Palm Sugar: Sehat Alami, Bangkitkan Memori

Saat Uni Evi menggelar kontes bertajuk palm sugar sebagai pemanis sehat, saya tak sanggup membendung semangat untuk menuliskan kisah ini. Walaupun jujur masih terdapat kerancuan atau keraguan seputar pemahaman saya mengenai gula aren dan gula jawa. Namun karena kisah tentang gula nonputih ini menyimpan sedikit memori (dan kerinduan), maka biarlah tetap saya tuliskan–kendati mungkin tak dilirik juri sebagai peserta yang mengindahkan tata syarat lomba. Tentu tak ada ruginya saya membocorkan kenangan masa kecil di blog cerewet ini.

Di kampung kami menyebutnya gula merah atau gula jawa. Disebut demikian saya duga karena warnanya cukup gelap, bahkan sangat gelap sehingga lebih cocok bila dinamakan gula cokelat lantaran tak terlalu merah. Namun urusan nama kita simpan untuk diulas di waktu lain. Urusan saya adalah seputar memori. Betulkah ada memori di balik gula ‘gurih’ ini?

Sariawan dan sirup jeruk
Saat SD atau SMP, ketika sariawan mendera area mulut, rasanya sungguh menyiksa. Konsentrasi belajar buyar. Gairah bermain ambyar, sehingga waktu lebih banyak saya habiskan berselonjor di kursi ruang tamu sambil mengaduh kesakitan akibat perihnya lepuhan pada gusi atau bibir dalam.

Saat itulah seorang wanita menghampiri saya. Ya, ibu memang tak pernah mengecewakan. Tanpa banyak bercakap, ibu lalu mengangsurkan sebongkah kecil palm sugar. Saya menerimanya dengan enggan. Gusi sakit begini kok malah dikasih gula merah? Apa pasal?

Ibu kemudian meyakinkan bahwa bongkahan kecil ajaib itu cocok untuk mengusir perih sariawan di gusi saya. Saya mengangguk dan segera bangkit menuju dapur. Saya cek lemari dan di sana masih tersisa sirup jeruk kemasan botol. Jeruk tentu saja banyak mengandung vitamin C sehingga saya pikir tepat mendongkrak tenaga gula aren dalam mengenyahkan sariawan. Lagian terasa aneh bila saya mengudap gula aren mentah-mentah begitu. Saya seduh sirup itu dengan setengah gelas air panas. Lalu bongkahan gula dari ibu saya cemplungkan ke dalam gelas agar meleleh bersama sirup. Saya tunggu hingga hangat.

Ternyata resep ibu memang ampuh. Setelah meminum campuran itu, sariawan berkurang perihnya. Maka hari-hari berikutnya saya pun menghajar sariawan di mulut dengan larutan yang sangat unik rasanya. Tidak percaya? Cobalah, dan rasakan kemanjurannya. Walhasil, sariawan bubar!

Kini, setelah tinggal beratus-ratus kilometer jauhnya dari ibu, resep sederhana itu masih saya pakai. Hanya saja sekarang saya berubah lebih ganas karena langsung mengemut serpihan gula aren yang telah dipecah dari bongkahan yang lebih besar. Cara tradisional ini bahkan saya turunkan kepada Rumi anak sulung saya. Malah, dia kini sangat gemar menikmati gula sehat ini walaupun tidak sedang menderita sariawan. Memang enak, memang sehat!

Ketimus yang melegenda
Kudapan tradisional yang saya lestarikan resepnya adalah ketimus. Orang di kampung saya menyebutnya pluntir. Di Jawa Barat lebih dikenal dengan nama ketimus atau cukup timus. Sobat tentu akrab dengan penganan yang terbuat dari singkong ini. Biasanya singkong diparut, lalu dicampuri gula aren yang telah timusdiparut juga. Bila kurang manis, bisa ditambahkan gula pasir. Dan lebih lezat lagi bila bisa ditambahkan potongan kelapa muda kecil-kecil untuk menambah tekstur saat ketimus disantap. Adonan lalu dibungkus daun pisang (batu) dalam bentuk memanjang seperti lontong versi mini. Setelah rampung dibalut daun pisang, ketimus pun siap diangkut ke atas dandang untuk dikukus. Kira-kira selama 20 menit atau hingga daun berwana kecokelatan. Rasanya? Wow, legit dan gurih berkat kehadiran gula aren dan sisipan kelapa muda.

