Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 2)

petung

APNE, UNTUK ITULAH kami datang. Mohon baca dengan cermat ya, APNE, bukan ACNE sebab artinya sejauh Sabang dan Merauke. Sebanyak 80 pegiat dunia digital meliputi bloger, jurnalis, fotografer, dan pilot drone diundang untuk mengikuti program 3 hari 2 malam bertajuk Amazing Petung National Explore 2017 yang dipendekkan menjadi APNE 2017.

Dari nama yang diusung, BBC Mania mungkin bisa menduga ini hajatan untuk mempromosikan wisata daerah. Betul memang, agenda tersebut benar-benar membawa kami menelusuri eksotisme hutan tropis Petungkriyono yang disebut-sebut sebagai satu-satunya hutan alam yang tersisa di Pulau Jawa. Tak heran bila paru-paru Jawa disandang hutan yang kaya agro and eco-wisata ini. Kita simpan cerita wisata untuk nanti ya.

Mengingat kami baru bisa check-in hotel selepas Jumatan, padahal kami sudah tiba di Pekalongan, program dadakan (tapi bukan cerdas cemat bersama kakek, hehe) harus kami gagas. Dari obrolan di grup APNE sehari sebelumnya muncul tawaran salah satu peserta untuk membawa kami menelisik Museum Batik di Jalan Jatayu. Mas Fajar, peserta dari kategori fotografer, yang asli Pekalongan berkenan menjadi guide dalam tur singkat tersebut.

Sayang seribu sayang, hingga matahari retak di ufuk Timur, babang panitia yang menjanjikan menjemput kami belum menunjukkan batang hidungnya. Selidik punya selidik, mobil beliau sedang mogok. Tentu saja semua itu terjadi sebelum Negara Api menyerang. But the show must go song, eh go on.

Tas-tas punggung kian memberat, kopor Mbak Kiki bahkan sudah mengubahnya ibarat peserta AFI yang kena eliminasi, dan nasi megono sudah kadung tandas, maka langkah tak boleh terhenti. Nay mengambil inisiatif untuk menghubungi bloger lokal untuk membantu membereskan nasib kami yang terlunta macam si bolang alias bocah ilang.

Bawalah kami ke museum, Angga!

Syukurlah gayung pun bersambut. Mendekati pukul 7 Angga bloger penyelamat itu datang dan segera menghentikan sebuah angkot yang akan membawa kami ke Museum Batik. Ketika saya tulis menghentikan, tentu saja bukan berarti harfiah dengan berdiri tegap di tengah jalan raya sambil menyetop angkot dengan mengacungkan tangan kanan ke depan. Itu mah Superman. Oke, skip bagian ini–enggak penting banget.

Kira-kira jam 7.30 kami tiba di depan museum. Karena museum baru buka setengah jam lagi, kami pun beringsut ke masjid besar di sebelah museum. Mengobrol banyak hal terutama seputar isu-isu hangat blogging dan kontes yang sering jadi andalan untuk meraup uang tunai dalam jumlah besar. Mungkin saking mengantuknya, Salman langsung berlayar ke pulau kapuk. Andre di sebelahnya asyik mengutak-atik ponselnya.

batik 5

batik 10

Ki-ka: Faisol, saya, Angga, Mbak Kiki, Mas Fajar, Andre, Siti, Prita, Rizki, Salman, Mas Nuz

Penunda di saat lapar

Rupanya Kang Nana yang belum sarapan mulai dilanda rasa lapar. Karena tak seorang pun bawa OKKY Jelly Drink, doi pun segera meninggalkan forum curhat untuk berburu menu sarapan. Saat ia beranjak, saya pun ikutan kelaparan. Di tas punggung masih tersisip sepotong roti bekal dari rumah. Namun kali ini saya pengin nasi biar enggak dikatain bule(k), sebab saya paklek. 😀

Angga kembali jadi penyelamat di saat lapar. Ketika Mas Nana cari sarapan, Angga yang sedari tadi sibuk mengontak panitia menghampiri kami dengan sekantong plastik gorengan: tahu berlapis tepung yang masih hangat! Kenikmatan makin legit dengan beberapa bungkus teh manis hangat yang menggoda. Bang Doel yang sebelumnya tampak tak bersemangat segera merapat menuju plastik hitam. Aku juga, haha. Lapar memang tak bisa ditawar!

