D’Jengkolan Bikin Doyan dan Ketagihan Jengkol

Kali pertama mengenal jengkol di Bogor, sejak itu pula langsung doyan. Bentuk biji yang unik dengan aroma yang khas membuat jengkol punya posisi istimewa di hati para peminatnya. Di Jawa Barat, seperti Bogor dan Bandung, jengkol sangat populer di kalangan masyarakat karena dagingnya legit dan lezat. Teksturnya yang empuk setelah dimasak membuat sejumlah orang menyamakannya dengan daging.

Meski terkesan seperti selorohan iseng, nyatanya harga jengkol di pasaran bisa menyaingi harga daging loh. Beberapa kasus menunjukkan jengkol bisa menyundul angka 100.000 rupiah per kilogram salah satunya biasanya lantaran biji jengkol tua tak banyak tersedia. Dimasak apa pun, jengkol memang mantap. Tentu bagi penyuka buah yang kalau dikonsumsi berlebihan jangan numpang di toilet orang, hehe.

jengkol lagi

Mau?

Empat olahan

Di warung-warung di Bogor ada empat jenis olahan jengkol yang pernah saya temui dan rasakan sendiri. Pertama, peyek jengkol. Disebut peyek karena bentuknya pipih dengan taburan irisan jengkol sebagai pengganti kacang. Saya mengenalnya saat masih bekerja di Bogor di mana setiap pagi seorang karyawan bagian gudang menjajakan nasi kuning plus peyek ini. Entah kenapa peyek dan nasinya sangat klop dan saya favoritkan. Gurih, pedas, dan aroma khas jengkol bikin makin lezat!

Kedua, kerupuk jengkol. Bukan hanya di warung bahkan sudah merambah supermarket. Sayangnya olahan menjadi kerupuk belum menemukan cita rasa yang pas di lidah saya. Bisa jadi kerupuk yang saya cicipi waktu itu terlalu banyak kandungan jengkolnya sehingga rasanya hampir pahit dan menghilangkan sensasi kenyal sebagai konsekuensi dari adonan halus kerupuk. Beda banget dengan peyek yang masih menyisakan kelegitan jengkol.

Ketiga, semur jengkol. Boleh dibilang ini olahan yang paling banyak ditemui di Jabodetabek. Semur jengkol biasanya disajikan dengan nasi uduk khas Betawi, tahu tempe dan telur bulat yang juga disemur, empal garing, dan tentu saja sambal kacang yang pedas. Wow, baru membayangkannya saja sudah bikin saya ngiler. Nasi sepiring mana cukup?

Tenang, ada D’Jengkolan!

Di Bogor kami sekeluarga punya langganan penjual semur jengkol enak di sekitar area Kebun Raya Bogor (KRB). Juga tak jauh dari stasiun. Warungnya berbentuk kedai di pinggir jalan, bukan resto permanen. Penjualnya berasal dari Tegal, yakni sepasang pasutri dan ayah mereka. Pasutri melayani pembeli sejak sore sampai pukul 9. Selanjutnya sang ayah yang melanjutkan sampai menu habis. Selepas Magrib atau Isya adalah waktu yang cocok untuk menyantap menu ini. Ah, jadi kangen Bogor deh! Jauh dari Bogor memang banyak pengorbanan, salah satunya mengorbankan tak terpenuhinya selera makan pada jengkol, hehe.

semur jengkol d'jengkolan

Untunglah ada D’Jengkolan yang bisa mengobati kerinduan pada jengkol meskipun jarak memisahkan. D’Jengkolan menyediakan semur jengkol lezat yang bisa dikirimkan ke kota-kota yang terjangkau layanan sehari sampai. Karena bermarkas di Bogor, warga Jabodetabek tak perlu risau kalau hendak makan jengkol tanpa perlu repot memasaknya. Cukup dengan 25.000 rupiah, satu paket semur jengkol siap dikirimkan ke rumah.

Karena jengkol dikemas dengan sistem vacuum, tak perlu waswas soal rasa. Bagaimana kesan saya setelah mencobanya? Teksturnya lembut, walau masih bisa dilunakkan sedikit lagi, bumbunya meresap, dan aroma khas jengkol masih dipertahankan meskipun tak sampai mengganggu hidung tetangga haha. Ya, kalau saya pribadi, pengin semur yang agak pedas karena memang penyuka makanan sengit. Namun pelanggan umum sudah sangat pas dengan ramuan D’Jengkolan ini. Anak sulung saya yang masih SD bahkan tak mau ketinggalan memakannya. Enak sih ….

