Sedapnya Kopi “Gratis” dari Penjual di Marketplace

Sejak pindah ke kampung halaman saya jadi rajin ubek-ubek marketplace untuk berburu aneka barang yang kami butuhkan. Karena satu dan lain hal, harga di marketplace bisa jauh lebih murah dibanding di toko online. Terutama buku bekas yang paling sering kami beli. Demi menambah koleksi bacaan di rumah, isi tetap yang utama, bukan baru tidaknya buku. Apalagi kamus-kamus yang langka dan ditawarkan dengan harga menggiurkan. Selalu untung membelinya.

Dorongan lain membeli barang di marketplace adalah seringnya ada hadiah berupa voucher belanja, entah dari lomba menulis atau sebagai kompensasi sponsored post. Sejauh ini salah satu marketplace yang paling sering saya sambangi adalah Tokopedia. Berkenalan dengan Tokopedia awalnya lantaran memenangkan lomba blog yang dihelat Mbak Uniek yang mengganjar saya dengan voucher belanja di sana. Mau tak mau, saya harus membuka akun dan nyaman banget bertransaksi di Tokopedia hingga kini.

Bukit cashback

Alasan lain Tokopedia menjadi primadona adalah mereka kerap menawarkan cashback dalam bentuk saldo TokoCash. Berbeda dengan saldo biasa, saldo dalam TokoCash ini tak bisa ditarik ke rekening kita, namun bisa digunakan untuk berbelanja apa saja di Tokopedia. Mulai dari bayar listrik, air, pulsa, paket data, beli ini itu semua bisa di-cover TokoCash. Cashback demi cashback—sekecil apa pun nilainya—sangat bermanfaat sebab bisa terakumulasi dan dimanfaatkan untuk bertransaksi apa saja.

Maka tak heran bila posting berbayar selalu saya terima kendati upahnya berupa voucher belanja. Tetap sangat bermanfaat! Selain itu, imbalan berupa voucher relatif lebih cepat cairnya ketimbang imbalan berupa transferan. Biasanya hanya dalam hitungan hari atau bahkan jam. Berbeda dengan imbalan dalam bentuk uang yang bisa kita terima paling cepat dua minggu hingga satu bulan.

Kopi gratis?

Awal Agustus lalu seperti biasa saya melakukan pemesanan di sebuah lapak. Satu bundle berisi kamus dkk plus beberapa bungkus kopi khas Palembang. Selain karena memang suka ngopi, pembelian kopi juga didasari oleh intuisi mendapat potongan ongkos kirim setelah mencapai order minimum. Akhirnya pesanan diproses dan dikirimlah nomor resi.

kopi toped

Kenikmatan yang meninggalkan penyesalan

Deg-degan tak bisa kusembunyikan, menanti barang-barang yang kuidamkan. Beberapa hari kemudian, tibalah apa yang dinantikan. Ekspedisi Wahana memang andalan, murah walau waktu tak bisa disegerakan. Lucunya lagi, di kota saya tak ada perwakilan Wahana sehingga mereka mengirimkan paket itu lewat ekspedisi pesaing, hehe. Tak apa, yang penting kamus dan kopi akhirnya datang. Tapi rupanya ada kesalahan, yang terkirim bukan bundle berisi 3 kamus melainkan 1 kamus saja. Yang lebih bikin saya masygul, kopi yang dikirim sepertinya sudah kedaluwarsa, terindikasi dari tanggal yang tercetak di pada kemasan.

Saya segera menekan tombol komplain di Tokopedia dengan menjelaskan ada barang yang kurang dan produk lainnya tampak sudah expired. Kekurangan barang dalam bundle diakui oleh penjual dan ia berjanji akan mengirimkan sisanya. Sementara kopi yang kucemaskan kedaluwarsa ia tanggapi dengan lempeng. Saya tentu khawatir bakal keracunan lantaran kopi expired kan? Namun menurut penjual, semua kopi yang ia terima dari distributor Palembang memang kondisinya demikian. Selama ini pembantunya di rumah juga fine-fine aja mengonsumsinya, jelasnya. Nah, fine-fine aja atau memang belum ada reaksi, hehe—gumam saya?

Akhirnya penjual mengusulkan komplain ditutup dan ia bersedia mengirimkan kekurangan item ditambah uang kopi yang akan diselipkan dalam paket. Adapun kopi yang dikhawatirkan kedaluwarsa tidak perlu dikembalikan untuk diganti baru sebab stok yang dia punya semuanya memiliki kemasan dengan tanggal serupa. Menurut dia sebaiknya kopi yang saya pegang dibuang saja daripada diminum dan mungkin berdampak negatif. Ia jelas tak mau disalahkan.

Amplop tak bertuan

Saya menyetujuinya namun dengan penyesalan terlambat. Saya merasa bersalah dengan menahan kopinya namun uang kopi tetap akan dikembalikan. Walau belum tahu kopi itu akan saya apakan. Saya telah merugikan si penjual, pikirku. Ketika kukabari penjual agar ia tak perlu mengembalikan uang kopi, ternyata ia sudah mengirimkan paket kedua berisi kekurangan barang yang tertinggal. Saya betul-betul salah tingkah dan merasa bersalah setelah dinasihati oleh istri akibat resolusi yang kami sepakati.

Beberapa waktu kemudian kopi itu kutuang semua ke dalam botol dan coba kuseduh. Ternyata sedap juga kopi semendo ini. Semoga benar tak bereaksi macam-macam sebagaimana terjadi pada pembantunya. Biarlah saya tak bisa ikut ke Palembang untuk menyaksikan sekian pertandingan Asian Games, namun sekurang-kurangnya dapat mencicipi kopinya yang tulen dan nikmat.

Kopi “gratis” ini masih tersisa dan sesekali kuseduh. Sesekali kutatap amplop dari penjual berisi uang kopi yang ia kembalikan itu—tak jauh dari meja laptop tempatku menulis setiap hari. Jumlahnya masih sama, belum kuapa-apakan. Saya masih berpikir bagaimana cara mengembalikan atau menangani uang ini. Sambil kuucapkan terima kasih kepada kemurahan hati penjual, apakah BBC Mania punya usul?

Advertisements

15 thoughts on “Sedapnya Kopi “Gratis” dari Penjual di Marketplace

  1. Bagusnya sih penjualnya juga memberi keterangan tanggal expired di galerinya. Tapi, alau order produk makanan atau minuman, biasanya saya tanya lagi tanggal expired dulu ke penjual untuk memastikan. Beberapa kali saya beli yogurt bubuk, saya akan minta penjual merinci tanggal expired setiap varian. Setelah itu kembali ke pembeli mau tetap order atau enggak

    Like

    1. Iya, Mbak Myra. Harusnya kalau menyangkut makanan atau kuliner yang pakai pengawet mereka mencantumkan tanggal kedaluwarsa biar calon konsumen merasa aman ya. AKhirnya kayak saya gini jadi serbabingung. Saya juga salah kok ga pakai nanya dulu. Habis biasanya exp date masih lama sih untuk produk lain.

      Like

  2. Wuih, kopi semendo. Ueeenaaak iki. Kopi legenda ini mah. Soal duitnya, dikirim balik aja ke alamat penjual, Mas. Daripada dihantui perasaan tidak enak terus-menerus.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s