Saya sering dan suka sekali membuat ketimus di rumah. Dahulu istri saya menjadi mentor, namun sejak tiga tahun terakhir saya sudah percaya diri membuatnya sendiri, mulai dari membeli bahan-bahan, mencampur adonan, membungkus, dan mengukus hingga siap disantap. Pluntir atau ketimus ini juga makanan yang sering saya nikmati saat masih kecil dulu. Sepulang sekolah di SD Mbah saya biasanya pulang dari pasar dan menjajakan aneka jajanan pasar di atas tampah yang disungginya. Saya kerap mendapat aneka jajanan gratis, dan salah satunya tentu saja ketimus.

Pemanis gurih dan sehat

tipsdietampuh.blogspot.com
tipsdietampuh.blogspot.com
Penggal pengalaman terakhir yang bisa saya bagi adalah seputar kedahsyatan gula aren saat diselundupkan ke dalam limpahan air kepala muda, baik langsung dalam batoknya maupun dalam gelas. Kami sekeluarga memang penggemar fanatik kelapa muda. Ketika melanglang ke Depok melewati jalanan Pemda Bogor, kami hampir selalu berhenti untuk menyeruput segelas atau sebatok air kelapa muda. Di jalanan itu memang berjejer sekian penjual kelapa muda dengan berbagai desain tempat yang menarik. Atau ketika kami meluncur ke Pondok Cabe, kami tak melewatkan memesan kelapa muda di sepanjang jalanan Parung hingga Sawangan.

Sebelum menyedot air ajaib itu, kami tentu saja selalu memesan agar airnya disuntik dengan cairan gula aren dan bukan gula pasir. Saya agak kecewa ketika penjual hanya menyediakan larutan gula pasir. Rasa gula aren memang berbeda, apalagi khasiatnya. Gula aren memang pemanis sehat yang layak kita konsumsi dalam aneka kudapan atau masakan. Namun sayang, larutan gula aren yang dijual di penjaja kelapa kerap bermutu kurang. Rasanya tidak terlalu tulen. Mungkin karena harga yang berimbas pada kualitas rasa. Untunglah, air kelapa muda memang sudah gurih dari sononya.

Oleh karena itulah, belakangan ini kami jarang mengonsumsi kelapa muda langsung di TKP. Saya biasanya membungkus kelapa yang sudah dikosongkan dari batoknya. Di rumah, kami ramu larutan gula aren sendiri. Caranya sangat sederhana: bongkahan gula saya pecah menjadi keping-keping yang lebih kecil agar cepat meleleh dalam air yang direbus. Ketika gula aren telah larut sempurna dalam air panas, saatnya diangkat. Komposisinya harus pas sehingga larutan tidak terlalu kental dan tidak pula terlalu encer. Sehingga saat ditambahkan ke dalam air kelapa atau larutan lain, rasanya pas dan kegurihannya terpelihara.

Wingko dan getuk
Rasa penasaran saya tumbuh ketika membaca iklan beberapa produk Arenga. Kemasannya yang atraktif dan varian produk yang lengkap membuat saya berimajinasi tentang sesuatu. Ya, saya jadi ingin mengubah komposisi bahan dalam racikan wingko yang selama ini kami bikin. Kami biasanya menggunakan gula pasir dalam setiap butir wingko yang kami produksi. Walaupun menurut beberapa orang manisnya pas, namun gula aren atau palm sugar rasanya lebih tepat untuk dipadu dalam adonan wingko lantaran unsurnya sehat dan tetap membuat manis hidangan. Istri saya ternyata juga membisikkan hal yang sama tentang rencana eksperimen menggunakan gula aren dalam wingko kami. Bagaimana tidak tergiur saat melihat deretan produk Arenga berikut?

