Bogor, Buku, dan Belahan Jiwa

BOGOR, BUKU, DAN belahan jiwa. Ada satu kesamaan di antara ketiganya, yaitu sama-sama saya cintai. Bogor menjadi kota tempat merantau paling lama saya huni. Lahir dan besar di Jawa Timur, kuliah di Jawa Tengah, lalu bekerja di Jawa Barat–seolah memberi catatan lompatan waktu yang saya tempuh di tiga provinsi besar Pulau Jawa. Tak ada pemikiran rumit selain bahwa setiap gerakan atau langkah tentu memiliki makna yang bisa kita renungkan sendiri.

Kerindangan yang kurindukan

Sebelas tahun sudah saya menumpang hidup di Kota Hujan ini. Kota yang sangat sejuk, rindang, dan menjanjikan banyak harapan. Kota yang semakin tua, semakin padat, dan semakin penat diserang kemacetan di mana-mana. Mereka bilang ini Kota Sejuta Angkot. Sebab jumlah angkot begitu berlimpah, aku tak akan menyangkalnya. Mal-mal berdiri megah, polusi suara dan udara pun bertambah. Jalan-jalan ditata, sampah tetap bertebaran di sudut-sudut kota.

bbb

Tapi aku tetap mencintaimu, Bogor. Hujan yang turun begitu kerap dan singgah tak terduga mampu mendinginkan gejolak panas hati. Rimbun dedaun dari pohon-pohon kokoh selalu meneduhkan langkahku. Ranting dan dahan kuat seolah melindungiku dari kekerasan hidup. Budaya dan keramahan orang-orangmu merangkulku dalam kerinduan yang terus memanggil. Sungguh, sebelas tahun bukan waktu singkat. Hatiku terpaut padamu. Kulitku tertutup olehmu setelah disengat panas jalanan Jakarta yanag sengit. Betapa langkah harus dipacu, dan kini aku harus meninggalkanmu.

Akan kutahan air mataku agar tidak jatuh, sebab ada banyak senyum teman dan sahabat yang akan menyambutku ketika aku kembali suatu hari nanti. Kuteguhkan hatiku agar tidak goyah lantaran kita akan bersua lagi untuk menyantap kopi Cap Teko lalu menyusuri jalan setapak di dalam Kebun Raya. Duhai, ribuan pepohon di dalam kebun inilah yang membuatmu tetap menjadi Bogor yang kukenal kondang ke antero negeri. Kekayaan alam, kekayaan budaya, kau memilikinya, wahai Bogorku! Di sinilah aku temukan kecintaan mendalam pada buku-buku.

mug-copy

Kali pertama aku menjejakkan kaki di sini, aku bekerja sebagai editor di sebuah penerbitkan buku sekolah. Sungguh di luar rencana walaupun aku menyukai pekerjaan mencari kesalahan. Mencari kesalahan dalam teks lalu mengubahnya melalui proses kreatif sungguh hiburan tak terperi. Menggeluti buku nyatanya menawarkan keasyikan tersendiri. Bergumul dengan naskah dan gambar, belajar banyak hal, bertambah kawan dan kenalan. Tambah ilmu, semakin tahu keterbatasan diri.

Terbuka berkat buku

Makin cintalah aku pada buku. Sering didera perasaan iri pada teman-teman yang semaca kecilnya dekat dan akrab dengan buku dalam keluarganya. Walau terlambat, di Bogor kisah percintaan dengan buku-buku berjalan begitu asyik. Aku menyukainya, mengunjungi tempattempat jauh melalui kata-kata–sama seperti mengagumi keindahan alam Kota Bogor yang kaya dengan wisata. Aku tersesat dalam buku dan merasa semakin bodoh dan kurang begitu berkenalan dengan Sajubu.

bukubuku

Suasana pameran buku suatudi mal Bogor

Anak-anak muda luar biasa yang berhimpun untuk mengumpulkan lalu membagikan buku-buku ke seluruh pelosok negeri. Apalah artinya kecintaanku pada buku bila kegembiraannya begitu privat dan kurasakan sendiri. Sajubu yang akhirnya bermarkas di Bogor mengingatkanku bahwa di tempat baru nanti aku perlu memikirkan cara untuk berbagi dengan masyarakat sekelilingku. Anak-anak muda itu mencubitku perlahan seolah berpesan bahwa ada berjuta cara untuk berbagi dengan sesama sesuai yang kita bisa.

