Naik Bus dari Lamongan ke Jombang, Bukan Cuma Buat Senang-senang

Jam 6.30 saya sudah bersiap di halte Plasa Lamongan, tepat di seberang stasiun kota. Selasa pagi jalanan Surabaya – Jakarta tentu ramai seperti biasa. Kendaraan besar seperti truk dan bus hilir mudik dengan beban yang seolah tak dirasakan. Sesekali jalanan bergetar ketika truk trailer melewati Jalan Sudirman di depan kami. Anak-anak sekolah, sepertinya SMA, mengobrol asyik entah cerita soal apa. Di halte yang sama sejumlah guru berseragam tampak risau menanti bus yang akan membawa mereka ke sekolah mungkin agak terlambat.

Saya sendiri risau karena bus jurusan Bojonegoro tak juga terlihat. Saya putuskan mengintip smartphone sejenak untuk mengetahui posisi teman-teman. Sejenak saja mengakses Internet demi menghemat daya sebab saya tak pernah bepergian ditemani bank daya atau power bank. Hari itu spesial karena saya akan melakukan kopdar dengan tiga orang bloger yang selama ini sering tik-tok di media sosial. Kopdar bukan sembarang kopdar, apalagi pelesiran tanpa arah, melainkan perjumpaan untuk menghibur seorang bloger senior yang baru saja ditinggal sang istri untuk selamanya.

Datang berempat

Kami sudah berusaha mengontak dua bloger lain asal Jombang untuk ikut, namun rupanya skedul masing-masing tak bisa disatukan. Mbak Triana Dewi yang tinggal sekota dengan saya pun sedang berhalangan padahal sangat ingin bergabung. Akhirnya hanya kami berempat yang mengunjungi Pakdhe Cholik. Saya meluncur sendiri dari Lamongan dengan menumpang bus. Mas Azzet naik motor dari rumahnya di Banjardowo setelah sehari sebelumnya tiba dari Jogja. Mas Nuz yang juga bertolak dari Jogja langsung memacu motornya dari Kota Pendidikan itu. Sementara Mas Jun yang sehari-hari jadi pencangkul berjanji menjemput saya di depan kantor Satlantas Jombang.

Turun di Babat, saya lalu berjalan kaki ke selatan sambil menanti bus ke arah Jombang. Alasan utama sebenarnya hendak mencari toilet umum yang baru saya temukan di sebuah musholla agak jauh dari palang rel kereta api. Sebelum menempuh perjalanan 1,5 jam, saya mesti memastikan tidak ingin BAK selama berada di bus sebab tak mungkin tersedia kamar mandi di atas. Saat hendak meninggalkan musholla, mata tertumbuk pada kotak amal yang unik sebab terbuat dari tabung gas yang lazimnya diisi LPG untuk menyuplai energi saat memasak. Unik banget nih jadi bikin pengunjung merogoh kantong untuk nyemplungin sesuatu ke dalamnya.

Perjalanan dari Lamongan ke Jombang ini segera membangkitkan memori masa lalu saat saya mengenyam pendidikan di kota santri tersebut meskipun hanya selama setahun. Di luar dugaan, bus mini yang saya tumpangi cepat penuh oleh penumpang. Saya yang semula mendapat tempat duduk akhirnya memilih berdiri saat sejumlah ibu atau nenek silih berganti muncul sebagai penumpang. Jarang-jarang pelesiran tipis-tipis bisa berdiri di dalam bus sembari menyaksikan pemandangan sekeliling. Untunglah selain bawa buku sebagai teman perjalanan, alunan musik khas Sunda dari Youtube bisa meredakan gejolak perut yang mendadak belingsatan akibat kelokan jalan di perbukitan Ngimbang.

Bersua di Unwaha

Memasuki Ploso, saya beruntung mendapat kursi kosong. Perjalanan terbilang lancar sampai saya tiba di depan Satlantas kira-kira mendekati pukul 9.30, agak meleset dari kesepakatan awal jam 9 tepat. Tak butuh waktu lama untuk ketemu Mas Jun karena dia sudah bersiaga di sisi kiri Satlantas Jombang. Saya segera menelepon Mas Azzet untuk memperjelas titik pertemuan. Mas Nuz rupanya sudah bergabung bersama Mas Azzet di depan kampus B Unwaha—tempat yang kemudian kami tuju untuk berangkat bareng ke rumah Pakdhe Cholik.

