Mengabdi Lewat Saung Literasi

literasi

Berit Renser, bule asal Estonia yang jatuh cinta pada Indonesia, pernah menulis buku yang salah satunya mengisahkan ‘kekagumannya’ terhadap sebuah perilaku orang Indonesia yang juga hendak saya soroti. Apalagi kalau bukan soal ketertiban lalu lintas. Mengejutkan mungkin kata yang lebih tepat saya sematkan ketika banyak pengendara motor, baik pria maupun wanita—remaja hingga dewasa—memacu kendaraan roda dua tanpa memakai helm sebagai pengaman. Lalu lintas di Lamongan memang tak sepadat Bogor atau kota besar lain, namun jelas bukan alasan cerdas untuk meninggalkan helm di rumah.

Tiga Hal Krusial

Faktanya, di sebuah jalan tak jauh dari rumah kami beberapa kali terjadi kecelakaan dan berakhir mengenaskan. Sebab celaka tak bisa diprediksi, memakai helm harusnya tetap menjadi prioritas sebagai upaya keselamatan. Semacam perwujudan rasa sayang pada diri sendiri sekaligus menghormati aturan yang berlaku. Jika terhadap aturan kecil saja kita abai, bagaimanakah terhadap norma yang lebih tinggi dan luhur seperti sosial dan agama?

Bentuk pelanggaran kedua adalah gerakan melawan arus biasanya dengan alasan memotong jalan. Kasus ini juga sering saya saksikan di Bogor walau frekuensinya tak sekerap di sini. Saya tak habis pikir kenapa ada orang yang begitu santai melawan arah sembari asyik tanpa mengenakan helm. Bukanlah itu mempertontonkan pelanggaran secara gamblang? Demikian kata Pakde Cholik bloger gaek asal Jombang yang sering mengkritik pengguna jalan yang sembrono.

Selain membuat kagok pengguna jalan dari arah berlawanan, perilaku melawan arus juga berpotensi menyebabkan kecelakaan bagi diri sendiri dan orang lain. Yang lebih mengejutkan, tak jarang para pengendara yang melawan arah tersebut juga membawa anak kecil sebagai penumpang, entah duduk di belakang maupun dalam gendongan. Plus tak pakai helm! Nasib orang tak ada yang tahu, tapi coba bayangkan jika sebuah mobil melaju kencang dan menghantam motor tersebut akibat pelanggaran. Jangan coba mengingatkan mereka sebab respons yang muncul dijamin lebih garang dibanding orang yang mengingatkan!

Masih berkaitan dengan jalan, hal lain yang ingin saya soroti berikut ini tentu sudah menjadi isu publik di mana-mana, terutama di Indonesia. Apalagi kalau bukan buang sampah sembarangan. Konon di Singapura suasana bisa sangat heboh ketika sebuah puntung rokok ditemukan di jalan. Bukan soal larangan merokok, tetapi mengenai kepatuhan orang membuang sampah sekecil apa pun pada tempat yang disediakan. Namun entah kenapa susah betul menertibkan orang-orang agar menaati aturan perihal sampah.

Saya kadang tergoda berkesimpulan bahwa orang Indonesia bersifat paradoks. Di satu sisi mereka terkenal pekerja keras, pejuang tangguh yang selalu mampu membaca peluang, dan tak gampang menyerah dengan berbagai upaya kreatif yang mungkin tak terbayangkan oleh bangsa lain padahal dengan dukungan peralatan atau sumber daya yang terbatas. Lihatlah banyak orang berumur yang terus berjualan di mana-mana tanpa ingin mengemis.

Namun di sisi lain, mereka seolah loyo ketika berhadapan soal sampah. Entah apa yang terjadi, ketika akan membuang sampah, langkah mereka tiba-tiba terseok dan berat sehingga sampah akhirnya dicampakkan begitu saja. Sudah jelas banyak tersedia tong sampah tak jauh dari tempat mereka berdiri, ternyata kaki mereka mendadak rapuh dan kehilangan tenaga untuk melangkah demi menyorongkan sampah ke dalam tempatnya. Bukankah itu paradoks meskipun tidak ditunjukkan oleh semua orang? Dan itu sungguh menyebalkan! Ditambah penindakan yang tak jelas terhadap pembuang sampah yang jelas-jelas sudah ada aturan dendanya.

