Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 4)

rindu 4a

Photo credit: Mohamad Zainuri

RAMPAK GAMELAN DITINGKAHI angklung yang terdengar ke penjuru ruangan segera menyihir para peserta tak lama setelah Bupati menempati tempat duduknya. Karena cukup lama menanti, panitia memang segera membuka acara seremoni dan memutar video rekaman berisi promosi Hutan Petungkriyono yang cukup memukau. Ricik air terjun dan kerisik daun-daun ribuan pohon menjadi semacam preview yang semakin membuncahkan semangat peserta APNE untuk segera mengeksplorasi hutan tropis nan eksotis di Pekalongan esok harinya.

Tepuk tangan berkumandang. Sesaat tak ada lagi yang mengingat kelezatan pisang goreng keju atau kemurnian air mineral yang baru saja kami konsumsi. Apalagi mengingat hari ulang tahun mas petugas buffet yang sedari tadi mengumbar senyum. Ah, sungguh sadis teman-temanku ini. Bahkan ketulusan penggoreng pisang keju pun mendadak terlupakan akibat pesona hutan dan teriakan owa (atau lutung?) dari video rekaman. Itu bisik salah seorang peserta yang baper lantaran baru mandi di sore hari. Sungguh gumaman yang tak bermutu!

Pak Asip yang sip

“Menjadi Bumi Legenda Batik Nusantara,” demikian ujar Bupati saat memberikan sambutan resmi mengenai target branding Pekalongan ke depan. Gaya bertutur yang santai dan keramahan pribadi Pak Asip Kholbihi membuat suasana mencair. Untunglah tak sampai menguap atau menyublim. Dua peristiwa fisika ini tak perlu saya jelaskan sebab memang enggak relevan dengan kisah pembukaan acara malam itu. Yang jelas, atmosfer rileks membuat acara semakin gayeng. Setidaknya itu yang terdengar dari komentar seorang pserta lain, “Orangnya asyik ya Mas. Ga gaya pejabat ngomongnya,” ujar Mas Eko. Saya meengangguk sambil membayangkan pisang keju yang mungkin sudah tandas.

Petungkriyono yang beliau sebut sebagai paru-paru Jawa tersebut termasuk dalam dataran tinggi Dieng sehingga kesejukannya masih ideal sebagai ekosistem berbagai binatang endemik seperti elang hitam dan owa Jawa. Dalam kesempatan terpisah saat melepas kami di Pendopo Kajen esok paginya, beliau kembali mencukilkan informasi bahwa Hutan Petungkriyono dibangun sejak Dinasti Syailendra dan berkembang hingga era Pekalongan Kuno. Maka tak heran bila di sana terdapat banyak situs budaya yang kini tengah diinvestigasi oleh para peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pada hari ketiga, Minggu siang sesaat sebelum peluncuran Batik Petungkriyono di Padepokan Failasuf, Pak Asip membocorkan satu hal lain mengenai hutan ini. Di Curug Lawe, salah satu spot yang sudah kami kunjungi, konon ditumbuhi pohon tertentu yang bila kulitnya sengaja dikelupas, maka orang yang mengulitinya akan terluka pada bagian tubuhnya. Luka itu baru akan pulih saat luka di pohon sudah kering. Bupati mengisahkan hal ini untuk membuka para peneliti dari mana saja agar menelisik lebih jauh. Itulah beberapa hal menarik mengenai Petungkriyono di Pekalongan selain batik yang selama ini kita kenal.

Misteri kain batik

Malam kian larut, terasa kian berat di perut (mungkin sebab pisang keju hihi), dan mata tak sanggup lagi menahan rasa kantuk. Setelah menyerahkan name tag secara simbolis dan membuka acara secara resmi, Bupati pamit dan dilanjutkan dengan penyerahan kaos kepada seluruh peserta. Kulihat mata teman-teman tampak mengerjap penuh semangat saat mengingat bahwa Pak Asip berjanji akan menghadiahkan oleh-oleh batik untuk peserta APNE 2017. Mungkin ada yang membayangkan kemeja batik, ada yang berimajinasi memakai celana batik, hingga aneka daster bercorak unik. Alih-alih berfantasi, saya memilih pergi ke hutan, lalu belok ke pantai. #oke, garing! Segaring pisang keju, bwahaha….

