Menyalakan Kehidupan Dengan #MenebarKebaikan

Kalau kita menganggap bahwa rezeki hanya dalam bentuk berlimpahnya harta atau pencapaian bersifat materiil belaka, sangat mungkin kita akan tergoda untuk menfdganggap Tuhan tak adil, dan itu kesimpulan yang berbahaya. Sama berbahayanya ketika kita melihat mengapa orang-orang baik di sekeliling justu dirundung ujian dan petaka seolah Tuhan tidak mengasihi mereka. Sebaliknya, orang-orang yang kita anggap abai malah dimanja dan hidupnya bergelimang kemenangan.

Tiga Kisah Penuh Tanya

Saya teringat kisah seorang relawan Nasi Bungkus Community (NBC) tempat saya bergiat sejak dua tahun lalu. Agustus 2018 Lamongan dilanda kekeringan parah sehingga air bersih menjadi komoditas langka. Kami pun menggalang dana dan mendistribusikan 30-an tangki air ke desa-desa di lima kecamatan. Salah satu relawan yang aktif dalam kegiatan ini mendapat kemalangan: rumahnya disatroni maling. Giat bersosial dan beramal, kok malah kemalingan? Begitu saya bergumam.

Kisah lainnya, seorang donatur NBC yang rutin mengirimkan uang setiap pekan ternyata diuji dengan sakit keras bahkan hingga dirawat di ruang ICU. Sampai beberapa hari sebelum tutup usia, keluarganya masih menitipkan donasi agar dibelanjakan dalam bentuk nasi siap santap untuk dibagikan pada Jumat pagi. Saya sempat membantin: Rajin beramal, kenapa malah sakit sampai akhirnya berpulang?

Kisah ketiga—mungkin hipotetis—saya dapatkan dari seorang ustaz dalam sebuah pengajian warga sekitar 10 tahun lalu saat saya masih tinggal di Bogor. Dalam sebuah kitab diceritakan tentang seorang lelaki yang memprotes kepada mubalig. “Mana bukti keajaiban sedekah? Aku sudah bersedekah tapi malah terjatuh dan menderita luka parah?” ujarnya emosional. Sang alim menjawab, “Kamu tahu tidak bahwa kamu mestinya meninggal saat jatuh tadi. Namun Allah menurunkannya menjadi sekadar luka-luka sehingga kamu tetap hidup berkat sedekah.”

Kisah terakhir itu membuka pikiran saya, memecah kebuntuan nalar yang selama ini menjadi penakar dominan tentang aktivitas berbagi. Faktanya, logika manusia hanya berkutat pada hal-hal yang tampak fisik dan sering berbasis pada kalkukasi matematis belaka. Inilah mungkin yang menyebabkan orang enggan menderaskan sedekah dan mengeluarkan zakat padahal sudah tercapai nisabnya.

Perspektif Kenikmatan

Berbuat baik seolah merugikan, dan memberi kepada sesama seolah-olah mengurangi kepemilikan. Kalau meyakini hadis Nabi bahwa sedekah benar-benar mampu menolak malapetaka atau musibah, mestinya bersedekah dan berbuat baik dalam bentuk apa pun akan menjadi mentalitas dan bahkan identitas. Kita perlu mengingat kembali mantra dalam Surah Al-Fajr ayat 15-16. Bahwa kehidupan kita tak mungkin steril dari masalah. Kesulitan dan keterbatasan bukan selalu modus hukuman dari Tuhan. Dan kekayaan serta keberlimpahan bukan melulu tanda kemuliaan.

Semua adalah ujian—di mana berkat aktivitas sedekah atau berbagi maka pintu-pintu peluang akan terbuka seperti dijauhkan bala atau diturunkan kadar musibah (pada kisah ketiga), didatangkan rezeki lain, dan bahkan berpotensi disembuhkannya penyakit sebagaimana disebutkan Nabi dalam hadis beliau.

Kematian donatur NBC boleh jadi hal terbaik menurut Allah walaupun kita mungkin berpikir sebaliknya. “Kasihan ya mati muda!” begitu orang sering berseloroh. Hei, yang kasihan justru kita yang terus hidup enak dan bergelimang kenikmatan padahal langgeng dalam kesesatan dan sering meninggalkan syariat! Tak jarang kematian adalah cara Allah menyelamatkan hamba dari kesalahan fatal atau keburukan dunia yang semakin terpuruk. How can we ever complain?

