5 Hal yang Enggak Enak Dari Banjir, Nomor Dua Paling Bikin Baper

Baru pertama terkena banjir, ternyata banyak cerita yang bisa dituliskan. Mungkin dalam kadar tertentu agak terdengar lebay apalagi dibandingkan dengan pengalaman mereka yang disambangi banjir setiap tahun. Sejak terkena banjir dua pekan lalu, setidaknya ada tiga atau empat blog post yang saya buat untuk dua blog berbeda mengenai musibah ini. Lumayan juga buat tulisan organik, haha….  

Sebagai musibah, yang tersemat pada banjir tentu saja hal yang tidak menyenangkan. Yang bikin susah hati, bikin mumet pikiran, dan bahkan bikin kantong kering. Banjir datang tak dikehendaki, maka limpahan air itu membawa serta ragam dampak yang juga tak diinginkan. Sewoles apa pun seseorang dalam menerima ujian, ketidaknyamanan akibat banjir tak bisa dinafikan.

1 | Ruangan tergenang bikin tak nyaman

Sabtu tanggal 11 April 2020 hujan turun sejak sore. Ini hari ketiga yang turun sangat lebat. Sabtu pagi jalan depan rumah sudah tergenang agak lumayan. Harap maklum, di depan rumah ada sebuah tambak tak aktif yang dimiliki pengembang perumahan. Tambak ini biasa jadi arena warga buat memancing ikan. Entah dapat atau tidak, yang jelas tambak ini tidak ditanami ikan seperti tambak pada umumnya.

Saya ingat sore hari masih terlibat aktif dalam sebuah kampanye di media sosial tentang himbauan tak mudik karena wabah. Sambil bekerja di depan laptop, hujan mengguyur seluruh kota begitu deras. Grup WA sudah ramai oleh kabar pergerakan air yang terus naik. Saya masih kalem meskipun istri sudah mewanti-wanti agar saya memantau kondisi depan rumah. Di luar dugaan, ternyata air mulai naik ke lantai teras menjelang pukul 9 malam.

Kami lalu memasang beberapa bata di depan pintu untuk menghalau air masuk. Hujan yang deras dan tak kunjung berhenti membuat air meluber dan segera merendam teras setinggi kira-kira 20 cm. Tumpukan bata yang kami letakkan rupanya cukup efektif. Tak banyak air yang masuk dari luar. Di luar perkiraan, air ternyata muncul dari sela ubin, hehe. Jadilah kolam dalam rumah segera terbentuk. Kamar tidur, ruang tamu, dan kamar mandi segera tergenang.

Genangan ini sungguh bikin tak nyaman. Anak-anak akhirnya naik ke musholla yang kebetulan lebih tinggi dari permukaan lain. Sementara kamar mandi dapat luberan dari air selokan yang tak tertampung. Hujan semakin deras, kami segera merapikan barang yang masih bisa diselamatkan. Dokumen penting dan buku adalah dua di antaranya.

2 | Kamar mandi tak berfungsi

Walau kamar mandi bukan bawaan, alias bikinan baru, rupanya drainase yang jelek membuat air masuk melalui lubang pembuangan. Bau pesing dan tak sedap lainnya segera menyeruak. Mumpung air di kamar mandi belum meninggi, kami sempatkan menuntaskan hajat seperti buang air kecil. Walaupun hakikatnya air yang dipakai bersuci tetap bercampur ke selokan yang meluap lagi.

Kamar mandi yang tidak berfungsi ini sungguh jadi masalah sangat berarti. Kami tak pernah terkena banjir, makanya kami putuskan menelepon adik dengan harapan akan mengevakuasi kami malam itu juga. Sayangnya adik ipar sedang tak bisa, maka kami tidur dalam hujan deras dengan perasaan waswas. Hujan tak terhenti hingga pukul 3 pagi dan permukaan air bahkan semakin tinggi. Kamar mandi yang tak berfungsi ini sungguh bikin baper.