Apa mau dikata, wahai Bogor, sebab ini aku harus pindah. Tapi meninggalkanmu bukanlah melupakan kegandrunganku pada buku. Tahu tidak, aku sudah mengumpulkan ratusan judul buku dengan berbagai genre dan tema. Sebagian kubeli sewaktu datang ke Bogor atau kami beli selama tinggal di Bogor, sebagian merupakan koleksi istriku, dan sebagian lagi berupa donasi atau pemberian dari teman-teman. Aku tidak perlu bersedih walau kota yang akan kami tinggali hanyalah kota kecil yang tidak punya toko buku besar seperti engkau, Bogor.

Jika rumah baca kami nanti sudah berdiri dan siap dipergunakan, tentu kami akan menambah koleksi secara berkala–sesuai kebutuhan dan kemampuan. Tak perlu ke kota besar untuk memborong buku sebab penerbit sekarang lebih agresif menjual buku mereka melalui toko daring atau online bookshop. Pada jalur itulah kami akan setia. Selama di Bogor pun kami sudah jarang membeli buku langsung di toko. Karena dua orang sahabatku kebetulan mengelola usaha jual beli buku online, maka aku sering mengandalkan mereka.

kolbuk

Sebagian koleksi buku kami 

Satu orang khusus menjual buku anak-anak, sedang teman lain khusus novel dan buku dewasa. Selain tak perlu terjebak kemacetan kota yang bisa muncul kapan saja, kenyamanan belanja secara daring bukan hanya dari kepraktisan saja. Entah mengapa beli buku di toko daring malah selalu ada diskon–paling tidak berdasarkan pengalamanku berbelanja. Selisih diskon itu, jika digabung, bisa dibelikan judul buku lain atau untuk menyubsidi ongkos kirim. Ah, betapa kini belanja buku dan barang lain semakin mudah.

Blog dan belahan jiwa

Tapi Bogor, meski belanja buku semakin mudah, bukan berarti aku akan berani melupakanmu. Sebab di jantungmulah semangat mencintai buku meletup-letup. Kau punya perpustakaan daerah yang nyaman walau sepi pengunjung. Beberapa kali kami meminjam buku dari perpustakaan ini dan anak-anak pun menyukainya. Pohon-pohon kekar nan rimbun di sekelilingmu tentu turut menarik langkah kami ke sana. Seolah menemukan pasangan yang klop, itulah kau dan kami.

Tapi tenanglah, wahai Bogor. Meninggalkan bukan berarti melupakan. Sebab kenangan terpahat kuat dalam ingatan. Terus menyala karena direstui oleh hati. Dulu aku tak berani bermimpi hidup berumah tangga. Namun di dekapanmulah aku menemukan calon istriku, wahai Kota Hujan! Tuhan tak pernah salah pilih, kitalah yang sering salah sangka. Kota dengan limpahan hujan, tempat hatiku tertawan. Yang membuatku gembira, belahan jiwaku ini juga pencinta buku, sama-sama mendukung pendirian rumah baca atau semacamnya di tempat baru nanti.

Kami dulu sempat mengelola les bahasa Inggris untuk anak-anak kampung di sekeliling kompleks, namun hanya bertahan tiga tahun. Tak ada yang tak mungkin, wahai Bogor, kami akan menghidupkannya kembali di kota kami yang lebih kecil darimu, lebih sepi, dan lebih minim fasilitas. Janganlah kau mengiri dengan rencana kami sebab anak-anak muda hebat sedang bercokol dalam dirimu dengan sejuta aksi dan kegiatan sosial.

