Nikmatnya Iktikaf di Masjid Namira Lamongan

Iktikaf di Lamongan adalah frasa yang terngiang di kepala dua tahun lalu ketika kami akan meninggalkan Bogor untuk menetap di kota kelahiran. Tahun 2016 ketika memutuskan akan pindah, salah satu kekhawatiran kami adalah tidak adanya masjid untuk beriktikaf sebagaimana di Bogor. Masjid jamik tentu saja banyak, namun tradisi beriktikaf (menginap di masjid) bersama-sama bukan praktik lazim sejak saya kanak-kanak.

Warga di kampung biasanya berkumpul di masjid pada malam-malam likuran atau malam ganjil mulai dari 21 hingga 29. Kira-kira pukul 2 pagi mereka melaksanakan shalat sunah yang kadung kondang disebut shalat lailatul qadr. Maksudnya mungkin qiyamullail dengan harapan memperoleh keistimewaan malam seribu bulan tersebut sebab sependek pengetahuan saya tak ada istilah bertajuk shalat lailatul qadr. Setelah shalat, mereka pulang untuk menyantap sahur dan demikian seterusnya pada malam-malam ganjil berikutnya.

iktikaff

Mulai di Bogor

Barulah pada tahun 2014, ketika pindah rumah (masih di Bogor), kami mulai ikut kegiatan iktikaf. Itu pun baru sebagai pemula. Disebut pemula sebab alih-alih menginap di masjid selama 10 hari terakhir Ramadhan, kami masih pulang di pagi hari. Kendati demikian, kami mulai merasakan nikmatnya iktikaf bersama-sama. Lalu ikut pada tahun berikutnya dengan berganti-ganti masjid: Masjid Taman Raya Yasmin dan Mesra (Mesjid Raya) di seberang ADA Swalayan Bogor. Ternyata menyenangkan, terutama buat anak-anak.

Di Bogor wilayah kota rupanya banyak masjid yang menghelat acara iktikaf. Kegiatan biasanya dimulai pukul 10 malam dengan sesi ceramah dan tanya jawab hingga selesai. Pada pukul 12 jemaah dibebaskan berkegiatan, kebanyakan meneruskan membaca Al-Quran atau berzikir. Sebagian lain memilih tidur sejenak untuk bangun pukul 2 pagi guna melaksanakan qiyamullail berjemaah. Pukul 3 diadakan sahur bersama. Ada masjid yang menyediakan makan secara gratis selama 10 hari terakhir, ada yang hanya gratis pada malam ganjil, ada pula yang tidak menyediakannya sama sekali selain air mineral.

Selepas sahur jemaah kembali khusyuk beribadah hingga subuh tiba. Begitu shalat Subuh rampung, seorang ustaz akan maju untuk menyampaikan tausiyah. Setelah itu jemaah bebas lagi—biasanya diam berzikir atau baca Quran hingga matahari terbit, atau bergegas pulang bagi masih yang bekerja di kantor.

Senja di Namira

Harapan baru tumbuh ketika adik bercerita tentang masjid baru di kota kami. Tak lama setelah pindah ke Lamongan, kami sekeluarga meluncur ke Masjid Namira yang akhirnya viral dan selalu ramai oleh pengunjung itu. Suatu sore menjelang magrib kami tiba di halaman parkir dan terpesona oleh menara yang indah. Senja di Namira nyatanya bukan hanya kesan pertama yang menggoda. Selanjutnya kami seolah selalu tersihir untuk berkunjung ke sana. Mungkin lantaran dimanja air mineral gratis atau AC-nya yang sejuk, hehe. Yang jelas suasana masjidnya memang bikin kami betah.

senja di manira.jpg

Dari memori senja hari itu kami lantas semakin intens terutama selama bulan Ramadhan. Sebagaimana pernah saya ceritakan di sini, DKM Namira menyediakan menu berbuka secara cuma-cuma plus menu sahur juga gratis untuk peserta iktikaf selama 10 hari terakhir Ramadhan. Peserta iktikaf terdiri dari dua kelompok: 150 orang terdaftar dan sisanya adalah kelompok musiman. Kelompok pertama harus mendaftar karena mereka akan tinggal di area masjid selama 10 hari terakhir tanpa boleh pulang. Mereka diberi tanda pengenal yang dikalungkan di leher. Pesertanya bukan hanya dari Lamongan loh. Tahun ini ada pula jemaah dari kota sekitar seperti Mojokerto dan Surabaya yang menginap di masjid.

 

Adapun kelompok musiman, mereka datang kapan saja dan biasanya pulang selepas matahari terbit. Kami termasuk kategori ini karena opsinya lumayan terbuka dan fleksibel kendati iktikaf jadi belum optimal. Seperti malam ke-25 lalu, kami baru bisa berangkat setelah saya diserang batuk dan flu pilek berat selama beberapa hari. Bersama si sulung dan si bungsu saya meluncur tanpa ditemani bundanya. Tahun lalu pun pernah menginap bertiga, jadi saya pikir bakal oke saja.

