Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 1)

imageAKU TERGERAGAP. SEDIKIT panik lantaran alarm di ponsel tak kunjung berbunyi. Sejak awal perjalanan aku sudah menyetel jam dalam telepon genggam agar membangunkanku pukul 02.30 atau setengah jam lebih dari jadwal kedatangan kereta yang kutumpangi. Karena tak bisa benar-benar tidur sepanjang perjalanan, kepalaku sedikit pusing namun kantuk sudah tak mendera.

Kulihat sekeliling, segenap penumpang masih memejamkan mata. Aku menduga mereka rata-rata baru akan turun di Jakarta atau stasiun sekitarnya. Termasuk sepasang manula yang duduk tepat di depanku. Mereka berdua tengah menuju rumah anak dan cucunya di Bekasi. Sudah menjadi agenda tetap mereka untuk mengunjungi cucu sekali dalam seminggu. Mereka luar biasa sebab di usia mendekati 70 tahun masih bugar dan mampu bepergian berdua saja.

Cerdas cermat dadakan

Lebih-lebih si kakek yang aktif bercerita tentang banyak hal, bahkan mengenai kota yang akan saya tuju: Pekalongan. Sejauh saya paham, saya pun turut menimpali kalimat-kalimatnya. Mulai soal batik, kuliner, hingga maksud saya datang ke Kota Batik akhir pekan itu. Patut kuduga si kakek memang doyan jalan selagi muda dan gemar membincangkan banyak hal.

Yang sedikit ‘unik’–untuk enggak menyebut aneh–adalah rasa ingin tahu si kakek mengenai moda yang kami tumpangi yakni kereta api jarak jauh. Karena penumpang sebelah kanan saya adalah seorang ibu yang sedari awal memilih tidur, jadilah saya yang mendapat kehormatan untuk meladeni keingintahuannya. Katakanlah itu semacam cerdas cermat mendadak untuk menguji pengetahuan saya.

Semua bermula dari seorang penumpang yang turun di Bojonegoro asal Stasiun Pasar Turi Surabaya. Kakek langsung berkomentar, “Bayar berapa itu ya naik cuman bentar aja?” Karena pandangan matanya tepat mengarah ke saya, tak ayal jari-jari segera mengecek harga di website penjual tiket daring. “Seratus ribu, Kek!” ujar saya sambil memperlihatkan layar ponsel mendekatinya.

“Mahal ya, padahal ke Jakarta aja cuma 120 ribu. Kayak saya nih yang dapat potongan manula.” Kakek mengomentari jawabanku sambil menggelengkan kepala. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Rupanya Kakek tak puas sampai di situ. “Berapa jam ya waktu tempuh Mbak yang turun tadi?” tanyanya kemudian yang segera kusambut dengan mengetikkannya di Google Maps.

“Kira-kira 1,5 jam, Kek!” Aku menjawab mantap sesuai angka yang tertera di Maps. Dia tampak puas. “Anak sekarang, cepat ya gerakannya Pak?!” seloroh seorang bapak di bangku lain mengomentari cepatnya jawaban yang saya sajikan. Saya cuma tersenyum padahal GR.

“Kira-kira berapa ya jarak dari Pasar Turi ke Bojonegoro lewat rel?” Kukira rasa penasarannya berakhir, nyatanya tidak. “110 km, Kek!” Jawabku sambil menguap, atau mungkin sedikit malas. Tapi tentu bukan jengah. “Oh, segitu ya jauhnya!” katanya singkat.

“Dengan jarak sejauh itu, berapa kira-kira kecepatan kereta ini ya, Nak?” entah dulu mahasiswa fisika ataukah seorang pensiunan insinyur, kali ini si Kakek jelas membuatku tak bisa mengantuk. Daya baterai ponsel mulai melorot, koneksi Internet kembang kempis saat memasuki Blora. Lagian bila jaringan Internet bagus, manalah ada di Google informasi mengenai kecepatan rata-rata kereta api dari Surabaya ke Bojonegoro?

Sempat terpikir untuk melempar pertanyaan itu kepada anak si bapak di bangku sebelah yang tadi turut berkomentar. Namun saya bergeming, terus mencoba menjelajahi Google dengan harapan mendapat data soal kecepatan laju kereta api yang kami tumpangi. Bisa sih sebenarnya kasih jawaban ngawur, tapi tentulah itu tak bagus kalau hanya demi menyenangkan si Kakek.

Saat koneksi Internet tak kunjung pulih, saya tak bisa berkutik selain mengandalkan ingatan mengenai rumus mencari kecepatan. Sejatinya rumus itu byar-pet dalam pikiran karena sudah tertimbun sejak lulus SMA dulu. Hanya ada variabel s, v, dan t yang melambai-lambai tapi tak jelas bagaimana relasinya. Dalam kondisi limbung, akhirnya kupilih untuk membagi jarak dengan waktu tempuh agar menghasilkan angka yang masuk akal.