Sembari menikmati gorengan, datanglah tiga peserta APNE lainnya. Mas Nuz (bloger) dari Mojokerto, Mas Zain (fotografer) asal Lumajang, dan Mas Fajar sang guide museum yang ikut di kategori fotografer juga. Suasana menjadi cair dan gayeng dengan bertukar cerita seputar perjalanan menuju Pekalongan. Mas Zain terpaksa menginap di Hotel Indonesia tak jauh dari stasiun lantaran datang paling awal sementara Mas Nuz harus rela dikerubuti nyamuk saat menunggu di lobi hotel pukul 3 pagi. Rupa-rupa warna perjalanan kami ya, tak berbeda dengan lagu balonku yang ada lima.

Matahari perlahan naik, cahayanya mulai terik dan mengusik kami di beranda masjid pagi itu. Sejak kami datang hingga pukul 8 lewat orang-orang masih terlihat sibuk jogging dan berolahraga di sudut lapangan seberang masjid. Mbak Kiki tak ingin melewatkan kesempatan saat kami mengobrol. Berbekal ponsel dan monopod, dia menghambur ke lapangan tersebut untuk tampil di Facebook Live di depan ikon blok Batik Pekalongan. Sejak sejam yang lalu anak-anak sekolah telah bergegas menuju sekolah entah sendiri maupun membonceng orangtua mereka. Warung-warung mulai buka, para pekerja segera memacu kendaraan menuju kantor masing-masing. Pekalongan mulai bergeliat. Kehidupan bangkit dan kota jadi semarak kembali.

Membatik yuk!

batik 12

Fotografer boleh dong sesekali nampang!/Photo credit: Mohamad Zainuri

Tepat pukul 08.30 Angga mempersilakan kami memasuki museum. Mas Fajar pun turut, tapi bukan ke Bandung atau Surabaya. Dah itu mah lagu kereta api, Rud! Tanpa banyak basa-basi, Mas Fajar langsung menuturkan pengetahuannya mengenai bangunan megah yang sepertinya warisan Belanda ini. Museum Batik Pekalongan ini diresmikan oleh Presiden SBY pada tanggal 12 Juli 2006 dan memiliki tiga ruang pamer dengan koleksi batik-batik bermotif keren dari seluruh Indonesia. Sejak diakui oleh UNESCO sebagai intangible heritage dunia tahun 2009, pamor batik memang kian menanjak. Mirip-miriplah sama pamor saya yang diakui oleh si Kakek yang penasaran dengan kecepatan kereta api.

Jujur saja selama tur dalam museum saya lebih banyak terpukau oleh pesona Bang Doel motif-motif dan sejarah batik yang ternyata belum saya ketahui. Teman-teman lain sebagian sibuk mengabadikan lewat bidikan kamera, sebagian foto selfie atau merekam video untuk vlog, dan sebagian lagi menyusun catatan kecil. Baterai kamera pas habis dan malas ganti, sedangkan pasokan daya di ponsel juga menipis. Jadilah lebih banyak pinjam foto Mas Zain yang dijamin ciamik.

Mas Fajar terlihat fasih betul bercerita ihwal batik, mulai dari sejarah hingga perkembangan motif. Dari beberapa display, motif batik pesisir tampak sangat menawan, inilah yang bikin hatiku tertawan. Warna-warna cerah dan mencolok—sebagian bahkan menggunakan pewarna alami—menjadi ciri khas batik Pekalongan yang legendaris, berbeda dari batik Solo misalnya. Sebagaimana BBC Mania bisa lihat di salah satu foto, di museum tersebut juga disediakan ruangan workshop di mana kita bisa praktik membatik langsung.

