Kehilangan Puisi dan Teror Bahasa Jawa

Di luar dugaan, kehilangan yang cukup memilukan adalah kehilangan puisi. Seperti yang saya alami belakangan ini. Merasa puisi telah menjadi bagian dari masa remaja dan klangenan saat dewasa, kini saya malah begitu jauh dari sajak atau puisi. Alih-alih mencipta seperti dulu, membaca puisi karya orang pun serasa tak ada waktu. Bukan tak punya waktu, tapi sebab tak berusaha meluangkan sehingga ada kesempatan untuk menikmatinya.

Rencana menerbitkan 4 buku pada usia 40 tahun pun porak-poranda. Semula akan meluncurkan empat judul sekaligus pada saat yang sama: angka 4 menandai kepala empat. Sebuah rencana yang wah walau eksekusinya bubrah. Fantasi keren akhirnya punya sekian judul buku selain satu kumpulan puisi bertajuk Sujudku Meneteskan Rembulan yang terbit tahun 2016 silam.

Satu dari empat judul itu mestinya adalah kumpulan puisi kedua yang saya beri judul Kalakatu. Judul yang menjanjikan dengan semangat yang menggebu. Mewadahi sejumlah puisi yang saya tulis belakangan dan belum masuk dalam antologi sebelumnya. Banyak hal yang memengaruhi kegagalan terbit buku ini, yang entah mengapa sulit dielaborasi.

Di tengah kemandekan berkreasi puisi, saya malah diserang gejolak ungkapan-ungkapan yang rasanya begitu puitis sehari-hari. Jika dulu saya mesti merenung, kontemplasi, memilih dan memilah mana kata dan ekspresi yang pas untuk masuk menjadi bait puisi, kini kata-kata seperti membuka diri untuk saya lirik sebagai kandidat sah dalam larik puisi.

Bahasa Jawa yang puitis

Bukan hanya bahasa Indonesia, ungkapan dan frasa yang muncul justru lebih banyak berasal dari bahasa Jawa. Mungkin itu berasal dari kata dugel, yang berarti kurdi mungil yang biasa dipakai di dapur oleh ibu-ibu saat memasak. Misalnya saat membuat adonan atau mengiris bawang. Dugel biasanya dibuat dari kayu sisa, baik triplek ataupun papan bekas pembangunan. Jika triplek dipakai, maka kayu usuk digunakan sebagai penyangga.

Dugel juga diadopsi sebagai nama orang pada zaman dulu. Nama yang tidak lazim dan sering jadi bahan ejekan teman jika ada yang dipanggil dugel. Namun nama-nama autentik Jawa ini, seperti halnya Bedjo dan Palupi mungkin akan hilang ditelan waktu sebab kian minim pengunaannya. Itulah sebabnya saya meminjam Dugel sebagai nama diri seorang tokoh dalam cerpen IndiHome berjudul Minaret belum lama ini.

Dari dugel, kata dan frasa lain bermunculan–terasa begitu puitis dalam benak saya. Mencelat, jibrat, angkep, hingga kebelek ngising. Kata-kata itu berlesatan, muncul begitu saja baik dengan atau tanpa konteks. Seperti sengaja timbul tenggelan agar saya pinang sebagai bagian dari puisi.

Namun betapa pun semua serbajelas, beragam kata dan ungkapan yang menampakkan diri, saya seperti lelah dan tak berdaya menghadapinya. Saya kemudian hanya merelakan mereka lewat, tanpa ada harapan mereka akan tersimpan di alam bawah sadar. Saya masih suka puisi tapi jelas tak mampu menaklukkan kata-kata yang muncul belakangan untuk diabadikan dalam sajak.

Ada dua penyebab yang mungkin melatari kebuntuan ini. Pertama, creative vent atau luapan kreativitas saya mulai tersumbat akibat kurangnya konsumsi bacaan, terutama buku dan analisis puisi. Atau alasan kedua, saya telah gagap memahami dunia yang bergerak sangat cepat, dengan dinamika perubahan yang tak mungkin dibendung lewat dunia maya sehingga dunia nyata membebek saja.

Harga minyak yang terus misterius, tragedi-tragedi kemanusiaan yang melanda negeri dan seluruh dunia, dikotomi yang terus direkayasa menuju perpecahan, serta biaya pendidikan yang melampaui ambang kewajaran telah menjadi antitesis bagi kenyataan hidup dan kemerdekaan. Kita, atau jangan-jangan saya, tidak lagi menyadari bahwa permusuhan diam-diam kita bangun dengan penuh kegembiraan. Ibarat merayakan perpisahan pahit tapi diharapkan.

Saya nglokro, takluk pada pertanyaan dan jawaban yang mungkin sama-sama tidak penting. Teror bahasa Jawa yang terasa puitis belakangan ini boleh jadi sebab saya mengkhianati komitmen untuk melestarikan bahasa daerah lewat blog khusus yakni misterblangkon.com. Sudah bertekad tapi tidak terbukti tekun dan kuat.

Saya tak bermaksud mencari jawaban, sebab pertanyaan yang tebersit boleh jadi kamuflase belaka, mencerminkan pseudo-keinginan yang malah menyesatkan. Pada kitab suci, dan puisi, saya berniat untuk tersesat!

2 Comments

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s