Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 3)

judul 3

Photo credit: MohamadZainuri

“BAGUS BANGET ya?” ujar Mas Zain saat kami melintasi sebuah masjid megah di pinggir jalan. “Iya dong, Mas!” jawabku cepat seolah tadi dia tanya, “Topimu bagus juga ya Rud!” Mas Harviyan tetap anteng menyetir sambil mengamini kemegahan Masjid Al-Fairus. Bukan isapan jempol belaka, masjid seluas satu hektar ini memang memesona, sebab kami pernah Subuhan di masjid ini dua tahun lalu saat mudik lebaran.

Lokasi Sahid Mandarin Hotel tempat kami menginap ternyata tak jauh dari masjid ini. Hanya belasan menit berjalan kaki. Semula saya berniat akan beristirahat di sini sambil menunggu jadwal check-in hotel setelah Jumatan dengan pertimbangan lokasi yang berdekatan. Namun rencana berubah begitu kawan-kawan dari Jakarta bergabung dan memutuskan menjelajah Museum Batik di hari pertama.

Sedikit mengenai Al-Fairus, masjid di jalur pantura ini tampak sangat megah dengan mengadopsi desain Masjid Nabawi, Madinah. Masjid yang konon telah menelan angka 7 miliar ini memang didesain oleh arsitek yang merancang Masjid Nabawi. Kendati arsitek diundang jauh dari luar negeri, namun pendiri masjid tetap memasukkan ciri khas lokal dalam desain masjid tersebut. Mas Zain sempat berujar ingin memotret di sini namun karena jadwal yang padat akhirnya urung ke sana.

Dua bloger yang kutunggu

“Aku sudah masuk hotel, Mas,” begitu bunyi pesan Mas Amir via WhatsApp. Makin jelas tergambar lambaian bantal dan kasur. “Aku sekamar sama Mas Eko, tapi dia belum datang.” Makin deg-degan hatiku. Senang bukan main akhirnya ketemu mantan rekan bloger yang selama ini hanya berkabar lewat medsos atau blog. Baik Mas Amir (kangamir.com) maupun Mas Eko (bungeko.com) adalah bloger Jawa Tengah yang sering memenangi lomba berskala nasional. Mas Amir bahkan mengikrarkan diri sebagai bloger lomba, paling tidak begitu yang terbaca sebagai tagline salah satu blognya (http://www.amir-silangit.com).

Selain ngeblog, cowok asal Kebumen ini juga menjalankan usaha pembuatan layang-layang by order yang dijual, baik secara online maupun offline. Kendati mengaku tidak mengenyam pendidikan tinggi, namun semangatnya luar biasa. Bukan hanya semangat ikut lomba dan bersaing dengan banyak bloger seluruh Indonesia, tetapi juga semangat belajar hal-hal baru yang belum ia ketahui. Kekalahan yang sering melanda tidak menyurutkan langkahnya untuk berjuang dalam kompetisi. Tak heran bila banyak hadiah mentereng yang sudah ia kumpulkan, mulai dari sejumlah smartphone, 2 x laptop, uang tunai, dan seabreg lainnya. Meskipun salut dengan prestasinya, saya pernah membisikinya agar menyelingi isi blognya dengan blog post nonlomba seperti kisah pribadi atau pengalaman tertentu yang unik.

eko

Lain halnya dengan Mas Eko. Cowok berdarah Jawa yang besar di Sumatera ini tergolong bloger yang cukup bepengalaman, paling tidak dibandingkan kami berdua. Selain menulis di surat kabar, doi telah lama menggeluti dunia blogging bahkan saat saya mungkin belum mengenalnya. Selama tinggal di Jogja, dia bahkan telah menelurkan (apakah dia ovipar?) beberapa judul buku bertema Internet. Tak mengherankan bila tulisannya di blog selalu memikat yang akhirnya kerap mengganjarnya sejumlah hadiah lomba yang cukup bergengsi.

Pengaruh jurnalistik sering terlihat sebagai ciri dalam sejumlah blog post-nya. Sedangkan pengaruh makanan sering tampak sebagai ciri fisik yang tercermin dalam kesuburan tubuhnya, hehe #peace Mas. Kemenangan fenomenal tentu saja digondolnya satu buah laptop Macbook dan paket liburan keluarga ke Bali setahun lalu. Belum lagi wisata ke kebun Sunpride di Lampung dan kunjungan ke Kerajaan Tidore beberapa bulan silam. Kini ia semakin selektif memilih jenis lomba sehingga sering absen lantaran disibukkan dengan aktivitas vlogging yang ternyata jauh lebih brudul-brudul duitnya. #nunggutraktiran