Selain tiga ruang pamer dan ruang workshop, fasilitas lain dalam museum meliputi ruang audio visual yang terletak tepat setelah pintu masuk, perpustakaan, ruang data, ruang simpan dan konservasi, aula, kedai suvenir, kafe, dan free wifi. Fasilitas terakhir itu pasti bikin bloger melotot gembira haha. Bagaimana dengan tiket masuknya? Murah kok. Pegunjung dewasa dikenakan biaya 5.000 rupiah, anak/pelajar 2.000 dan wisatawan asing 10.000.

Di sana disediakan kanvas dan alat membatik, jadi bisa kita bawa pulang loh hasil karya kita. Setelah ikut membatik, karya Faisol rasanya yang paling keren, horee! Bila kita tertarik membeli suvenir seperti canting, busana batik, sepatu etnik dan produk UKM lokal lainnya, tinggal masuk ke kedai suvenir dan tanya-tanya. Bisa diduga dong kami enggak beli. Maklumlah dompet disimpan di dalam tas, jadi susah djangkau karena tertimbun baju-baju. Haha, alasan!!! Begitu akan pulang, kita-kira pukul 10 lewat, kami mendapat kabar bahwa ibu dubes Amerika akan singgah ikut tur di museum ini. Kami menunggu beberapa lama dengan harapan bisa wawancara sebentar. Sayang sekali beliau tak juga muncul hingga kami meluncur ke Food Market pukul 11.00.

Ayla view, Megono!

Perut sudah dangdutan, badan lelah dan kurang tidur. Plus habis kena ospek dalam cerdas cermat dadakan. Informasi dari Nay dan Angga sangat menghibur. Di Food Market ini kami akan dijamu menu khas Pekalongan yakni megono yang disajikan dengan gaya liwetan di atas daun pisang. Wah, baru membayangkan saja sudah terbit air liur! Warung Uti yang berada di Food Market ini dimiliki oleh salah seorang bloger Pekalongan yang punya usaha kuliner.

Sambil menunggu waktu solat Jumat, kami merebahkan diri di ruangan khusus sambil menikmati aneka cemilan, salah satunya kerupuk milik Angga yang mengusung merek Capret Cap Raden. Enaaak! Kruik banget deh! Rizki sama Faisol sampai rebutan, haha! Es teh, teh manis hangat, dan es jeruk segera tersaji di atas meja. Sebagian kawan mulai sibuk mencari-cari colokan untuk mengecas baterai ponsel mereka. Sebagian lainnya mencari belahan jiwa yang entah di mana, #apasih. Pada saat yang sama peserta lain ikut bergabung antara lain Mas Alfian dari Bandung dan Halim dari Solo.

megono

megono 2

Selepas Jumatan, menu utama pun tersaji di atas meja. Wah, sedap nian! Suasana semakin semarak dengan bergabungnya peserta dari Jakarta (Mbak Nunik dan Mbak Lidya). Sejumlah bloger wanita Pekalongan juga ikut singgah, yakni Mbak Mechta, Mbak Cii’ Yuniaty, Noorma dan Farida. Namun hanya nama terakhir yang ikut APNE. More people, more snacks. Ada apem khas Kesesi dari Jeng Noorma, keripik sukun renyah entah dari siapa, juga kue bolu yang legit. Apem Kesesi ini sangat unik, rasanya sedikit asem tapi kok bikin nagih, hehe. Dasar mupeng! Alhamdulillah ya, banyak tamu jadi banyak makanan.

Ramai sih suasananya tapi jatah makan jadi berkurang hehe. Seperti bisa disaksikan lewat bidikan Mas Zain, makan siang di Warung Uti memang sangat lezat. Gori atau nangka yang dicacah halus menjadi megono itu terasa sangat nikmat dengan bumbu yang pekat—beda jauh dari megono saat di hotel. Megono, ayla view! Ikan asinnya legit, tempe bumbunya gurih, dan sambal taoconya nendang banget. Pengin nambah sebenarnya tapi malu, hiks.

