Ketigo Raiso Cewok, Rendeng Raiso Ndodok

Akhirnya merasakan juga sulitnya mendapatkan air. Walau lahir dan besar di Lamongan, saya hampir tak pernah merasakan kebenaran kalimat yang saya pasang sebagai judul blogpost ini. Dahulu sering saya dengar dari orang lain sesaat setelah berkenalan dan mengetahui saya berasal dari Kota Tahu Campur ini. “Wah, kalau ketigo raiso cewok, rendeng raiso ndodok,” ujarnya enteng biasanya sambil tersenyum geli.

Selama itu pula kalimat bernada ledekan itu tak pernah saya alami. Atau sebenarnya pernah mendera keluarga kami, namun saya terlalu belia untuk memahami kesulitan tersebut. Secara harfiah, kalimat tadi bermakna, “Musim kemarau tak bisa cebok, musim hujan tak bisa duduk.” Pembaca bisa langsung menyimpulkan betapa air di kota kami dapat menciptakan kondisi yang cukup dilematis.

P80523-151503.jpg

Ketika musim kemarau datang, air menjadi begitu langka sampai-sampai digambarkan kami tak mampu bersuci setelah buang hajat. Setelah pindah dan menetap di kampung halaman setelah belasan tahun merantau, barulah saya rasakan betapa berat orang yang hidup tanpa ketercukupan air. Tak jarang saya jumpai warga sekitar harus membeli air bersih di depo-depo yang menyediakannya. Dalam sekian hari persediaan air pun biasanya habis dan harus diisi kembali. Bisa dibayangkan berapa uang yang harus dirogoh dari kantong yang semakin kering pula.

Awalnya nolak

Sewaktu awal menempati rumah baru, kami sengaja membangun sumur dengan tujuan memanfaatkan air tanah sebagai pasokan utama air bersih. Langkah tersebut bukan tanpa alasan mengingat jaringan PDAM masih belum bisa dipastikan kedatangannya sementara air bersih menjadi kebutuhan primer sehari-hari. Sebagai solusi, pihak pengembang menyediakan tandon besar yang siap mengalirkan air PDAM sementara ke rumah-rumah melalui pipa berukuran 1″.

Kebetulan rumah kami terletak di ujung alias bagian belakang, tepat menghadap sebuah tambak yang dimiliki oleh pengembang. Sewaktu ditawari untuk dipasang kran guna mendapat jatah aliran air tersebut, saya menolak dengan halus dengan alasan kami sudah memiliki sumur dan dengan demikian air bisa dipakai oleh penghuni lain yang belum memiliki sumur, baik galian atau bor. Azas efektivitas, pikir saya.

Itu terjadi kira-kira awal Februari ketika air melimpah ruah sampai-sampai saya sempat khawatir debet air tambak bakal meluap dan membasahi jalanan depan rumah. Hujan turun begitu kerap seolah-olah kami masih tinggal di Bogor. Dingin dan sejuk sih, kami tentu saja suka–walau dengan konsekuensi waswas seumpama air meluap dan jadi banjir. Sungai besar dengan tanggul tinggi tak jauh dari rumah kami bahkan turut menyumbang faktor deg-degan sewaktu hujan menghempas deras ke bumi.

Pasang juga

Banjir tidak pernah terjadi seperti kekhawatiran kami. Paling tidak di wilayah kami. Namun kini masalah datang beda lagi. Musim kemarau berlangsung lumayan lama dan bahkan September belum juga menampakkan tetes-tetes air dari langit. Sungai besar itu pun surut total, menyisakan gurat-gurat tanah di dasarnya yang gersang. Hanya rumput yang tumbuh jarang-jarang di sana. Air di tambak pun menyusut yang diikuti menurunnya debet sumur kami.