Malam pertama berakhir dengan kerepotan pindah kamar lantaran kami tak nyaman sekamar bertiga. Setelah menunggu cukup lama di depan meja panitia, saya pun berhasil kembali dengan kunci kamar baru. Begitu urusan angkut-angkut barang beres, barulah bisa beristirahat. Belum juga rihat, di grup tersiar kabar bahwa Zain bloger asal Kendal ternyata belum mendapatkan kamar sehingga saya tawarkan bergabung di kamar yang sama. Obrolan seputar bakso balungan dan kota asalnya hingga hal-hal pribadi pun akhirnya mengantar kami ke Pulau Kapuk. Zzzzz…zzzzzZZ….

Mandi sudah, sarapan telah, cakep entah! Waktu berkumpul dan berangkat rupanya molor hingga dua jam. Kami baru meluncur menuju Pendopo Kajen pukul 07.30 pagi. Dua bus wisata yang nyaman membawa kami menuju rumah dinas bupati di Kajen yang merupakan ibu kota Kabupaten Pekalongan. Awalnya saya tergoda ikut mobil panitia bersama Rizki aka Bang Doel. Namun menumpang bus rupanya lebih asyik karena ramai dan mengesankan sepanjang perjalanan. Apalagi ketika mendapat kursi di belakang, kami dihibur Bang Yosh si fotografer gaek asal Batang.

Sarapan jilid dua

Kenikmatan lain adalah adanya satu kardus camilan aneka rasa yang ditempatkan tak jauh dari tempat kami duduk. Haha, serasa punya kedai mobile. Haus? Tinggal ambil air mineral yang tersedia cukup berlimpah. Saya lebih banyak diam selama perjalanan menuju Kajen. Mungkin karena mengantuk atau sengaja mengirit energi biar lembut pisang keju tetap terpelihara. Mas Nuz dan Mas Eko terdengar mengorok banyak bertukar pikiran soal banyak hal, mulai soal blogging hingga isu tokoh politik. Akhirnya ada alasan untuk bergembira setelah lama tak pernah bersua. Mungkin begitu yang mereka rasakan.

Pukul 08.45 kami sampai di pendopo dan langsung diarahkan menuju ruang makan. Wah, serius nih makan lagi? Awalnya kukira ini sekadar camilan atau dessert karena belum terpaut lama dari sarapan pagi. Rupanya salah. Jamuan istimewa berupa ayam bakar, telur asin, dan urap megono membuat peserta seolah lupa tadi sudah sarapan. Hampir-hampir saya akan mengenali mereka seolah para pencangkul anak buah Bos Idan.

Lantaran harus mengeksplor kamar mandi, saya pun tertinggal adu cepat menuju meja makan. Antrean masih mengular sementara sejumlah peserta lain telah duduk santai sambil bersantap dan mengobrol di beberapa sudut dan titik favorit. Saya putuskan masuk ke barisan dan beruntung mendapatkan setengah butir telur asin dan beberapa lembar sayuran. Untunglah perut belum terlalu lapar, jadi gurih telur dan kesegaran sayur sangat pas. Alhamdulillaah ….

Jangan lupa selfie

Saya melirik jam tangan. Wow, keren juga ya! Terpaksa kupuji sendiri lantaran enggak ada yang peduli aku pakai arloji, hiks. Jarum menunjukkan pukul 09.30. Sesi sarapan tahap dua selesai, Pak Bupati berdiri untuk menyambut kami. Selain berpesan agar kami berhati-hati selama menjelajah Petung, beliau menyemangati kami untuk mengeksplorasinya lalu mengabarkannya kepada dunia. Bahwa Pekalongan bukan cuma batik, ada potensi alam yang mencengangkan. Intinya, membantu menduniakan Pekalongan sebagai destinasi wisata yang menyenangkan.

diri

Kaku banget kan? Maklum bukan diperagakan oleh model 😛

Kami menyambut pesannya dengan gembira, apalagi ketika panitia kemudian membagikan syal batik yang akhirnya menjawab rasa penasaran siapa pun yang berfantasi tadi malam, xixixi…. Tanpa itu pun sebenarnya para peserta cukup terhibur oleh jiwa narsisme masing-masing. Beberapa menit sebelum sarapan di rumah dinas, kami segera bergerak menuju titik-titik yang Instagrammable. Selain alun-alun kabupaten, ikon yang paling laris menjadi ajang selfie adalah ikon gunungan raksasa yang berada tepat di depan pendopo.

Meet Anggun Paris!

