2018 in Review: Tahun Kopdar, Tahun Belajar

Sebagaimana kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, menulis kilas balik seputar kegiatan blogging setahun lalu selalu menarik. Bukan hanya kabar kemenangan lomba ini dan itu yang asyik dinikmati, melainkan beragamnya cerita yang lahir dari serangkaian kopi darat bersama bloger lain yang sudah jarang saya alami.

Saya tak terlalu tergiur menyoroti statistik sebab 135 blog post jelas terbilang masih sangat jauh dari angka produktif meskipun relatif lebih banyak dibandingkan tahun 2017. Namun satu hal yang menggembirakan: semangat ngeblog semakin menggebu pada tahun 2018. Selain kian serius ikut lomba, konten-konten organik tidak sampai kalah jumlah oleh tulisan berbayar baik berupa content placement maupun reportase event.

Awal tahun 2018 kami pindah ke rumah sendiri tak jauh dari rumah kontrakan yang kami huni kurang dari setahun begitu tiba dari Bogor. Banyak cerita di lokasi yang baru—sedih dan gembira—yang sebagian telah saya unggah untuk menghiasi blog ini. Salah satu hal yang saya dan istri sangat syukuri adalah kembalinya Bright English Institute (BEI) yang pernah kami kelola di Bogor.

Jika proses belajar anak-anak BEI dulu berlangsung di ruang tamu, maka sejak Agustus 2018 para siswa bisa belajar sambil menikmati udara sepoi di saung atau gazebo yang kami bangun tepat di depan rumah. Bentuknya mini, semungil rumah kami. Kata ‘membangun’ mungkin kurang tepat sebab saung yang kami namakan Saung Literasi tersebut sebenarnya adalah dipan yang tidak lagi terpakai.

Karena sayang dengan kayu jatinya yang kokoh, dipan dari rumah ibu itu akhirnya saya manfaatkan menjadi gazebo sebagai tempat anak-anak belajar. Harap maklum karena kamar tidur di dalam rumah tidak terlalu luas sehingga mengeluarkan dipan adalah win-win solution. Kamar tidur anak-anak tetap lega karena mereka terbiasa tidur tanpa dipan, sedangkan anak-anak BEI bisa belajar dengan suasana nyaman dan unik di saung tersebut.

Baca dulu, baru belajar

Setiap hendak belajar, anak-anak akan memilih buku-buku yang kami miliki untuk dibaca sembari menunggu teman-teman mereka datang. Kegiatan literasi yang kami lakukan memang baru sesederhana itu. Mendekatkan mereka kepada buku bacaan yang sebelumnya tak pernah mereka dapatkan. Plus sesekali saya dongengkan isi buku terpilih. Sejauh ini respons dan antusiasme mereka layak saya apresiasi.

Nah, salah satu hambatan utama dalam mengelola BEI adalah buku ajar sebagai bahan utama mentransfer ilmu. Pengalaman di Bogor selama 3 tahun dulu kurang efektif jika mereka tak memiliki buku pegangan. Bahan dalam bentuk fotokopian kerap tercecer dan tak menggoda untuk dibuka kembali lantaran minim atraksi visual seperti gambar animasi yang berwarna-warni.

Saya sendiri merasa belum mampu merumuskan buku yang jempolan sesuai kebutuhan. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan buku impor yang mengacu pada penyajian ala Cambridge. Beruntung banget saya beberapa kali mendapat rezeki dari lomba blog yang bisa saya pakai untuk membeli buku-buku yang lumayan mahal itu. Harga jadi soal sebab kami masih menggratiskan semua buku sesuai skema awal.

Nikmat berlipat

Salah satu lomba yang sangat berkesan adalah lomba TCASH bertema #BUATKAMU yang dihelat oleh Blogger Perempuan Network (BPN). Setidaknya menarik dalam dua hal. Pertama, tokoh yang saya angkat dalam cerita itu ternyata berkenan mengirimkan buku-buku bahasa Inggris supermahal untuk anak-anak SD dan terutama pelajar SMP yang belajar di Saung Literasi. Jadi kami bisa mengirit!