Fenomena memprihatinkan ketiga adalah rendahnya minat baca dan gairah literasi pada umumnya. Oke, saya memang belum mengadakan riset komprehensif mengenai hal ini. Namun semangat membaca di kota ini semata-mata terbatas pada jargon belaka. Perpustakaan daerah tak terlalu ramai oleh pengunjung selain orang itu-itu saja. Satu-satunya toko buku lumayan lengkap yang berafiliasi dengan penerbit besar Jakarta terpaksa gulung tikar dua bulan silam lantaran pendapatan yang menyedihkan.

Saung Literasi

Itulah yang saya tangkap setelah setahun lebih menghirup udara kota kelahiran. Kendati lahir dan besar di sini, belasan tahun merantau menghadirkan tantangan tersendiri untuk menyatu dengan ritme kehidupan baru dan menyetel agar pikiran bisa menerima aspek sosiokultural yang melingkupi. Menerima bukan berarti memasukkan taken for granted, melainkan sekadar berupaya tidak berkonfrontasi dengan pola-pola yang rupanya sulit diakurkan sebagaimana tecermin dalam tiga poin di atas.

Hal ini rasanya cocok untuk menggambarkan topik yang dilempar oleh Komunitas ISB mengenai kemampuan tersembunyi yang ingin saya bagikan. Boleh jadi yang saya punya bukan bakat terpendam yang selama ini belum dikerahkan. Hanya saja ini lebih merupakan kemampuan yang pernah saya kontribusikan namun lama vakum dan ingin saya bagikan kembali di tempat yang baru.

Saya berencana menghidupkan kembali Bright English Institute (BEI) yang pernah kami kelola selama kurang lebih tiga tahun di Bogor dahulu. Konsepnya masih sama, BEI akan memberi kesempatan kepada anak-anak kurang mampu atau yang orangtuanya berpenghasilan rendah secara cuma-cuma. Hanya saja nanti peserta BEI dipersilakan mengisi kotak donasi kapan pun mereka memiliki rezeki berlebih untuk mendukung kegiatan sekaligus sebagai ikatan agar mereka serius mengikuti program. Akan ada field trip atau kegiatan outdoor yang butuh dana sehingga bisa disokong dari sana.

Lebih dari itu, BEI akan menjadi entitas dari Saung Literasi yang akan kami jalankan di depan rumah tepatnya di atas gazebo mini dengan harapan lebih menarik dan menyenangkan—selain memang karena keterbatasan lahan. Dengan demikian, dalam Saung Literasi, para peserta tidak hanya mendapat pelajaran bahasa Inggris, tetapi juga pengetahuan mengenai literasi yang lebih luas.

Sinergi

Saya ingin agar mereka lebih mengenal bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sebagai kekayaan nonmateriil yang layak dipertahankan sebagai warisan berharga di samping penguasaan bahasa Inggris sebagai bekal memasuki dunia yang lebih luas. Kemampuan berbahasa Inggris yang memadai akan memungkinkan mereka mengakses sumber-sumber ilmu bernilai dari seluruh dunia dengan lebih mudah.

Dan tentu saja, sesuai namanya, mereka akan mendapatkan latihan menulis atau mengungkapkan gagasan melalui tulisan. Kami membayangkan bisa bersinergi dengan kawan-kawan yang lebih mumpuni dari luar daerah atau dalam kota sebagai narasumber atau motivator dalam berbagai program yang nanti bisa disesuaikan. Selain menambah ilmu, kehadiran tamu relatif lebih membuat anak-anak bersemangat sebab bersentuhan dengan orang baru.

Kini ketika saung sudah siap dan ada beberapa anak yang sudah mendaftar, tinggal tunggu mainnya. Inilah sumbangan kecil untuk negeri tercinta yang semoga bisa terwujud. Nah, sembari waktu berjalan, saya telah membuka halaman khusus di blog BBC bertajuk English Nook bagi BBC Mania yang ingin bertanya hal apa pun mengenai bahasa Inggris. Doakan ya!

Advertisements

6 thoughts on “Mengabdi Lewat Saung Literasi

  1. Semoga saungnya dapat berkembang dengan baik sesuai tujuan pendirian. Sy termsk silent reader BBC…doa kami utk semua pihak yg memiliki kepedulian thd tumbuh kembang anak-anak…

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s