Memajukan Bangsa Lewat Sayuran Berlimpah

Potensi sukses yang selama ini kita kenal mungkin tak jauh dari pekerjaan-pekerjaan yang mentereng atau menjadi pengusaha besar seperti bidang tambang dan semacamnya. Atau jika dikaitkan dengan konteks kekinian, kesuksesan tampaknya mudah diraih dengan menjadi YouTuber andal. Asal subscriber banyak, pundi-pundi dolar dapat diraup dengan mudah. Namun, tak semua orang ternyata cocok menjalani profesi di bidang digital.

Berangkat dari yang kecil

Saya pribadi termasuk tak piawai mengelola YouTube, maka kisah Pak Sujono jauh lebih memikat terutama setelah saya menetap di daerah. Mantan pegawai bank BUMN ini mengajukan pensiun dini lalu kembali ke kampungnya di Jawa Timur. Naluri bisnisnya berjalan ketika melihat warung makan dan restoran yang membutuhkan kemangi. Iya, sayuran dengan ciri khas daun wangi itu yang akhirnya Sujono tawarkan dari warung ke warung door to door sambil ia menanami pekarangan sendiri.

Lambat laun usaha kemanginya mampu menyuplai ribuan restoran dan warung makan dengan lahan kemangi mencapai lebih dari 20 hektar. Kisah kesuksesan Sujono dituturkan oleh Dr. Kusmuljono dalam bukunya berjudul Keluar Dari Jalan Buntu: Mewujudkan Potensi Usaha Tanpa Batas (2011). Buku yang ditulis oleh pakar keuangan mikro ini tak pernah bosan saya baca sebab mengangkat cerita nyata sejumlah pengusaha kecil yang akhirnya mampu membangun usaha yang produktif dengan modal terbatas.

Lebih-lebih profil Pak Sujono yang sangat menginspirasi. Setidaknya ada tiga pelajaran penting yang bisa saya petik. Pertama, usaha kecil yang tampak sepele pun bisa meraup untung besar jika pasarnya digarap serius. Kedua, tinggal di daerah bukan halangan untuk tetap mandiri secara ekonomi. Ketiga, usaha sayur-mayur masih sangat menguntungkan untuk digeluti karena kebutuhan akan gizi lewat sayur terbilang konsisten dan bahkan terus meningkat.

Tiga alasan

Jika kita termasuk penggemar mi ayam, coba bayangkan besarnya kebutuhan pasar akan caisim atau sawi hijau yang setiap hari dicacah untuk menyedapkan menu pilihan sejuta umat ini. Hitunglah jumlah gerai atau gerobak mi ayam yang ada dalam satu kecamatan, kota, atau kabupaten, hingga provinsi. Ini baru satu jenis makanan untuk kedai. Belum termasuk sayuran yang setiap hari dimasak oleh setiap keluarga di Indonesia yang jumlahnya mencapai jutaan. Selain itu, pabrik-pabrik tertentu terus membutuhkan sayuran sebagai bahan utama untuk produk mereka, misalnya suplemen dan ramuan obat. Serapan industri ini sangat besar. Apalagi supermarket atau pasar swalayan yang setiap hari dibanjiri pembeli aneka sayur-mayur.

Potensi ekonomi yang besar ini bisa jadi motivasi utama untuk menanam sayuran. Melihat pasar yang begitu besar, tentu potensi ekonominya sangat menggiurkan. Yang mengasyikkan, menanam sayur tidak selalu butuh lahan yang luas. Ladang sempit, pekarangan rumah depan teras, bahkan bertanam di media khusus pun bisa. Pernah dengar kan urban farming yang kini semakin moncer sebagai tren di dunia modern? Minat yang besar pada pertanian di berbagai media tanam bukan hanya menandakan keuntungan menjanjikan, tetapi juga harapan untuk merawat planet Bumi melalui budi daya sayuran yang menyehatkan bagi tanah dan manusia. Ini alasan kedua mengapa menanam sayuran layak dilirik.