“73 km per jam, Kek!” Angka itu rasanya pantas untuk menggambarkan kecepatan kereta kami. Dia diam sejenak. “Ah, masak segitu sih?” ujarnya dalam keraguan. “Harusnya ga sampai 70 km/jam deh!” kali ini dia mengajukan usul.

Setelah kuhitung ulang, ternyata estimasinya memang benar. Karena waktu tempuh sebenarnya bukan 1,5 jam, melainkan 1,6 jam, maka kecepatan kereta kami berada pada kisaran 68,75 atau 69 jika dibulatkan. Saat kuberitahu dia tentang kalkulasi akhir kecepatan, dia mengangguk puas. “Nah itu, kalau mendekati 70 km/jam baru pantas.” Saya ikut tersenyum karena babak adu cepat dalam cerdas cermat dadakan akhirnya kelar juga. Haha …. πŸ˜€

Akhirnya ketemu juga

Aku tersentak dari pengalaman menarik itu beberapa jam sebelum turun. Keretaku ternyata tepat waktu. Pukul 3 lewat belasan menit aku pun menginjak Bumi Batik yakni Pekalongan, meskipun baru di stasiunnya. Sebenarnya aku sudah sering berhenti di stasiun ini saat masih tinggal di Bogor. Namun baru kali ini turun dan akan menjelajahi Pekalongan secara sengaja.

Begitu memasuki peron, aku segera disambut dengan merdunya instumentalia lagu Jawa (sepertinya lagu karya H. Mantos) yang rampak dan menciptakan atmosfer lokalitas yang menenangkan. Di stasiun Semarang atau Jakarta pun belum pernah saya dengar sambutan berupa lagu bernuansa daerah.

Beberapa jam sebelumnya, aku sudah mengontak Faisol melalui pesan WA sebab saya curiga kami berada dalam satu rangkaian kereta tetapi berbeda gerbong. Faisol tak kunjung menjawab hingga saya turun. Dan ternyata benar, belakangan kuketahui bahwa Faisol beserta Prita dan suaminya menumpang dua gerbong di depan saya dan segera keluar dari stasiun begitu tiba di Pekalongan.

Karena gagal bertemu mereka, sementara jadwal check-in hotel baru setelah solat Jumat, saya pun menepi ke pojok charging sambil menunggu waktu subuh. Lumayanlah bisa mengisi daya ponsel sambil membaca buku yang saya bawa dari rumah. Sesekali kulepas pandangan kalau-kalau Faisol cs muncul di sekeliling. Nihil. Tak ada kemunculan wajah-wajah yang kukenal.

15 menit kemudian, sebuah kereta dari arah Jakarta tiba. Ah, tak mungkin mereka datang secepat ini. Begitu aku membatin soal kawan-kawan dari Jakarta yang kudengar baru akan datang di Stasiun Pekalongan selepas Subuh. Kuputuskan untuk melanjutkan baca buku sambil menahan kantuk.

Begitu kereta bergerak meninggalkan stasiun, lamat-lamat kutangkap sesosok penumpang yang sepertinya kukenal. Saya bilang ‘sepertinya’ karena memang tak seorang pun teman bloger yang ikut acara ini pernah jumpa muka sebelumnya. Aku langsung menyimpulkan itu Inayah, bloger asli Pekalongan yang mengelola innayah.com dan pekalonganku.com.Β Kami sudah sering berkirim wesel bertukar komentar lewat blog masing-masing karena ia memang termasuk bloger yang aktif meskipun sibuk bekerja di sebuah perusahaan bidang otomotif.

Gaduh selepas Subuh

Nay, panggilan akrab Inayah, segera mengambil tempat di bangku yang tersedia tak jauh dari gerai Teh Java. Mengambil di sini jangan diartikan membopong kursi untuk dibawa pulang, tapi sekadar menumpang duduk, haha #apasih. Alih-alih segera menyapanya, saya teruskan membaca sambil melihatnya tergesa membuka ponsel pintar. Kemungkinan besar dia akan meng-update kabar terbaru di grup kami. Ternyata betul.

Karena ponsel saya tengah diisi daya, tak ada informasi yang bisa saya ikuti hingga tiba di stasiun pagi itu. Begitu saya malas meneruskan bacaan, saya mendekati Nay untuk meminta traktir sarapan membuka perbincangan. Meski belum pernah ketemu, rupanya kami langsung akrab lantaran saling mengenal blog masing-masing. Suasana lantas cair dan saya jadi enggak mengantuk–terutama setelah tahu bahwa Faisol dkk tengah menunggu waktu subuh di musola depan stasiun.

