Kenapa Belalang Cerewet?

Beberapa kali sempat terpikir untuk menulis postingan ini, namun saya urungkan sebab terasa tidak mendesak. Saya pikir bukan hal urgen sehingga tak perlu ditulis apalagi diangkat menjadi materi dalam satu blog post khusus. Namun perkembangan terkini menunjukkan perlunya saya memublikasikan informasi tersebut. Jiaah, perkembangan terkini … haha! Anda yang punya waktu terbatas dan butuh istirahat, lebih baik manfaatkan jeda untuk rileks ketimbang terus membaca hal trivial berikut ini.

Semula saya ngeblog di Multiply menggunakan subdomain walank yang berarti belalang dalam bahasa Jawa. Sejak bermigrasi ke WordPress, saya mempertahankan nama walank, hanya saja dalam versi bahasa Indonesia yakni belalang. Belalang hanya bisa melompat ke depan, bukan ke belakang atau ke samping. Tingkah ini dianggap sebagai ciri positif yang bisa ditiru manusia agar terus maju dan melaju tanpa terbebani masa lalu. Di Jepang belalang konon melambangkan keberuntungan sementara di Cina disebut-sebut menjadi simbol fertilitas. Ada pula yang mengasosiasikan belalang dengan kedamaian atau ketenangan batin.

belalang

Apa pun tafsirannya, penggunaan nama binatang ini sebagai merek blog saya harapkan dapat mengingatkan saya pribadi agar menjadi pribadi yang tak gamang melangkah dengan tenang (tanpa mencemaskan masa lalu atau perkataan orang) dan berusaha terus bertumbuh secara produktif sambil menciptakan value positif dan manfaat sekecil apa pun seperti yang tersirat dalam pengertian fertilitas.

Adapun kata cerewet saya pilih untuk menciptakan kesan kocak sekaligus membentuk nama diri yang unik di blogosphere. Cerewet juga menggambarkan saya yang cenderung ingin mengomentari apa saja, sekurang-kurangnya saat mengobrol bersama istri. Nah, apakah saya benar-benar cerewet? Buktikan sendiri saat Anda mentraktir ngopi bersama saya, hehe.

Sejak itulah Belalang Cerewet menjadi nama blog yang kemudian saya bekukan ke dalam BBC sebagai kependekan dari Blog Belalang Cerewet. Akun blog, Facebook, Twitter, dan Instagram semuanya kompak mengusung nama Belalang Cerewet. Masalah muncul ketika saya mulai merambah jagat lomba. Giveaway sesama bloger biasanya tak ada masalah.

Namun jika penyelenggara adalah brand besar yang mensyaratkan data-data yang autentik, saya menjadi gamang. Bukan ge-er, namun kalau muncul sebagai pemenang, lalu data-data ternyata tidak sinkron—tentu rugi dong ketika hadiah tak bisa diklaim! Atau lebih parah lagi, tulisan saya tak lolos seleksi awal gara-gara dianggap tidak memenuhi syarat mengikuti akun ini itu yang biasanya melibatkan akun medsos. Bisa dibayangkan betapa anehnya jika saya mendaftar dan menuliskan nama saya: Belalang Cerewet?

Anak kedua

Saya dilahirkan sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, maka sudah sewajarnya bagi keluarga muslim tradisional memberikan nama anak mereka dari bahasa Arab. Isnaini, itulah nama depan saya yang berarti dua seperti hari Senin yang merupakan hari kedua. Khomarudin datang berikutnya sebagai nama belakang yang berarti rembulan agama. Karena terbatasnya pengetahuan transliterasi dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, maka nama serupa sering muncul dalam berbagai variasi ejaan. Misalnya Qomarudin, Qomaruddin, Komarudin, Komaruddin, Kamarudin, Kamaruddin, dan yang paling ‘parah’ adalah Khomarudin—nama saya sendiri. Entah bagaimana dahulu ejaan yang dipilih dan tercetak di akta kelahiran saya adalah Kh, bukan Q sebagai ganti huruf qaf dalam bahasa Arab. Kalau Kh adalah transliterasi huruf kho’, maka khomarudin bisa bermakna khamar agama. Hiiih, ngeri ….

