Kiat Produktif Wujudkan Resolusi dan Tetap Kreatif Selama Pandemi

Meskipun sudah bulan April, bukan berarti ada larangan untuk menuliskan resolusi. Memang ada perbedaan pandangan seputar resolusi. Ada yang pro karena menganggap penting resolusi sebagai pedoman untuk dituju tapi ada pula yang kontra dengan mengatakan itu upaya rutinitas belaka yang tidak berdampak signifikan pada pencapaian. Sekadar latah yang tidak berdasar fakta ilmiah. Orang boleh berbeda pendapat, termasuk saya yang masih menilai bahwa resolusi layak dimiliki dan bahkan mungkin dituliskan sebagaif penguat keputusan.

Tahun lalu saya pribadi tak menarget resolusi yang muluk-muluk selain peningkatan mutu ibadah dan introspeksi lebih dalam. Namun tahun ini, setelah saya renungkan, saya butuh memancangkan target secara sadar menjelang usia 40 tahun, sebuah fase yang kata orang ini proyek yang tidak mudah tetapi saya butuh tantangan khusus agar saya bisa excel dan mencapai kemajuan yang signifikan.

Produktif wujudkan resolusi

Menuliskan resolusi sebagai target pencapaian pribadi akan memudahkan kita melakukan progress report, untuk mengukur sejauh mana sebuah target tercapai dan mana saya komponen yang bisa diperbaiki untuk memudahkan tercapainya target tersebut. Inilah beberapa resolusi yang ingin saya wujudkan tahun ini menjelang usia 40 yang kata orang merupakan usia kematangan dan disebut ruby anniversary. Pada usia inilah konon kehidupan baru dimulai karena sudah ada milestone yang pernah kita raih. Pernah dengar kalimat Life begins at 40?

1 | Menerbitkan 4 judul buku

Sungguh menantang, saya ingin mengetes batas kemampuan, agar terkerahkan segala potensi dan menguak segala kemungkinan. Sebenarnya ide menerbitkan buku karya sendiri sudah lama tercetus. Yakni buku kumpulan puisi kedua sebagai kelanjutan dari buku puisi pertama berjudul Sujudku Meneteskan Rembulan yang diterbitkan Nuansa Aulia, Bandung, tahun 2006. Saya sebut kelanjutan bukan berarti isinya sekuel, melainkan untuk melengkapi koleksi saya sendiri daripada karya tercecer di mana-mana. Buku berjudul Kalakatu ini sudah saya kerjakan sebanyak 80%.

Buku kumpulan puisi yang lebih banyak menyoroti lingkungan

Judul kedua adalah buku kumpulan pantun yang isinya sudah tersedia sekitar 50%. Saya memang senang membuat pantun dan oleh karena itu akan istimewa jika pantun-pantun itu saya bukukan dalam satu kumpulan khusus sebagai koleksi diri sekaligus melestarikan khazanah sastra Nusantara. Entah kenapa sampai sekarang belum ketemu judul yang tepat untuk buku ini.

Judul buku ketiga adalah buku tentang pelajaran memasak yang saya dedikasikan untuk istri tercinta. Dengan judul My Wife My Teacher, buku ini mengabadikan hal-hal biasa selama proses memasak bersama istri yang ternyata menyimpan pelajaran penting tentang kehidupan. Saya belajar dari kesempatan memasak itu dan naskahnya kini tengah saya desain gara tampil lebih cantik sebelum dicetak.

Buku istimewa tentang memasak yang penuh pelajaran bergizi

Buku keempat adalah karya berbahasa Inggris yang saya beri judul The Day I Lost My Hair. Saya pilih judul ini karena salah satu tulisan menceritakan proses kehilangan, baik kehilangan rambut secara harfiah maupun kehilangan sosok atau makna pada benda yang saya pernah miliki. Buku ini juga memotret pengalaman unik saat bersentuhan dengan dunia blogging atau content creating.

