Like Father Like Son: Lima Kiat Agar Ayah dan Anak Bersahabat

rumi step

KIAT AGAR AYAH dan anak bersahabat bukan lagi sebuah mitos rumit. Dengan sedikit usaha dan konsistensi, keakraban antara keduanya bisa dijalin perlahan-lahan melalui serangkaian langkah sederhana yang tak selalu butuh biaya. Karena ayah menjadi figur pertama yang dilihat oleh anak-anak sebagai teladan, maka ayah harus hati-hati berperilaku hingga soal berkata-kata.

Mungkin BBC Mania bisa mencoba lima kiat berikut ini untuk membuat hubungan ayah dan ayah bisa terbangun dengan hangat layaknya sahabat sehingga anak tidak enggan curhat atau meluapkan apa saja ketika mendapat masalah atau hal pelik suatu hari nanti.

1 – Jawab pertanyaan

Salah satu kiat sederhana dan menurut saya mudah adalah berusaha menanggapi setiap pertanyaan yang diajukan oleh anak kita. Anak-anak pada usia pascabalita lazimnya mempunyai energi berlimpah untuk bergerak maupun mengidentifikasi segala sesuatu. Tak heran jika itu terjadi sebab panca indra sudah berfungsi semakin baik sehingga apa saja yang mereka tangkap di sekeliling berpotensi menjadi objek menarik untuk dibahas.

Seperti anak bungsu saya yang berumur 5 menuju 6 tahun. Setelah bisa membaca, gairahnya untuk bertanya semakin meluap-luap. Apalagi karena belum mau masuk TK sehingga saya menjadi teman dekatnya sehari-hari. Mulai dari baris iklan di televisi, kata-kata di buku, kalimat persuasif di baliho pinggir jalan, hingga obrolan saya dan istri tak lepas dari investigasinya. Sebelum keingintahuannya terpuaskan, jangan harap saya bebas beraktivitas.

Nah, menjawab pertanyaan mereka akan membantu terbangunnya jalinan yang akrab. Selain mendapat ilmu baru, mereka juga merasa diperhatikan. “Emang kenapa Bumi warnanya biru kalau di buku, Yah?” “Kok kapal bisa enggak tenggelam padahal kan gede banget, Yah?!” adalah dua di antara pertanyaan si kecil yang tidak boleh diabaikan. Bertolak dari pertanyaan semacam itu, kami lalu mencari jawaban bersama melalui Google atau kanal Youtube. Bisa sekalian mengajarkan cara menggunakan peranti teknologi.

2 – Tunjukkan ketertarikan

“Aku mau jadi dokter hewan aja, Yah!” ujar si bungsu begitu girang menceritakan cita-citanya padahal sebelumnya ingin jadi pilot. Adapun kakaknya yang semula pengin jadi arsitek lantaran sering lihat saya utak-atik gambar di Photoshop kini beralih ke pilot sebagai pilihan cita-citanya. Bagi mereka, cita-cita mungkin mirip gugusan awan yang bisa dipetik kapan saja dan bisa dipilih sesuai suasana hati.

Kalau menuruti suasana hati atau mood, merespons hal-hal semacam cita-cita ini bisa sangat melelahkan karena sering berubah seiring perjumpaan mereka dengan seseorang atau sesuatu yang baru. Kecenderungan anak memilih obsesi masa depan biasanya dipengaruhi oleh pengamatan langsung terhadap orang-orang di sekitar setiap hari. Seorang teman belum lama ini menuturkan tentang anak gadisnya yang bercita-cita jadi guru karena mungkin kerap menyaksikan ibunya mengajar ke kampus dan terlihat keren.

Nah, mirip dengan kiat kedua, menunjukkan ketertarikan dan rasa ingin tahu pada cerita anak menjadi momen penting di mana anak merasa diperhatikan. Bedanya, pada kiat pertama kita aktif menjawab sementara pada kiat kedua kita lebih menggali informasi. Saya tanya misalnya kenapa ingin jadi arsitek. Jadi arsitek katanya ingin bikin rumah buat orang miskin. Bahkan dia sudah menyiapkan nama perumahannya, hal yang tak terbayang oleh saya.

