Toleransi Demi Membangun Negeri

indonesia

Wanita tua itu terduduk kuyu di atas ranjang rumah sakit saat aku memasuki ruangan yang dihuni dua orang pasien. Beberapa menit sebelumnya seorang pengunjung tampak berpamitan setelah menjenguknya. Wajahnya sedikit terkaget saat menangkap kehadiranku. Namun rona keceriaan segera tampak begitu aku mendekat dan mata tuanya mengenaliku.

“Bu,” sapa saya sambil tersenyum.

“Eh, Rudi. Kau rupanya!” jawabnya singkat dalam logat Batak yang kental.

Saya perhatikan perban di kepalanya saat ia sesekali mengelus rambutnya yang sebagian besar sudah memutih. Sambil menahan nyeri, ia menceritakan peristiwa nahas malam itu. Kira-kira seminggu lalu ia mengalami kecelakaan. Sepulang dari gereja, ia hendak menyeberang jalan menuju kompleks. Jalanan depan perumahan itu memang selalu ramai sebab termasuk jalanan vital di Bogor.

Saat menyeberang itulah seorang pengendara motor menabraknya yang menyebabkan dia terjatuh dengan menghantam kepala belakang hingga bocor. Darah mengalir dan tak sanggup kubayangkan saat ia bercerita. Singkat kata ia lantas dibawa ke rumah sakit terdekat dan mendapat perawatan selayaknya.

Loius dan Martabak Manis

“Bu, saya datang sama istri. Dia nunggu di luar. Mohon maaf saya enggak bisa lama ya. Sekalian mau jemput anak.” Saya terpaksa pamit untuk menemui istri di luar karena jumlah pengunjung dibatasi pagi itu. Si sulung juga sebentar lagi pulang sekolah, tak jauh dari rumah sakit. Mukanya berseri ketika menerima amplop yang tak seberapa isinya.

Dialah Bu Louis yang pernah saya ceritakan di sini. Seorang janda tua asal Medan yang menetap di Bogor bersama putranya. Saya mengenalnya karena kami sama-sama anggota paguyuban produsen makanan kecil yang hampir setiap hari bertemu di lapak yang sama. Pagi-pagi sekali ia berjalan kaki menuju lapak tersebut.

Karena Bu Louis tak punya kendaraan, maka saya menawarkan untuk mengirim martabak manis bikinannya ke beberapa toko yang cukup jauh dari rumahnya. Dia gembira bukan kepalang sebab saya tak mengambil margin dari hasil penjualan kuenya meskipun dia membolehkannya. Bukan berarti saya tak butuh uang, tapi ingin menolong semata sebab kondisi saya memang memungkinkan.

Dia seorang kristiani, saya muslim. Saya dari suku Jawa, dia dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya Batak. Namun kami sama-sama menghirup udara Indonesia, sama-sama warga negara yang mencoba meraup rezeki. Kami menghormati keyakinan masing-masing tanpa mencampurkannya dengan bisnis. Martabak manisnya ternyata laris. Maka sedih juga saat kami pamit hendak pindah ke Jawa Timur.

Tepa Salira

Toleransi mungkin kata yang semakin relevan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tak bisa dipungkiri kita hidup dalam keragaman mulai dari suku, agama, hingga cara menari rezeki. Pilihan yang diambil masing-masing tidak perlu kita risaukan sejauh dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan tidak mengganggu pilihan orang lain. Dan tentu saja tidak melanggar hukum negara.

Sudah saatnya kita menerapkan tepa salira dalam batas-batas yang saling menguntungkan. Merasakan apa yang orang lain rasakan sekiranya hal itu kita alami menjadi landasan agar kita sadar bahwa dalam kehidupan sosial kita harus mampu berempati, menghormati perasaan orang lain.

