Pergi untuk Kemba

Belum pernah hati Hans sekalut ini. Entah sudah berapa kali kakinya mondar-mandir di dalam kamar yang tak seberapa luas itu. Matanya mengerjap seperti mendapatkan ide ketika petir menggelegar di luar rumah. Hujan belum berhenti sejak sore tadi. Dari layar televisi sejumlah kawasan dilaporkan dilanda banjir di luar dugaan. Air menggenang di mana-mana, tak jauh berbeda dengan pikirannya yang luber akibat rendaman masalah demi masalah tak berujung.

Hujan mulai reda ketika Hans menuju tepi dipan tempat gadis molek itu terlelap. Dipandanginya sekujur tubuh si gadis dengan mata berpijar, mata penuh harap tapi juga kecemasan. Dengan perlahan ia membungkukkan badan lalu mengecup kening gadia yang hanya beringsut lalu terelap kembali.

“Aku titip ini buat Kemba,” ujar Hans seraya menyerahkan amplop kepada Jie.

“Mas jadi pergi?” tanya Jie sambil mengusap amplop. Terlihat wajah kalut walau tak dikatakan.

Hans hanya mengangguk, lalu melangkah pergi setelah meraih kopor di sudut ruangan. Hujan yang perlahan mereda menelan bayangannya dalam deru mesin mobil dan asap tipis.

Menjauh, menjauh … seperti memori Kemba terhadap ayahnya.

***

“Papa jadi pergi?” tanya Kemba ketika hendak menyantap sarapan pagi. Suaranya ringan seperti gerak lincah burung gelatik di pokok bugenvil pekarangan rumah. Ekornya bergetar cepat ke sana kemari seperti minta diperhatikan.

Tak ada jawaban dari Jie, Kemba menyergah dan menuangkan jus jeruk untuk kemudian diminum sampai tandas. Jie seperti tak mendengarkan sebab sibuk mencuci sesuatu di sudut dapur. Atau sengaja tak mendengar?

“Aku tahu Papa pasti pergi. Ulang tahunku enggak pernah se-boring ini.” kata-kata Kemba meluncur begitu saja seolah tak peduli lagi didengar apalagi dipahami oleh tantenya. “Kadang sulit mengerti pikiran orangtua!” ujarnya dengan suara seperti sengaja dikecilkan.

“Tidak semua dalam hidup bisa kita pahami, Kemba,” kata Jie yang muncul dengan sepiring sayur rebus siap santap. “Bahkan ada hal-hal yang tak perlu kita pahami,” sambung Jie. “Setidaknya kita tak perlu susah-susah mencarinya.”

“Karena?” Mata Kemba melotot.

“Karena bahaya, mungkin.” Jie menjawab sambil menyendokkan nasi lalu mengunyahnya perlahan.

“Itu sebabnya Mama pergi? Itu juga yang membuat Papa ikut pergi? Karena ba-ha-ya?” pertanyaan Kemba tajam walau suaranya terkesan bernada retoris bahkan mengandung sinisme.

“Sudah Tante bilang, apa yang kita lihat tak selalu mudah kita pahami. Termasuk kepergian orangtua kamu.”

“Apa yang enggak bisa dipahami kalau manusia berusaha keras untuk mencobanya?” Kemba protes.

“Ada bagian-bagian yang tidak bisa kita tembus. Ada wilayah yang bukan wewenang kita agar pemahaman punya arti—seperti yang kita kehendaki.” Jie tak yakin Kemba m

emahami kata-katanya. Sudah lama ia ingin mengucapkan hal ini, setidaknya Kemba punya bakat untuk menyelidik sehingga suatu hari akan mengerti.

Alih-alih menanggapi jawaban Jie, Kemba memutuskan menyudahi sarapan dan bergegas menuju kamarnya.

***

“Kamu mau ke mana, Kemba?” tanya Jie serius. Kemba terlihat menjinjing kopor kecil dan memanggul tas punggung dekilnya.

“Saatnya aku yang pergi, Tante. Ini ulang tahunku. Biarkan sekali saja aku membuat keputusan penting untuk hidupku.” Mata Kemba menyorot tajam, seperti semburat matahari pukul 9 yang menyisip di kisis-kisi jendela.

“Pergi? Untuk apa?” Jie tak sanggup menahan tanya.

“Papa pergi, Mama juga sudah pergi duluan.” Kemba terhenti sejenak. “Mungkin memang manusia harus pergi, cepat atau lambat.” Matanya terlihat berkaca-kaca. “Sekaranglah saatnya aku pergi, setidaknya untuk mencari jati diriku yang selama ini tidak jelas.”

“Duduk!” pinta Jie dengan lirih. Dia tak berharap Kemba menuruti ucapannya. Jie hanya perlu cerita. Tak penting lagi Kemba pergi atau tinggl. Yang jelas ia harus meyakinkan gadis itu agar percaya pada Jie—setidaknya untuk saat ini.

Kemba bergeming. Kopor dilepasnya, tas punggung diturunkannya tanpa aba-aba. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ungu, tempat favoritnya melamun dan membaca buku.

“Kamu tidak perlu pergi ke mana-mana. Enggak perlu ninggalin rumah ini.” Jie mengangsurkan amplop cokelat kepadanya. “Di sini bisa kamu temukan apa yang ingin kamu tahu.”

Setengah terperanjat, Kemba membenarkan posisi duduknya sambil meraih amplop dari Jie.

Setelah membuka amplop, dia tertegun, “Ini….” suaranya menggantung. “Jadi selama ini Tante Jie ….?”

“Ya, Kemba sayang. Akulah….” Jie pecah dalam tangis.

Kemba menghambur dalam pelukannya, ikut berurai air mata. “Mama….”

“Ceritanya panjang, Kemba.” Jie mengucak rambut putrinya. “Saat kamu belum genap setahun, papa kamu pergi entah ke mana. Sampai sekarang!”

“Lalu papaku yang pergi tadi malam…?” Jie kebingungan.

“Dia pergi untuk kamu, sayang. Dia sudah berkorban dan kini harus bekerja jauh dari kita.”

Kemba memeluk erat tubuh Jie. “Mamaa…”

“Dia pergi untuk Kemba. Suatu hari akan kembali untukmu juga. Kita hanya harus menanti, mungkin saat kamu berulang tahun lagi.”

Semburat sinar matahari mulai meninggalkan jendela kaca. Hujan semalam masih terasa lembapnya, menyisakan kesejukan untuk Kemba yang tenggelam dalam kegembiraan tak terduga. [*]

4 Comments

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s