Senandung Bisu: Ambivalensi Kebanggaan yang Memakan Korban

Judul: Senandung Bisu

Penulis: Aguk Irawan M.N.

Penerbit: Republika Penerbit

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Februari 2018

Harga: Rp85.000

Tebal: viii + 388 halaman

ISBN: 978-602-082-299-0

Rahim, atau Muhammad Rahim, adalah bungsu dari lima bersaudara yang terkucil dari keluarganya sendiri, bahkan terasing dari dunia anak-anak yang mestinya ia nikmati dengan penuh kegembiraan. Saat teman-teman sebayanya berceloteh riang ke sana kemari dengan mengayuh sepeda, Rahim justru bergelut dengan lumpur dan tanah sawah yang harus ia cangkul sendirian. Jika Nur—bungsu dari keluarga lain—sampai dikirim ke kota kecamatan demi mengejar ketertinggalan pelajaran sekolah, maka Rahim harus menerima jeratan tali dan tubuhnya diikat ke sebatang pohon akibat merengek kepada ayahnya untuk bisa bersekolah.

Bukan hanya cacian dan hinaan yang Rahim terima lantaran hidup sebagai bungsu dalam keluarganya. Ibunya pun sering tak menepati janji untuk mengirim makanan yang bisa Rahim santap di sawah saat ia jeda bekerja. Bahkan menyantap sisa makanan adik atau kakaknya pun ia tak sanggup sebab ibunya keburu mendampratnya agar ia segera meluncur ke sawah. Jadilah ia bergegas mencangkul tanpa sarapan pagi. Untunglah ada Pardi si penggembala yang menjadi sahabatnya, juga Kyai Na’im yang tak segan menghibahkan nasi bungkusnya untuk disantap Rahim. Dan tentu saja ciblek si burung kecil yang terus ribut berkicau dan menjadi target kejaran Rahim sewaktu bekerja di sawah.

masa lalu

Bagaimana nasib buruk atau ‘kekejaman’ orangtuanya bisa menimpa Rahim sedemikian rupa, kita perlu melihat masa lalu. Tentang persaingan dua keluarga yang saling mengunggulkan kesuksesan anak dan akumulasi harta. Tentang dua keluarga yang saling mendoakan keburukan karena masing-masing merasa berpijak pada kebaikan dan kebenaran sehingga Tuhan layak menghukum keluarga yang didoakan itu. Dua keluarga yang terus berkompetisi atas sesuatu yang sesungguhnya tak mereka pahami.

Itulah Muhaya dan Wuryani, pasangan yang tak henti membanggakan Muniri anak sulung mereka yang sukses besar sebagai pedagang kelapa di Jakarta. Sedangkan Usman si bungsu berhasil mengenyam perkuliahan di Jakarta atas biaya sang kakak. Wuryani rupanya tak bisa legawa melihat perbaikan ekonomi yang dialami keluarga Dlori dan Zulfin berkat kesuksesan panen melon dan jeruk—dua buah yang sebelumnya dipandang sebelah mata oleh warga Desa Siwalan. Selain digunjing sebagai wanita yang mudah bunting—terbukti dari lima anaknya yang beruntun lahir dengan jarak yang sangat dekat—Zulfin juga mendapat hinaan dari Wuryani seputar menu harian yang dikonsumsi keluarga besar tersebut juga gaji kecil Lik Soyi yang direndahkan Wuryani sebagai babu.

Lalu terjadilah pemukulan itu. Zulfin kalap dan menghampiri Wuryani yang tengah bergunjing di sebuah warung. Di luar dugaan warga, Zulfin yang lebih mudah ternyata berani menampar wajah Wuryani dan akhirnya pulang dengan penuh kemenangan. Apakah itu lantaran gosip yang menuduh Dlori suaminya sebagai pembunuh gara-gara menyewa sawah warga desa sebelah dengan harga sangat murah? Ataukah Zulfin semata-mata sakit hati karena dianggap mengharap sumbangan dengan punya banyak anak?

Puncaknya adalah ketika kedua keluarga masing-masing harus kehilangan satu anggota tercinta, dan mereka harus menafsirkan apakah kehilangan itu harus disesali akibat kesalahan ataukah petaka itu perlu dirayakan demi kebanggaan belaka?