Walhasil, kami akhirnya membuat saluran baru dari pipa 1″ yang semula kami tolak itu. Biarlah aliran air yang kecil itu kami nikmati untuk dua blok secara bergiliran. Semula kami harus bergantian menurut jam, dan blok kami mendapat jatah tengah malam. Kini dua blok bisa mengakses air selama 24 jam penuh meskipun tetap bersabar sebab air kadang mati mendadak.Yang penting kami bisa mandi dan mencuci seperti semula. Air minum sih masih bisa beli. Namun kebutuhan mandi dan bersih-bersih lain tentu tak bisa mengandalkan air yang dibeli.

Memang tak seekstrem seperti ujaran dalam bahasa Jawa tadi, namun kini semua berubah. Kami harus memenuhi tempat-tempat air ketika hari baru pecah sebelum Subuh tiba. Aliran yang sering begitu kecil semata-mata untuk menguji kesabaran kami. Yang penting bisa cebok dan malam bisa bobok.

Adakah yang pernah mengalami kelangkaan air?

Advertisements

15 thoughts on “Ketigo Raiso Cewok, Rendeng Raiso Ndodok

  1. Ditempat saya sekarang justru kalau datang hujan aliran air sering mati. Karena lobang pipa di bak penampungan air yang di bangun oleh Kementrian PUPR sering tersumbat. Tapi kalau musim panas panjang juga sulit air. Debit airnya mengecil. Air jadi rebutan.
    Nikmati aja kang. Momen begini jadi kenangan manis nantinya.

    Like

    1. Bisa malah tersumbat ya, Da. Alhamdulillah saya nikmati sekalian buat bahan posting di blog hehe. Enggak semua mengalami kelangkaan begini.. Jadi makin irit air dan bersyukur.

      Like

  2. ditempatku juga sama mas, sumber air sumur jadi kecil. padahal dulu tak pernah ada yang sampai kekeringan, padahal saya juga sudah dalamin lagi sumur hingga beberapa meter kedalam, tapi masih sering kehabisan.
    cuma itu berpengaruh pada daerah yang dekat dengan jalan tol, jarak air sumur lebih dari 100 meter dari jalan tol, airnya aman-aman saja.

    Like

  3. Aku pakai PDAM, air lancar meski kadang tiba-tiba mati. Sebagian besar tetangga pakai PDAM. Disini tanahnya berbatu, karang dan sulit buat bikin sumur bor. Mahal pula. Kalaupun bikin sumur bor nggak bisa sehari dua hari. Tetangga sebelah rumahku itu hampir sebulan bikin sumur bor, baru bisa.

    Like

  4. Air sumurku udah kering sejak setaun lalu. Terpaksa pasam PAM yg ternyata airnya keruh dan sering mati terutama kek skr ni pas lagi kemarau air kliarnya tengah malam tok. Nyebelin kan

    Like

  5. Alhamdulillaah belum pernah mengalami, mas. Yang pernah itu kekurangan air skala kecil seperti pas listrik padam se-Jatim itu yang ternyata juga membuat PDAM ikut tiarap.

    Kebetulan saat itu bak mandi cuma isi sedikit air. Terasa betul rasanya. Tak ada listrik, mungkin masih bisa bertahan. Tapi tanpa air…sungguh tak terbayangkan.

    Like

  6. Alhamdulillah dari kecil hingga sekarang menjadi Orang tua, saya belum pernah mengalami kekeringan dan banjir.

    Baik di Yogya maupun Karanganyar, air berlimpah ruah.
    Saya sangat bersyukur. Akan tetapi ketika ikut kakak saya di Blora, sempat mengalami kekeringan.

    Dengan nikmat air ini, kami senantiasa bersyukur. Semoga saudara2 saya setanah air segera mendapatkan air dengan turunnya hujan.

    Mas Belalang Cerewet, yang sabar ya

    Like

    1. Saya juga belum pernah kalau kedatangan banjir, Mbak. Ada beberapa daerah di kota kami yang konon sering kebanjiran dan bahkan pernah mengungsi ke tempat kami. Sungguh tak ternilai nikmat berupa air, Mbak. Harus disyukuri.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s