Saya pribadi berharap D’Jengkolan bakal meracik resep lain seperti rendang yang memang nendang. Inilah olahan keempat yang saya maksud. Beberapa tahun silam seorang bloger yang jago masak menghadiahi saya semangkuk rendang jengkol sewaktu kami kopdar di Bogor. Wah, rasanya sangat lezat. Mungkin karena rendangnya diramu sendiri, alih-alih pakai bumbu instan di pasaran. Semur jengkol D’Jengkolan pun serupa: bumbunya diracik oleh head chef yang pernah bekerja di sebuah resto terkenal di bilangan Pajajaran Bogor. Mupeng kan?

Bloger dan Bogor

Ngomongin jengkol berarti ngomongin kerinduan. Kangen pada kota yang sebelas tahun kami tempati. Jalan-jalannya, udara sejuknya, degung Sunda yang liris manis, keramahan warganya, laju kotanya, dan tentu saja hujannya yang awet tanpa formalin. Di titik ini saya beruntung menjadi seorang bloger. Catatan-catatan ringan sewaktu di Bogor—terutama ngider nasi bersama Bernas Bogor—menjadi pelepas rindu yang lumayan ampuh. Membaca setiap posting seolah kembali menelusuri sudut-sudut kota yang tak tergesa beranjak menjadi kota besar seperti Depok dan Jakarta.

Lezatnya makan jengkol, tapi lebih lezat lagi kalau bisa dibagi-bagi. Misalnya dengan memesan D’Jengkolan lalu mengirimkannya ke sahabat atau calon mertua yang kebetulan menyukainya. Mengaku doyan dan ketagihan jengkol? Saatnya pesan di tempat yang bisa mengirimkan menu siap makan. Lewat Tokopedia juga bisa kok. Nah, saya dikasih mentahnya aja hehe ….

Adakah BBC Mania yang doyan jengkol?

Advertisements

12 thoughts on “D’Jengkolan Bikin Doyan dan Ketagihan Jengkol

      1. Oke, disana diberi nama jengki disini masih original jengkol, berbicara mengenai jengkol saya belum lama menggeluti perjengkolan, dahulu saya benci banget dengan itu jengkol karena baunya yang breng, dan sering menjadi perbincangan orang-orang di kampung, tapi sekarang telah terjadi perubahan, pergeseran segmentasi jengkol mulai disukai oleh gadis-gadis cantik di perkantoran modern, tidak malu-malu lagi jika habis makan dengan jengkol bahkan merasa bangga telah menjadi penggemar jengkol yang di daerah saya tergabung dalam komunitas “Jengkolers” mungkin jika sudah banyak anggotanya akan menyaingi “Slengkers” penggemar group band Slank, ha….ha, semakin asyik aja topik bahasan, kembali ke topik, ternyata jengkol banyak sekali jenis variannya, dan saya belum menginventarisir jenis-jenis variannya, saya baru mendalami mengenai daerah penghasil jengkol dan yang pernah saya dapatkan berasal dari Jepara, Banyuwangi, Lampung, Bengkulu dan Bali dan daerah lain juga ada seperti Kuningan, Banten, Kalimantan dan Sulawesi berdasarkan penjajakan yang telah saya temui memang rasa jengkol dari masing-masing daerah berbeda-beda, ada yang gurih, legit, ngleket, pulen dan lain-lain cita rasanya yang jelas memang aromanya setelah diolah secara profesional betul-betul menggoda dan membangkitkan selera khas untuk menikmatinya, adapun rasanya khas juga penuh sensasi, yah minimal untuk membangkitkan Selera makan, demikian selintas cerita pendek tentang jengkol yang mulai merambah Masyarakat perkotaan, dan imitnya sudah tidak lagi makanan orang kampung, sudah tidak gengsi lagi, tapi membangun brandnya sangat sulit karena breng-brengnya itu yang sedikit menggoda, asyiknya kita bisa ketawa renyah berbincang tentang jengkol, salam Jengkolers.

        Like

  1. Saking lezat, gurih dan pulennya, temen saya Belanda Depok Miss. Endui, kalau habis makan Rendang Jengkol dia bilang “Pok-Pok Leker” artinya makanan paling enak.

    Like

  2. Dulu pas masih tinggal di Bogor sering banget ditawarin buat icip jengkol, tapi selalu nolak. Giliran sekarang udah di Lombok mau icip tapi bingung nyari di mana 😀

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s