Imbas dari nama lengkap yang taksa ini sudah sering terjadi. Salah satu yang masih terngiang adalah sewaktu ikut peluncuran buku terbaru karya NH Dini berjudul Jepun Negerinya Hiroko di Semarang belasan tahun lalu. “Ibu Isnaini Khomarudin!” ucap MC memanggil nama saya. Rupanya hadirin yang mengisi buku tamu hari itu berkesempatan memperoleh door prize berupa paket buku dan saya termasuk salah satu yang beruntung. Mbak Emsi jelas mengira peserta yang ia panggil adalah seorang wanita yang nama belakangnya menggunakan nama suami atau ayahnya. Momen awkward segera tercipta ketika saya berdiri dan maju sebab hadirin berpikiran sama seperti Mbak Emsi.

Sewaktu tinggal di Jombang, seorang kakak senior kadang mencandai kekeliruan nama saya. Menurut pendapatnya, Isnaini harusnya Isnani tak ada huruf jarr yang menyebabkannya jadi Isnaini. Memang benar argumennya namun toh tak ada yang bisa saya lakukan. Untuk mengatasi ambiguitas nama saya, seorang guru kemudian menuliskan nama saya di sampul buku kerja dengan khat Arab besar-besar berbunyi: Muhammad Isnaini Khomarudin. Tentu saja itu hanya berlaku di lingkungan kecil kami saat itu sebab pembubuhan nama secara formal harus diajukan ke pengadilan negeri dan prosesnya tak mudah.

Kenapa Rudi G. Aswan?

Sewaktu KKN kuliah, saya di-bully habis-habisan oleh kawan-kawan satu tim desa yang sama. Walau tak dirugikan secara materiil, namun candaan nama lama-lama bikin gerah. Neni atau Kokom menjadi santapan saya setiap hari. Dipelesetkan menjadi nama yang berkonotasi feminin sungguh tak enak. Apalagi mengingat nama itu diberikan dengan penuh kasih oleh orangtua tercinta. Syukurlah, ketidaknyamanan itu perlahan berakhir ketika saya bergabung sebagai staf pengajar di lembaga kursus beberapa bulan sebelum wisuda.

It’s time to change your nickname, Bro!” ujar Toni mengusulkan agar saya memilih nama panggilan lebih pendek di tempat mengajar. Toni sendiri bukan nama aslinya, melainkan penggalan dari akhiran nama tengah dan nama belakangnya Muhammad Yulianto ramadani. Saya pikir pendapat Toni benar juga. Jadilah saya pilih Rudi sebagai nama panggilan yang diambil dari Khomarudin. Di tempat kursus anak-anak memanggil saya Mr. Rudy (yang disesuaikan dengan ejaan bahasa Inggris) atau Mr. R untuk memudahkan. Sejak mengajar di tempat itulah Rudi saya perkenalkan di mana-mana, lebih umum dan lazim sebagai nama cowok macho. Sejak lulus kuliah di Semarang hingga merantau ke Bogor, Rudilah yang mewakili saya. Meski akhirnya tahu nama asli, Rudi tetap melekat sebagai panggilan lantaran paling awal saya perkenalkan.

Bagaimana dengan G. Aswan? Huruf G. sendiri tak punya arti spesifik, seingat saya saya pilih begitu saja karena terdengar pas dan terutama nama-nama sastrawan banyak yang menyematkan satu huruf di depan atau di tengah. Saya memang suka membaca karya sastra dan beraspirasi sebagai penulis—setidak-tidaknya penulis puisi. Lalu Aswan? Kota kuno di Mesir ini saya pikir sudah kondang di seantero dunia. Begitulah Rudi G. Aswan terjalin hingga saya pakai sebagai nama pena saat ngeblog dan menulis puisi menggantikan Isnaini Kh Qosnawi atau Isnaini Kh yang sebelumnya sempat saya pergunakan misalnya ketika menerbitkan buku Sujudku Meneteskan Rembulan.

Mewujudkan harapan

Ah, apalah arti sebuah nama. Yang namanya mawar tetaplah harum walau dikasih nama apa pun. Begitu ujar Mbah Shakespeare dalam Romeo and Juliet. Tapi jelas nama bukanlah sekadar label yang tersemat untuk membedakan masing-masing individu. Di dalam nama terkandung doa dan harapan orangtua yang mulia. Maka tak ada hak bagi kita untuk mencela atau meledek semata-mata lantaran terdengar lucu atau tak lumrah. BBC Mania masih ingat kan saat sebuah produsen minuman global merilis video emotif tentang nama-nama yang dipelesetkan secara negatif?

