Menafsirkan Musibah dan Kenikmatan


Jika kita mengukur kualitas seseorang dari fenomena fisik atau sebatas penampakan yang kasat mata, sangat mungkin kita akan beranggapan bahwa dunia ini begitu kejam dan bahkan tergoda untuk menyimpulkan bahwa bahwa Tuhan tidak adil. Betapa tidak, kejadian-kejadian yang melingkupi kehidupan sehari-hari tak jarang menampilkan hal-hal kontradiktif seolah-olah apa yang telah kita pelajari tidak berlaku lagi. Kita diajarkan bahwa orang-orang baik akan selalu diliputi kebaikan, dan sebaliknya orang-orang jahat akan bertahan pada pusaran kesialan juga penderitaan.

Tapi coba lihatlah sekeliling. Betapa sering kita dihadapkan pada pengalaman yang seolah menafikan semua konsep itu, entah pada diri sendiri atau orang lain. Agar lebih jelas, izinkan saya menyebutkan beberapa contoh dalam lingkaran yang tak jauh dari kehidupan saya. Sebutlah ia Pak Zaky. Walau tinggal dalam kompleks perumahan yang sama, kami hanya dua kali bertemu muka. Sehari-hari dia memang sangat sibuk mengajar di Paciran, cukup jauh dari Lamongan kota.

Kudengar dia turut merintis sekolah untuk anak-anak miskin, juga mengabdi pada pesantren kondang di sana yang pengurusnya tak membolehkannya pindah ke wilayah kota lantaran dia amat dibutuhkan. Kali pertama kami berjumpa adalah ketika saya berkunjung ke rumahnya untuk menyampaikan bisyarah atau gaji untuk istrinya, Bu Ida, yang menjadi tenaga pengajar di TPQ masjid kami. Amplop yang kami sodorkan rupanya dikembalikan sebagai infak demi membesarkan kas TPQ yang baru merangkak.

Orang baik kok dihukum

Bulan berikutnya pun demikian, gaji bulanan tetap dikembalikan agar kas kami semakin besar. Jujur saja dana sekecil apa pun memang sangat berarti, termasuk pengembalian gaji dari Bu Ida. Beliau menolak meskipun kami mendesak agar diterima. Tampaknya beliau sadar bahwa ini adalah proyek akhirat yang membutuhkan pengorbanan. Tak terkecuali suaminya Pak Zaky yang sudah terbiasa dalam kegiatan sosial.

Hingga tibalah suatu sore ketika kabar menyedihkan itu datang. Bu Ida yang sedianya mengajar anak-anak bakda Ashar meminta izin karena suaminya kecelakaan. Kami pikir hanya terjatuh biasa saat mengendarai motor. Ternyata lukanya cukup parah. Pak Zaky langsung dirawat di ICU dan diputuskan segera dioperasi karena terjadi perdarahan di otaknya. Karena ada bagian saraf yang kena, Pak Zaky pun tak mengenali seorang pun pascaoperasi, bahkan terhadap istrinya sendiri yang malam itu hanya berdiri tergugu saat kami datang berkunjung ke rumah sakit. Hanya kalimat-kalimat thoyyibah yang meluncur dari bibir Pak Zaky sebagai ekspresi rasa sakit yang sangat hebat. Saya sendiri tak tahan saat melihatnya menggeser badan dan anggota badan lain karena kesakitan.

Saya tak terlalu mengenal mereka berdua, tak pula tergoda menyimpulkan bahwa musibah itu merupakan balasan atas dosa mereka. Di mata saya, dari cara mereka berinteraksi selama ini, attitude mereka menunjukkan mereka orang baik—dan tak perlu saya buktikan sebaliknya. Melihat kebaikan mereka selama ini, kenapakah Tuhan malah menimpakan musibah yang teramat pedih seperti itu?