Beberapa tahun lalu seorang kawan merekomendasikan sebuah buku berjudul Understanding Forgetfulness and Dementia mengingat sifat pelupa saya. Meskipun belum separah demensia, namun kecenderungan untuk lupa itu berbahaya. Nah, bertanam atau berkebun ternyata bermanfaat untuk meringankan demensia. Menurut pakar hortikultura Cath Manuel, berkebun dapat membantu ODD (orang dengan demensia) untuk mengingat kembali ingatan jangka panjang yang menyenangkan sekaligus membawa mereka kembali ke masa yang lebih sehat. Bercocok tanam jelas melibatkan aktivitas fisik, maka kesehatan bisa tetap terjaga.

Dengan demikian, prinsip 3P (profit, people, planet) bisa dipenuhi dari kegiatan menanam sayuran. Selain menguntungkan dari segi ekonomi karena potensi pasar yang besar, bertanam sayuran bisa mendorong agar penanam lebih sehat baik fisik dan mental. Dan tak kalah penting, sayur mayur yang ditanam berperan besar untuk terus merawat kesehatan tanah dan melestarikan bumi pada umumnya. Jadi, masih enggan menanam sayuran?

Tips sukses bertanam

Bagaimana kiat agar menanam sayur menjadi kegiatan produktif yang membuahkan hasil sesuai harapan? Setidaknya ada lima hal yang perlu diperhatikan.

1 – Ketersediaan lahan

Bekal utama bercocok tanam tentu saja media tanamnya. Lahan sesempit apa pun bisa diberdayakan untuk mendulang keuntungan, minimal untuk memasok kebutuhan sayuran untuk keluarga sendiri dan tetangga sekitar. Semangat berkebun atau menanam sayuran bisa mendorong pemanfaatan lahan-lahan yang selama ini dianggurkan atau dianggap tidak produktif. Jika skalanya luas, warga dalam satu kampung bisa bekerja sama dengan otoritas setempat untuk mengolah lahan tersebut secara sinergis dan bergantian. Dengan demikian, lahan yang ada bisa bernilai ekonomis.

2 – Benih bermutu

Jika lahan tersedia, yang perlu dipersiapkan berikutnya adalah bibit atau benih sayuran yang akan ditanam. Sebagai cikal bakal sayuran yang nanti akan dipetik, benih yang ditanam tidak boleh sembarangan. Harus berkualitas, antara lain cepat tumbuh, tahan penyakit, dan mudah perawatan. Benih pilihan akan meringankan tugas kita dalam merawat sayuran sehari-hari. Karena sangat penting, maka benih harus kita peroleh dari sumber yang tepercaya dan terbukti membuahkan hasil selama ini.

3 – Perawatan terpadu

Benih yang sudah ditanam tidak bisa dibiarkan berproses sendiri tanpa campur tangan manusia. Perlu dirawat dengan sepenuh hati agar setiap benih tumbuh menjadi sayuran sehat dan mutunya memuaskan. Tanaman bukan hanya dipastikan terbebas dari rumput dan gulma, melainkan wajib mendapatkan pengairan yang cukup dan aman dari serangan hama apa pun. Pupuk yang memadai tak boleh dilupakan agar tanah terus menyediakan unsur alami yang dibutuhkan demi pertumbuhan sayuran.

4 – Pengetahuan memadai

Ilmu praktis seperti media tanam, cara menanam, cara menangkal hama, dan apa saja yang berkaitan dengan sayuran yang kita kelola harus dikuasai. Menguasai tidak harus bisa sendiri. Bisa bekerja sama dengan petani atau pekebun lain, juga bisa belajar bersama-sama melalui media online yang kini semakin mudah diakses dan materinya berlimpah. Pengetahuan semacam ini akan membantu tercapainya target panen sehingga permintaan pasar bisa dipenuhi.

5 – Dukungan pasar

Hasil panen bagus dan jumlahnya berlimpah akan sia-sia jika tak ada pasar yang menyerapnya. Sayuran malah akan membusuk dan kita dirundung kerugian ketika pasar masih tak jelas padahal produk sayuran memiliki tingkat kesegaran yang terbatas. Oleh karena itu, jaringan pasar yang terjamin akan memuluskan distribusi panen sayuran kita agar meraup keuntungan bagi keluarga dan warga setempat. Kalau memungkinkan, pasar harus digarap dulu baru bergerak ke cocok tanamnya.