Insiden jam 5 sore

Saya berharap bisa mencomot dompet ilmu mereka saat ikut gathering APNE 2017. Dan itulah yang membuatku kian bersemangat untuk tiba di hotel. Ketika mobil memasuki halaman depan hotel, saya melirik jam tangan. Pukul 14.45. Hmm, saatnya nonton Curious George! Bukanlaaah … yang terbayang tetap rebahan di kasur setelah meletakkan dua tas punggung yang beratnya melebihi beban rindu ini #eaaa. Setelah menerima kunci dari desk panitia, saya segera menghambur ke luar hotel dan mencocokkan dengan lubang setang motor-motor yang diparkir. Ealah, ternyata itu kunci kamar, kirain kunci motor CBR sebagai pemenang peserta tergokil. Haha .…

Tentu saja itu ngawur sebab kunci hotel berbentuk kartu magnetik menyerupai ATM yang tinggal dicelupin ke dalam lubang tipis di depan pintu masing-masing. Setelah naik ke lantai 1 dan berhasil membuka pintu kamar nomor 153, aku terkejut! Ulala, saat mengecek pesawat telepon yang diapit dua bed, ternyata … benar. Itu memang kamar nomor 153! Jadi segera kuturunkan tas dan kunyalakan televisi. Eh, ada yang kelupaan: selembar roti pisang cokelat yang kubawa dari rumah ternyata masih utuh.

Kucabut dari sisi kiri tas dan hendak kubuka ketika ada pesan WA masuk, “Maaf banget, Mas. Aku telat datang coz ada acara kenduri di rumah tetangga yang kelupaan. Sore kayaknya baru nyampe di hotel.” Mas Eko memberi tempe tahu soal keterlambatan dan ia akan meluncur ke hotel bersama seorang teman dari Pemalang tempat ia kini berdomisili. “Oke, Mas. Santai aja,” jawabku singkat karena pisang cokelat itu minta segera dilahap.

DSCF2398

Akhirnya bisa mandi/Photo credit: Mohamad Zainuri

Kantuk yang sedari tadi memberat di kelopak mata mendadak sirna. Gambaran rehat sejenak menanti acara seremoni nanti malam hilang sudah. Kuputuskan main ke kamar Faisol yang segera kuajak berkunjung ke kamar Mas Amir. Karena teman sekamar saya sudah datang (2 peserta kategori drone), maka kunci kuserahkan mereka sementara kutinggal sebentar. Saat berbincang basa-basi di kamar Mas Amir, kira-kira pukul 16.30, rekan sekamarku yang asli Pekalongan itu pamit pulang dan baru akan kembali pas acara seremoni nanti.

“Mas, aku pulang dulu ya. Kunci kutaruh di card holder!” ujarnya lewat WA. “Oke, siip.” Aku jawab sekenanya karena asyik mengobrol dengan Faisol dan Mas Amir. Saat menyadari belum Shalat Ashar, aku pun mencium sesuatu yang ganjil. Apa ya? Eh, tadi dia bilang kunci ditaruh card holder? Kenapa ga dititip di resepsionis aja? Jangan-jangan ditaruh di dalam kamar!? Aku lalu meninggalkan kamar Mas Amir menuju kamarku bersama Faisol. Benar saja, lempengan kunci ditinggalkan di card holder di depan kamar mandi dan pintu otomatis terkunci begitu penghuninya ke luar.

Faisol mengusulkan agar saya jadi anggota dewan Shalat Ashar di kamarnya. Segera kuturuti daripada dia nangis mengiba, hehe. Setelah berbincang sejenak, menjelang pukul 5, badan mulai gerah dan lengket karena belum mandi sejak berangkat dari rumah #hacciih 😀 Faisol ikut menemani saya ke lobi guna meminta bantuan bellboy untuk membuka kamar yang terkunci. Respons cepat patut kuhargai. Terutama saya jadi bisa mandi dan bersiap mengikuti acara pembukaan. Makin semangat sebab saat menuruni tangga, seseorang menyapa, “Hai, Mas!” sambil tersenyum. Kujawab, “Siape lu sok akrab?!” Ternyata itu Mas Eko yang baru datang. Jadi tentu saja jawaban saya bukan begitu lagaknya. Mana berani saya nyolot gitu, haha.

Pisang keju dan teman seteru

Waktu merambat cepat. Tiba juga saat yang dinanti: malam pembukaan acara secara resmi oleh Bupati Pekalongan. Sebagai bloger katrok yang sudah lama tak ikut acara resmi, aku pun sangat bersemangat. Kalau boleh jujur, selain ketemu Bupati dan teman bloger lain, kesenangan juga lantaran akan menyantap sajian makan malam, hehe. Harap maklum, siangnya saya makan pake jaim, jadi enggak nendang. Harusnya kan pakai bola biar bisa nendang, iya kan? Meski gurih megono masih melekat di lidah, perut sudah menuntut supaya diisi.