Ternyata dugaan agak meleset. Malam itu pengunjung melonjak drastis. Selama shalat tarawih jemaah wanita maupun pria sampai harus membludak di serambi utara dan selatan. Bahkan selasar wudhu pria akhirnya disulap menjadi shaf baru. Menurut seorang peserta iktikaf yang sudah berumur asal Surabaya, malam itu merupakan jumlah terbanyak dibanding peserta iktikaf tahun sebelumnya. Saya mengamini sebab tahun lalu kami pun menyaksikannya. Lonjakan itu begitu terasa saat jemaah qiyamullail juga tak muat. Dari jam 10 malam pengunjung terus berdatangan, terutama dari luar kota, bahkan ada satu bus yang jemaahnya menginap pula.

Tahajud 2 jam

Sekitar pukul 1 pagi seperti biasa panitia membangunkan peserta iktikaf yang tertidur agar ikut shalat malam. Bagi yang tidak ingin shalat, mereka bisa bertahan di serambi untuk membaca Quran atau berzikir. Namun lebih banyak yang turut shalat. Tahun ini ada tambahan imam tahajud. Biasanya hanya dua orang, yakni Ustaz Haris dan seorang imam lagi yang belum saya kenal namanya. Mereka bergantian memimpin shalat masing-masing empat rakaat dengan dua rakaat salam.

Bagi peserta baru mungkin sedikit terkaget saat melaksanakan shalat malam. Malam itu Ustaz Haris tidak bertugas, yakni dipegang oleh dua imam lain. Imam kedua sangat lama shalatnya minimal 20 menit untuk dua rakaat. Nah, tips bagi Anda yang hendak ikut qiyamullail di Namira: bereskan dulu urusan dapur seperti buang air kecil atau bahkan besar. Lepaskan semua angin dari perut sebelum ikut shalat.

Pikirkan dahulu jika sedang dilanda pilek karena berpotensi mengotori karpet akibat leleran ingus bening. Intinya, siapkan diri seprima mungkin karena kita bakal lama berdiri, lama rukuk, dan lama bersujud. Dan tentu saja lama berqunut di akhir rakaat witir. Namun jangan khawatir, aktivitas selama 2 jam ini dijamin bikin kita sehat, sehat dan plong jiwa raga. Siap?

Semua lezat

Pukul 3 pagi, panitia mulai membuka akses tempat makan. Mereka menyediakan tenda besar yang dilengkapi dengan sejumlah peralatan makan yang memungkinkan jemaah mengambil makanan secara prasmanan. Meskipun swalayan, namun khusus lauk tetap dijatah oleh petugas untuk menghindari berlebihan sehingga jemaah lainnya tak kebagian. Pagi itu kami dijamu dengan kari daging yang sangat lezat. Alhamdulillah peserta yang ribuan orang itu semuanya terlayani hingga menjelang imsak.

menu sahur.jpg

Lezaaat ….

Adapun minumnya, panitia menyediakan puluhan dus air mineral, teh dan kopi, juga air putih panas. Ada yang spesial pagi itu yaitu disediakannya air zamzam di sebelah area teh yang segera diserbu jemaah. Agar terkendali, maka spot zamzam ini dijaga petugas, berbeda dengan air mineral dan teh-kopi yang bebas diambil. Masih ada satu lagi tambahan unik lain: minuman probiotik pabrikan Jepang yang tergeletak menggoda di sebelah zamzam.

Satu hal yang bikin saya heran adalah semua menu di sini selalu lezat. Soto yang sehari-hari biasa saja bagi warga Lamongan entah mengapa mendadak sangat menggugah selera. Belum lagi rawon pada sahur malam ke-27 tadi pagi, ditambah telur asin yang juga pulen dan gurih. Dan yang tak pernah goyah kelezatannya adalah tempe goreng mirip bacem yang selalu ada setiap tahun. Kematangannya sehingga tekstur dan rasa terjaga.

Nah, sebanyak apa pun peserta iktikaf, mereka semua selalu kebagian menu sahur tanpa menunggu lama—berbeda dengan saat berbuka yang kadang kurang sehingga harus disuplai menu tambahan yang berbeda. Apa pun itu, saya salut dan menghaturkan terima kasih kepada tim dapur yang menyiapkan semua menu sepenuh hati—terutama buat donatur—semoga Allah merahmati.

Menanti Subuh

Sahur beres, saatnya bergeser ke kamar mandi untuk buang air dan sikat gigi. Karena pengunjung membludak, toilet yang sudah cukup memadai pada hari biasa terlihat tak cukup. Tak heran bila peserta harus mengantre dengan sabar. Namun so far so good, semua masih terkendali dan nyaman karena kamar mandi bersih dengan pasokan air yang terus berlimpah. Yang agak repot mungkin bila kita membawa anak-anak yang agak sulit menahan pipis saat mengantre. Tips-nya, bawa mereka ke kamar mandi saat jemaah bersantap sahur atau shalat malam. Pada saat ini toilet sedang sepi dan akan ramai kembali sebelum dan selepas shalat Subuh.

menunggu subuh.jpg

Semangaaat!

