Manfaat Berkebun Bagi Anak

Selama masa pandemi orang-orang mulai melirik dan menyadari manfaat berkebun, baik bagi mereka maupun anak-anak. Sejumlah aktivitas baru memang mulai ditekuni yang sebelumnya tampak biasa seperti bersepeda dan berkebun. Bukan hanya pemilik ladang luas yang tergiur menanam, mereka yang punya pekarangan mungil pun tergerak untuk menghijaukan halaman. Bahkan ketika tak tersisa lahan hijau mereka tetap berkreasi dengan menanam di pot-pot atau menggunakan hidroponik. Manfaat berkebun jelas tak bisa disepelekan.

Menanam di pot bisa menjadi solusi keterbatasan lahan

Fakta membuktikan bahwa anak-anak selalu bersemangat saat dilibatkan untuk menanam. Begitulah yang terjadi pada anak-anak kami. Meskipun tak punya halaman rumah yang ideal untuk ditanami, Duo Xi tetap bergairah menancapkan benih demi benih di media yang sangat terbatas. Biji-biji siap tanam kami benamkan di tanah yang kami letakkan dalam gelas air mineral, juga styrofoam bekas. Begitu muncul kecambah dan kuncup daun-daun muda, mereka memekik gembira.   

Manfaat berkebun untuk anak

Kendati terlihat sederhana, manfaat berkebun bagi anak tak bisa diremehkan, apalagi dianggap tidak penting. Banyak hal yang bisa mereka pelajari dari aktivitas positif ini. Apalagi di tengah pandemi seperti saat ini, berkebun atau bercocok tanam dapat mengalihkan perhatian mereka dari gawai dan permainan berbasis internet lantaran bosan dengan banyak waktu yang tersedia rumah.

1 | Melatih kesabaran

Manfaat berkebun yang pertama buat anak adalah membangun sifat sabar. Sering saya sampaikan kepada mereka bahwa menanam adalah pekerjaan yang menuntut kesabaran. Sabar menanti tanah siap, sabar menunggu biji berkecambah, dan sabar sampai pohon siap dipanen untuk kita manfaatkan buah atau bunganya. Termasuk sabar jika tanaman mati dan harus mengulang proses awal kembali. Melatih anak agar memahami pentingnya kesabaran dengan menanam adalah cara mudah dan murah yang bisa ditempuh oleh orangtua.

2 | Berpikir sistematis

Agar biji siap menjadi benih yang berkualitas, kita mesti melewati serangkaian tahapan sebelum akhirnya ia ditanam. Biji telang, misalnya, mesti dijemur dulu, lalu direndam selama sekian belas jam, baru kemudian ditancapkan ke tanah dan ditutup dengan permukaan tipis. Setelah itu benih harus disiram dua kali sehari, pagi dan sore. Air yang diberikan mesti ditakar secara proporsional sampai tanaman siap menerima siraman lebih banyak. Dari sini mereka belajar untuk melalui prosedur, menempuh hal-hal secara kronologis. belajar berproses dan tidak mem-bypass dengan cara instan.  

3 | Mencintai lingkungan

Dengan berkebun atau bercocok tanam, jumlah tanaman akan terus bertambah seandainya sukses tumbuh. Penghijauan terjadi di sekeliling kita yang secara otomatis memasok oksigen untuk konsumsi kita walau kadarnya variatif. Ini mendorong mereka agar sadar lingkungan dan mencintai alam dengan cara terus menanam penuh kegembiraan karena menyadari manfaatnya.

4 | Menghargai makanan

Manfaat berkebun bagi anak berikutnya adalah agar mereka memahami betapa buah dan bunga harus melalui proses panjang sebelum siap dikonsumsi oleh manusia. Dengan menanam, anak jadi menghargai pekerjaan petani atau siapa pun yang membantu produksi makanan. Saya jadi teringat pada Li Ziqi salah seorang food vlogger China yang mengatakan dalam suatu wawancara bahwa tujuannya mengunggah video memasak ala pedesaan adalah mengingatkan orang-orang kota dari mana asal makanan yang mereka konsumsi.

Anak-anak perlu diajak menyadari bahwa uang tidak bisa selalu diandalkan untuk membeli kebutuhan kalau tak orang yang menyiapkan bahan makanan. Lewat bercocok tanam atau berkebun, mereka secara tidak langsung belajar untuk tidak menyia-nyiakan makanan sebab telah memahami sulitnya perawatan dan panjangnya proses hingga sebuah menu siap dihidangkan.