Check-in dan deg-degan

Tenaga sudah pulih kendati badan masih lelah. Tapi tak selelah menanti janji yang tak pasti, ehem! Selepas makan siang, panitia menjemput kami menuju hotel. Beberapa bloger sekitar seperti Kebumen dan Kendal sudah memasuki kamar masing-masing. Terbayang oleh kami kasur empuk dan selimut hangat sebelum sesi seremoni malam harinya. Terbatasnya armada membuat kami harus bergiliran diangkut.

Saya dan Mas Zain termasuk kloter terakhir yang harus bersabar menunggu. Untunglah ada Angga dan Mas Sarbu (fotografer) yang menemani ngobrol. Kepala mulai berat karena kantuk, badan penat dan hanya bisa duduk, akhirnya bersemangat lagi saat Mas Harviyan datang menjemput. Mas Harviyan adalah jurnalis foto di Antara yang tergabung di jajaran panitia. Orangnya ramah, tidak sombong, suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Hampir saya bingung mengelompokkannya sebagai wartawan atau anggota pramuka. Salam Pramuka!

Selama perjalanan menuju hotel, saya dan Mas Zain melepas pandangan sekeliling untuk mengetahui Pekalongan dalam sekejap. Lewat kemacetan jalanan pantura dan banyaknya gerai atau sentra penjualan batik hampir di tiap ruko atau tikungan jalan. Sewaktu mudik, saya selalu lewat Pekalongan, namun baru kali ini berkesempatan menapaki kotanya hingga dua hari ke depan.

Diam-diam terselip perasaan deg-degan sesaat sebelum memasuki lobi hotel. Deg-degan gembira sebab akan berjumpa banyak teman bloger yang sebagian besar sudah kukenal di dunia maya tapi belum pernah kopi darat. Rasa saling mengenal telah terjalin lewat blogwalking atau komentar di medsos, dan kini kami akan bertemu. Belum lagi puluhan fotografer dan jurnalis yang akan menjadi teman baru selama petualangan APNE 2017. Sungguh indah, oh…. Lebay!

Tapi saya enggak lebay kalau bilang bahwa cerita ini sudah 1.600 lebih kata dan harus segera ditutup untuk disambung ke jilid berikutnya. Terima kasih sudah membaca dan selamat berakhir pekan ya BBC Mania! Tetap semangat!

Jangan lupa baca bagian pertama di sini.

 

 

Advertisements

29 thoughts on “Rindu Menggantung di Petung, Hati Tertawan di Pekalongan (Bagian 2)

  1. Mas Rudiii…sebenarnya pengen ngobrol banyak waktu itu..sayang waktu sangat mepet dan njenengan sdh tampak letih..hehe… Mangga singgah lagi di Kota Batik kapan2.. bawa serta keluarga yaaa…

    Like

  2. huhuuuu Ayla View Okky Jelly Drink… aku hadir di FM tp mmg #daakumahapaatuh blogger ala ala… mmg seru ko bs kenalan ma anak2 sini gabung bareng dan sepakat membentuk Komunitas Blogger Pekalongan, Oktober ini kita mo setahun lho tapi rasanya udah kaya keluarga besar, ya wujudnya brayan bareng spt yg terlihat. Kt jg ikut tersanjung bs menerima kehadiran mastah2 disini. Eits udh nyobain megono tapi belum nyobain Miso Krapyak kan… smg bs bikin kopdar lg disini ya, kali ini menerima ilmu dr penjenengan.
    Ayi Afif (Java Chic)

    Like

  3. Saya baru sekali ke Pekalongan. Kepengen banget kembali ke sana. Dan yang paling saya suka dari Pekalongan adalah sego megono dan batik. Ulalaaa.. itu sego megono, kangen bangettt.. Enak. Cita rasanya khas!

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s