Melepaskan Sungguh Melegakan

Yang kita minta tidak selalu baik untuk kita; yang kita kehendaki belum tentu menjadi keberkahan nanti. Sepenggal fragmen dari perjalanan Nabi Isa a.s. perlu saya tulis di sini untuk memperkuat pesan ini. Suatu hari Isa bertemu seorang lelaki yang terus menangis setelah ditinggal wafat istrinya. Ia meminta agar sang istri dibangkitkan mengingat ia belum lama menikah dan sangat mencintainya. Isa menolak dengan alasan tak akan ada manfaat dengan kebangkitannya.

Setelah didesak, Isa pun mengabulkannya. Sang suami senang bukan kepalang sebab kini ia bisa bersatu dengan istri yang amat ia sayangi. Hari berganti, waktu berlalu. Lelaki itu pergi bekerja sementara sang istri berada di rumah. Sampai suatu hari seorang pangeran melewati rumahnya. Sang pangeran terpikat oleh kecantikannya lalu meminta wanita itu ikut. Rupanya ia mau dan berangkatlah keduanya meninggalkan rumah.

Singkat cerita, sang lelaki pun mengetahui kepergian istrinya dan segera menyusulnya. Saat bertemu, sang istri ternyata mengaku tak pernah mengenalnya. Ia terpukul dan beranjak pergi setelah diancam. Rupanya ia bertemu Nabi Isa dan segera mengadukan masalahnya. “Bukankah sudah kubilang ia lebih baik ada di dalam kuburnya?” gumam sang nabi seraya menunjukkan kesedihan.

Isa kemudian menghampiri si wanita lalu berucap, “Jika kau memang bukan istri pemuda ini, kau akan hidup sesuai umurmu. Namun jika kau istrinya, maka kau akan mati seperti semula!” Atas izin Allah, wanita itu kembali tergolek tak berdaya, nyawanya melayang. Si suami sedih bukan main. Andaikan ia biarkan istrinya mati sejak awal, ia mungkin akan husnul khatimah dan bukannya menyeleweng dan berakhir pedih bagi kedua pasutri.

Menebar Kebaikan, Memanen Keberkahan

Penggalan kisah itu harus jadi alarm bahwa apa yang kita kehendaki tidak harus terjadi. Setelah menebar kebaikan, tak harus segera muncul imbalan besar tanpa hambatan. Rezeki itu bisa saja berupa kebugaran, teman baik, batal sakit, networking, bahkan berupa energi positif untuk lebih banyak lagi berbuat baik. Jangan sampai kita mengecam Tuhan hanya lantaran kita tak diganjar sesuai harapan setelah kita berbuat baik.

Saya tak bisa melupakan Pak Mo dan istrinya yang merupakan dermawan di kampung kami. Kebaikan hati mereka kondang hingga ke kampung sebelah. Setiap bulan dua panti berbeda aliran mereka kirimi beras dalam jumlah besar. Anak-anak yatim mereka santuni. Saat Ramadhan/lebaran janda dan yatim mereka gembirakan.

Namun mereka tak mengeluh saat Pak Mo diuji dengan diabetes dan Bu Mo dengan gangguan empedu. Keduanya menjalani kekayaan dan penyakit sebagai ujian hidup. Mereka menikmatinya sebagai siklus alami hamba yang ingin disayangi Ilahi Rabbi. Mereka tetap bederma, terus memberi, dan tak lelah mengulurkan tangan saat sehat atau kesakitan.

Saya yakin kebaikan yang mereka tebarkan telah mengundang keberkahan sehingga hidup terasa nikmat bagi mereka dalam ihwal seperti apa pun. Kebaikan berbagi mereka yakini dan telah menjadi spirit dan nilai yang terinternalisasi. Walaupun tak kaya raya seperti mereka, saya terinspirasi untuk meniru kebaikan hati dalam memberdayakan sesama.

Saung Literasi dan Sebungkus Nasi

Sewaktu masih tinggal di Bogor, saat bekerja sebagai editor buku sekolah, saya dan istri mengelola les bahasa Inggris gratis untuk anak-anak kampung yang tidak mampu. Hanya berjalan selama 3 tahun lalu vakum dan kami pindah ke Lamongan. Dulu bernama Bright English Institute dan kini kami kibarkan dengan bendera Saung Literasi.

