Menimbang Keikhlasan Sukarelawan Berbagi Nasi

Kamis malam, 17 Oktober lalu, menjelang pukul 9, seorang anggota NBC membagikan pesan pendek di grup kami yang ternyata merupakan salinan atau di-copy dari sumber lain. Isi pesan itu langsung menyergap perhatian anggota yang 90% emak-emak. Dari redaksi percakapan, entah mengapa kejadian yang dituturkan lewat pesan berantai itu saya duga hipotetis belaka.

Belakangan saya ketahui dari Mbak Kiki Handriyani bahwa linimasa Facebook telah ramai oleh pesan serupa yang menyindir keikhlasan surelawan saat membagikan nasi bungkus karena harus memfoto penerima. Mbak Kiki juga mengelola gerakan berbagi nasi juga literasi lewat NilaCare.

Pesan itu diam-diam menjewer saya kuat-kuat sebab setiap pekan saya mendapat tugas menyusun video berisi foto atau footage untuk dikirimkan kepada para donatur sehabis membagikan nasi. Jujur saja saya tak bisa merespons kecenderungan penilaian warganet mengenai keikhlasan yang memang sulit diukur dengan parameter visual belaka.

Makan kerupuk bikin hidup terpuruk

Alih-alih membantah penilaian itu, saya menemukan cerita miris tetapi cukup tepat menjadi renungan kita bersama. Jumat sore sebuah media daring menurunkan berita tentang seorang petugas kebersihan di Tasikmalaya yang mengakhiri hidupnya lantaran tekanan ekonomi.

Sebuah pesan lewat WhatsApp (WA) dari istrinya diduga mendorong tindakan nekadnya. Sang istri bercerita lewat WA bahwa perutnya sedang lapar, sedangkan uang tak ada, dan anak-anak mereka makan hanya ditemani kerupuk.

Pesan itu menegaskan ironi kemiskinan yang luput oleh perhatian kita yang mengaku sebagai bangsa berbudi. Terlepas dari pilihannya mengakhiri hidup, tekanan ekonomi harus menjadi sorotan masyarakat termasuk negara.

Saya jadi teringat pada ketua RT dalam sebuah sinetron yang mengancam memberi sanksi kepada warganya yang sampai tak tahu jika ada tetangganya kelaparan. Tepat seperti ancaman Nabi tentang dicabutnya status keimanan seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya tidur dalam keadaan lapar.

Jangan sampai terjadi: dua warga didera sakit perut pada malam yang sama; satu keluarga sakit perut karena kekenyangan sedangkan keluarga lainnya merintih karena didera kelaparan dahsyat.

Percayalah saya pernah mengalami betapa mengenaskannya didera rasa lapar sebagaimana pernah saya tulis di blog ini, juga kenapa saya akahirnya memutuskan ikut komunitas berbagi nasi sejak di Bogor. Betapa urusan perut bisa mendorong orang untuk berbuat nekat atau bahkan merasakan ledakan harga diri yang amat dahsyat walau secara diam-diam.

rahasia di balik nasi siap santap

Menutup tulisan ini, pertemuan Eka Dewa Prayoga (seorang pengusaha muda dan mentor bisnis) dengan seorang pengusaha asal Medan rasanya cocok saya ceritakan. Usai memberi pelatihan, Eka mengobrol dengan lelaki yang ternyata lulusan Kairo tersebut. Bapak ini tentu hafal Quran dan mengajar tafsir. Bisnis hanya selingan, katanya.

Setelah berpesan untuk selalu membaca dan mengkaji Al-Quran setiap hari, pengusaha tersebut berujar,

“Satu lagi, jangan pernah ragu untuk sedekah banyak. Saran Saya, nanti akang setiap hari Jumat coba bagi-bagi nasi untuk orang-orang gak mampu di kota akang. Kenapa harus nasi? Saya ngajar tafsir. Kalau Saya jelasin alasannya, ini jelasinnya bisa sampai pagi kang. Pokoknya ikutin aja lah… hehe.”

Di Lamongan sendiri, juga di kota-kota lain, gerakan berbagi nasi sangat semarak pada Jumat pagi oleh beragam komunitas yang berbeda. Belum lagi individu yang sengaja membungkus nasi dan lauk masakan istrinya lalu membagikannya sembari berangkat ke kantor. Secara umum donatur tidak mensyaratkan untuk dikirimi video. Namun tanggung jawab moral karena uang titipan sering kami upayakan dalam bentuk laporan audio visual.

Kami memang tidak pernah ikhlas kalau warganet merasa berhak menilai keikhlasan siapa pun. Kami memang tidak ikhlas kalau keikhlasan dibawa-bawa sehingga menghalangi kita untuk mengulurkan bantuan sesederhana sebungkus nasi dan lauk yang siap disantap.

Syukur alhamdulillah sedikit publikasi NBC di medsos turut menggerakkan teman-teman tetangga dan sahabat bloger untuk mengirimkan donasi bahkan dalam jumlah di luar dugaan selama beberapa kali. Akhirnya, jangan membatasi apa yang bisa kita lakukan sebab itu berpotensi membatasi apa yang kita dapatkan. Begitu orang bijak berpesan. Sebab perbuatan sekecil apa pun–sesuai kemampuan–telah terbukti membuka banyak pintu peluang yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

3 thoughts on “Menimbang Keikhlasan Sukarelawan Berbagi Nasi

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s