Oleh-oleh Dari Desa: Dari Semangka yang Tak Laku Sampai Corona yang Bikin Ragu

Liburan akhir pekan lalu kami habiskan di desa, di kampung tempat ibu. Tempat inilah yang sering kami kunjungi selama pandemi. Selain jaraknya dekat–tak sampai 30 menit berkendara motor–mengunjungi ibu juga jadi sarana menghibur beliau. Saking dekatnya, Kecamatan Lamongan berbatasan langsung dengan kecamatan tempat ibu tinggal. Jadilah rumah adik jadi langganan kami berlibur selama wabah sebab tak bisa ke mana-mana.

Selain sowan pada ibu, kami meluncur ke sana juga lantaran tergoda aktivitas yang ditunjukkan adik sehari sebelumnya. Lewat video di WhatsApp, dia mengirimkan potongan adegan di sawah paklik yang sedang memanen semangka. Ibu dan adik langsung ke sawah untuk membeli semangka untuk suatu keperluan. Mereka juga sekaligus mencari hiburan karena ibu tidak ikut menanam semangka. Sawah ibu kebetulan disewa oleh saudara yang menanam semangka, tak jauh dari lokasi sawah paklik itu.

Sungguh momen yang menyenangkan, hari Kamis tanggal 29 Oktober kami bergerak ke sawah setelah menyantap sarapan pagi. Saya, Bunda Xi, duo Xi, dan kedua sepupu mereka turut serta. Ibu dan adik tentu saja ikut karena ingin membeli beberapa butir lagi. Anak-anak senang sekali punya pengalaman menjelajahi sawah yang ditanami semangka. Melihat dari dekat buah segar manis itu lalu menyantapnya di gubuk yang sengaja dibangun paklik. Paklik membangunnya untuk berjaga setiap malam guna mengusir tikus.

1 | Semangka

Buah semangka oleh-oleh dari desa

Oleh-oleh pertama yang kami bawa pulang tentu adalah semangka. Khusus semangka yang kami bawa tak perlu kami beli, melainkan pemberian saudara sepupu yang menyewa sawah ibu. Ada lima butir yang kami bawa pulang, untuk dibagikan ke tetangga dan dinikmati sendiri, terutama Bumi yang sangat menyukai semangka.

2 | Pikiran segar

Sesuai tujuan kami semula, kami main ke desa memang untuk berekreasi. Pikiran jadi fresh dan hati pun tenang. Sejenak menjauh dari kota dan tak memikirkan pekerjaan sungguh melegakan. Kegembiraan berbincang dengan ibu atau saudara menjadi hiburan tersendiri. Apalagi Jumat malam adik mengundang beberapa anak yatim untuk dijamu dalam rangka Maulid Nabi Saw.

Mereka gembira pulang dalam keadaan kenyang sambil membawa amplop berisi uang. Kami sekeluarga puas dan senang melihat mereka makan bakso dengan lahap lalu menjinjing nasi berkat besar untuk dibawa pulang. Siang hari selepas Jumatan saya terpaksa tak bisa ikut lomba online bersama BCC. Selain sinyal yang tak stabil, saya kebagian menyiapkan ayam bakar sebagai sajian.

3 | Tata niaga pertanian

Yang segera mengemuka setelah memanen semangka adalah keluhan menantu paklik seputar harga semangka. Seperti tahun-tahun sebelumnya, harga semangka anjlok karena panen raya terjadi di mana-mana. Tengkulak yang datang menawarkan harga sangat murah sehingga petani memilih menjual sendiri kepada tetangga. Namun bisa dibayangkan berapa banyak yang bisa diserap oleh lingkungan sekitar yang kebutuhannya hanya untuk dimakan.

Dari fenomena ini saya berharap pemerintah usat atau setempat, terutama dinas terkait, bisa menjembatani masalah harga dan volume semangka yang sangat besar. Harus ada tata niaga yang jelas dan terukur agar semangka itu tidak busuk atau tergolek begitu saja tanpa dipanen di sawah. Pemerintah harus turun tangan lewat kebijakan strategis, misalnya dengan menyediakan link ke industri yang serapannya sangat besar.