Belajar dan belajar untuk bisa mengabdi pada negeri

Anak-anak tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga membaca dan menulis, peduli lingkungan, hingga menularkan semangat berbagi yang sudah jadi komitmen saya dan istri. Bukan uang yang kami dapatkan melainkan kepuasan tiada bandingan walaupun tak jarang anak-anak datang membawa bingkisan seperti rengginang, jagung mentah, bawang merah, hingga nasi berbungkus daun jati dengan lauk ikan asin yang sangat sedap. Yummy….

Saya tak lagi sakit-sakitan dan merasa sangat merdeka dengan memiliki otoritas penuh dalam mendefinsikan kebahagiaan saya sendiri—tanpa khawatir dengan tuntutan atau tafsiran orang. Ya, bukankah kebahagiaan sering kali hanyalah bagaimana cara kita menafsirkan keadaan?

Sebungkus nasi setiap Jumat pagi sungguh sangat berarti.

Hal lain yang membuat hidup penuh vitalitas adalah Nasi Bungkus Community atau NBC yang saya sebutkan di awal. Dipercaya menjadi admin medsos dan tugas menyusun video setiap pekan untuk para donatur, sungguh mengasyikkan! NBC juga punya Omah Ngaji tempat anak-anak mengaji secara cuma-cuma. Saya kebagian mendongeng dua kali dalam sebulan, oh, sungguh privilese istimewa.

Menyelami cerita, mengenal manusia dan memetik pelajaran

Menyalakan Kehidupan dengan Pengorbanan

Sebuah buletin mungil pernah mengingatkan saya tentang kualitas seseorang. Ternyata kemuliaan seseorang bukanlah ditentukan oleh kepemilikan harta atau ketampanan wajah. Sebaliknya, seseorang dianggap mulia ketika ia sudi berkorban untuk orang lain. Dengan demikian, kegagalan sejati bukanlah sebab kalah lomba atau bangkrut usaha melainkan keengganan membantu padahal kita mampu.

Wabah Corona yang tengah melanda Indonesia dan bahkan seluruh dunia telah menegaskan betapa masih banyak manusia unggul karena berkenan tampil di garda depan dalam meringankan beban sesama. Para tenaga medis yang menyambangi pasien dhuafa, para sukarelawan yang terjun menjemput para manula, hingga para petugas yang mempertaruhkan nyawa untuk mensterilkan tempat/fasilitas umum adalah pahlawan yang layak kita dukung. Demi kebaikan bersama, kita cukup bertahan di rumah sambil tetap meraup rupiah.

Melihat tayangan video itu saya tak hentinya bersyukur. Sebagai editor lepas dan fulltime blogger saya bisa bertahan di rumah tanpa khawatir kehilangan nafkah. Ya nilainya memang tak sebesar pekerja kantoran yang menerima gaji rutin bulanan, setidaknya ada saja rezeki yang saya terima meskipun tak jarang honor menulis atau mengedit mengalami keterlambatan. Karena secara fisik tak mungkin berjibaku di lapangan, saya memilih berpartisipasi lewat donasi yang sangat mudah dan terkendali melalui portal Dompet Dhuafa.

1 | Praktis

Dengan sekian klik, donasi bisa masuk tanpa meninggalkan rumah. Oh, ya kalau saya masih perlu meluncur sebentar ke mesin ATM karena tidak punya internet banking. Setelah melakukan transfer, cukup mengonfirmasi donasi melalui portal mereka yang tautannya disediakan setelah bertransaksi. Benar-benar praktis dan antiribet.

Tinggal masukkan kode konfirmasi agar donasi terlacak.
Cepat dan mudah!

Kepraktisan inilah yang menarik, apalagi di saat wabah seperti sekarang, tak perlu ke mana-mana untuk bisa berkontibusi. Kemudahan lainnya tersedia dalam bentuk opsi pembayaran yang beragam. Tim Dompet Dhuafa paham betul bahwa era serbadigital saat ini orang semakin intens memanfaatkan e-wallet. Tak harus punya rekening bank untuk bisa menyumbang, dukungan tetap bisa diterima.

2 | Pilihan donasi

Alasan lain memercayakan donasi pada Dompet Dhuafa adalah tersedianya pilihan donasi yang bisa disesuaikan dengan minat atau kebutuhan kita. Jenis donasi memungkinkan kita memilih lingkup atau bidang yang akan kita dukung, yaitu Bencana Dunia, Indonesia Siap Siaga, Bencana Indonesia, dan Dompet Dunia Islam. Dengan demikian, sumbangan kita akan tetap sasaran sesuai isu yang kontekstual seperti wabah Coronavirus saat ini.