Kedua, hadiah yang saya peroleh dari kemenangan lomba tersebut sungguh sangat bermanfaat untuk kami. Lenovo YogaBook yang tipis dan convertible bisa saya pergunakan sebagai media pembelajaran seperti bermain game interaktif atau menonton video seputar bahasa Inggris. Sejak BEI dimulai, saya membayangkan punya mobile projector yang bisa menampilkan gambar atau video ke dinding/slide karena layar laptop terlalu kecil dan kurang praktis.

Setelah gagal mendapatkan proyektor mobile dengan memanfaatkan voucher gift yang saya peroleh dari Ordinary Reviews senilai $70 untuk belanja di Amazon, rupanya Allah menghadiahi kami dengan tablet tipis dan imut dari lomba TCASH. Alhamdulillaaah, sungguh senang tak terkira! Adapun saldo di TCASH bisa saya pakai untuk membeli buku bahasa Inggris lagi seiring bertambahnya anak yang belajar di BEI. Punya saldo TCASH sangat sangat memudahkan karena belanja online jadi supergampang.  

Untung menggunung

Dua bulan sebelumnya, Dumet School yang menghelat lomba blog bulanan dua kali memilih nama saya sebagai salah satu pemenangnya. Kali pertama bertema teknologi untuk anak usia dini pada bulan September dan tema Youtube pada bulan berikutnya yang dua-duanya berhadiah uang tunai. Berapa pun jumlahnya, sungguh kami syukuri.

Termasuk saat keluar sebagai runner-up dalam Content Creator contest yang diadakan oleh C2Live bertema blogging. Hadiah uang tunai, domain baru, dan publikasi gratis mana mungkin tak bikin kami menangis, dalam haru dan rasa syukur. Itu juga yang terjadi begitu teman-teman narablog mengucapkan selamat atas kemenangan dalam lomba #antitoxic bersama Natsbee berhadiah uang tunai yang jumlahnya jujur saja wah banget. Sebab tak menduga bakal jadi salah satu pemenang, saya surprised betulan.

Rezeki bikin introspeksi

Maklum, selama ini saya terbiasa menerima hadiah recehan. Namun tanpa receh, uang sebesar apa pun jadi tak berarti toh? Hanya syukur, juga rasa takut, dan akhirnya introspeksi diri yang saya lakukan tepat seperti yang tertuang dalam tulisan berjudul Sebuah Doa yang Tak Boleh Lupa Dipanjatkan.

Selain itu, ada dua lomba lagi yang saya nikmati hasilnya pada pertengahan tahun 2018. Dari Warung Blogger Blogging Competition Menu7uh saya diganjar uang 200 ribu rupiah dan paket buku serta produk kecantikan. Plus tumbler WB, juga stiker, yang keren abis. Pas banget waktu itu bulan puasa, rezeki nomplok yang semoga membawa berkah.

Dan makin hepi ketika Nizam.com mengirimkan wireless Microsoft keyboard sebagai apresiasi atas tulisan saya dalam giveaway yang dihelatnya. Ingat kan Nizam bloger muda asal Surabaya yang menggondol Daihatsu Ayla dalam Anugerah Pewarta Astra 2017 silam? Papan ketik itu ternyata sangat elegan dan eksklusif dan bisa jadi solusi mengetik dengan smartphone atau tablet. Nikmat mana yang hendak saya nafikan?

Kopdar bikin hati cetar

Om Nh, bloger senior dari Tangerang, sering berujar, “This is the beauty of blogging,” ketika mengomentari bloger yang saling berjumpa atau kopi darat di sebuah kota. Dalam pertemuan seperti ini, makan bersama atau bertukar hadiah sering menjadi bahasa hati yang tak bisa dijelaskan. Sewaktu kopdar beberapa kali di Bogor, saya kerap memperoleh bingkisan dari bloger lain, baik berupa makanan ataupun barang.