Kemasan eceran yang bisa kita beli. Ngiler ga Sob?
Kemasan eceran yang bisa kita beli. Ngiler ga Sob?

Kalau ini cocok banget buat hadiah atau bingkisan ;)
Kalau ini cocok banget buat hadiah atau bingkisan 😉

Saya jadi berpikir bahwa jolla-jolly pun akan lezat bila ditambah dengan madu hutan dari Arenga. Eh, ada madu juga? Betul. Selain palm sugar, Arenga juga menawarkan lini madu hutan dengan empat varian, mulai dari madu anak hingga propolis. Ini tentu saja sehat dan nikmat ya Sob?

Madu alami dari hutan yang menyehatkan :)
Madu alami dari hutan yang menyehatkan 🙂

Hanya soal waktu untuk menanti rasa ajaib saat dipadu dengan gula Arenga. [courtesy of Teh Dey]
Bakal ajaib rasanya bila dipadu dengan gula Arenga nih. [courtesy of Teh Dey]

Dan akhirnya, ini dia getuk besutan saya, tapi belum pakai gula aren. Sudah lama tak bikin getuk. Kapan-kapan bila sempat gula pasir akan saya pensiunkan dulu untuk menjajal manisnya gula aren. Silakan yang mau, boleh comot tapi jangan banyak-banyak. 😉
Nikmat dan sedap.
Nikmat dan sedap.

Nah, itulah tiga keping cerita tentang palm sugar. Siapa sangka gula aren tidak hanya berfungsi sebagai pemanis sehat yang alami, tetapi selalu membangkitkan memori serta kerinduan pada ibu saya di kampung. Rindu pada kesederhanaan resep atau kelezatan masakannya. Kangen pada cintanya yang murni, semurni gula aren yang selalu menemani kami.

Bagaimana dengan Sahabat? Kalau punya pengalaman tentang gula aren, “Ikutan Menulis Tentang Pemanis Sehat Yuuuk…
banner arenga

Advertisements

33 thoughts on “Palm Sugar: Sehat Alami, Bangkitkan Memori

  1. terima kasih pak Rudi turut menyemarakkan Lomba Peduli Pemanis Sehat uni Evi

    artikel sudah tercatat sebagai peserta.. sekalian saya incipi es degannya.. wassalam..

    Like

  2. Wow, baru tau kalau campuran sirup jeruk dan gula aren bisa menyembuhkan sariawan. 😀
    Mama saya juga suka masak dengan gula aren, apalagi pas bikin kue~ 🙂

    Like

  3. Gula merah buat bikin rengginang [kreceq], juga sedep utk bikin cucur, wajik, isinya koci-koci [di desa saya lbh terkenal dengan nama lemet],hemm..apalgi ya?

    #yg jelas kalau gula merah dan gula jawa, memang sdh familiar sejak kecil ya mas

    Like

    • Betul Mbak Ririe. Masakan apa pun yang pake gula merah rasanya jadi khas dan lezat, termasuk rengginang merah yang lebar-lebar itu, hehe. Renyah dan manisnya nagih. Betul lemet yang isinya kelapa parut dan gula merah itu ya Mbak? Enak dimakan pas hangat tuh–duh, laperrr….

      Like

    • Menurut sumber tertentu, gula aren justru berbeda dari gula jawa atau gula merah, Mas Edi. Gula aren berasal dari nira aren sedangkan gula jawa/merah disadap dari nira kelapa. Konon gula aren lebih tulen dan tanpa campuran sehingga rasanya lebih gurih. Tapi ga tahu pastinya gimana Mas. Yang jelas, gula nonputih ini sehat dan asyik digado 🙂

      Terima kasih sudah mampir.

      Like

  4. Wah ramuan untuk melawan sariawannya menarik Mas, siap untuk copas resepnya.
    Gethuknya juga manthuk-manthuk menunggu diincip.
    Selamat meramaikan GA sahabat

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s