Pertemuan singkat di meeting point tentu sangat menggembirakan karena kami masing-masing pernah bertemu sebelumnya. Saya ketemu Mas Azzet tahun 2013 dalam peluncuran tiga buku Pakdhe Cholik di Surabaya. Mas Azzet dan Mas Nuz jauh lebih sering ketemuan karena sama-sama tinggal di Jogja. Adapun Mas Jun, saya pernah menjumpainya dalam kopdar singkat di Bogor dulu sewaktu dia mengumpulkan bahan penelitian untuk studi doktoral. Bertemu empat orang sekaligus ya baru sekali itu.

Musholla di depan rumah Pakdhe yang sering muncul dalam blog atau buku karya beliau 

Tak heran jika obrolan di rumah Pakdhe, meskipun didahului dengan insiden meletusnya ban motor Mas Azzet di tengah jalan, berlangsung sangat gayeng dan cair. Pendar kesedihan sudah berangsur surut dari wajah Pakdhe saat kami datang. Topik utama yang membuka percakapan tentu saja perihal kepergian Budhe Ipung yang terkesan begitu cepat walau cepat dan lambat hanyalah ukuran manusia yang pengetahuannya sangat terbatas. Dugaan kami bahwa beliau selama ini sakit ternyata salah.

Kepergian yang damai

Selasa pagi, tanggal 12 Rabiul Awwal atau bertepatan dengan 20 November 2018, Budhe menyantap sarapan seperti biasa. Ketika piring sudah kosong, Pakdhe mendapati Budhe tertidur dalam keadaan duduk di sofa ruang keluarga—tempat kami bercengkerama siang itu. Setelah merapikan piring, Pakdhe berusaha mengambil plastik kemasan bekas peyek atau kerupuk dari genggaman Budhe. Saat plastik diraih, Budhe tak memberikan respons sama sekali. Ditepuk-tepuk pipinya pun Budhe tak bereaksi. Akhirnya dipanggillah seorang perawat yang segera memeriksa kondisi Budhe. Dan begitulah, Budhe rupanya sudah berpulang, dengan damai, oh sungguh kepergian yang indah. Saya tak sanggup berkata-kata—jelas berpikir tentang kesudahan saya nanti.

Saat saya kisahkan kepada teman-teman bloger di sebuah grup, mereka merespons dengan positif dan menghendaki kematian seperti itu. Tiada merepotkan, seolah tak melalui rasa sakit berkepenjangan. Padahal Pakdhe menuturkan bahwa beliaulah yang justru mengkhawatirkan Budhe seandainya Pakdhe berpulang lebih dahulu karena Budhe Ipung jauh dari keluarga besarnya. Nyatanya Allah berkehendak lain. Kenyataan tak bisa kita tolak, kenyataan yang tak bisa kita keluhkan. Kami yang merasa lebih muda merasa sangat bersyukur mendapat pelajaran penting siang itu bahwa kematian menjemput siapa saja yang dikehendaki, kapan saja tanpa melalui sakit atau kecelakaan. Pertanyaannya bukanlagi soal usia, tapi kecukupan bekal menuju kehidupan yang lebih abadi.

Walau baru dua kali berjumpa langsung, sifat supel Pakdhe selalu orisinal. Beliau menanggapi kepergian sang istri dengan lapang dada, sebagai sebuah proses alami untuk memahami ajaran agama. Salah satu ciri khas Pakdhe yang saya ingat adalah rasa ingin tahu yang besar. Entah di media sosial atau di dunia nyata, beliau tak pernah enggan mengutarakan minat untuk mengetahui ilmu atau menguasai kecakapan tertentu. Maka siang itu Mas Azzet yang sehari-hari menjadi ustadz harus melayani berbagai pertanyaan kritis dari Pakdhe, sesekali diselingi candaan khas beliau.

Cerita ke sana kemari soal blogging, politik, hingga agama mengalir begitu saja sampai beberapa mangkuk bakso panas plus lontong dihidangkan di meja. Inilah asyiknya kongko bareng Pakdhe. Setiap bloger yang pernah kopdar tentu paham bahwa ngobrol enggak asyik kalau tak ada makanan. Kecut, Rek! Ujar Pakdhe suatu ketika. Padahal saat kami tiba, satu piring besar berisi pisang goreng hangat sudah menyambut dan mengisi perut kami. Belum lagi aneka camilan di dalam stoples, hmmm. Mas Nuz deh yang semringah, hehe ….

Tersenyum kembali

Selepas menunaikan Shalat Zuhur, Pakdhe mengantar kami ke makam Budhe di pemakaman umum Dusun Mireng, tak jauh dari rumah beliau. Cukup ditempuh dengan jalan kaki. Bisa dibayangkan kan gimana teriknya matahari tengah hari, BBC Mania? Apalagi saya yang lupa mengenakan peci padahal sudah saya siapkan di dalam tas. Tahu kan maksud saya, hehe. Bunga kemboja tumbuh dengan daun-daun hijau segar dan bunga-bunga yang wangi nan merekah. Mas Azzet langsung memimpin doa dan kami sempat berfoto bersama. Kami gembira Pakdhe bisa kembali tertawa!