3 | Tak bisa masak

Minggu pagi 12 April agak sulit menunaikan shalat Subuh. Mata masih pedih karena tidur tak jenak semalaman. Permukaan air justru terus naik alih-alih turun padahal hujan sudah berhenti sejak jam 3 dini hari. Kami pastikan adik benar-benar menjemput yang kemudian dijanjikan sekitar jam 10 pagi. Perut keroncongan sambil memandang air yang bergelombang di dalam rumah.

Bunda segera memasak nasi goreng, menu yang cepat diolah dan dihidangkan. Anak-anak tak terlihat sedih, malah seolah gembira mendapati genangan air di dalam rumah. Empat piring nasi goreng tandas, kami lanjutkan berkemas-kemas. Tak bisa mandi, nanti saja di rumah Mbahuti. Pokoknya dapur tak optimal difungsikan bukan hanya karena genangan air tetapi juga bau menyengat dari campuran air selokan. Terbayang repotnya karena sekarang bulan Ramadhan kalau banjir belum hilang.

4 | Hujan deras bikin waswas

Setiap langit terlihat mendung, warga kompleks seolah menjadi linglung. Khawatir akan turun hujan lagi padahal genangan air yang ada belum juga surut. Apalagi kalau terdengar gemuruh guntur yang membiki hati makin ciut. Sebagian berjaga di bendungan untuk mengatur dam, yang lain bersiap menyelamatkan barang. Bahkan saat kami telah mengungsi pun, ternyata hujan deras menyambangi kompleks suatu malam yang membuat kami lagi-lagi waswas.

5 | Barang-barang rusak

Setelah kembali ke rumah, segera terlihat barang yang rusak antara lain buku dan rak bawah, lemari, dan meja. Untunglah buku-buku itu tak terlalu penting sedangkan yang penting sudah kami selamatkan sebelum kami mengungsi. Namun ternyata ada judul buku yang masuk di deretan kebanjiran padahal itu termasuk bagus, yaitu buku sains terbitan Singapura pemberian teman. Juga ada buku nonfiksi tentang anak gaul islami dan jurnal pendidikan Brunei. Akhirnya buku-buku itu terpaksa dijemur hingga kini, di atas atap saung atau meja depan rumah.

Adapun lemari dan kaki meja, mereka hanya bisa diselamatkan dengan cara dibersihkan dari bekas genangan dan semprotan disinfektan. Agak sulit menjemurnya di luar rumah karena terlalu berat. Kasur yang kebetulan tak berdipan juga sebagian kecil terkena genangan karena air masuk begitu cepat di luar dugaan. Pokoknya barang yang sempat rusak akibat banjir agak sulit dipulihkan. Jadi selamatkanlah selagi mungkin jika ada tempat yang lebih aman.

Itulah hal-hal tak menyenangkan akibat banjir yang tak bisa dihindari tapi mungkin sudah akrab bagi sebagian orang. Baik pegawai atau yang punya bisnis, banjir bisa bikin mereka meringis. Apa pun dampaknya, negatif atau positif, banjir tentu saja mengandung pelajaran sebagaimana wabah corona yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Doa dan usaha harus dikencangkan, pasrah pada Tuhan harus dikuatkan.

4 Comments

  1. sabar ya mas..

    kemampuan untuk tetap tenang..

    di keadaan

    penuh cobaan itu.. bukti kedewasaan dan kematangan berpikir..

    saya.. mungkin sudah enggak sanggup, dan segera.. mencari dataran tinggi yang kering..

    daripada harus berdamai.. dengan kebanjiran.

    salut

    dan tetap sehat.. mas

    Like

  2. Aku wes ngerasain sering Kang bannjir hahahah dulu lg rumah di Bekasi Timur..ga bisa sekolah, perabot rusak, sampe dikasih bantuan makanan wkwmk..

    Sabar ya kang semoga sehat sll sekeluarga

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s