Dua Saudagar yang Murah Hati

We make a living by what we get, but we make a life by what we give.

Winston Churcill

DI BANYAK tempat, diakui atau tidak, implisit atau eksplisit, terpaksa atau sukarela, orang-orang kaya sering mendapat penghormatan lebih dibanding orang yang kurang kaya atau miskin. Paling tidak di kampung tempat saya besar dulu. Orang kaya selalu mendapat jatah tempat yang istimewa dibanding tamu lain saat ada kenduri. Bila tamu undangan lain duduk di tikar biasa, maka kalangan orang kaya biasanya berkelompok dengan pembicara/ustaz atau pengurus desa di spot yang berkarpet bagus. Gestur dan air muka para undangan pun spesial terhadap orang kaya tersebut.

Empat persamaan

Namun saya tak tertarik bercerita apa menu atau perlakuan istimewa apa lagi yang diberikan kepada orang kaya di acara seperti itu. Merespons tema daily post dua hari, yakni kata generous, tiba-tiba saya teringat tentang dua saudagar kaya di kampung saya. Mereka menarik bukan hanya karena sama-sama saudagar, tetapi juga diikat oleh beberapa persamaan lain.

Mereka sama-sama sudah menunaikan haji. Di kampung sangat lumrah orang-orang demikian akan dipanggil Pak atau Bu Haji oleh warga lainnya sebagai penghormatan. Jadi sebut saja mereka Haji A dan Haji B. Selain itu, mereka mencari uang dari bidang usaha yang sama–hanya beda tempat. Belakangan Haji B mengembangkan usaha di dua bidang lain. Kurang tahu dengan Haji A. Persamaan lain adalah keduanya berasal dari satu kekerabatan atau terjalin dalam satu keluarga besar.

generosity-840x420.jpg

Gambar dari makeuseof.com

Perbedaan besar

Tapi ada satu perbedaan mencolok dari keduanya. Kenyataan ini sudah tersebar luas di kalangan warga desa kami. Haji A kurang dermawan dibanding Haji B. Haji B lebih dermawan ketimbang Haji A.

Beberapa contoh berikut akan memperjelas kabar tersebut. Suatu hari seorang pekerja Haji A bermaksud meminjam uang. Karena mereka diupah per minggu, maka uang dijanjikan akan dikembalikan setelah gajian minggu itu. Namun sayang, pekerja tersebut gagal mendapat pinjaman untuk bayaran sekolah anaknya.

Jumlahnya tentu di bawah upahnya seminggu dan tentu juga ibarat uang receh bagi Haji A yang hartanya sudah miliaran rupiah. Hanya beberapa ratus ribu. Merasa tak punya pilihan lain, pekerja tersebut lantas menemui ibu saya dengan maksud yang sama. Syukurlah saat itu ibu sedang punya simpanan sehingga tujuannya terkabul. Karena sakit-sakitan, si pekerja itu akhirnya meninggal dunia dan ibu mengikhlaskan utangnya.

Ada pekerja lain yang setiap hari bertugas di rumah Haji A. Sebagai pemasak di dapur, betapa ngiler dirinya pada daging yang tersimpan di kulkas majikannya. Namun sayang daging kurban itu tetap rapi terbungkus di freezer kulkas dari Idul Adha ke Idul Adha berikutnya. Majikannya memang terkenal cerewet, hehe, begitu orang bilang. Tentu bukan saya. Jadi, selezat apa pun masakan yang dia racik, tak pernahlah makanan itu singgah ke mulutnya.

Itu pekerja wanita. Ada cerita lain tentang seorang pekerja pria. Saat ayahnya sakit, pekerja ini berusaha meminjam duit dari Haji A. Tentulah enak meminjam dari majikan sendiri karena bisa langsung potong gaji. Hatinya remuk saat permohonannya ditolak. Ia pun lantas menemui Haji B dan berhasil mendapatkan pinjaman. Ini beberapa cerita yang beredar di desa saya.

Di sisi lain, Haji B mengirimkan beras sekian ratus kilogram setiap bulan ke dua panti asuhan meskipun salah satunya berbeda golongan dengannya dari segi organisasi keagamaan. Saat ada kegiatan pun, Haji B tidak segan memberikan donasi. Sementara Haji A konon susah memberi bantuan. Kalaupun ikut menyumbang, jumlahnya tidak signifikan. Begitulah yang beredar di sana.

Setiap lebaran, anak yatim dan duafa, termasuk masjid, kebagian rezeki dari Haji B. Jumlahnya cukup besar, sepadanlah dengan hartanya. Sedangkan Haji A memang turut bersedekah, namun jumlahnya itu itu saja. Semoga saya bisa meniru kemurahan Haji B baik saat ini maupun nanti. Baik ketika lapang ataupun sempit. Tak perlu menunggu kaya, tak harus menjadi saudagar terkemuka.

Seperti kata Churchill di awal tulisan ini bahwa pendapatan memang kita peroleh dari apa yang kita dapatkan, dari pekerjaan atau usaha kita. Materi kita raup dari hasil usaha atau gaji. Namun untuk bisa merasakan denyut kehidupan yang hidup, maka kita harus memberi kepada orang lain. Pekerjaan atau usaha menegaskan eksistensi diri kita, sedangkan kemurahan hati memperkuat denyut kehidupan agar senantiasa segar dan terpelihara dengan sehat.

Advertisements

10 thoughts on “Dua Saudagar yang Murah Hati

  1. Setiap lebaran, anak yatim dan duafa, termasuk masjid, kebagian rezeki dari Haji B. Jumlahnya cukup besar, sepadanlah dengan hartanya. Sedangkan Haji B memang turut bersedekah, namun jumlahnya itu itu saja. Semoga saya bisa meniru kemurahan Haji B baik saat ini maupun nanti. Baik ketika lapang ataupun sempit. Tak perlu menunggu kaya, tak harus menjadi saudagar terkemuka.

    ====
    Salah ketik tidak ya? seharusnya menurut saya…

    Sedangkan haji A memang turut bersedekah dst..(khusus ini saja haji A) 😀

    Like

  2. O iya,,ini salah ketik Bang,
    “Setiap lebaran, anak yatim dan duafa, termasuk masjid, kebagian rezeki dari Haji B. Jumlahnya cukup besar, sepadanlah dengan hartanya. Sedangkan Haji B memang turut bersedekah, namun jumlahnya itu itu saja. Semoga saya bisa meniru kemurahan Haji B baik saat ini maupun nanti.”

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s