Berapa pun banyaknya kopdar sesama bloger, rasanya perjumpaan tak pernah membosankan. Selama kurang lebih 10 kali melakukan kopdar dengan bloger lain, saya pribadi selalu merindukan momen yang sama untuk terulang. Walau baru bertemu sekali, rasanya kami sudah lama saling kenal berkat intensitas interaksi di blog atau media sosial.

Kopdar pertama tahun 2018 terjadi pada bulan Maret ketika Rizki yang akrab disapa Doel mampir ke Lamongan sepulang dari Surabaya. Saya berkenalan dengan bloger asal Jakarta ini sewaktu sama-sama ikut blogger gathering di Pekalongan setahun sebelumnya. Selain menyantap nasi boranan yang hanya ada di Lamongan, Doel saya bawa ke Masjid Namira dan Istana Gunung Mas yang ternyata tak sesuai ekspektasi. Tak apa, yang penting dia puas setelah mencicipi kopi giras khas kota kami.

Kopdar kedua berlangsung pada bulan Juli di Semarang ketika saya dan keluarga berlibur singkat di Kota Lunpia tersebut. Selain bertemu Muna Sungkar yang kondang sebagai momtraveler, kami juga kopdar dengan Nia ibu dua putra yang ternyata dulu satu almamater dengan saya namun berbeda jurusan. Saya mendapat oleh-oleh bunga telang yang banyak khasiatnya dan kini masih subur di depan rumah. Sayang sekali kopdar dengn Mak Uniek urung terwujud karena faktor kesibukan.

Bulan Oktober menjadi saksi kopdar berikutnya, bersamaan dengan sebuah event di Surabaya, di mana saya ketemu Mbak Nurul, Wulan, dan Mbak Dwi Puspita yang selama ini hanya bertik-tok lewat jagat maya. Karena masih dalam satu provinsi, bulan berikutnya kami kopdar lagi saat dipertemukan dalam perhelatan generasi millenial di Gresik. Pada kesempatan ini pula saya akhirnya bertemu muka dengan dua bloger Lamongan lainnya yakni Mbak Triana Dewi yang aktif di Forum Lingkar Pena dan Ika Maya Susanti yang pernah bekerja di surat kabar. Saya juga ketemu Joe bloger multibakat dari Banyuwangi yang sering menjuarai lomba blog.

L for Lamongan!
Muda dan berbakat, tapi kompetitor lomba! Hehe ….

Tinggal sekota tak menjamin kami bisa leluasa berjumpa. Apa lagi kalau bukan karena kesibukan masing-masing? Dari event inilah kami berempat (ditambah Mbak Munasyaroh) akhirnya membentuk grup WA bloger Lamongan yang mungkin grup WA termungil sedunia, hehe. Walaupun mini, info lomba dan job hilir mudik di grup ini. Yang paling penting, kami jadi tergerak untuk mendirikan Lamongan Local Guide (LLG) sebagai wadah para LG yang selama ini sudah aktif di Google Maps. Siapa tahu ada salah satu di antara kami yang berangkat ke California tahun depan, ya kan?

Kopdar kelima sangat unik karena tak terikat blogging event apa pun. Kali ini Jombang yang jadi lokasi perjumpaan. Bahkan boleh dibilang ini kopdar dadakan karena memang terjadi tanpa perencanaan panjang. Semua bermula dari kabar duka dari Pakde Cholik yang ditinggal wafat istrinya. Kepergian beliau juga sangat mendadak sebagaimana saya ceritakan di blog post terpisah. Pakde sangat semringah menyambut kedatangan kami, yakni Mas Azzet dan Mas Nuz bloger dari Jogja, Mas Jun dari Jombang dan saya sendiri dari Lamongan.

Semua bahagia! Cheese ….

Kopdar Jombang ini sangat berkesan lantaran saya sempat bermalam gratisan di rumah Mas Azzet. Bukan hanya mencicipi nasi kikil yang sensasional, namun pulang dengan aneka buah tangan mau tak mau bikin saya ketagihan berkunjung ke Jombang. Selain kopi lokal yang khas, saya berniat mengunjungi pabrik kecap setempat yang legendaris dan memang lezat.