Buku tentang hal-hal tak mungkin sekaligus hal-hal yang kita sukai

Buku ini saya tulis dalam bahasa Inggris karena terinspirasi oleh karya Desi Anwar yang diterbitkan tahun lalu berjudul Offline: Finding Yourself in the Age of Distractions. Saya mengikuti bedah buku ini bersama penulisnya awal Maret lalu saat Bank Indonesia Institute menggelar pekan World Book Day. Semoga buku ini bisa terbit bersama tiga judul lainnya sebelum bulan Januari tahun depan saat saya berulang tahun.

2 | Memperdalam desain

Selain menyunting naskah dan menulis di blog, saya juga sering mengerjakan desain isi atau layout buku. Akan tetapi pada tahap teertentu saat mengerjakan proyek saya kadang mentok untuk mengolah desain. Sebenarnya kreativitas ada, tetapi teknik pengerjaan yang bermasalah.

Saya biasanya bertanya kepada senior yang ada di Jakarta, tapi itu tidak praktis. Selain berpotensi mengganggu, pertanyaan saat ada masalah juga harus menunggu solusi yang kadang lama direspons sementara pekerjaan saya harus segera rampung. Dari sinilah saya butuh belajar lagi tentang ilmu desain, bahkan kursus bila perlu.

3 | Mengunggah podcast di Youtube

Semenjak menonton aksi stand-up comedian atau sejumlah komika Indonesia di Youtube, saya membayangkan bisa menampilkan aksi monolog tentang keresahan sehari-hari. Mungkin bisa mengalihkan isi blog ke bentuk audio visual. Tak harus lucu tapi sesekali menggelitik atau malah konyol, kenapa tidak? Saya yakin bukan orang yang PD di depan kamera, tapi kalau punya materi bagus untuk dibagikan, rasanya akan oke-oke saja.

4 | Menuntaskan baca buku

Ada daftar berisi beberapa judul buku yang belum saya tuntaskan pembacaannya. Daftar ini entah sampai kapan bisa saya bereskan. Rasanya cukup terbebani dengan judul-judul yang tak kujung usai saya baca. Padahal buku trilogi karya Bung Hatta sangat menyenangkan dan seperti berwisata sejarah.

Butuh alat tempur andal

Dengan empat resolusi yang tampaknya sederhana, padahal jika di-breakdown bisa panjang printilannya, maka saya wajib melengkapi diri dengan senjata serbaguna untuk memuluskan pencapaian setiap poin resolusi. Untuk poin pertama mungkin cukup saya kerjakan dengan laptop ala kadarnya, asal bisa komputasi ringan seperti office work dan koneksi ke jaringan Internet.

Ternyata tidak, sebab saya juga mengerjakan desain isi atau layout keempat buku sendirian. Menggunakan Adobe Indesign dan Adobe Photoshop untuk proses desain naskah, maka saya membutuhkan setidaknya personal computer atau PC yang ditenagai oleh prosesor octa core.

Bukan apa-apa, pengerjaan menggunakan laptop yang saya miliki saat ini ternyata tidak mumpuni. Tandem prosesor quad core dari AMD dan RAM 4 GB terbukti tidak memadai untuk pekerjaan desain. Saya memproyeksikan laptop andal dengan specs jeroan misalnya dengan prosesor core i7 buatan Intel dengan minimal space RAM sebesar 8 GB. Kartu grafis juga harus discreet sehingga bisa andal untuk mengolah warna.

HP Spectre x360 14 kebutuhan kita semua

Jawaban atas keresahan saya ternyata muncul tanggal 8 April kemarin ketika saya mengikuti official product launch di Youtube Live dan Zoom meeting. Hewlett Packard atau HP meluncurkan produk terbaru untuk mendukung komputasi mobile di masa serbaterkoneksi ketika berbagai kebutuhan konsumen dan ekosistem digital harus selaras. Dalam peluncuran tersebut Fiona Lee, Managing Director HP Indonesia menuturkan, “HP Spectre adalah versi paling cerdas yang dirancang untuk menyesuaikan dan mengantisipasi kebutuhan dan tuntutan penggunanya.”

Ucapannya membuat saya menginginkan laptop premium tersebut. HP Spectre telah mengadopsi teknologi terkini dengan material built yang premium. Desainnya masih seperti seri Spectre sebelumnya: khas gem-cut yang diciptakan dengan presisi mesin alumunium CNC yang akan membuat kita percaya diri sebagai pemiliknya saat berada di kerumunan.