Mengapa Panah Merah

Agar bisnis di bidang sayuran berjalan sesuai harapan, kita mesti mencari bantuan dari pihak lain agar langkah semakin ringan. Meskipun proses penanaman bisa kita kerjakan sendiri, namun cara mendapatkan benih harus betul-betul melalui seleksi yang ketat. Sebagaimana saya sebut sebelumnya, benih sangat menentukan hasil panen yang akan kita petik. Di pasaran kadang beredar bibit palsu yang tak sesuai janji yang dideskripsikan. Seperti kisah Hendra petani sukses asal Lembang yang telah lama menekuni bidang hortikultura dan mengaku pernah tertipu oleh benih lokal yang ternyata tidak memuaskan.

Hendra lantas beralih ke benih Cap Panah Merah yang terbukti mampu memberikan hasil yang digadang-gadang. Dengan menanam kembang kol, sawi, tomat, selada, dan cabai, Hendra mampu membangun rumah dan punya kendaraan sendiri, dan bahkan memproyeksikan berangkat ibadah haji dua tahun ke depan.

Meski hanya lulusan SMP, Hendra bersyukur segala kebutuhannya kini sangat tercukupi berkat tanaman hortikultura yang ia tanam. Bukan hanya kebutuhan materi, bahkan pasangan hidup pun ia peroleh melalui dunia pertanian yang selama ini ia geluti. Karena berangkat dari dunia yang sama, mereka pun bisa saling mendukung untuk kemajuan usaha mereka termasuk keberhasilan memasok sayuran ke Pasar Induk Jakarta, Tangerang, dan Caringin. Dari industri bergerak ke perdagangan.

1. benih bermutu

Bukan tanpa alasan Hendra memilih benih Cap Panah Merah karena diproduksi oleh PT EAST WEST SEED INDONESIA (EWINDO) yakni perusahaan benih sayuran terpadu pertama di Indonesia yang menghasilkan benih unggul sayuran melalui kegiatan pemuliaan tanaman. EWINDO berkomitmen mengembangkan industri benih lokal yang canggih demi menghasilkan benih sayur berkualitas tinggi.

Dalam pengembangan benih EWINDO menempatkan tenaga ahli profesional yang telah berpengalaman di bidang pemuliaan tanaman dan perbenihan. Tak heran jika benih berlabel CAP PANAH MERAH merupakn produk yang bermutu karena telah melalui riset dan pengembangan yang panjang.

EWINDO telah berkiprah selama lebih dari 20 tahun demi menyediakan benih yang sehat dengan kemurnian genetika tinggi dan daya kecambah yang baik agar benih yang didapat sesuai dengan permintaan konsumen dan menjadi kunci sukses para petani Indonesia.

2. pilihan lengkap

Ragam benih sayuran yang ditawarkan oleh Cap Panah Merah terbilang komplet dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan petani menurut kondisi lokasi dan preferensi. Adanya pilihan benih yang variatif akan memberi peluang sebebasnya bagi petani untuk mengembangkan diri. Mereka bisa merasa percaya diri karena bebas menentukan pilihan sendiri. Perkebunan besar atau kecil, Cap Panah Merah bisa jadi solusi benih.

3. Terbukti efektif

Sebagaimana kisah Hendra yang inspiratif, masih banyak petani lain yang terbantu oleh kehadiran benih yang berlabel Cap Panah Merah. Simak kisah kesuksesan sejumlah petani dan pekebun di kanal YouTube Panah Merah yang telah mencicipi gurihnya kesuksesan ekonomi berkat menanam sayur.

4. Dukungan sistem

Tak bisa dimungkiri, keberhasilan para petani dalam meraup keuntungan dari cocok tanam hortikultura memang karena keuletan dan kerja keras mereka dalam bekerja dan merawat tanaman. Namun tak kalah penting adalah dukungan aktif dari Cap Panah Merah dalam mendampingi para petani, baik menyuntikkan ilmu seputar sayuran tertentu maupun jaminan pemasaran hasil panen.

Yang paling menarik, Ewindo telah merilis aplikasi pintar bernama Sipindo (Sistem Aplikasi Petani Indonesia) yang bekerja sama dengan lembaga nirlaba Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture (PRISMA) bulan April 2017 silam. Sipindo diharapkan dapat menjawab persoalan yang dihadapi oleh para petani di lapangan.