Kita mengenalnya dengan sikap tenggang rasa, yakni memosisikan diri kita seolah-olah kita mengalami hal serupa sehingga kita membutuhkan pengertian dari orang lain saat kita menjalankan pilihan kendati itu berbeda tanpa menimbulkan kericuhan atau perpecahan.

Kepentingan Bersama

Toleransi bukan hanya dalam lingkup agama. Isu-isu lingkungan belakangan ini juga semakin menguat dan perlu menjadi perhatian kita dalam konteks kepentingan bersama. Pembuang sampah sembarangan harus kita tegur, atau minimal kita ‘sindir’ dengan membantu membuang sampah itu di depan mukanya. Para pelanggar lalu lintas, misalnya berjalan melawan arus, juga perlu kita ‘keroyok’ sebagai peringatan bahwa itu berbahaya.

Intinya, kita mesti berjuang untuk mewujudkan kepentingan bersama. Hal-hal yang sudah kita sepakati sebagai tujuan demi kebaikan publik tidak boleh dinodai. Jika tak bisa bergerak sendiri, kita dapat menggalang bantuan baik secara personal maupun melalui petisi online yang kini marak. Tak boleh ada hak-hak publik yang dihancurkan hanya oleh segelintir orang yang tak menghargai aturan, baik mengenai bisnis apalagi isu agama yang sensitif.

Pemberdayaan dan pengorbanan

Poin penting yang perlu ditekankan adalah sinergi yang bisa dibangun antarkelompok dalam masyarakat tanpa memandang suku, agama, dan ras yang bersangkutan. Perbedaan-perbedaan itu dapat dipersatukan, bukan dihilangkan, misalnya dengan membentuk komunitas pemberdayaan untuk mencapai tujuan positif bersama baik yang bersifat sosial maupun finansial. Kerahkan setiap keterampilan atau kemampuan untuk menciptakan manfaat. Berkorbanlah!

Orang-orang yang kurang mampu atau miskin dapat disokong melalui skema bantuan yang produktif tanpa melihat latar belakang SARA mereka. komunitas tersebut  bisa bekerja sama dengan sponsor dari perusahaan atau komunitas lain agar program bekerja dengan optimal dan kuat. Bayangkan bila kelompok masyarakat dapat menciptakan swadaya untuk menangani keterbatasan mereka sendiri tanpa selalu berharap pada pemerintah. Yang kaya membantu yang miskin, yang kuat menopang yang lemah, tentu hasilnya mengagumkan!

Cita-cita bangsa

Terakhir, ingatlah tentang ide atau gagasan mengapa negara ini didirikan. Cita-cita mulia para pendiri yang telah mengorbankan banyak hal jangan sampai kita runtuhkan akibat kecerobohan kita semata. Sudah bukan saatnya saling menyalahkan atau menyerang demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Indonesia jelas negara dengan sumber daya melimpah, baik dari sisi alam maupun para cendekia. Kita bisa menantikan negara kita berakhir dengan katastrop yang menandai pupusnya sebuah ide negeri yang beradab dan luhur. Namun kita bisa memilih untuk tetap optimistis dengan menyongsong masa depan yang lebih menjanjikan.

Jangan sampai tercera-berai akibat mudah diprovokasi oleh pihak atau negara lain yang akan bersorak demi keuntungan mereka sendiri. Sejarah membuktikan kita sebenarnya bangsa yang kuat, sampai penjajah datang dan memanfaatkan kelemahan kita melalui praktik adu domba. Politik keji itu tak boleh kita biarkan. Kita bisa kembali solid dan produktif dengan saling mendukung dan fokus pada cita-cita bersama melalui spirit toleransi demi membangun negeri.

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Toleransi Demi Membangun Negeri

  1. Mulia sekali hatinya Mas Rudi, membantu ibu Luiz mengantarkan dagangan martabaknya kepada para pelanggan tanpa memungut uang sepeserpun. Semoga Allah saja yang membalasnya ya Mas. Mendoakan agar rezekinya Mas Rudi juga selalu lancar. Amin

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s