5 | Wirausaha

Tak ada salahnya anak-anak belajar tentang kewirausahaan sejak belia. Hasil dari tanaman—baik berupa daun, bunga, atau buah—bisa diolah bersama orangtua untuk dijadikan minuman atau makanan siap santap. Tak harus dikemas dengan rapi dan terlalu jelimet, yang penting produk bisa dinikmati orang. Pun produk tak harus dijual, bisa saja dibagikan kepada tetangga secara cuma-cuma. Kelak ketika mereka remaja atau dewasa, mereka sudah punya bekal pengetahuan bahwa hasil berkebun atau bercocok tanam pun bisa diubah menjadi peluang usaha.

6 | Berpikir kreatif

Memanfaatkan styrofoam bekas sebagai media tanam

Empat keterampilan yang harus dikuasai anak-anak pada abad ke-21 adalah komunikasi, kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis. Dari segi kreativitas, kami memanfaatkan limbah dapur sebagai kompos. Kami ajak anak-anak untuk menggunakan ampas kopi, cangkang telur yang dicacah, ampas kelapa, juga air tajin sebagai pupuk alami bagi tumbuhan yang mereka tanam. Sejauh ini hasilnya memuaskan dan mereka takjub ternyata barang sisa masih bisa didayagunakan.

7 | Berkolaborasi

Kegiatan berkebun atau bercocok tanam juga mengajarkan anak-anak tentang arti penting kerja sama atau kolaborasi. Agar bisa tumbuh dengan baik, benih tak bisa berjuang sendiri. Benih mesti didukung oleh tanah dan pupuk yang membuatnya subur. Cacing-cacing superkecil lambat laun datang sebagai penggembur. Belum lagi peran vital sinar matahari untuk membantu fotosintesis. Singkat kata, berkebun yang sukses melibatkan banyak elemen dan peran yang saling menyokong; tak ada yang lebih besar pengaruhnya.

8 | Berpikir kritis

Selain itu, manfaat berkebun atau bercocok tanam bagi anak yang harus diingat adalah mendorong mereka berpikir kritis. Sambil belajar tentang biologi selama proses penumbuhan, misalnya, mereka juga bisa berlatih menemukan kekeliruan atau kesalahan seandainya tanaman tidak tumbuh seperti harapan. Berkebun secara tak langsung mengasah keterampilan anak dalam menganalisis suatu masalah dalam lingkup yang relevan yakni seputar tanaman yang mereka rawat.

9 | Membangun bonding

Terakhir, aktivitas berkebun bisa berkontribusi positif pada terbangunnya bonding antara orangtua dan anak. Keluarga bisa menikmati momen ini sebagai sarana berkomunikasi secara menyenangkan. Agar anak tak fokus ke gadget belaka. Yang paling penting orangtua tak lelah  menyemangati dan melibatkan anak-anak dalam aktivitas bercocok tanam agar menganggapnya sebagai bagian penting bahkan identitas mereka.

Bonding terjalin karena berkebun. (Gambar: freepik dotcom)

Menyadari manfaat berkebun bagi anak, berkebun tak harus jadi agenda setiap hari, tapi perlu dimasukkan ke dalam skedul mingguan agar anak punya jeda dari aktivitas lain yang mungkin membosankan. Menanam bersama bisa memperkaya pengalaman.

13 Comments

  1. Kebanyakan orang tua dan mungkin anaknya gak suka berkebun karena gak mau berkotor-kotor ria. Si cacing penggembur tanaman malah dijadikan musuh yang konon bisa bikin sakit si anak. Padahal klo diperhatikan lebih dalam, manfaat berkebun itu banyak banget buat tumbuh kembang anak

    Liked by 1 person

    1. Iya, Mbak. Kalau soal kotor dan potensi sakit, bisa dari mana saja asalnya. Yang penting anak tahu manfaat berkebun dan tumbuh jadi anak yang peduli lingkungan. Juga tahu cara menjaga kesehatan.

      Like

  2. Alhamdulillah~
    Kami juga niih…cari-cari kegiatan yang bisa dilakukan bareng anak-anak.
    Berkebunlah jawabannya.

    Selain ada kegiatan Go Green dari sekolah juga siih…hihii~
    mama cuma nupang programnya.

    Liked by 1 person

    1. Lumayan menghibur buat nak-anak, Kak. Mereka sering takjub melihat biji bisa tumbuh jadi tunas dan akhirnya lengkap dengan daun dan batang juga bunga. Di sekolah program penghijauan kadang cuma slogan belaka.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s