Begitu masuk waktu subuh, kami bergiiliran solat dan bergegas menemui Faisol cs. Saya akhirnya bertemu Prita, bloger inspiratif asal Jember yang aktif di dunia literasi. Selain Faisol yang lebih banyak mengumbar senyum, ada Kang Nana suami Prita yang turut serta sebagai peserta untuk kategori fotografi. Senangnya bertemu mereka semua serasa sudah saling mengenal sebab selama ini sama-sama mengikuti perkembanga dunia blogging dan semacamnya.

Menjelang pukul 6 pagi, matahari masih enggan naik. Kami memutuskan merapat ke kedai sebelah kiri stasiun untuk mencicipi nasi Megono yang khas. Karena belum punya duit lapar, saya memilih menemani mereka sambil bertukar cenderamata obrolan ringan. Faisol masih belum menunjukkan kelucuannya, tampak lugu dan misterius.

Suasana gaduh tercipta saat rombongan dari Jakarta tiba. Setelah Subuhan, mereka segera bergabung dengan kami untuk angkat barbel sarapan. Maklumlah perjalanan jauh, jadi pada kelaparan, hehe. Beberapa di antaranya sudah kukenal dan bahkan saling berteman di medsos. Namun kerap tak pernah ada kontak atau komentar di status masing-masing.

Ada Salman yang sudah kondang sebagai travel blogger, Siti Nurjanah yang juga tak asing, dan Andre yang juga bloger aktif terutama di acara-acara offline. Dua nama baru antara lain Mbak Kiki Handriyani dan Rizki aka Bang Doel yang juga akrab disapa Kiki. Sejak mereka bergabung, suasana menjadi ramai dan seru. Terutama Rizki dan Salman yang saling melempar candaan.

Kami yang bloger remah megono hanya terlelap tersenyum simpul mengikuti tiktok mereka. Mbak Kiki ternyata adalah orang Cilacap asli yang kini menetap di Jakarta. Selain aktif menulis di blog dan media, dia juga mengelola komunitas sosial yang rajin menyambangi orang-orang tak mampu untuk sekadar diberi makan atau sumbangan uang untuk meringankan beban mereka. Tentu saja pada radius dan kadar yang mereka mampu.

Lewat obrolan di grup WA kami Mbak Kiki bahkan aktif mencari info tentang siapa saja yang berdomisili di Jakarta yang tengah mengalami kesulitan biaya sekolah atau sakit namun tak punya sanak saudara agar bisa mereka bantu. Keren kan? Tentu saja kekerenan saya para peserta bukan berhenti di situ saja.

Masih ada rahasia besar soal Faisol yang mencengangkan dan perlu diviralkan. Lalu untuk apa kami bepergian jauh-jauh dan berkumpul di Pekalongan awal Agustus lalu? Bagaimana kisah kami selama 3 hari 2 malam menguak potensi tertentu di kota yang terkenal sebagai Bumi Legenda Batik Nusantara ini. Banyak bloger andal yang kutemui selama acara berlangsung. Nantikan tulisan bagian kedua ya, sudah malam nih dan udah hampir 1.500 kata. πŸ™‚

Baca bagian keduaΒ di sini. Terima kasih, BBC Mania!

 

 

Advertisements

33 thoughts on “Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 1)

    1. Alhamdulillah, habis itu beliau tertidur pulas dalam kepuasan. Aku membayangkan jangan-jangan menantu atau anaknya juga dicecar pertanyaan seputar velocity dan ilmu alam sebelum beliau tidur ya, Er. Jadi daftar pertanyaan itu dianggap sebagai semacam pengantar tidur. Mungkin, namanya juga asal tebak.

      Like

  1. Tamat juga baca episode pertama yang menggantung πŸ™‚
    Untuk aja naik keretanya ga sampai Jakarta, bisa-bisa ikut cerdas cermat tingkat ibu kota

    Like

    1. Aku juga khawatir gitu, Mbak. Mungkin akan segera viral di medsos, “Dicecar Pertanyaan Sepanjang Perjalanan dalam Kereta, Blogger Ini Akhirnya Nyasar Hingga ke Ibu Kota”. Langsung belok Bekasi kuculik Pascal hihihi

      Like

  2. Ada dendam yg terpendam tiap ingat Pekalongan, 20 tahun mondar mandir mudik ke jatim, tiap lewat pertokoan batik Pekalongan, kenapa selalu pas malam hari. Sekalinya tahun ini bisa jalan siang hari, dialihkan ke jalan tol fungsional. Hadeeuh…

    Like

  3. Saya belum pernah dapat teman seperjalanan begitu, jadi nggak ada yang bisa diceritakan :(.
    blognya Inayah kayaknya pake triple “n” πŸ˜‰

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s