Membaca novel ini sepintas mengingatkan saya pada Ahmad Tohari yang ajek mengadomodasi kekayaan lokalitas, dalam hal ini desa yang tokoh-tokohnya khas dengan alam batin yang sering mengejutkan. Novel ini terbilang mengalir lancar walaupun menurut saya agak bertele-tele untuk mengantarkan kisah Rahim sebagai karakter pada plot utama. Porsi bab demi bab tersedot lumayan banyak untuk menampilkan perseteruan keluarga Muhaya dan Dlori. Rahim hanya muncul di sepertiga awal dan dua bab terakhir sehingga ending cerita terasa terburu-buru mengenai resolusi Rahim terhadap kedua orangtuanya.

Beberapa catatan

Sejumlah catatan dapat saya tulis sebagai bahan perbaikan seandainya buku ini akan dicetak ulang kelak. Catatan yang saya maksud berupa ketidaktepatan berbahasa dan kejanggalan yang menggangu logika cerita. Penggunaan bahasa yang tidak tepat misalnya tercetak pada halaman 13: “Ciblek terbang lebih dulu sebelum tangannya Rahim mampu menangkapnya”. Frasa ‘tangannya Rahim’ mestinya ditulis ‘tangan Rahim’ tanpa -nya karena sudah ada Rahim yang menjelaskan pemilik tangan. Pada halaman yang sama ada kalimat yang berbunyi, “…menertawai Rahim yang timbul tenggelam di dalam jelaga.” Saya menduga Rahim tercebur ke dalam telaga sebab jelaga adalah butiran arang sedangkan telaga berarti kolam atau balong.

Lalu pada halaman 38 tertulis:

Tetapi siapa yang tidak mengenal Dlori—ayah Rahim?

Siapa pula yang tak mengenal Zulfin, istri Dlori, ibunya Rahim?  

Pronomina -nya yang menyatakan milik mestinya tak perlu ditulis pada kalimat kedua. Pada kalimat pertama penulis sudah tepat mencantumkan ‘ayah Rahim’ namun editor terlewat dengan membiarkan frasa ‘ibunya Rahim’ yang mestinya cukup ditulis ‘ibu Rahim’.

Pada halaman 157, saat menggambarkan kedatangan menantu Muhaya, ada kalimat berbunyi, “Siang harinya, di hari yang sama, setelah ba’da zhuhur sekitar jam setengah dua ….” Terdapat pemborosan kata yakni setelah dan ba’da yang bermakna sama. Mestinya dipilih salah satu agar lebih efektif: setelah zhuhur atau ba’da zhuhur. Lalu pada halaman 298 terdapat ujaran Sri Rezeki kepada Umi, “Iulu ibu dan bapakmu sering dihina-hina.” Saya menduga Iulu maksudnya dulu dan salah eja seperti ini semestinya tak perlu terjadi. Terakhir, “Lalu kenapa bayi itu di bawa ke rumah Mbah Na’im? (hal. 365) Jelas bahwa bawa merupakan kata kerja sehingga bentuk yang tepat adalah dibawa.

Adapun kesalahan yang berhubungan dengan cerita misalnya muncul pada halaman 51. Di sana ada kalimat, “Setelah dulu berhasil menguliahkan Umi hingga menjadi sarjana (sementara Ibti dan Mahmudah ….)” yang mengisahkan anak-anak Pak Tohar. Pak Tohar punya lima anak: Yuni, Ibti, Mahmudah, Aziz, dan Miratul. Melihat konteksnya, Umi harusnya Yuni. Selain itu, bab 8 berjudul Wuryani dan Anak-Anaknya tampaknya kurang tepat karena bab itu berisi konsultasi Dlori dan Zulfin dengan Haji Ridlwan dan istrinya mengenai masalah yang mereka hadapi.    

senandung bisu

Kejanggalan yang paling masygul adalah kehadiran Bagus menantu Wuryani pada bab 11 ketika hendak melabrak Zulfin pascapenamparan. Disebutkan pada bab 10 bahwa Bagus menantunya adalah seorang polisi. Namun relasinya dengan keluarga Muhaya dan Wuryani sulit dilacak dalam buku ini. Pada halaman 77 dituturkan bahwa Muniri adalah anak pertama Wuryani yang berdagang di Jakarta Selatan. Sedangkan anaknya yang kedua, Usman, dikuliahkan oleh Muniri. Pada halaman 214 tertulis, “Mungkin karena Usman itu anak bungsunya, ….” Maka jelas bahwa Wuryani hanya memiliki dua anak—keduanya laki-laki. Nah, siapakah Bagus yang disurati Wuryani dan disebut sebagai menantunya? Dalam cerita tak ada keterangan Wuryani punya anak putri selain menantunya Zaenab yakni istri Muniri.