Sambil mendengarkan alunan murottal dari pengeras suara, jemaah yang telah bersuci kembali ke dalam masjid untuk beriktikaf. Shalat, baca Quran, zikir, doa, dan sebagainya. Begitu azan selesai berkumandang, jemaah melaksanakan shalat qabliyah Subuh lalu khusyuk menunggu iqamat. Proses lumayan lancar hingga shalat Subuh ditunaikan. Sembari melanjutkan zikir, kita bisa mendengarkan tausiyah bakda shalat guna menambah ilmu dan memperkuat hati.

Selanjutnya jemaah bebas untuk pulang atau berdiam hingga waktu matahari terbit. Kebanyakan memilih opsi kedua sambil memperbanyak amalan lain. Dengung orang membaca Quran segera terdengar memenuhi ruangan masjid. Magis dan menenteramkan—juga mengesankan. Setelah matahari naik kira-kira satu tombak, jemaah bergegas melaksanakan shalat isyraq dan dilanjutkan doa-doa. Rangkaian sehari pun selesai, peserta musiman lantas pulang temasuk kami yang selalu gembira menyambut hari baru. Rasa kantuk menggantung, tapi hati berbunga-bunga. Tantangan hidup begitu berat, namun semangat jauh lebih kuat.

Catatan kejengkelan

Di antara kesenangan itu, ada secuil kejengkelan yang perlu saya tuliskan di sini. Sejumlah jemaah tetap menyampah kendati panitia sudah meminta dengan sopan. Misalnya, setelah selesai makan, peserta diminta merapikan piring kotor ke dalam wadah besar di pojok tenda yang sudah ditandai dengan tulisan besar. Nyatanya, banyak yang abai dengan meninggalkan piring kotornya berserakan ditambah sampah bekas minuman dan sebagainya. Memang ada tim kebersihan, namun jika semua orang mematuhi peraturan itu, tentunya pekerjaan mereka bakal lebih ringan mengingat mereka bekerja berat nyaris sepanjang hari menyiapkan banyak hal. Selepas Subuh, ketika menuju toilet, saya sempat melihat sampah masih bertebaran di area tenda. Sungguh miris!

Saya lihat tim katering begitu sigap mencuci piring untuk dipergunakan lagi sebab peserta membludak. Jika jemaah patuh, itu bakal membantu. Pelanggaran kedua lebih menjengkelkan hati. Di tiap titik pengambilan nasi dan lauk, panitia telah memasang tulisan berupa himbauan agar peserta mengambil secukupnya dan menghabiskan porsi yang sudah diambil. Kenyataannya begitu menyebalkan. Tak jarang saya lihat piring masih berisi separuh atau sepertiga nasi dan lauk. Atau yang paling sering, banyak sekali gelas air mineral yang dibiarkan tersisa tanpa mensyukuri betapa di tempat lain kenikmatan berupa air bersih begitu langka bahkan mahal seperti di Palestina yang akses air bersihnya konon hanya tersedia 5%.

Di rumah pun saya sering menanggapi serius terhadap anak-anak yang menyisakan makanan dan akhirnya terbuang. Membuang sumber daya alam sungguh tidak bijak dan bertentangan dengan spirit keimanan. Lebih parah lagi, pelanggaran ganda pun terjadi di tenda. Sudah makan tak dihabiskan, eh sisa makan pun enggan dibereskan sesuai petunjuk panitia yang tak lelah menginformasikan melalui megaphone. Piring dibiarkan teronggok begitu saja dengan sisa makanan. Belum lagi gelas air kemasan yang terjungkir dan masih berisi air sehingga mengotori area yang nanti sore akan dipergunakan untuk pengajian sebelum berbuka.

Soal kopi dan the, keduanya tersedia cukup memadai sebenarnya, namun ada jemaah yang tidak kebagian lantaran ada orang yang mengambil berlebih dan tidak dihabiskan. Saya kerap menjumpai cangkir yang masih terisi separuh bahkan masih penuh dengan kopi/teh dan cuma teronggok menjadi sampah di pojok dekat tiang. Banyak yang ingin mencicipinya tapi terpaksa kecewa sebab sudah keduluan diambil oleh orang-orang serakah. Bukankah itu tidak bersyukur?

Semoga catatan pendek ini bermanfaat bagi siapa saja yang hendak beriktikaf di Masjid Namira Lamongan. Bagi pengunjung luar kota atau mereka yang kehabisan ongkos di jalan, merapatlah ke Namira sehingga bisa dijamu di sana pada 10 hari terakhir Ramadhan. Bersiaplah ikut latihan fisik dan mental yang bakal sangat berguna. Basahi bibir dengan zikir, susupi telinga dengan alunan suci, dan bangun kembali jiwa yang remuk. Sambutlah kehidupan yang baru! See you at Namira in the next Ramadhan….semoga diizinkan, aaamiin.

Advertisements

8 thoughts on “Nikmatnya Iktikaf di Masjid Namira Lamongan

  1. Di mesjid tempat aku tinggal lebih parah mas.. pas buka puasanya rame kali.. tapi pas sholat maghrib ama tarawihnya pada ga nampak batang hidungnya.. pas iktikaf juga gitu.. pas iktikaf ga banyak yang datang.. tapi sahurnya rame.. hhahah

    Liked by 1 person

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s