Usai sesi ramah tamah di pendopo, bus membawa kami ke tujuan utama: Petungkriyono yang memesona. Suasana bus masih gayeng meskipun jarak yang kami tempuh lumayan jauh. Jam 10.45 kami tiba di Terminal Doro di mana 10 Anggun Paris telah menanti kami cukup lama. Anggun Paris adalah kependekan Angkutan Gunung Pariwisata, mobil bak terbuka yang didesain sedemikian rupa khusus untuk mengangkut penumpang melewati jalur pegunungan yang berkelok dan tak jarang curam. Dari kabar yang kudengar sebelum kondang sebagai Anggun Paris konon penduduk lokal mengenalnya dengan doplak.

anggun paris 2

Gembira ria, gembira ria

Apalah arti sebuah nama. Yang namanya mawar, mau dikasih nama apa pun, tetaplah harum baunya. Begitu kata Eyang Shakespeare. Nah, mau doplak atau anggun paris, mobil terbuka yang kami tumpangi jelas sangat tangguh membawa kami meliuk-liuk di jalanan pergunungan yang penuh kerikil dan berdebu, hingga melewati tikungan tajam dengan tepian jurang yang terjal. Sekelumit perjalanan mengesankan itu saya abadikan dalam video berikut ini. Tonton dan subscribe yak, hihihi.

Selama di Petung saya tak sempat lagi membuka buku catatan untuk menulis waktu ataupun detail peristiwa. Mau tak mau saya larut dalam pesona alami hutan yang kami kunjungi. Bersatu dalam liukan pohon bambu dan sengon, juga deretan pohon kopi yang sesekali menyelingi rerimbun di sisi jalan. Takjub dan takut pada saat yang sama. Betapa tidak, pesona itu harus kami bayar dengan perjalanan selama 1,5 jam melewati jalanan berlubang dan naik-turun sejauh 30 kilometer—dengan sisi-sisi jurang yang jaraknya sekitar 1 meter dari mobil yang melaju. Tak heran jika kadang terdengar teriakan kecil para peserta saat jalanan mendadak curam dan terjal pada saat bersamaan.

Kopi liar bikin ngiler

Tiba di gerbang Petungkriyono National Nature Heritage, kami disambut segelas kopi khas dari Hutan Sokokembang. Walau kami akhirnya urung berkunjung ke area hutan Sokokembang, namun kopinya menyisakan kesegaran di lidah. Biji kopi liar yang diproses dan dikemas sendiri secara tradisional oleh penduduk lokal ini sungguh nikmat rasanya. Sebagai penggemar kopi, rasanya kopi liar khas Petung ini boleh jadi kopi ternikmat yang prnah kuminum. Demikian juga menurut istriku yang juga penyuka kopi.

DSCF2474

Semua minum kopi!/Photo credit: Mohamad Zainuri

Suasana sejuk pegunungan membuat segelas kopi seolah belum cukup. Sambil menyesap kopi Petung, kami dihibur tarian selamat datang oleh dua penari setempat. Para fotografer, pilot drone, dan bloger maupun jurnalis tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kamera dikeluarkan, sebagian membidik foto sebagian lagi merekam sebagai video. Perjalanan masih panjang, tapi kami seolah enggan beranjak. Lebih-lebih saat seekor elang hitam melintas seakan-akan tak ingin kalah pamor oleh sejumlah drone yang beterbangan mengitari pucuk-pucuk pepohonan.

Dari bunyi bedug

Perjalanan berlanjut ke spot berikutnya yakni Curug Sibedug, yang terletak di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring. Lokasinya paling mudah dijangkau karena terletak tepat di pinggir jalan. Saat melewati Jalan Raya Petungkriyono, kita pasti melihat air terjun ini di sebelah kanan bila menempuh perjalanan dari bawah. Menurut guide yang memandu, nama Sibedug berasal dari bunyi bedug yang kerap terdengar di malam hari pada zaman dahulu di lokasi air terjun ini. Curug Sibedug yang tingginya mencapai 20 meter ini memiliki dua air terjun bahkan bisa mencapai tiga buah saat musim hujan.

penunjuk arah

hormat

Hormaaat grakk!/Photo credit: Mohamad Zainuri

Di tempat sejuk ini kawan-kawan segera merapat ke curug dan mengabadikan foto diri. Para pilot drone mengeluarkan pesawat mereka masing-masing dan menerbangkannya untuk merekam pemandangan di sekeliling air. Yang menarik di sini adalah dipasangnya beberapa bendera merah putih menuju air terjun, yang segera menjadi titik asyik untuk berfoto. Sangat relevan dengan perayaan kemerdekaan yang kita helat setiap bulan Agustus. Di Curug Sibedug pula pilot drone dan fotografer meminta pembagian waktu untuk masing-masing kategori. Alasannya masuk akal. Jika bloger dan jurnalis ikut memotret pada saat bersamaan dengan terbangnya drone, hasil rekaman video yang tertangkap oleh pesawat tanpa awak itu akan terganggu alias tidak bersih lantaran berisi hiruk-pikuk peserta kategori lain. Akhirnya diputuskan untuk meliput atau menjelajah setiap lokasi secara bergiliran.