Memasuki ballroom yang lumayan besar, para peserta terlihat menempati kursi yang tersedia. Sebagian terlihat sibuk mengobrol, mungkin tengah melepas kangen, atau mungkin juga alot menagih utang job, hehe. Gemerlap lampu memantul di kepalaku, lalu teman-teman peserta berteriak berebutan meminta tanda tanganku. Tak kupedulikan aksi mereka karena itu jelas hanya khayalanku belaka. Langkahku refleks belok ke kanan dari pintu masuk menuju meja buffet. Maklum sudah terlatih membau aroma makanan. Ahai, ada pisang goreng bertabur keju yang tampak enak banget. Kuincar kau, untuk nanti! Save the best for last, kata Vanessa Williams.

DSCF2411

Foto bersama usai penyematan name tag secara simbolis./Photo credit: Mohamad Zainuri

Setelah mengambil nasi boks dan air mineral kemasan botol, aku bergerak mencari tempat duduk. Saat kutulis mencari, tentu saja kursinya enggak hilang atau lupa kutaruh di mana sebelumnya. Mencari itu adalah kata kerja untuk menunjukkan arti bahwa aku perlu mengecek di mana ada kursi yang masih kosong dengan posisi yang ideal buat menyantap makan tanpa ketahuan (kalau nambah), haha. Kulihat hampir semua kursi pada tiga deret besar sudah terisi, menyisakan baris terakhir deret kedua yang masih kosong (coba bayangkanlah!). Kulihat Mas Eko berbincang dengan bloger lain dua baris dari kursiku. Tepat di depanku ada Mas Nuz dan beberapa bloger yang baru saja menuntaskan makan malam.

Sendirian di belakang, tanpa ada kenalan, saat perut lapar sungguh merupakan momen sempurna bagi bloger yang baru mandi sore tadi. Hampir saja aku akan berteriak, “Sempurnaaa….” sambil menirukan suara melengking Gita Gutawa. Untunglah kelezatan ayam klumut menghalangiku bertindak bodoh. Segera kusisir lapisan demi lapisan daging yang menempel di dada ayam itu. Lembut dan gurih. Dicocol ke sambal goreng yang merah itu, wuih, ternyata pedas! Ya iyalah, namanya juga sambal. Meskipun kurang ideal untuk kesehatan, sebuah pisang ijo lumut segera menutup makan malamku. Tapi itu belum semua. Kulihat beberapa peserta masih berlalu-lalang menuju meja buffet. Teringatlah aku sama si pisang keju.

Kuambil satu buah, kunikmati pelan-pelan sambil memantau keadaan. “Hei kamu, iya kamu!” tiba-tiba seonggok suara menegurku. Kulihat sesosok wanita, berbusana batik hijau, dengan tahi kebo lalat di hidung membuatku tak sulit mengenalinya. Bahaya nih! gumamku. Siapa lagi kalau bukan teman seteru yang kerap mem-bully-ku di media sosial atau blog. Awalnya aku pura-pura tak mengenali. Ternyata dia mendekat dan bilang, “Akhirnya ketemu juga ya, Bro. Ternyata kamu lebih keren dibanding pas di medsos!” Aku lupa apakah ini kalimat otentik yang dia ucapkan waktu itu. Rasanya memang hampir musykil itu terjadi. Kalaupun iya, patut diduga dia bakal minta foto selfie.

Yang jelas pisang keju rasanya lembut, digoreng dadakan tidak terlalu matang. Aku lalu minum dan rasanya sangat segar. Air putih ternyata sejuk banget ya …. Dengan alasan keamanan (dari liur yang menetes), mohon maaf tak bisa saya unggah gambar air mineral dan pisang keju itu. Apalagi dari Bang Doel yang mengaku siap di-bully demi makanan. Semoga cepat ketemu jodoh. #eh

Momentum yang hilang

Pisang ijo dan pisang keju rupanya mengaburkan konsentrasiku, sampai saya lupa mencatat berapa lama kami bercakap sembari menunggu Pak Bupati. Menurut panitia, perjalanan memang agak lama mengingat jarak rumah dinas bupati (wilayah Kajen) ke Hotel Sahid Mandarin yang berada di kota cukup jauh. Lewat grup WA, sejumlah peserta sudah tak sabar menanti dan meminta panitia agar terlebih dahulu mengadakan briefing session mengenai acara Amazing Petung National Explore 2017 dua hari mendatang.

