Unfinished: Buku-buku yang Belum Selesai Dibaca

BUKU MENJADI klangenan tersendiri bagi saya. Menghibur diri, tenggelam dalam himpunan kata-kata dan cerita–fiksi maupun kisah nyata–memberi kekuatan, semangat, dan pengharapan akan banyak hal. Mengambil jarak sejenak dari hidup keseharian dan memandang hidup secara lebih optimis. Mempertegas komitmen sebagai manusia yang harus terus belajar dan bekembang.

Namun membaca buku bisa tidak mudah tatkala kesibukan datang mendera. Memecah waktu untuk kegiatan-kegiatan tertentu nyatanya tidak seenteng bunga kapuk. Apalagi bila sudah berhadapan dengan tuntutan mencari nafkah dan deretan tugas sosial–membaca buku bisa jadi sebatas fantasi belaka.

Semua soal komitmen dan konsistensi, sejujurnya. Kalau tekad sudah bulat untuk membaca, waktu bisa diadakan secara sengaja di antara tumpukan kesibukan ini dan itu. Jika niat sudah kuat, tak ada alasan untuk mangkir membaca. Sekali lagi, kesempatan bisa diciptakan agar sebuah buku tuntas dan berpindah ke buku lainnya.

This slideshow requires JavaScript.

Jujur, pada titik tertentu, membaca satu buku saja tiba-tiba terasa tidak indah. Mendadak malas melanjutkan cerita entah karena ramuan intrinsik yang kurang greget ataukah semata-mata karena semangat yang sudah lelah. Karena faktor usia mungkin? Haha. Akhirnya, saat sebuah buku belum kelar dibaca, godaan pun muncul untuk berpindah ke judul lainnya. Seperti buku-buku yang termasuk label unfinished dalam postingan ini.

Sejarah yang memikat

Citra Rashmi sebenarnya mengangkat kisah yang menarik–ditusik dari sejarah Tanah Pasundan yang dahsyat. Penulis sekaliber Tasaro memang tak diragukan kepiawaiannya meracik plot dan narasi. Entah karena jumlah tokoh yang terlalu banyak, atau ketebalan buku (624 halaman) yang membuat malas melanjutkan, buku ini akhirnya belum tuntas saya baca hingga kini. Istri saya malah sudah menamatkannya, padahal dia mulai membaca setelah saya. Selain memuji, tak jarang dia membayangkan buku ini kelak diangkat menjadi film karena kisah klasik dan kolosalnya (termasuk adegan laga) bisa sangat memukau.

Sayang seribu sayang belum ada produser yang tertarik mengadaptasinya ke layar lebar. Konon buku ini masih akan dilanjutkan dengan buku berikutnya. Banyak pembaca menanti sekuelnya, namun sang penulis belum juga merilis seri lanjutan. Mungkinkah dia kehabisan ide lantaran tersedot oleh seri buku Muhammad? Ataukah lanjutannya tidak akan dibukukan lantaran dirasa tidak terlalu menarik lagi–meskipun sebenarnya sudah komplet? Entahlah.

Dikalahkan buku lain

The Other Side of Midnight adalah buku lain yang masuk deretan mandek. Baru dimulai di awal-awal bab tapi terhambat di tengah jalan. Tak biasanya saya terhenti membaca karya maestro cerita dunia Mbah Sidney Sheldon. Padahal kisahnya selalu menarik dengan twist yang tak terduga–mirip karya Dan Brown yang konon sangat mengidolakan Sheldon.

Alasannya jelas: tokoh yang diperkenalkan di awal terlalu banyak sehingga terasa tak sreg untuk dilanjutkan. Ya sebenarnya ini alasan subjektif. Apalagi pada saat yang sama mendadak tergoda membaca karya Sheldon yang lain berjudul The Doomsday Conspiracy. Buku terakhir ini malah cepat dibaca cuma dalam hitungan hari–bahkan dibela-belain begadang demi menjawab penasaran nasib tokoh utama. Alur cepat dan gegas, jadi bikin pengin terus baca.

Oleh-oleh dari book swap

Di akhir tahun 2014 saya sempat menghadiri Festival Pembaca yang dihelat komunitas Goodreads Indonesia (GRI) di Museum Nasional, Jakarta. Acaranya sangat menarik. Tujuan utama saya sebenarnya adalah ikut sesi kelas mendongeng bersama Kak Aio yang sudah kondang itu. Nah dalam event ini ada acara seru bertajauk book swapBook swap–sesuai namanya–yaitu menukar buku yang kita bawa dengan buku yang ada di meja utama. Syaratnya tentu saja adalah membawa buku dari rumah. Boleh buku apa saja, untuk kemudian ditukar dengan satu buku sesuai keinginan kita. Tentu saja buku yang bisa diambil adalah yang masih tersedia di meja saat itu.

Dalam book swap inilah saya mendapatkan novel lama berjudul The Prodigal Daughter. Berkisah tentang lelaki imigran asal Polandia yang sukses di Amerika. Tak cukup di situ, ternyata sang putri bernama Florentyna Rosnovski berkeinginan menduduki jabatan tertinggi di AS yakni mengincar posisi presiden. Entahlah dia berhasil atau tidak. Yang jelas bukunya belum rampung dibaca. Dan malah lupa di mana menyimpannya, hehe.

Ya sudah, itulah cerita ringan tentang kata unfinished, untuk memenuhi daily prompt WordPress beberapa waktu lalu. Ini sudah mengendon lama di bilik draft :). Nah, apa makna unfinished bagi kawan-kawan? Apa yang masih tertunda atau belum dituntaskan? Selamat berakhir pekan!

 

Advertisements

6 thoughts on “Unfinished: Buku-buku yang Belum Selesai Dibaca

  1. Saya malah menurun nih membaca buku. Biasanya minimal satu buku saya tamatkan dalam satu bulan. Ini sudah dua bulan belum ada satupun yang tamat dibaca. Hadeh… 😦

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s