Desain premium dan bahan yang bermutu membuat HP Spectre x360 14 istimewa.

Ricky Handrian selaku Head of Personal Systems HP Indonesia meyakinkan bahwa HP Spectre x360 14 telah melalui uji yang ketat, mulai dari tuning hingga verifikasi guna memenuhi persyaratan platform Intel® Evo™. Lewat prosedur ini laptop Spectre x360 14 dipastikan memenuhi spesifikasi perangkat keras dari Intel dengan pengalaman respons, instant wake, masa pakai baterai, dan charging yang cepat. HP Spectre keluaran terbaru memang mampu diisi dengan daya secara cepat tapi tetap hemat baterai, sungguh idaman buat content creator yang mobile.

Yang menyenangkan HP Spectre x360 dibekali dengan otak prosesor Intel® Core™ Generasi ke-11 yang bakal mendukung peningkatan performa CPU hingga 34% dan peningkatan kinerja GPU 79% dengan grafis Intel® Iris® Xe terintegrasi discreet-level dibanding versi sebelumnya. Inilah mesin gahar untuk menghajar setiap pekerjaan berat, termasuk desain grafis yang selama ini lemot di laptop saya.

Ricky Handrian optimistis pasar akan menerima HP Spectre x360 terbaru karena sangat unggul dan memahami konsumen.

HP Spectre x360 juga dilengkapi fitur Smart Sense yaitu kemampuan laptop untuk menyesuaikan kondisi thermal atau suhu dengan mode pekerjaan yang kita hadapi. Misalnya saat laptop ada di pangkuan, maka temperatur akan berkurang demi kenyamanan pengguna. Begitu juga saat mengerjakan desain atau menonton film, suhu pun ikut menyesuaikan.

Dari sisi keamanan, Hp Spectre x360 punya fitur unik yakni kemampuan mematikan atau menghidupkan webcam secara cepat untuk menghindari peretasan atau hacking. Di dalam laptop juga telah dibenamkan TPM Module yakni chip yang bisa mengamankan data seperti password kita.

Siap menyambut laptop idaman dengan specs yang sangat memuaskan.

Dengan dukungan HP MPP 2.0 Tilt Pen dan magnet yang memudahkan pengguna untuk menempelkannya ke perangkat, HP Spectre x360 14 sempurna untuk berkreasi dan memenuhi kualifikasi Adobe Fresco, dengan aplikasi dalam Adobe Creative Cloud, Premiere Rush, Premiere Pro, Creative Cloud Photography Plan, dan Acrobat Standard gratis selama masa percobaan 30 hari. Terbayang dong lengkapnya Spectre x360 14 ini yang akan memanjakan duo jagoan kami yang hobi menggambar komik di rumah. S Pen akan memudahkan proses gambar dan tak khawatir hilang karena menempel pada laptop dengan magnetic attachment.

Perangkat ramping tapi canggih ini adalah solusi untuk menjawab berbagai kebutuhan kita pada masa kini. Saya telah menetapkan resolusi untuk bisa dicapai sebelum tahun ini berakhir. Dengan HP Spectre x360 14, kegiatan menulis dan mendesain, juga mengedit video untuk diunggah di Youtube bukan lagi masalah.

So, tentukan mimpi kalian, BBC Mania. Pecahlah menjadi langkah-langkah terukur agar memudahkan pencapaian. Jangan takut berhenti karena selalu ada jalan untuk meraihnya asalkan itu positif. Tepat seperti pesan Fiona tentang keberanian bermimpi.

Tetaplah optimistis untuk mewujudkan resolusi semustahil apa pun itu. Jika tak mungkin dikejar sendiri, ajaklah orang lain yang lebih ahli untuk berkolaborasi. Dengan begitu, kreativitas akan terasah dan nyaris tak ada batasnya.

2 Comments

  1. Saya fokus ke empat buku itu, menantang bener ya resolusinya. Saya masih belum kepikiran sanggup buat sebuah buku. Dulu pas kuliah pernah iseng2 buat cerita novel tapi akhirnya mandeg karena perkuliahan

    Like

Leave a Reply to Rudi G. Aswan Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s