Pada akhirnya, yang lebih penting dari sebuah nama bukanlah keren atau udik, rumit atau sederhana, panjang atau pendek, atau dari bahasa apa ia diadopsi. Nama adalah identitas dan oleh karena itu membawa konsekuensi untuk menepatinya sesuai apa yang dicita-citakan oleh ayah ibu kita. Tak peduli seberapa kondang atau asing nama tersebut. Tak peduli seberapa panjang atau singkatnya. Memilih nama panggilan atau nama pena bukan berarti tak menghargai nama pemberian orangtua terutama bagi nama yang ambigu seperti saya. Tetapi menghindari pernik-pernik percakapan yang berpotensi mengarah kepada candaan tak produktif.

Walau terkesan tak lazim, semoga posting ini menjawab pertanyaan beberapa teman bloger tentang nama yang muncul di bawah foto saya dalam sebuah pengumuman kontes beberapa waktu lalu. Sekaligus menghindarkan para pembaca untuk tidak menyebut saya dengan sapaan Mbak atau Bu baik di kolom komentar blogpost maupun status Facebook. Untuk yang kedua ini saya hanya bisa berharap, sebab kadang ada saja pembaca yang malas enggan membaca halaman tentang saya yang sudah saya tulis.

Harapan paling besar sebenarnya adalah ada gitu kek pembaca yang bermurah hati menghadiahi kopi atau teh khas dari daerahnya, hehe. Cocok banget buat teman menulis di sore yang terik di Lamongan yang langka air.

Advertisements

27 thoughts on “Kenapa Belalang Cerewet?

  1. Kukira karena memang belalang itu cerewet kaya jangkrik, hihi. Aku pun agak bingung menentukan nama mas, agak gamang juga kalo menuliskan nama panjang saya yg memang kepanjangan, lama ngetiknya 😂

    Like

  2. Akhirnya terjawab sudah misteri nama blog dan cerita tambahan mengenai asal-usul nama Mas Rudi!
    You know, BBC sounds like something else in most of the English speaking world. And that’s what I latched on to at first.

    Nah, setelah ada penjelasan dari Mas Rudi, saya jadi lebih santai. Mantap lah! Ngomong-ngomong, menurut saya, nama Isnaini itu bagus. Serupa dengan nama Dwi yang bisa dipakai sebagai nama pria dan wanita.

    Like

    1. Saya sampai lupa ada kasus serupa dengan Dwi ya. Tempo hari ada bloger lain bernama Adhi Nugroho, hampir saya kenali sebagai Anda, Mas. Namun dia berdomisili di tanah air. Berarti bukan, namanya pun selisih satu huruf.

      Like

  3. dulu di TVRI ada serial Pak Belalang, saya suka banget serial ini.. kalau gak salah, anaknya yang bernama belalang. Saya pikir tadinya terinpirasi dari serial itu lho.
    Saya pun sebenarnya nama pena, tapi ya.. gak jauh sama nama asli sih.

    Like

  4. Isnaini Kh terdengar seperti nama perempuan 😊 tapi bagus.

    Rupanya panjang juga ya ceritanya. Dulu saya pikir Rudi G. Aswan itu nama aslinya, karena di medsos pakai nama Belalang Cerewet 😃

    Like

  5. Ooo gitu. Kirain memang namanya Mas Rudi G. Aswan.

    Kisah yang menarik, mas. Terkait nama Isnaini/Isnani, di kantor suami saya ada yang bernama Nani. Pak ini. Mungkin namanya Isnani tadi. *nebak-nebak*

    Kalau saya malah sudah pakai nama sendiri versi G+ setelah sekian th pakai nama damarojat krn sering dikira laki-laki.

    Iya, betul, mas. Urusan nama bisa jadi panjang sebab terkait administrasi. Jadi terpikir nulis soal ini.

    Tfs, mas.

    Like

    1. Itulah orang yang biasanya cuma mampir di beberapa artikel tanpa mau membuka artikel lainnya. Btw sekarang ini banyak orang yang menggunakan nama ambigu untuk anak-anaknya kok Mas Rudi, jadi lebih amannya memang panggil Kak saja ya.

      Like

  6. Awal ketemu njenengan, saya ngertinya Belalang. Maka, saya manggilnya Mas Belalang. Seiring dengan berjalannya waktu, saya tahu, ooo nama aslinya Rudi G. Aswan. Tapi, saya sudah familier dengan memanggil Mas Belalang, hehe… Eh, sekarang baru tahu kalau nama aslinya njenengan Isnaini Khomarudin. Jadi, sekarang saya mesti manggil apa nih, Mas? Hehehe….

    Like

  7. Ternyata ada makna filosofis dibalik nama belalang cerewet.
    Awalnya sempat mengira ada sosok perempuan di balik pemilihan kata cerewet.
    Nyatanya pria pun memang bisa cerewet.
    Salam kenal mas.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s