“Sampah enggak boleh dibakar loh, Yah. Karena bahaya!” kali ini giliran si sulung yang duduk di kelas 1 SD. Saat saya amati lebih jauh, ternyata itu hasil menyerap dari sebuah buku yang ia pinjam di perpustakaan umum kota kami. Dari situ saya gali mengapa kita dilarang membakar sampah dan dilanjutkan dengan diskusi seputar lingkungan, dari fenomena banjir hingga polusi kendaraan. Cocok sekali untuk memberi pemahaman kepada mereka untuk lebih banyak bersepeda ketimbang berkendara mesin yang rentan menjadi polutan.

3 – Beraktivitas bersama

Kiat lain agar ayah dan anak bisa bersahabat adalah dengan berinteraksi lewat aktivitas bersama-sama. Tahun lalu anak-anak mendapat hadiah dari tantenya berupa keping lego yang sangat banyak. Hadiah yang cukup bagus, saya pikir. Terbukti anak-anak yang memang belum punya gadget sendiri sering disibukkan oleh penyusunan lego menjadi bermacam bangunan dan bentuk.

Dua jagoan kami pernah membangun rumah tingkat bersama-sama, lengkap dengan halaman parkirnya. Saya tak mau ketinggalan. Lego itu saya manfaatkan untuk belajar bahasa Inggris dengan membentuk kata-kata dari setiap keping huruf. Anak-anak tenyata menikmatinya. Selain melatih motorik halus, anak-anak juga bisa memetik pengetahuan dari aktivitas seperti ini.

Kegiatan lain yang tak kalah menyenangkan adalah berkunjung ke perpustakaan daerah. Minimal dua minggu sekali kami ke sana untuk mengembalikan dan meminjam buku. Begitu memasuki gedung perpustakaan, anak-anak segera menghambur ke ruang baca anak dan meraih buku kesukaan. Untuk beberapa saat saya biasanya menemani mereka membaca bersama-sama karena butuh waktu tune-in sejenak. Barulah ketika mereka sudah asyik, saya beranjak ke ruang koleksi dewasa.

Masih ada aktivitas lain yang bisa dikerjakan bersama antara ayah dan anak, seperti jalan pagi, pergi ke masjid, tebak-tebakan, atau menggambar bersama. Variasi kegiatan bisa disesuaikan dengan preferensi dan kondisi masing-masing keluarga.

4 – Mendongeng

Akhir 2014 silam kami sekeluarga berkunjung ke Museum Nasional untuk turut meramaikan acara literasi yang dihelat komunitas Goodreads Indonesia. Salah satu sesi yang saya ikuti adalah belajar mendongeng bersama Kak Aio yang sudah kesohor itu. Satu hal yang saya catat dari acara singkat itu adalah bahwa setiap orangtua atau guru, apa pun latar belakang mereka, bisa mendongeng.

kak aio dongeng

Biasanya orangtua enggan mendongengkan cerita kepada anak mereka lantaran merasa tak menarik, kurang lucu, atau minim bahan. Padahal menuturkan cerita bisa dikerjakan oleh siapa saja, bersumber dari buku mana saja, asalkan dilakukan dengan tulus. Itulah prinsip utamanya. Anak-anak bisa menangkap sinyal negatif bila kita mendongeng bukan dari hati. Tak harus pandai bermain mimik dan menirukan berbagai suara binatang kok—begitu pesan Kak Aio.

Selepas event itu saya semakin rajin mendongeng untuk anak-anak. Lewat mendongeng, tiga kiat sebelumnya bisa diterapkan secara simultan. Anak-anak bisa mengajukan pertanyaan kapan saja yang segera saya jawab, atau menyatakan pendapat untuk saya komentari, dan tentu saja ini menjadi momen bagus untuk beraktivitas bersama.

Ada temuan menarik dari peneliti Princeton, yakni Uri Hasson. Ketika pendongeng bercerita dalam bahasa tertentu dan ceritanya dipahami oleh pendengar, maka otak pendongeng dan pendengar saling bersinkronisasi. Di dalam otak terdapat insula yang menangani emosi. Ketika terjadi aktivitas pada insula pendongeng, insula pendengar mengikuti. Ketika korteks depan pendongeng menyala, korteks pendengar pun demikian. Hasson menyimpulkan bahwa dengan menceritakan satu kisah, pendongeng bisa menanamkan gagasan, pemikiran, dan emosi kepada orang lain. Bukankah bagus untuk mengajarkan anak tentang kebaikan lewat dongeng?

