Saatnya Beli Baju Muslim Pria

Mungkin ada yang pernah baca di blog ini bahwa saya paling malas beli baju baru. Berapa kali istri memaksa saya untuk menambah koleksi pakaian, baik baju atau celana, saya hampir selalu menolak. Bukan semata-mata ingin berhemat, tapi bertambahnya barang di rumah yang mungil berarti berkurangnya space apalagi jika dituruti terus maka bisa mencapai titik kecanduan.

Alasan lain saya tak terlalu gemar beli pakaian adalah kecenderungan untuk menyukai busana yang itu-itu saja. Entah kenapa afinitas atau ketertarikan pada satu item tertentu muncul setiap kali akan berganti baju. Baru pakai celana atau baju yang itu, dua hari kemudian jadi pengin pakai busana yang sama padahal ada stok baju lain meskipun tak banyak. Tak heran jika kebanyakan pakaian saya berumur panjang sebab koleksi terbatas dan sering dipakai sampai aus.

Sudah saatnya

Nah, kini rasanya jadi momen yang tepat untuk beli baju baru, terutama baju muslim pria. Ya iyalah, masak baju muslim wanita, kan buat saya sendiri! Kenapa baju muslim? Salah satunya karena saya setiap hari berada di rumah. Sejak memutuskan bekerja sebagai editor dan penulis lepas, baju formal kantoran otomatis tak pernah saya stok ulang. Fleksibilitas waktu yang tersedia setiap hari membuat saya punya kesempatan besar untuk memperbaiki ibadah—terutama shalat lima waktu.

Bukan cuma itu, tugas baru sebagai seksi pendidikan di masjid kompleks mau tak mau mengharuskan saya sering-sering hadir di masjid. Itulah sebabnya saya pikir sudah saatnya untuk menambah koleksi baju muslim pria yang baru. Kalau tak salah ingat, ada sembilan potong baju muslim yang saya punya: tiga di antaranya adalah pemberian, yakni dari kakak, lalu hadiah dari bank saat buka rekening deposito dulu, dan satu lagi dari sahabat bloger yang berjualan busana muslim. Sayangnya koleksi baju muslim pria yang ia tawarkan modelnya monoton dan kini ia bahkan menjual khusus gamis untuk wanita.

Enam baju lainnya saya dapat dengan membeli atau menjahitkan. Nah, dari enam itu ada dua potong yang paling saya favoritkan: satu yang berwarna merah bata dengan model ala Pakistan yang kainnya paling bagus dan satu lagi berwarna putih yang sebelumnya merupakan gamis panjang yang sengaja saya potongkan agar bermodel Pakistan di atas lutut. Yang putih ini jadi favorit sebab menemani saya paling lama: 15 tahun! Waktu itu saya beli di sebuah pesantren sebab toko online belum sebanyak sekarang—atau malah belum ada sama sekali. Terbuat dari katun bertenun sederhana, model dan desainnya pun sangat biasa: tak ada aksen bordir, tak ada motif, dikerjakan dengan jahitan sesuai harga. Untunglah masih awet dan nyaman hingga kini.

memilih yang terbaik

Setidaknya saya butuh satu atau dua busana muslim baru karena dari sembilan koleksi itu ada dua yang harus saya pensiunkan lantaran sudah apkir, baik getas kainnya ataupun kekecilan ukurannya. Berkunjung ke masjid hendaknya mengenakan pakaian terbaik, demikian pesan Nabi. Oleh karena itu, saya mesti berhati-hati menjatuhkan pilihan untuk baju yang akan sering saya gunakan berulang-ulang.

baju muslim pria

Foto dok. Qirani

1 – Bahan

Pertimbangan utama saat membeli baju baru adalah kualitas bahannya. Seperti saya singgung di awal bahwa saya termasuk pengguna setia untuk setiap busana yang saya miliki dan tak tergesa beli yang baru. Kecenderungan itu harus saya imbangi dengan kemampuan memilih bahan bermutu agar baju pilihan itu bertahan lama dan tetap memberikan kenyamanan. Apalagi masjid baru kami belum dilengkapi alat pendingin ruangan, maka material kain haruslah jadi prioritas agar pengalaman di dalam masjid—terutama kekhusyukan beridabah—bisa optimal.

2 – Model

Sudah saya bocorkan di atas bahwa saya tertarik pada baju muslim pria bermodel ala Pakistan. Bagian bawah di atas lutut membuat saya merasa nyaman bahkan saat mengenakan celana jeans misalnya saat ke Masjid Namira yang hits itu. Potongan bebas asal tidak ketat agar saya luwes bergerak dan tak mudah berkeringat. Teknik jahitan atau motif bukan persoalan, yang penting mengadopsi kerah Shanghai yang pas di leher, dilengkapi satu saku di dada dan dua saku yang rapi di pinggul kanan-kiri untuk menyimpan printilan seandainya tak bawa tas. Terakhir, ada belahan di kiri dan kanan bawah untuk memberi keleluasaan saat beraktivitas.

3 – Warna

Pada dasarnya warna apa pun saya suka, kecuali hitam yang sangat tidak cocok di kota kami yang sangat panas, terutama di siang hari. Sejak dulu saya cenderung pada warna putih karena relatif adem di kulit dan yang paling penting bisa dipadupadankan dengan bawahan aneka warna, baik sarung maupun celana yang sudah ada. Memang harus berhati-hati mengenakan baju warna putih, namun itu bisa diatasi seandainya terkena noda. Selain itu, warna putih mencerminkan kepolosan, ketulusan, dan keteduhan sekaligus peringatan agar kita berusaha menjaga hati seputih baju yang kita pakai.

4 – Harga

Harga tentu saja relatif, bergantung pada kebutuhan dan keadaan masing-masing orang. Kendati begitu saya tak sembarangan pilih baju yang mahal atau sebaliknya. Dengan tetap memperhatikan kemampuan finansial saat akan membeli, patokan utama adalah bahan dan model. Kalau ada yang murah dan memenuhi tiga kriteria itu, tentu sangat bersyukur. Namun jika harus membayar sedikit mahal demi bahan yang lebih bagus, tentulah tak keberatan mengingat baju muslim ini saya maksudkan untuk dipakai dalam jangka panjang.

5 – Tren

Secara umum saya bukan orang yang gampang terbawa tren atau hype di ruang publik. Namun bukan berarti saya antiikut tren sebab tren tidak selalu negatif. Saat tren baju muslim ala Uje yang berbahan beledu naik daun, antusiasme pembeli turut meningkat dan apa salahnya mengikuti tren jika hal itu bisa membawa kebaikan sekaligus berharap bisa memperbaiki diri seperti Uje, ya kan? Walau prefer baju muslim ala Pakistan, bisa saja saya turut membeli model terkini untuk kebutuhan yang berbeda—misalnya hadir pada kondangan atau jadi MC pada acara kerabat. Asal menawarkan kenyamanan dan sesuai di kantong, masih bisa diaturlah.

Itulah pertimbangan saya saat harus membeli baju muslim pria. Tidak ribet atau neko-neko. Punya selera sendiri tapi tidak antipati terhadap tren yang berkembang di pasar asal masih sesuai pilihan hati. Bagaimana dengan BBC Mania, adakah yang suka berburu baju muslim atau baju biasa di toko online atau marketplace? Apa saja pertimbangan dan suka duka saat membeli tanpa bisa meraba produk secara langsung? Bolehlah share di kolom komentar.

Advertisements

2 thoughts on “Saatnya Beli Baju Muslim Pria

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s