Tak Ada yang Sia-sia (4): Manfaat Berpuisi

Dalam tulisan sebelumnya, saya menceritakan proses pemindahan semua puisi dari komputer rental ke komputer milik Andy. Andy adalah aktor di balik pembukuan puisi-puisi saya yang terserak baik di komputer rental maupun tulisan tangan. Hingga akhirnya buku fotokopian tersebut dibeli beberapa orang teman.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin memaparkan manfaat berpuisi. Di balik kegiatan menyusun kata-kata dengan selektif, atau membaca deretan kata dan kalimat yamg dipilih secara hati-hati, ternyata ada beberapa manfaat loh. Berikut daftar manfaatnya sejauh pengetahuan saya.

Sebagai terapi batin
Sebagaimana pernah saya tulis di sini, di Amerika konon telah dikembangkan psychopoetry, yakni teknik penyembuhan batin dengan mendayagunakan puisi. Orang-orang yang membutuhkan terapi akan berhimpun dalam sebuah kelompok dengan dipimpin oleh seorang terapis. Pertemuan tersebut bisa berlangsung di kantor, rumah pasien, kafe, perpustakaan, taman, atau di tempat lain yang disepakati.

Dalam setiap pertemuan, puisi yang dibahas beragam, mulai dari karya sang terapis, karya penyair yang sudah terkenal, hingga puisi karya pasien sendiri. Mutu sastra sajak-sajak yang mereka hasilkan memang bukan tujuan utama mereka berhimpun. Fokus intinya adalah menyelami masing-masing keadaan jiwa melalui puisi yang mereka tulis dengan menggali kesadaran dari hubungan antara satu pasien dengan pasien lain. Melalui interaksi dengan orang lain—dengan cara mengenali atau mengidentifikasi kondisi (masalah) mereka—diharapkan akan mampu menumbuhkan kepercayaan diri si pasien dan bangkit setelah pikiran dan jiwanya “bersih”.

Dalam konteks inilah, terlepas dari mutu puisi seseorang, menulis puisi bisa menyehatkan dan bahkan menyembuhkan. Melahirkan puisi dapat membebaskan diri dari cengkeraman batin dan belenggu pikiran yang mengungkung. Ketika segala beban bisa ditumpahkan dalam bait-bait puisi, seseorang akan sanggup mengenali kekuatan dirinya dan menentukan langkah yang lebih jernih untuk memperbaiki hidupnya.

sawah

Menginspirasi orang lain
Kadang tanpa kita sadari, orang lain (pembaca) ternyata menangkap suatu pelajaran atau peringatan dari puisi yang kita hasilkan. Intinya, mereka mendapatkan sesuatu yang berharga walaupun hal itu tidak kita sadari. Bila hal itu positif dan melecut pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukankah kita akan mendapat pahala? Karena begitu besar dampak sebuah puisi (atau karya apa pun lainnya), maka kita harus berhati-hati menyusunnya agar sampai kepada pembaca secara produktif dan konstruktif.

Honor pemuatan di media
Cara menarik menambah uang saku saat kuliah adalah mengirimkan puisi ke majalah atau surat kabar. Saat kuliah, selain mengajar saya memang aktif menulis puisi. Puisi-puisi itu lalu saya pilih dan kirimkan ke media yang cocok. Ada yang dimuat, lebih banyak yang tidak, hehe. Tidak masalah, puisi tidak dimuat bukan akhir dunia kok. saya selalu berprinsip bahwa dimuat atau tidaknya sebuah puisi tidaklah mengurangi kualitas puisi. Puisi bagus tetaplah bagus walau hanya bertengger di blog atau buku diary. Dimuatnya sebuah puisi ditentukan oleh banyak hal. Selera redaktur, misi koran/majalah, dan sebagainya. Bila sebuah puisi tak dimuat, bukan berarti ia jelek. Boleh jadi hanya tidak menemukan media yang tepat.

Kala itu honornya lumayan, bisa buat bayar kos sebulan dan masih sisa. Kalau dimuat di media di Semarang, honor bisa langsung diambil dengan membawa kartu mahasiswa. Bila dari Jakarta, honor biasanya dikirim via wesel pos. Jadul banget ya hehe. Pernah juga suatu kali wesel honor puisi bisa saya pakai untuk membeli sepasang sepatu baru, masih sisa. Bisa untuk makan. Asyik kan? Namun sayang, ada juga media yang tidak memberitahu saat puisi saya dimuat. Saat itulah honor pun melayang. 😦

Royalti dari buku
Seperti saya singgung dalam tulisan sebelumnya, Andy mengusulkan agar semua puisi saya disatukan dalam bentuk buku. Tujuannya bukan untuk dijual, melainkan untuk dokumen pribadi saja. Adapun ketika teman-teman kuliah berkenan membali, itu semata-mata bonus. Sebab saya sepenuhnya sadar bahwa pangsa pembaca puisi tidak sebesar pembaca karya fiksi. Jadi apa pun alasan mereka membeli, saya tetap happy.