Sipingit dan biru langit

sipingit.jpg

Biru yang memikat

Saya dan rombongan anggun paris sedikit kaget ketika sopir menghentikan laju kendaraan di tengah jalan. Bukan terkejut lantaran Bang Doel minta jatah camilan dari kami. Padahal onde-onde, bolu, tahu bakso, lontong, dan kue pisang masih cukup banyak untuk disantap. Hmm, lezat banget kan bahkan sekadar membayangankannya?! Para pilot drone dan fotografer langsung mengambur dan memotret sawah-sawah hijau seperti hamparan permadani nan permai. Sawah berpola terasering itu tak ayal menghipnotis para pendatang. Dua model turun ke sawah dan segera menjadi objek bidikan pemegang kamera.

Setelah area dinyatakan bebas jelajah, saya memburu langkah ke bawah menuju sungai dengan batu-batuan besar dan air yang sangat jernih. Naluri mendorongku untuk menyauk air bersih itu lalu membasuhkannya pada muka. Perjuangan mencapai sungai itu lumayan juga, namun dengan beberapa lompatan, hap hap, akhirnya kesegaran airnya begitu terasa. Walau saya kini tinggal di daerah, menemukan sungai dengan air sejernih dan sebersih itu sudah menjadi barang langka. Ahh, segarnya udara di sini. Saat mendongak ke atas nun di sana terlihat Jembatan Sipingit yang eksotik, sementara di sisi kanan biru langit tampak cerah, mempertegas hijau sawah-sawah dan aneka tumbuhan.

Hanya dua tiga bidikan terekam, lalu kameraku kehabisan baterai dan lupa bawa sumber daya cadangan. Tak apa, yang penting masih ada rekaman kelezatan pisang keju, hehe #tetep

Welo Asri si penguji nyali

Kami bergerak lagi. Jalan semakin berliku, masa depan semakin suram. Untunglah ladang-ladang berisi tomat yang gemuk dan hampir matang di sebelah kiri menjadi penyejuk mata saat spot berikutnya tak kunjung terlihat. “Wah, cabenya bagus-bagus!” uja Laras, mahasiswa Unsoed yang sehari-hari sibuk sebagai penyiar radio itu. Desi yang menjadi teman obrolannya rupanya tak terlalu bersemangat. Saya sendiri kegirangan lantaran terhibur dan berhasil menahan kantuk berkat menyaksikan cabe-cabe keriting yang menggantung kemerahan dan siap dipetik. Ah, andai boleh membawa pulang barang satu dua ember, tentu asyik. Hehe.

sendal.JPG

Kira-kira pukul 13.00 kami tiba di Welo Asri. Welo Asri ini mungkin salah satu tempat yang paling menantang, sekaligus sangat menarik. Seperti lazimnya spot lain, terdapat titik-titik selfie yang pamerable di Instagram seperti sepasang sendal raksasa, jembatan cinta, dan rumah pohon. Tempat terakhir ini cukup sulit dijangkau. Hanya yang niat dan ganteng kayak saya berstamina kuat yang bisa mencapainya. Dari musola kita harus menuruni lereng kecil menuju sendal raksasa, lalu turun lagi menyusuri sungai-sungai licin, jalan terus hingga menemukan pohon raksasa yang siap dipanjat. Bila tak berhati-hati, bisa-bisa BBC Mania tercebur ke dalam sungai seperti salah satu peserta berikut ini.

Melihat medan yang begitu aduhai, saya hanya sampai di sendal raksasa lalu balik ke atas. Teman-teman terlihat menghangatkan diri di kedai terdekat dengan semangkuk mi rebus yang aromanya sangat menggoda. Sebagian lain tampak menunaikan shalat Zuhur dilanjut Asar. Sementara peserta lain memilih menguji kekuatan untuk mencapai pohon selfie yang memang keren banget. Di tempat parkir beberapa forografer yang beruntung bisa menangkap momen kemunculan lutung yang berayun dari satu dahan ke dahan pohon.

welo.jpg

Luar biasa kan?