5 – Berikan apresiasi

Dalam kadar tertentu anak-anak tidak berbeda dengan orang dewasa. Mereka butuh motivasi atau alasan untuk melakukan sesuatu. Meskipun tidak semua orang setuju dengan teknik reward and punishment, namun imbalan bagi anak-anak tetap produktif untuk mendorong mereka berbuat lebih bagus lagi. Apresiasi tidak harus berbentuk benda atau uang, tapi bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kemampuan keluarga.

Ayah bisa memuji anak saat ia berhasil membereskan dan mengembalikan mainan di tempatnya. Mengajak anak makan di luar bisa jadi pilihan saat anak meraih keberhasilan tertentu yang disepakati. Tapi beda anak tentu beda keinginan. Saya pun kadang menjanjikan materi entah benda atau makanan. Dua bulan setelah kami pindah, saya memesan jam tangan lewat toko online karena lebih praktis.

Begitu tiba di rumah, tak ayal jam itu membuat si sulung mupeng. Tak apa, toh dia kini sedang giat belajar berhitung dan salah satunya membaca waktu sehingga jam tangan sudah saatnya ia miliki. Apalagi di sekolah ketepatan waktu telah menjadi bagian utama proses pembelajaran. Untunglah ada jam Ironman yang begitu disukainya.

Like father like son. Adiknya beda lagi maunya. Awal Agustus saya terpaksa membeli sepasang sepatu baru untuk acara kopdar bloger bulan itu juga. Maklum, sepatu lama sudah apkir dan tak nyaman lagi. Karena butuh cepat untuk besok malam, kami putuskan pergi bersama malam itu ke toko tak jauh dari alun-alun kota. Sepasang sepatu oranye akhirnya saya bawa pulang.

Si bungsu mulai berpikir karena tahun depan dia berencana masuk sekolah. “Adik mau sepatu juga, Yah!” Karena belum tentu masuk SD, jadilah dia akhirnya memakai sepatu kakaknya yang kekecilan. Kondisinya masih sangat bagus dan cocok kalau cuma buat jalan pagi atau berkunjung ke rumah Eyang Putri. Kalau jadi sekolah beneran, nanti menyusul deh beli yang baru—tentu ukurannya bakal baru juga kan?

Itulah lima kiat agar ayah dan anak bisa bersahabat. Lewat tiktok tanya-jawab, respons aktif, beraktivitas bersama dan mendongeng, ayah dan anak dapat bertukar banyak hal sambil menyelami pikiran anak. Dan jangan lupa untuk mengapresiasi entah sekadar memuji atau memberi yang bikin mereka happy.

BBC Mania punya kiat lain?

Advertisements

9 thoughts on “Like Father Like Son: Lima Kiat Agar Ayah dan Anak Bersahabat

  1. Kiat seperti ini juga bisa diterapkan untuk ibu kepada anaknya. Nanti prakteknya akan terlihat perbedaannya. Cara ibu mendongeng akan berbeda dengan ayah. Begitupun ketika menjawab pertanyaan anak. Pada punya gaya masing-masing

    Like

  2. Beberapa hal di atas udah dilakukan sama si suami kecuali mendongeng karena Yasmin belum begitu minat mendengarkan dongeng nih, Om. Hiks. Btw, Jadi pingin anak cowok. 😀

    Like

  3. Ini yang baca kudunya suami sih ya.. emang sosok ayah itu penting saat ini inget dulu ga begitu dekat cuma minta jajan doang tapi main bareng, di dongengin ga pernah kayaknya.. kalo tidur dikipasin doang… *loh kok curhat hehehe

    Like

  4. Kiat-kiat ini kayaknya sudah diterapkan oleh Bapak saya dari dulu deh, makanya anak-anaknya pada dekat banget sama beliau. Dan semoga saya juga bisa menerapkan kiat ini ke anak-anak saya kelak. ☺️

    Like

  5. Idenya aplikatif mas. Saya msh ingat alm ayah saya jg melakukan hal ini kepada kami.
    Anak saya masih 11 bulan, ta simpen dulu Poin2 penting nya smp dia cukup bisa bicara.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s