Oiya, aku akan terus menulis di blog ini karena di Bogorlah aku memulai ngeblog dan betapa banyak manfaat yang sudah kudapat. Ilmu, sahabat, dan bahkan aliran rezeki. Buku dan blog nyatanya tak bisa dipisahkan. Aku mencintai keduanya, seperti aku menyukai kabut tipis setiap pagi dan hujan gerimis yang datang tanpa permisi.

Bagaimanapun aku hanyalah seorang pendatang, seorang perantau yang harus kembali pulang. Seorang pejalan yang mencintai Bogor yang penuh kenangan. Memilih asyik dalam dunia perbukuan bersama seorang pasangan hidup yang di sinilah pernah kutemukan. Belum banyak yang kami berikan, tapi tiada terhitung yang telah Tuhan limpahkan kepada kami melalui Kota Hujan. Kami bersyukur, kami bersyukur…..

 

Advertisements

22 thoughts on “Bogor, Buku, dan Belahan Jiwa

  1. Ah Bogor…
    Saya belum pernah tinggal di Bogor. Pernah dulu bekerja di pabrik sepatu di kawasan Ciluar, Warung Jambu. Kerja pertama seusai saya terkena badai krismon. Dalam seminggu pasti ada bbrp sore saya ke Bogor. Ke kantor pos ngeposkan surat lamaran. Itu diawal thn 2000. Hanya 8 bln di Ciluar, karena dapat kerja di Bekasi.
    Kini malah si bungsu yg nge-kost di Bogor. Ngekost gak jauh dari IPB, tempatnya kuliah. Saya jadi sering ke Bogor.
    Bogor selain Kebun Raya, juga hebat dgn BogorJazzReunion-nya.
    Ah ya, Mas akan pindah kemana? Belum sempat kita bersua di Bogor…

    Salam,

    Like

  2. kota Bogor bawa kenangan ya kang…
    semoga di tempat baru nanti membawa kebahagiaan buat keluarga,
    menatap rak buku itu senang ada dua buku yang dekat di hati, diedit dan diterbitkan oleh kang Rudi

    Like

  3. baru lima tahun tinggal di bogor krna suami orng bogor. insha Allah untuk seterusnya sampe pensiun :p
    wah mas rudi mau pindah ke mana? semoga sukses buat mas rudi n keluarga di tempat yg baru

    Like

  4. Pernah ke Bogor tapi belum pernah nginap, apalagi tinggal. Tapi ada rencana pengen maen lagi ke Bogor. Semoga bisa..

    Aku penasaran pengen maen ke wisata yang ada di Bogor.
    Wisatanya ada apa aja ya ?

    Like

    1. Cobalah tinggal beberapa hari, Mas. Banyak wisata yang bisa dicoba. Ada kebun raya tentu saja, lalu danau Situ Gede, wisata kebun teh, klenteng kuno, pabrik pembuatan gong, kampung budaya, pembuatan kain sutera, air terjun, pemandian air panas, dan masih banyak lagi.

      Like

  5. Ah.. kita punya kesamaan, Mas Rudi. Sama-sama mencintai sebuah kota perantauan. Mas menyukai Bogor, dan saya menyukai Yogyakarta. Saya masih ingat dengan pesan salah seorang guru. Kata beliau, “yang terpenting bukan where are you, tapi who are you”. Kota hanyalah semata tempat, kitalah yang membuatnya berarti, karena makna yang kita buat. Insya Allah Lamongan pun akan memiliki arti luar biasa untuk Mas Rudi.. 🙂

    Like

  6. Aku belum pernah ke bogor. Mungkin kapan kapan. Loh om belalang pindah ke lamongan to? Lamongan mana? Kapan kapan main ke Bojonegoro yaaaa… Aku dan teman teman juga punya rumah baca.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s