Kenangan tentang Toko Buku di Empat Kota: Lamongan, Semarang, Bogor, dan Bandung

Suatu siang yang teriak saya bergegas menuju ke sebuah lapak kecil di wilayah kecamatan, di pinggir jalan Jakarta – Surabaya, kira-kira 300 meter dari Stasiun Sukodadi. Saya hendak mencari buku yang akan saya pakai untuk mengajar bahasa Inggris untuk anak SD. Kalau tak salah ingat, saat itu saya baru beranjak ke kelas 3 SMA tak lama setelah ayah wafat.

Mbak Armin, pemilik rental komputer yang sering kami manfaatkan untuk mengerjakan laporan OSIS, memberi kepercayaan kepadaku untuk membantu mengajar privat di rumahnya. Itu semua sebagai belas kasihan demi menunjang ekonomi saya yang belum lama ditinggal tulang punggung keluarga. Saya sudah jatuh cinta pada bahasa Inggris sejak kelas 2 SMP, itu fakta tak terbantahkan. Namun jika harus mengajarkan kepada orang lain, tentu soal lain.

Lapak kecil dan RPUL

Ada dua lapak yang jadi langgananku membeli buku: Toko Karunia dan satu lagi tak kuingat namanya. Di Karunialah kubeli buku tipis berisi daftar kosakata sebagai materi pendamping untuk anak bertubuh subur yang lamat-lamat kuingat namanya. Karunia memang jadi toko buku andalan anak sekecamatan walaupun kecil. Kebanyakan sih beli RPUL yang dulu pamornya luar biasa. Tak ada buku fiksi seperti novel, puisi, atau cerpen. Paling banyak ya buku-buku pelajaran, itu pun enggak lengkap.

Waktu SMA lapak langgananku adalah sebuah kios kecil di Jl. Veteran, di seberang Kantor Samsat Lamongan. Aku sering membeli koran dan majalah bekas karena ingin belajar lebih tentang bahasa Inggris. Maka majalah Newsweek dan Intisari jadi santapanku walau sering tak paham isinya. Tapi ada kepuasan tersendiri bisa beli buku atau majalah bekas di sana dengan uang saku sendiri.

Di Semarang, saat menimba ilmu di bangku perkuliahan, pilihan toko buku jauh lebih banyak karena ia ibu kota provinsi. Aku tetap suka pergi ke toko buku, dua di antaranya Gramedia di Jl. Pandanaran dan Gramedia di Java Mall, Peterongan. Di Gramedia Pandanaran aku sering membeli novel klasik impor yang diobral dan majalah sastra Horisan (kini tak terbit). Sedangkan Gramedia Java Mall jarang ada promo, cuma sebagai tempat relaksasi karena bisa ditempuh dari kos dengan berjalan kaki.

Wisata edukatif keluarga

Ketika bekerja dan menetap di Bogor, toko buku masih jadi tempat favorit—baik sejak masih jomblo ataupun setelah menikah. Setelah berkeluarga, berkunjung ke toko buku bahkan menjadi semacam wisata murah meriah karena memang nyaman dan bikin hati adem. Begitulah perasaan yang meruap-ruap di dalam dada tatkala berada di dalam toko yang penuh dengan deretan buku. Senang bisa mengetahui ada judul-judul baru. Apalagi aku belakangan memutuskan menjadi penyedia jasa pracetak buku, maka melihat desain atau tata letak isi sangatlah perlu.

Di Bogor, Gramedia Pajajaran di seberang Masjid Raya adalah tempat singgah favorit kami. Di sini sering banget ada promosi dan obral besar-besaran, padahal bukunya bagus-bagus. Pernah aku beli buku pendidikan-parenting  hanya dengan 5.000 rupiah. Belum lagi buku anak atau motivasi yang tak kuingat lagi judulnya. Yang jelas, hingga kini sangat bermanfaat untuk anak-anak kami atau untuk mendukung kegiatanku di bidang literasi.

Buku harus diburu, demi ilmu!

Sesekali Gramedia di BTM mall menghelat bazar buku murah yang selalu dipadati pembeli. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Sejumlah novel dan buku anak berhasil kami kantongi dan bawa pulang, agar tidak kalap dan bikin rekening bocor, hehe. Karena berada di sebual mal, ke BTM asyik juga sebab bisa sekalian nonton film di bioskop dengan harga yang relatif terjangkau.

Kapan saj, di mana saja

Kecintaan pada buku sungguh besar dan meluap-luap. Maka ketika pindah ke Lamongan dan satu-satunya toko buku yang bekerja sama dengan Gramedia akhirnya tutup, aku pun rajin berselancar di marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak. Sesekali beli buku baru namun kebanyakan beli buku bekas karena lebih murah dan dapat banyak judul. Jika pun ke luar kota, maka toko buku setempat tak boleh terlewat kukunjungi.

Seperti lawatanku ke Bandung Maret silam, serampung acara inti aku menyempatkan mampir ke Baltos atau Balubung Town Square untuk melihat-lihat koleksi buku impor bekas yang rupanya cukup banyak. Sayang sekali waktu yang terbatas membuatku tak berhasil membawa satu judul pun ke Lamongan. Maka ingin sekali kusambangi Kota Kembang agar aku bisa menjelajahi Books di Baltos dan Palasari, juga di Cikapundung yang belum sempat kukunjungi.

Tetap menarik

Meski toko buku daring (online) kini sudah banyak, bahkan akun Instagram tak luput menawarkan buku-buku baru dan bekas, tapi toko buku fisik tak pernah lekang dimakan zaman. Hadir secara fisik di toko dan meraba-raba buku yang akan dibeli adalah kenikmatan luar biasa. Bisa memilih-milih sambil mengintip isi buku dengan leluasa adalah hal yang tak kudapatkan saat membeli buku secara daring. Namun seperti yang pernah ditulis dan dikeluhkan Trinity Traveler, toko buku (fisik) memang semakin berkurang atau menyempit areanya. Pelaku bisnis lebih realistis dalam menjual produk yang cepat laku.

Apakah masyarakat Indonesia modern sudah tak doyan buku sehingga banyak toko buku yang gulung tikar? Tentu tak semudah itu membuat kesimpulan. Saya tak punya jawabannya, tapi tahu betul bahwa saya masih suka berkunjung ke toko buku di mana saja. Punya uang atau tidak, semangat menjelajahi isinya masih tinggi dan meluap-luap. Bagaimana dengan BBC Mania, apakah suka berkunjung ke toko buku fisik, atau lebih suka membeli secara daring?

Advertisements

2 thoughts on “Kenangan tentang Toko Buku di Empat Kota: Lamongan, Semarang, Bogor, dan Bandung

  1. aku kemarin lewat staisun sukodadi eh sumlaran ya namanya
    oke toko buku sekarang memang malah banyak menjual stationary tapi masih belum bisa tergantikan sih sama toko buku onlen
    rasanya emang beda

    Like

    1. Loh Mas Ikrom ini orang mana kok lewat Stasiun Sukodadi?
      Betul, Mas. Beberapa hari lalu saya berkunjung ke toko buku di Jl. Semarang di Pasar Turi, memang sensasinya beda mengulik judul-judul secara langsung di TKP.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s