Mbah Na’im dan kutipan memikat

Beberapa kejanggalan atau ketidakselarasan itu perlahan mencair berkat kehadiran Kyai Na’im yang dibahas khusus pada bab 12 juga muncul di beberapa bagian lain. Beliaulah penyelamat keseluruhan cerita dalam novel ini. Walaupun asal usulnya misterius, namun karakternya kuat dan sosoknya relevan sesuai konteks. Meskipun kemampuan supranaturalnya bisa diperdebatkan, tapi pembawaannya solid terutama saat bercakap-cakap dengan Muniri dan adiknya, juga pertemuannya dengan Lik Soyi di dekat air terjun. Sayang sekali penulis masih kurang menyajikan hal-hal lain mengenai Kyai Na’im yang boleh jadi lebih menyihir pembaca sebab hubungannya yang erat dengan Rahim sang tokoh utama.

Sejumlah kutipan menarik bisa bikin kita berpikir dan merenung tentang hakikat hidup saat ini yang diambil dari novel ini.

Nafsunya yang dulu selalu mengajaknya pada iri dan dengki, kini nafsu itu menyeretnya pada lingkaran kebanggaan terhadap diri sendiri. (hal. 257)

Karena itu, ringankanlah hidupmu. Tak perlu kau cari bekal sebanyak-banyak, karena bisa jadi kau akan keberatan dengan bekal yang banyak itu! Ringankanlah hidupmu, dan hidup orang-orang yang kau cintai. (hal. 262)

Mereka mengira sedang melangkah dalam jalan kehidupan, padahal sesungguhnya mereka tengah menapaki jalan kematian. (hal. 352)

Di beberapa bagian penulis menyisipkan ayat Al-Quran atau hadis Nabi yang tentu saja sesuai dengan kebutuhan cerita. Namun bagi saya kemunculan ayat atau hadis itu masih terkesan preachy atau menggurui karena ditulis begitu saja secara lengkap tanpa narasi yang mendahuluinya dengan emotif. Mungkin karena Aguk memang punya pengetahuan agama Islam yang mumpuni sehingga ayat-ayat itu meletup begitu saja tanpa pengemasan yang lebih cantik dalam cerita.

Namun ada satu kejadian yang layak kita simpan dan pikirkan, yaitu ketika Dlori berhasil mendapatkan sawah dengan uang sewa yang rendah. Spontan ia teringat pada pesan haji Ridlwan yang pernah membacakan Surah Ath-Thalaq ayat 2-3 sebagai berikut.

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

ambivalensi hati

Ayat ini begitu populer di mana-mana, dalam keseharian kita sendiri. Seperti Dlori yang menganggap bahwa peluang demi peluang itu hadir karena Tuhan mendukungnya, bahwa karena dia baik maka Allah memudahkan jalannya menuju kesuksesan—dalam hal ini panen buah melon dan jeruk. Berapa kali kita pernah dihinggapi perasaan serupa: merasa sudah baik, salih, meyakinkan diri sudah bertakwa, sehingga kemudahan demi kemudahan itu kita konfirmasi dengan ayat di atas. Padahal belum tentu kita sudah benar-benar baik, sebab jalan keluar diberikan juga sebagai bentuk ujian.

Ingat tidak isi Surah Al-Fajr ayat 15-16 yang mengingatkan kita soal keberlimpahan dan keterbatasan? Baik kemudahan atau kesulitan, keduanya sama-sama ujian—seperti halnya kekayaan dan kekurangan yang juga cobaan. Jangan-jangan kita sudah dikuasai oleh kebanggaan semu karena merasa sudah bertakwa dan layak dimanjakan Tuhan. Kita merasa di awang-awang sambil merendahkan orang lain. Seperti Dlori yang panennya dahsyat, atau Wuryani yang anaknya sanggup membeli mobil, nah seperti apakah sikap kita dalam menilai diri sendiri?

Kebanggaan bisa begitu ambivalen, setipis kulit bawang seolah-olah kita sudah baik padahal pada saat yang sama kita sering menghendaki keburukan orang lain. Hati begitu mudah terbelah menjadi dua kutub yang tarik menarik dalam medan nilai-nilai. Kesumat keangkuhan kadang terasa begitu halus sampai-sampai kita tak menyadarinya. Itulah yang layak kita camkan, kita tasbihkan sebagai detak peringatan dalam diri, menjadi senandung bisu yang jangan sampai menipu. Inilah pesan penting yang harus kita kembangkan sebagai rekaman keyakinan agar tak sampai memakan korban.

Selamat menikmati!

Advertisements

2 thoughts on “Senandung Bisu: Ambivalensi Kebanggaan yang Memakan Korban

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s