Panitia bergeming dan meminta kami bersabar hingga Bupati datang. Akhirnya sesi obral obrol berlanjut hingga panitia melupakan satu sesi yang sangat penting: perkenalan masing-masing peserta. Saya kehilangan manfaat sesi ini pada hari berikutnya ketika berada satu mobil dengan beberapa peserta lain dan harus bertanya siapa nama dan kategori mereka. Bukan melupakan tradisi sosialisasi, namun bertanya soal nama dan asal atau kategori boleh jadi bikin peserta sungkan juga. Tak semua punya keberanian untuk menggali informasi itu. Takut dikomenin, “Eh lu baru nanya sekarang, kemarin ke mane aje?” Padahal bisa memanggil nama peserta lain dengan nickname kebanggaan mereka adalah hal yang menyenangkan lho. Gak cuma bilang, kamu, sampean, Bapak, Mas, Bu, Mbak … dan sebagainya.

Buktinya Mbak Nunik Utami harus rela ditertawakan teman-teman lain saat berada di Anggun Paris yang sama dengan saya dan berbisik kepada Mbak Lidya, “Siapa nama Mas sebelah ini?” Mbak L terkikik-kikik mendengarnya sehingga membuat saya penasaran. Ini terjadi dalam perjalanan turun dari Petung menuju Terminal Doro. Meski ada name tag yang menempel di dada masing-masing, tak semua orang tergerak untuk mengetahui nama teman sebelahnya padahal mungkin mereka sudah berbicara ngalor ngidul selama perjalanan.

DSCF2474.JPG

Ingat wajah, ingat nama/Photo credit: Mohamad Zainuri

Sesi perkenalan sangat besar benefit-nya. Selain kita tahu nama lengkap atau panggilan sobat baru, kota asal dan profesi mereka akan menjadi informasi berharga bagi teman lainnya. Siapa tahu ada yang sedang mengisi TTS atau berburu pekerjaan dan akhirnya pulang dengan banyak peluang job. Siapa tahu ada yang punya hobi sama dan bisa berlanjut pada bikin event atau pendirian usaha bersama, iya kan? Dan siapa tahu ada yang sama-sama lajang, lalu cinlok, dan berlanjut ke pelaminan. Kan asyik bisa datang kenduri satu rombongan APNE, hehe.

Sebagai bloger, saya membayangkan para peserta bicara bergiliran—menyebutkan nama, asal, profesi, hobi, dan alamat blog atau portal usaha mereka—sehingga aktivitas pada hari berikutnya bisa berjalan semakin gayeng. Bukan berarti peserta tak membaur ya, hanya saja momentum perkenalan publik semacam itu bisa membuat hubungan antarpeserta semakin cair dan nyaman lewat obrolan-obrolan yang satu frekuensi.

Tanpa perkenalan resmi lewat forum, peserta memang masih bisa berinteraksi satu sama lain, namun berkenalan satu per satu sambil mengenal wajah dan suaranya lewat mikrofon tentunya bakal beda nuansanya. Bilang aja saya banci mic, hihi. Saya tak tahu  fakta lain seputar Mbak Nunik yang mencengangkan jikalau tak pulang dalam satu mobil malam hari yang berdebu itu. Sebab profesinya ternyata bejibun, selain bloger. Atau sisi lain Laras, mahasiswi Unsoed yang satu mobil saat berangkat menuju Petung. Ada lagi Nia, bloger asal Semarang yang punya banyak kelebihan, tapi bukan kelebihan berat badan ya. Lalu Catur bloger Jakarta asal Padang yang punya tips rahasia dan baru diceritakan saat di grup.

Namun dari semua misteri yang berkelindan itu, ada satu fakta yang tak bisa dimungkiri, saudara-saudara: blog post ini sudah mencapai 2.000 kata lebih versi Ms Word, alias lebih gemuk dibanding dua prekuelnya. Saya berencana menuturkan kisah APNE ini dalam empat tulisan, namun naga-naganya mungkin masih akan ada dua post lagi. Pada bagian keempat akan kusingkap tabir yang menyelimuti peserta APNE 2017 plus keseruan perjalanan ke hutan alam Petungkriyono sambil menikmati sedapnya kopi liar Owa Jawa dari Hutan Sokokembang. Good-bye until next post!

Advertisements

12 thoughts on “Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 3)

    1. Yaelah, simbak. Itu Mas Amir yang manjat bareng ke rumah pohon bersamamu dan Si Leon. Hihihi. Dan aku kebingungan manggil Mbak Nyi. Agak aneh di lidahku ada dua panggilan jadi satu, Mbak dan Nyi 😀 #peace

      Btw, aku masih meresapi anak kalimat ini, “Gemerlap lampu memantul di kepalaku” sambil bayangin bisa tahu ada cahaya lampu mantul di kepala sendiri gimana caranya ya?

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s