Suatu siang, saat tengah menunggu dosen pembimbing skripsi di depan ruang dosen, saya berbincang dengan seorang junior. Sebut saja namanya Dewa. Setelah berbicara tentang banyak hal, diketahuilah bahwa ayah Dewa ini mengelola bisnis penerbitan di Bandung. Kalau saya punya buku fiksi, bisa dikirimkan ke penerbitan ayahnya. Saya tak tahu pasti apa posisi ayahnya di penerbit tersebut. Saat itu saya tengah menulis novel, walaupun baru dua bab dan tidak pernah selesai sampai sekarang, hehehe. Sebagai gantinya, saya menawarkan apakah mungkin mengirimkan buku kumpulan puisi. Dewa meminta saya mencobanya. Beberapa hari kemudian saya mengirimkan sebuah disket beserta printout semua puisi yang ada dalam draft buku.

Awalnya bukunya berjudul Notasi Telaga, sama persis dengan buku yang saya bagi dengan Andy. Penerbit ternyata tertarik pada naskah saya dan meminta mengganti judulnya. Setelah beberapa hari, saya kemudian mengirimkan 10 opsi judul. Akhirnya, buku kumpulan puisi itu muncul di toko buku Gramedia dan toko buku lain dengan judul Sujudku Meneteskan Rembulan. Berisi 98 puisi berbagai tema dalam rentang penulisan beberapa tahun. Tentu sangat senang saya punya buku sendiri–mengingat tak pernah terbayangkan akan punya buku yang dijual tanpa merogoh sepeser pun dari kantong saya (yang sudah kering kerontang). Maklumlah mahasiswa.

Lumayanlah royaltinya saya terima beberapa kali. Bisa menyambung napas hingga pindah ke Bogor tahun 2006. Namun perlu dipahami bahwa memang penjualan buku kumpulan puisi di Indonesia masih jauh dari kata laris. Bahkan penyair kenamaan pun konon sulit bisa menembus penjualan angka 3.000 kopi. Dan kalau pun bisa, biasanya jarang mengulang sukses pada cetak ulang berikutnya. Sujudku Meneteskan Rembulan terjual 1.000 kopi lebih (menurut laporan royalti). Sungguh sangat saya syukuri. Harga jualnya terbilang terjangkau. Saya tetap gembira sebab bisa menghasilkan rupiah dari keringat orang tak terkenal (da aku mah apa sih?) sekaligus mungkin menebar inspirasi lewat puisi-puisi di dalam buku tersebut.

Mempengaruhi gaya menulis
Manfaat kelima dari kegiatan berpuisi yang saya rasakan adalah pengaruh terhadap gaya menulis. Ya, walaupun intensitas saya kini dalam menggubah puisi sudah relatif menurun, dan saya pun hingga kini bukan penyair terkenal, namun pengaruh puisi dalam gaya tutur lisan sangat saya syukuri. Setidak-tidaknya saya merasa pilihan kata atau cara menyusun sintaksis dalam kalimat saya terasa berbeda dari orang lain. Semacam menjadi ciri yang saya sukai. Walaupun mungkin tidak diapresiasi oleh orang lain.

Saya ambil beberapa contoh. Misalnya saya cenderung menulis klausa yang berima sebagai berikut: “…kesehatan jiwa akan kian terpuruk dan kesehatan fisik tak ayal akan memburuk.” Terpuruk dan memburuk membentuk asonansi atau internal rhyming sebagaimana terjadi dalam puisi. Klausa itu menjadi menarik saat diucapkan secara verbal. Contoh lain: saya akan cenderung memilih “himpunan” daripada “sekelompok” untuk menggambarkan kumpulan sesuatu atau orang. Intinya, ada dorongan untuk menggunakan frasa atau kata bahkan metafora) yang jarang dipergunakan orang dalam kalimat biasa. Dengan hadirnya pilihan kata itu, makna atau pesannya bisa diperkuat dan menciptakan kesan tersendiri dalam benak pembaca saat kalimat-kalimat itu merasuki otak mereka.

Akhirnya sampailah pada manfaat terakhir. Manfaat keenam ini betul-betul di luar dugaan saya. Saya tak pernah menduga bahwa kemampuan atau pengalaman menulis puisi ternyata berkontribusi secara positif untuk membuka pintu rezeki yang lain. Yakni bekerja sama mengerjakan lagu-lagu untuk salah satu kontestan Indonesian Idol dan peserta X Factor Indonesia yang sebentar lagi akan mengeluarkan album mereka.

Kisah lengkapnya akan saya kupas dalam tulisan terakhir dari seri tentang puisi ini. Tak ada yang sia-sia. Percayalah.

Advertisements

6 thoughts on “Tak Ada yang Sia-sia (4): Manfaat Berpuisi

  1. Jadi ingat ketika perang Mu’tah, pasukan Ibnu Rawahah jumlahnya sekitar 25.000 orang sanggup mengalahkan kedigdayaan pasukan Romawi yang jumlahnya lebih dari 25.000 prajurit. Rahasia ketidakgentaran pasukan muslim, selain bantuan Allah tentu, yaitu puisi. Ibnu Rawahah menjadikan puisi-puisinya sebagai slogan perjuangan para sahabat yang gemetar dan hatinya ciut saat melihat barisan tempur Raja Hercules (Romawi). Saat melihat pasukannya yang hendak mundur, ia selalu tampil di depan dan menyenandungkan puisinya.

    duhai diri…
    bila kamu tidak terhunus pedang di medan juang
    suatu saat, kamu tetap akan gugur
    meski kamu hanya tidur di atas ranjang

    puisi memang keren!

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s