Kopdar selanjutnya terjadi di Surabaya di mana saya akhirnya berjumpa Mbak Wawa Raji dan Satto Raji. Kami sudah berteman di media sosial namun baru kali itu langsung bertemu. Meskipun pertemuan begitu singkat dalam suatu event, banyak ilmu dan hadiah dari acara yang kami ikuti hari itu. Kami berharap bisa kopdar lagi pada bulan Februari tahun depan di Jakarta atau Bandung dalam suatu acara.

Dasar bloger, saat makan pun sempat wefie, hehe ….

Kopdar paling cetar mungkin episode Cirebon yang diwarnai dengan drama kumbara seperti saya tulis di sini. Setelah gagal mengontak bloger Cirebon selain Mbak Tira, lokasi keberangkatan bus yang saya tumpangi dari Cirebon ke Lamongan ternyata sangat jauh. Sungguh di luar perkiraan sebab saya pikir lokasinya berada di tengah kota. Untunglah rasa penat dan sedikit sebal itu terobat oleh kopdar bersama Mbak Tira yang sangat baik hati.

Pagi hari kami janjian ketemu di Keraton Kasepuhan Cirebon dan dilanjutkan dengan singgah di Masjid Sang Cipta Rasa yang berada di lingkungan keraton. Sayang sekali saya tak bisa mendongeng seperti rencana karena lokasi belajar berada di Kuningan. Selepas Zuhur Mbak Tira mentraktir saya makan mi koclok yang enak banget. Makin enak lagi karena pulang pun saya dibekali oleh-oleh khas Cirebon. Duh, senangnya …. The beauty of blogging, kan BBC Mania?

Dapat oleh-oleh, asyiik ….

Kopdar ini terasa begitu istimewa sebab saya sekaligus meliput sebuah tempat untuk diikutkan sebuah lomba. Jauh-jauh dari Lamongan sampai diturunkan dari bus di pintu tol, saya hanya berharap tulisan yang saya daftarkan menemukan takdir terbaiknya. Tak muluk-muluk, minimal sebagai latihan dan perbaikan seumpama belum lolos sebagai pemenang. Karena yang paling penting dari seluruh pengalaman ngeblog selama setahun ini adalah belajar.

Saya mesti melecut diri untuk terus belajar karena sudah kadung memutuskan hidup sebagai fulltime blogger sebagai media pendapatan utama. Harus sudi meningkatkan tulisan, kemampuan seputar grafis, dan kalau bisa didukung dengan pembuatan video yang memikat. Semuanya butuh proses, dan belajar butuh waktu, tak pernah berhenti. Terima kasih kepada siapa pun yang telah mendukung perjalanan BBC hingga kini. Seperti resolusi tahun 2017, saya mesti banyak belajar, lebih banyak menyerap ilmu dan pengalaman para bloger lain.

Bagaimana 2018 bagi BBC Mania? Yuk ceritakan!

21 thoughts on “2018 in Review: Tahun Kopdar, Tahun Belajar

  1. Ada Pak Azzet, Pakdhe Cholik,… senior-senior blogger jaman saya masih aktif nge-blog dulu.
    Dulu pak Azzet sering nyebar undangan buka bersama kalau pas bulan puasa, jaman saya masih jadi mahasiswa, jaman saya masih di Jogja.

    Like

  2. Alhamdulillah seneng lihatnya orang yg selalu bersyukur dan berusaha. Semoga Allah melimpahkan berkah dan rahmat di tahun 2019 ini pak. Dan sukses terus untuk Saung Literasinya.

    Like

  3. Wah, selamat mas buat semua kesuksesannya. 2018 kemarin sering banget nih liat nama mas Isnaini bolak-balik jadi pemenang lomba blog, jadi berkah tersendiri yah buat Saung Literasinya (atau justru Saung Literasinya yang bawa berkah y?), semoga suksesnya tetap lanjut di 2019.

    Btw kyknya asik yah kopdar, saya dua tahun ngeblog malah belum pernah ketemu blogger lain, duh.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s