah bakal bisa lebih dikenal publik dan menarik kunjungan wisatawan. Kopdar asyik banget, Mas hehehe….

      Like

  4. waktu ada info soal ke petung, ngeces banget pengin daftar, sayangnya infonya cuma di screenshot tapi lupa daftarnya -___- desember 2016 pas saya mudik ke pekalongan sepupuku ngajakkin ke petung, tapi waktu itu udah packing siap pulang ke jakarta jadinya gak jadi

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s