4 | Mindset soal kelestarian lingkungan

Saya beberapa kali ikut kondangan atau kenduri selama menginap di rumah ibu. Saat pulang tentu kami dibekali nasi berkat berisi lauk dan jajanan oleh tuan rumah. Yang jadi pikiran adalah betapa masyarakat di desa begitu semangat menggunakan plastik untuk mengemas berkat yang diberikan kepada undangan. Jika dulu berkat cukup dibungkus daun jati atau daun pisang, kini berkat diletakkan pada wadah plastik, dilengkapi mika, dengan jajanan ringan berbungkus plastik dan masih dibungkus lagi dengan plastik kresek besar sebagai kemasan luar.

Saya langsung teringat pada berkatan ulang tahun yang kami terima beberapa bulan lalu dari seorang wali murid Taekwondo. Nasi berkat diletakkan dalam besek bambu tanpa plastik kresek satu pun. Ya masih ada mika untuk memisahkan nasi dan lauk, tapi sudah cukup minimal. Saya pikir kini orang desa malah sedang ikut euforia pemakaian plastik karena sudah terlalu lama pakai bahan yang alami.

Mereka tergiur menggunakan styrofoam dan aneka wadah berbahan plastik sebab dirasa modern dan lebih praktis. Ini tentu saja mindset yang mesti diluruskan sebab problem iklim dan kelestarian lingkungan sudah cukup mengkhawatirkan. Mengurangi penggunaan plastik bisa jadi salah satu solusi untuk menyelamatkan kehidupan kita sendiri.

5 | Pengaruh resesi

Orang desa hampir tak terdampak oleh resesi dunia atau nasional. Aktivitas ekonomi mereka masih normal seperti biasa. Mereka punya stok beras yang cukup hingga setahun atau sampai panen lagi, jadi masalah pangan sepertinya tak mereka khawatirkan. Sayur mayur bisa dipetik langsung dari pekarangan atau kebun dan sawah, jadi mereka tak harus membelinya. Paling mereka cukup beli minyak goreng atau bumbu yang tak mereka tanam.

6 | Korona hanya tipuan

Ada seorang warga yang bertanya, “Corona itu emang beneran?” dengan wajah serius sembali mengepulkan asap rokok. Saya memakai masker dan mengambil jarak tentu saja. “Ya ada dong, banyak kasusnya di kota, bahkan ada yang meninggal.” Jawaban saja rupanya tak relevan buat orang desa. Desa ibu sampai saat ini adem ayem, tak ada korban yang dilaporkan.

Mungkin sebab tak ada yang bepergian jauh, atau lantaran OTG yang tidak dirasakan. Faktor lain yang menyebabkan mereka santai mungkin akibat pemberitaan media bahwa ada rumah sakit yang merekayasa data pasien Covid19. Pasien menderita sakit lain tapi dinyatakan Corona agar mereka mendapat bantuan pemerintah yang besar jumlahnya.

Saya pernah dengar dari seorang awan jurnalis bahwa memang ada RS yang nakal dengan memanipulasi data demi bantuan dana. Bisa jadi benar, bisa jadi tidak. Yang jelas saya tekankan kepada warga desa juga kepada keluarga bahwa ancaman Corona itu nyata. Pandemi belum juga terhenti, bahkan cenderung membubung tinggi. Warga beraktivitas normal entah karena bebal atau sebab tak sadar alias belum paham.

Semangka di sawah, dipanen tapi harganya murah.

Itulah oleh-oleh dari desa, mulai dari semangka sampai wabah Corona yang dianggap biasa saja, atau malah tipuan belaka. Saya tak bisa menyalahkan, juga tak mampu memberi solusi terutama pada masalah tata niaga pertanian yang selama ini terjadi. Merugikan petani, tapi mereka tak punya pilihan. Bagaimana dengan Anda, BBC-Mania, apa yang kalian kerjakan selama liburan panjang akhir pekan silam?

8 Comments

  1. Miris ya Kak sekarang harga buah jatuh pas panen barengan gitu. Belum lagi terdampak pandemi. Semua harus terlibat ya biar ekonomi bangkit lagi.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s