Sungai Welo ini cocok sekali buat pengunjung yang doyan tantangan seperti river tubing dan river trekking dengan mengarungi track sejauh 2-3 km. Selama 3-4 jam dalam arus Sungai Welo yang jernih, siapkan diri Agan-agan untuk menguji adrenalin lewat jeram-jeram yang bikin ketagihan. Bagaimana dengan biaya atau sewa alat? Cekidot infonya di gambar berikut.

harga sewa

Pesona sarang penyamun

Waktu merambat cepat. Badan penat dan perut mulai menggeliat. Jadwal makan siang telah lewat dan kira-kira jam 14.30 kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun berikutnya. Awalnya Curug Lawe yang akan kami tuju untuk sekalian menyantap makan siang. Rupanya jadwal berubah karena menunggu wakil bupati yang akan menutup acara di Curug Lawe. Iring-iringan anggun paris pun terus melaju ke Curug Bajing sambil melepas pandangan Lawe yang kami lewati sekejap saja.

Tiba di kawasan Curug Bajing, kami bergegas menuju spot sesuka hati. Area ekowisata yang dikelola oleh Pokdarwis (Kelompk Sadar Wisata) Lumbung Lestari ini lumayan bersih dan tertata rapi. Air terjun yang terletak di Dusun Kembangan Desa Tlogopakis ini menghadirkan beberapa spot keren untuk berswafoto atau rame-rame dan dijamin bikin iri. Ada sayap kupu-kupu raksasa tak jauh dari gigir tebing. Indah deh! Bergerak ke kiri sebelum tiba di air terjun, kita bisa naik ke atas pohon menggunakan tangga buatan dan berswafoto dengan latar belakang deretan gunung disaput kabut seolah-olah kita berada di atas awan. Tapi ingat, naiknya bergantian ya sebab geladak tempat berfoto yang terbuat dari kayu berpotensi rubuh bila kelewat beban.

curug bajing

Seputih susu, sesejuk embun/Photo credit: Mohamad Zainuri

Dibanding Curug Lawe atau Welo, air terjun di Curug Bajing relatif lebih mudah dicapai. Sebelum sampai di air terjun, kita bakal dimanjakan dengan dua spot lain yaitu ikon love dan blok tulisan Curug Bajing dengan curahan air indah yang deras sebagai latar belakang. Karena baterai kamera habis, saya terpaksa mengandalkan bidikan dari ponsel yang ternyata habis juga. Sambil menunggu mengisi daya lewat power bank, saya mengikuti langkah Mas Eko yang lebih sering merekam dalam bentuk video. Dari jauh, Mas Zain tampak memotret Curug Bajing dari berbagai angle hingga harus menata bebatuan kecil sebagai bingkai buatan. Hasilnya memang ciamik, secakep langit Petung yang menggantung rinduku #tsah.

Menurut penuturan pemandu, air terjun setinggi 75 meter ini awalnya menjadi sarang para pencuri alias bajingan yang kerap mencuri hasil panen milik warga lalu bersembunyi di sana. Entah bagaimana cara mencapai balik air terjun itu; apakah dengan menetak tebing menjadi gua secara manual ataukah menggunakan bor canggih dengan bantuan Ethan Hunt? Tadinya hendak kutanya Galileo, tapi apalah daya perut semakin melilit, hiks.

Baterai habis nyatanya menjadi sebuah anugerah. Selama di Curug Bajing, saya fokus pada keindahan alam belaka. Melepas pandangan ke mana pun sambil menghirup oksigen sebanyak yang saya bisa. Hirup dan lepas perlahan, segar dan begitu terasa berbeda dibanding tempat kami hidup biasanya. Mensyukuri ciptaan Tuhan tanpa kata-kata. Saya dan Mas Eko lebih banyak terdiam lalu naik dan memutuskan kembali ke parkiran karena hari semakin sore.

Dalam perjalanan kembali menuju mobil, Nyi Penengah bloger Kendal bergabung. Kami bertiga bercakap entah tentang apa; yang jelas pisang goreng di atas meja kedai itu sungguh begitu menggugah selera. Tapi entahlah tak tergiur untuk membelinya. Kemungkinan besar lantaran kadar kolesterol yang harus mulai diwaspadai, hehe. Itu soal gorengan, kalau soal kopi tentu beda lagi. Sejak awal mengikuti APNE 2017, tujuan utamaku adalah mengulik kopi owa khas Petung dan membawanya pulang. Sayang sekali kunjungan ke Hutan Sokokembang, tempat tumbuh dan pengolahan kopi, urung kami lakukan lantaran waktu yang terbatas. Untunglah saya sempat membeli sekantong kopi merek Wello di Curug Bajing. Ah, puasss … meminggirkan rasa lapar yang sudah terabaikan.