Keju!

Kembali ke rumah, mulai banyak tema yang kembali kami obrolkan. Tentang kolam renang Pakdhe, pohon mangga, sampai layanan pengiriman makanan melalui ojek online yang mulai marak di Jombang. Belum juga bakso melorot, beberapa piring soto ayam lezat minta disantap sebagai menu utama makan siang. Apa boleh buat, kami semua tamu yang menghargai tuan rumah, hehe. Kami nikmati sambil mengobrolkan dunia blog kembali. Begitu soto tandas tak bersisa, Pakdhe menawari kami kopi khas Banyuwangi.

Meniru

Kami berempat sepakat menyambut tawarannya. Apalagi saya yang sudah jatuh cinta sama kopi osing, mana mungkin bisa menolak? Begitulah sepenggal pengalaman berkunjung ke rumah Pakdhe Cholik, bloger gaek yang DA/PA blognya sudah kondang sangat tinggi dan terkenal selektif menerima tawaran menulis di blog. Berbeda dengan saya, bloger amatir yang masih sering tergiur imbalan remeh berupa voucher atau uang jajan, haha. Jauh lebih penting dari itu, kami tak pernah lupa mencatat semangat Pakdhe dalam mempelajari ilmu baru dan terutama kemurahan hatinya untuk berbagi apa saja.

Di luar langit mendung. Sesekali terdengar geluduk. Saya berdoa semoga tak turun hujan sebab saya berniat singgah ke rumah Mas Azzet. Rencana awal ke rumah Mas Jun untuk menyaksikan pemrosesan kopi khas Wonosalam terpaksa dibatalkan karena panen kopi sudah berlalu. Syukurlah hujan tak turun walau cuaca masih mendung. Setelah pamit, Mas Jun langsung pulang sedangkan Mas Nuz meluncur ke Lamongan dan Gresik untuk suatu keperluan. Mas Azzet tentu saja memacu motor uniknya dengan saya membonceng di belakangnya. Saya akan tuliskan pengalaman menginap di rumahnya, termasuk kuliner khas kota Jombang, dan ‘perjumpaan’dengan seorang vokalis band terkenal tak jauh dari rumahnya.

Punya cerita apa, BBC Mania?

Advertisements

17 thoughts on “Naik Bus dari Lamongan ke Jombang, Bukan Cuma Buat Senang-senang

  1. Matur nuwun kehadiran, perhatian, simpati, dan doa panjenengan berempat. Kangen kopdaran dan guyonan jadi terobati.
    Mbak Ipung pasti senang melihat saya bercanda dengan teman2 semua.
    Kapan2 kita kumpul lagi di Yogya atau Wonosalam ya.
    Mohon maaf belum sempat mikir oleh-oleh.
    Salam hangat dari Jombang.

    Liked by 1 person

    1. Alhamdulilllah bisa bersua di markas Blogcamp. Semoga masih ada kesempatan kopdar kopdar berikutnya, mungkin di Wonosalam atau kota lainnya. Sehat selalu dan salam persohiblogan, Pakdhe!

      Like

  2. Bude Ipung meninggalnya tenang banget ya Mas. Terakhir ketemu sekitar 2 tahun lalu, saat Bude & Pakde ada di Cimahi. Saya & Nchie mengunjunginya.
    Senang membaca cerita kopdar ini.

    Like

  3. Wah, andai tahu rencana ini. Sudah lama pengen ketemu Pakde. Tahun 2016 pas kondangan ke Nganjuk sempat terpikir misah dari rombongan untuk ke Jombang, tapi rupanya waktu dan kesempatan tidak memungkinkan. Semoga keturutan berjumpa dengan beliau. Kaos dan buku pemberian Pakde (hadiah giveaway) masih tersimpan apik hingga kini.

    Like

    1. Tanpa persiapan matang, Mas. Spontan terus kopdar berempat itu. Pakdhe memang cihuy ya. Saya juga banyak terima hadiah dari beliau, dan batiknya masih awet sampai kini.

      Like

  4. Subhanallah, siapa yg ga pengen meninggal dengan tenang kek gitu ya? Ga
    merepotkan blas. Tadinya aku kira budhe sakit tp kok ga kedengeran beritanya. Semoga budhe khusnul khatimah dan pakdhe ikhlas, sehat selalu.
    Beneran kangen aku sama pakdhe 😦

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s