Setelah mengakses fitur-fiturnya, saya jadi tergoda untuk menggeluti dunia pertanian–dalam hal ini sayuran karena bisa ditanam di lahan sesempit apa pun. Fitur-fiturnya tersaji secara real time dan jelas akurat sehingga petani bisa langsung mengakses informasi yang mereka butuhkan. Bisa mengenai profil petani di wilayah lain, seputar harga dan tren permintaan komoditas di pasar, cara menangani hama dan penyakit, pola dan musim tanam, estimasi waktu panen dan perkiraan jumlah produksi, prakiraan iklim dan cuaca hingga forum jual beli hasil panen.

Lewat aplikasi ini pedagang pasar tradisional dan retail modern bisa berinteraksi dan dapat terhindar dari kecenderungan permainan harga oleh para tengkulak. Petani pun dapat mengetahui tingkat kesuburan tanah agar lebih hemat dalam menggunakan pupuk. Bukan cuma itu, Oktober 2018 lalu sejumlah fitur baru ditambahkan ke dalam Sipindo. Kini kita bisa melihat prediksi cuaca dengan resolusi spasial hingga 5 kilometer, rekomendasi kandungan hara tanah berdasarkan hasil tes laboratorium,  dan rekomendasi pemupukan.

Perlu diingat bahwa informasi yang disajikan ini berbasis atau location specific data sesuai tempat lahan petani berada. Saat membuka aplikasi Sipindo, prediksi cuaca di Desa Tanjung Lamongan pun muncul seketika. Namun, untuk sementara fitur rekomendasi pemupukan belum berfungsi penuh di seluruh Indonesia; baru di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan Lampung.

Memajukan bangsa

Bukan hanya berjual beli hasil pertanian, para petani yang menginstal Sipindo bisa menambah pengetahuan seputar pengelolaan sayuran juga punya kesempatan untuk membaca artikel-artikel bermanfaat untuk mengembangkan diri mereka selain ilmu praktis pertanian. Salah satunya seperti artikel mengenai manfaat berkebun bagi orang dengan demensia di atas.

Sudah saatnya kita bangkit dan hidup mandiri dengan mengandalkan hasil bumi di tanah kita sendiri. Bumi pertiwi membentang luas, subur, dan tinggal diolah. Alangkah sayang jika lahan-lahan itu menganggur. Dengan bertanam sayuran, atau buah, kesejahteraan penduduk–terutama masyarakat pedesaan–lambat laun dapat terangkat dan mendongkrak ekonomi nasional secara umum.

Sebagaimana kisah Pak Sujono yang mengawali tulisan ini, keberhasilan petani Karawang yang melaju dengan dukungan Cap Panah Merah selayaknya melecut semangat kita untuk kembali mengolah alam dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan bangsa. Dulu saya sering mendengar slogan dari siaran radio pertanian di Bogor, “Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya!” Rasanya slogan itu kini semakin menemukan momentumnya. Indonesia bisa maju dengan buah dan sayuran yang melimpah.   

Advertisements

8 thoughts on “Memajukan Bangsa Lewat Sayuran Berlimpah

    1. Iya, memang pertanian sekarang jadi isu yang sangat menarik, Mbak Ety. Bisa dicoba di mana saja Mbak, kan ada opsi urban farming untuk lingkungan perkotaan. Selamat mencoba dengan bibit dari panah merah! πŸ™‚

      Like

  1. Saya sudah pakai Cap Panah Merah untuk menanam sayuran di pot bunga. Tapi sepertinya masih minim pengetahuan, sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Dari sekian jenis, cabailah yang paling berhasil hingga hari ini.

    Like

    1. Wah, ternyata sudah jadi praktisi langsung ya, Mbak Damar. Coba masuk ke aplikasi Sipindo dan website cappanahmerah Mbak biar dapat insight lebih banyak. Makasih ya sudah berbagi testimoni.

      Like

  2. Gokilll!!

    Ternyata buanyaaaak banget manfaat berkebun ya. Buat mencegah kepikunan juga, whoaaaa baru ngeh akuuuu.
    Kayaknya aku mau mulai berkebun deh. Soale ini udah banyak gejala pikun wkwkwkwkwk

    Like

  3. Orang Lamongan Utara itu jarang banget yang suka sayuran, mereka lebih suka ikan. Jadi tidak heran kalau di tanya nama-nama sayuran anak-anak taunya cuma kangkung, bayam dan wortel. Yang lainnya gak tau

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s