Pergi untuk Kemba

Belum pernah hati Hans sekalut ini. Entah sudah berapa kali kakinya mondar-mandir di dalam kamar yang tak seberapa luas itu. Matanya mengerjap seperti mendapatkan ide ketika petir menggelegar di luar rumah. Hujan belum berhenti sejak sore tadi. Dari layar televisi sejumlah kawasan dilaporkan dilanda banjir di luar dugaan. Air menggenang di mana-mana, tak jauh berbeda … More Pergi untuk Kemba

Buku yang Bagus

Buku bagus adalah buku yang seperti apa sih? Jawabannya bisa beragam menurut kepala dan mulut yang menuturkannya. Untuk menjawab pertanyaan tentang seperti apa buku bagus, saya ingin menceritakan dua hal sebagai berikut. Syahdan, seorang dosen penulisan kreatif dari UI pernah bercerita bahwa dia sempat dicemooh oleh temannya tentang buku yang ia tulis. Menurut sang kawan, … More Buku yang Bagus

Kenangan tentang Toko Buku di Empat Kota: Lamongan, Semarang, Bogor, dan Bandung

Suatu siang yang terik saya bergegas menuju ke sebuah lapak kecil di wilayah kecamatan, di pinggir jalan Jakarta – Surabaya, kira-kira 300 meter dari Stasiun Sukodadi. Saya hendak mencari buku yang akan saya pakai untuk mengajar bahasa Inggris untuk anak SD. Kalau tak salah ingat, saat itu saya baru beranjak ke kelas 3 SMA tak … More Kenangan tentang Toko Buku di Empat Kota: Lamongan, Semarang, Bogor, dan Bandung

Pesona Metamorfosa Mas Gagah

/1/ Karya fiksi dan film, bagi saya pribadi, adalah dua anugerah besar dalam peradaban manusia. Baik cerpen maupun novel mampu menciptakan kembali dunia dalam media lain untuk dikunjungi pembaca di mana mereka bisa memutuskan untuk menjadi bagian di dalamnya, bersatu dengan tokoh-tokoh yang ada, atau sebaliknya memilih mengambil jarak dari setiap peran dan peristiwa yang dibentangkan dalam cerita. Prosa yang ditulis … More Pesona Metamorfosa Mas Gagah

Sekali Sabet

“Enaknya pakai pisau mana?” “Enaknya ini saja, Lik. Tajamnya pas biar eksekusi cepat.” “Kira-kira sakit ndak?” “Sekali sabet, langsung beres, Lik. Gimana? “Usiaku dah mau 67  tahun, tapi aku masih takut melakukannya, Juk.” “Kalau sudah tekad ya harus dijalani toh, Lik. Ini kan demi kebaikan Paklik sendiri.” “Tapi aku ….” Tiba-tiba kresss! Paklik Gumuno melolong, … More Sekali Sabet

Setangkai Rumput Kering dalam Gulungan Surat Cinta yang Mengalir menuju Samudra dalam Siraman Cahaya Rembulan Pucat Dini Hari Itu Akhirnya Menjadi Kidung Misteri dan Eulogi bagi Sang Kapten Sebelum Cinta Biru Menyambutnya Begitu Damai

“Percuma aku jadi kapten,” berulang-ulang Kapten Bhirawa mengucapkan kalimat itu. Seolah kata-kata begitu saja terletup dari bibirnya. “Percuma. Percuma, percumaaaa…” tiba-tiba suaranya melengking, meraung-raung membelah kesunyian malam.

Misteri Selembar Foto (3-Habis)

“Saya tak tahan melihat penderitaan ayah. Saya tak sanggup melihatnya.” “Siapa ayah Anda?” “Mudhoiso. Ayah saya Mudhoiso. Mudhoiso sang Buto Cakil.” d’Conckon dan anak buahnya terhenyak. “Mudhoiso? Anda bilang dia ayah Anda?” “Betul.” Jembar menjawab dengan mata berkaca-kaca. “Bagaimana mungkin?” d’Conckon semakin diliputi kabut misteri.

Misteri Selembar Foto (2)

“Saya pernah beberapa kali pindah divisi, Pak. Awalnya saya tergabung dalam tim penulisan naskah. Dua tahun kemudian saya pindah ke bagian produksi. Saya bertahan tiga tahun hingga akhirnya masuk ke divisi humas. Dan dua tahun terakhir saya lebih banyak menangani masalah periklanan.” “Iklan?” sergah d’Conckon. “Betul, Pak. Tugas saya mencari iklan yang akan mendukung kesuksesan … More Misteri Selembar Foto (2)

Misteri Selembar Foto (1)

Mengetahui Mudhoiso tak bergerak lagi, Inspektur Suzana sigap mencabut radio HT dari pinggangnya. “Paramedis! Paramedis! Segera kirimkan tim paramedis ke panggung. Buto Cakil bersimbah darah.” “Siap, Inspektur! Siap meluncur ke panggung!” Aiptu d’Conckon menjawab singkat sambil memberi kode kepada tim paramedis yang bersiaga di atas ambulans. Tim bergerak cepat dan cekatan. d’Conckon lantas memanggil dua … More Misteri Selembar Foto (1)

#Postcard Fiction: (Bukan) Gerimis Terakhir

Deana, Ketika rumput basah dan pohon-pohon menggigil, kau berujar lirih, “Inilah gerimis terakhir yang akan menghapus sisa jejak kita.” Jujur saja aku tak terlalu paham maksudmu. Namun aku ingat kala itu kupeluk Sinta erat-erat karena ku tak mau terpisah darinya. Entahlah apakah dia mengerti apa yang kita perbincangkan di taman itu. Mata eloknya tetap berbinar … More #Postcard Fiction: (Bukan) Gerimis Terakhir

#Postcard Fiction: Rembulan Mengantarnya Pulang

/I/ Cahaya rembulan perlahan pupus oleh serbuan air yang terhempas bebas dari langit. Petir dan guruh bergantian membelah malam yang beku. Sebeku hati Hans yang diliputi kabut kebimbangan. Sesekali angin tipis tedengar bekesiur di antara pepohonan randu dan akasia. Himpunan bambu berkerisik menciptakan musik aneh yang menakutkan. Hans serasa kian tenggelam dalam mendung yang kelam. … More #Postcard Fiction: Rembulan Mengantarnya Pulang

#Postcard Fiction: Rumah untuk Jana

Dalam hitungan detik Jana sudah berada di atas mobil bak terbuka itu. Kakinya yang terbiasa menapaki jalanan terjal terlihat begitu kokoh menopang tubuhnya saat melompat. Setelah merapat dan bersandar pada kepala mobil, ia menoleh kepada ibunya. Debu pasir yang tersisa beterbangan menyaput wajahnya yang kuyu. Tatapannya tajam tetapi kosong. Suaranya tampak ditahan agar tidak pecah … More #Postcard Fiction: Rumah untuk Jana