Harum kopi memanggilku

Mendekati pukul 5 kami pun memasuki area Curug Lawe, yang merupakan spot terakhir dalam Amazing Petung National Explore tahun ini. Rasa lelah sedikit pupus oleh sambutan musik dan tarian modern para remaja setempat. Sebagian memainkan musik dan bernyanyi di dalam dan sebagian lainnya menari tepat di pintu depana sehingga tak mudah bagi kami untuk masuk. Beberapa teman seperti Mas Nuz, Mbak Elisa, dan Zain tak ragu bergabung untuk mengikuti gerakan para remaja itu—bahkan jauh lebih bersemangat, haha. Mungkin akumulasi rasa lapar justru jadi bahan bakar untuk berjoget.

Saya menyelinap masuk dan mendapati Mas Eko sedang menyantap seporsi makanan. Tak jauh dari tempatnya duduk ada Mak Uniek, Nia, dan Erina yang juga tengah menikmati sajian makan siang/sore. Ada nasi beras hitam, nasi jagung, ikan asin, tempe goreng, ayam goeng, urap dan telur balado yang tampak memanggil-manggil. “Ada kacang rebus juga loh, Mas!” ujar Mas Eko penuh semangat dengan harapan saya berkenan mengambil dan berbagi dengannya.

Tapi kerumunan di pojok kanan panggung jauh lebih memikat untuk saya sambangi terlebih dahulu. Wah, ternyata ada penjual kopi khas Petung. Kali ini dengan mengusung label owa Jawa tepat seperti yang kucari-cari. Meski menyandang nama owa, kopi ini tidak berhubungan langsung dengan binatang owa Jawa—jauh berbeda dari kopi luwak yang bijinya berasal dari balutan kotoran luwak setelah melalui saluran pencernaan binatang tersebut. Disebut Owa Coffee atau kopi owa karena terinspirasi oleh kerja konservasi owa Jawa di Hutan Sokokembang, Petungkriyono yang bertujuan mendukung kegiatan penelitian dan pelestarian primata di Jawa Tengah.

Menurut penuturan Pak Tasuri, penduduk lokal dahulu punya kebiasaan memburu Owa sehingga populasi binatang tersebut semakin menurun. Warga sekitar hutan lantas diajak merawat dan mengolah pertanian kopi liar secara tradisional. Disebut tradisional karena perawatannya dikerjakan nyaris tanpa rekayasa layaknya di perkebunan besar. “Tanpa pupuk dan paling sesekali menyiangi kopinya,” ujar Bu Tasuri saat kutanya proses merawat kopi owa. “Ya tumbuhnya liar, semuanya bergantung alam, berbeda dengan perkebunan yang mapan,” ujarnya lebih lanjut.

kopi petung

Harum yang bertahan lama

Mereka memanen satu kali dalam setahun lalu memrosesnya secara manual tanpa mesin canggih seperti kopi pabrikan. Setelah dipetik, biji kopi dipilih—ada yang berwarna hijau dan merah. Bahkan dalam satu tangkai pun terjadi perbedaan warna biji. Biji-biji itu lantas dikeringkan dan dipecahkan menjadi biji yang siap disangrai. Mereka menjual dalam aneka bentuk: biji mentah belum disangrai, biji yang sudah disangrai tapi belum digiling, dan kemasan siap seduh seperti yang kubeli. Aku memilih sebungkus robusta untuk kami sedangkan kopi Wello untuk kakak saya yang juga penikmat kopi.

Senikmat apa pun cerita soal kopi, terpaksa harus saya akhiri di sini. Sudah jam 1 kurang 15 menit—sudah lewat jam makan siang. Jangan sampai telat lagi kan makannya? Hehe. Di ujung bawah sana indikator jumlah kata menunjukkan angka 3.182 sekian kata versi Microsoft Word. Tulisan paling tambun dibanding tiga tulisan sebelumnya. Sampai jumpa lagi, BBC Mania, di tulisan pamungkas edisi APNE 2017! Merdeka!

Advertisements

7 thoughts on “Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 4)

  1. Di Padang sana banyak payung bergelantungan sebagai upaya pemda kota mempercantik pasar. Tentu saja untuk menarik pemilih waktu pilkada yang sudah dekat, hehehe…

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s