Pertanyaan itu pula yang sempat tebersit beberapa bulan sebelumnya ketika seorang relawan NBC (Nasi Bungkus Community) mengalami kemalangan. Sewaktu Lamongan didera kelangkaan air parah, NBC tengah menghimpun donasi air yang akhirnya terkumpul puluhan truk air bersih untuk didistribusikan ke puluhan desa terdampak kekeringan. Pada bulan itulah rumah seorang relawan distaroni maling. Tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah dan banyak berdoa. Lho kok orang-orang baik malah harus menderita? Gumam saya.

Kejadian terakhir, seorang donatur tetap untuk NBC, yang tak pernah absen mengirimkan dana besar setiap pekan, belum lama ini dipanggil untuk pergi selamanya setelah sebelumnya sempat dirawat di ICU. Sungguh rencana Allah tak bisa kita ketahui. Sebab tugas kita hanya mengambil aksi yang berarti.

Tiga fragmen itu hanya contoh, dan saya yakin pernah BBC Mania saksikan sendiri dalam kehidupan nyata. Entah terjadi pada sahabat karib, kerabat, tetangga, atau bahkan diri Anda sendiri. Kita yakin mereka orang-orang baik namun musibah datang bertubi-tubi sehingga sangat mungkin orang lain akan beranggapan itu sepenuhnya hukuman karena Tuhan murka atas kesalahan mereka.

Diselamatkan

Faktanya, orang-orang baik, orang-orang salih sering dipanggil lebih dahulu. Allah lebih sayang dengan mengamankan mereka dari fitnah dunia. Orang-orang baik kerap diuji dengan aneka kepelikan hidup meskipun berbagai ketaatan sudah mereka penuhi. Maka ingatlah BBC Mania, kemudahan dan kenikmatan, kesulitan dan tantangan hidup, yang menimpa kita tidak selalu mencerminkan kualitas kedekatan kita dengan Tuhan.

Saya jadi teringat pada tulisan pendek Mbak Nurul tentang istidraj yang saya baca beberapa hari lalu. Terhadap berbagai kenikmatan yang kita terima, kita bisa saja lengah dan menepuk dada bahwa kita begitu disayang Allah. Sebaliknya, ketika masalah demi masalah menghantam, boleh jadi kita merasa terhina karena Tuhan membuat hidup kita tidak nyaman. Kita seolah-olah semakin jauh dari harapan dan keinginan.

Sebagaimana saya singgung pada tulisan terakhir, baik kekayaan atau kemiskinan, entah kemudahan atau kesulitan, semuanya adalah bentuk ujian untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Ketika musibah datang, yakinlah bahwa Tuhan ingin agar kita mendekat dan bahwasannya ada orang lain yang ujiannya jauh lebih berat. Bisa saja itu adalah nikmat yang berwujud niqmah (bencana). Seperti dua kisah ‘superberat’ yang mungkin akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya.

Selamat berakhir pekan, BBC Mania! Apa pun yang sedang Anda alami, semua toh tak akan abadi. Masalah akan pergi, harta akan sirna, sebagaimana diri kita yang juga fana. Jangan lupa bersyukur dan berbagi.

Advertisements

10 thoughts on “Menafsirkan Musibah dan Kenikmatan

  1. Setuju dengan semua uraiannya sudah panjang, lebar, luas, tinggi dan berisi full, cuma mau menambahkan saja, mungkin kalau kita baru selesai solat selalu wiridz membaca “Laa Yukallifullaahu Nafsan Illaa Wus’ahaa Maa Kasabat Wa ‘Alaihaa Maktasabat dst…..
    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya dst…..menurut pendapat saya pribadi orang awam bahwa “Ujian Allah itu ada tiga, 1. Pasti, 2. Sulit atau Susah 3. Dalam batas-batas kemampuan, itu saja yang saya tahu? Tks, salam

    Like

  2. Kalau sedang tertimpa musibah, saya selalu melihat bahwa masih ada yang tertimpa musibah lebih berat dari saya. Dan ALLAH tidak memberikan ujian melewati kesanggupan hamba-NYA.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s