3 | Laporan rutin

Saya tak berani mengaku sebagai donatur tetap di Dompet Dhuafa, tapi jelas namanya sudah sangat akrab dan beberapa kali berdonasi lewat lembaga ini. Tak peduli besar donasi yang kita berikan, tak peduli frekuensi kita menyumbang, Dompet Dhuafa berkenan mengirimkan laporan ziswafku secara rutin per bulan melalui email agar dapat kita pergunakan sebagai pengurang Penghasilan Kena Pajak (PKP). Keren kan?

4 | Kalkulator zakat

Bagi yang bingung atau malu bertanya tentang besaran zakat penghasilan atau zakat maal yang harus kita bayarkan, jangan khawatir. Portal Dompet Dhuafa menyediakan kalkulator zakat yang bisa dimanfaatkan untuk menghitung kewajiban kita. Kalkulator ini bisa jadi solusi cedas juga cepat ketimbang harus mengontak pakar yang mungkin butuh waktu lama.

5 | Program lengkap

Sejak lama Dompet Dhuafa mengembangkan dan mengelola beragam program sesuai kebutuhan umat dan masyarakat. Yang paling saya ingat tentu saja lini kesehatan seperti Rumah Sehat Terpadu dan lini pendidikan seperti sekolah Smart Ekselensia yang keduanya terletak di Parung Bogor dan sering saya lewati saat masih sering laju Tangerang – Bogor dulu.

Seperti terlihat pada daftar di atas, bukan hanya sektor pendidikan dan kesehatan yang digarap dan dilayani, tetapi juga lini strategis lainnya yakni ekonomi yang berorientasi memberdayakan umat agar mandiri serta menggarap bidang sosial budaya dan terutama dakwah.

Saat menghadiri pameran keuangan syariah di Surabaya dua tahun silam, saya sempat mampir di booth Dompet Dhuafa dan membeli produk kopi khas robusta khas Dusun Kemloko Temanggung yang merupakan binaan Dompet Dhuafa. Selain menyesap kopi yang mantap, saya sekaligus turut mendukung ekonomi mereka. Asyik kan?        

6 | Jaringan luas

Dengan jaringan merata di kota dan daerah seluruh Indonesia, Dompet Dhuafa bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan. Keberadaan mereka di Indonesia memudahkan penanganan lewat jalur koordinasi yang solid dan penguatan organisasi yang transparan. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan oleh siapa saja yang membutuhkan, entah ia petani, peternak, ataupun pelaku pendidikan.

Saking luasnya, Dompet Dhuafa bahkan menjangkau hingga negara di pulau seberang yakni Australia untuk membantu para tunawisma yang rentan terkena wabah Corona. Ini membuktikan kemanusiaan tidak mengenal ras, suku, atau agama. Membantu adalah komitmen sosial sebagai wujud cinta kasih pada sesama makhluk Allah.

7 | Distribusi jelas

Awal Maret lalu sebuah email mengejutkan saya. Terkejut karena saya tak menanti kedatangan email itu. Saya terkejut juga karena isinya sangat inspiratif. Email itu mengisahkan perjuangan wanita hebat bernama Samsinar. Ia bekerja sebagai pengangkut batu dan kayu bakar sedangkan suaminya berprofesi sebagai pedagang ayam. Tahun 2014 mereka beralih profesi sebagai petani kopi. Dimulai dengan lahan seluas seperempat hektar, mereka pun menanam kopi.

Semula mereka mendapat cemoohan dari tetangga dan warga sekitar. Maklum, kondisi mereka sendiri kekurangan tetapi berani membuka lahan. Namun mereka yakin bahwa tempat tinggal mereka yakni Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatera Barat sebenarnya punya potensi alam yang kaya. Salah satunya kopi Arabica Solok yang punya penggemar fanatik dan pasar yang besar.

Wanita pemberani, wanita pengejar mimpi!

Samsinar diam-diam memanjatkan doa agar Allah melancarkan usahanya. Sehingga warga sekitar tak lagi kesusahan hidupnya karena keterbatasan ekonomi. Gayung pun bersambut. Tahun 2019 Dompet Dhuafa dengan dukungan penuh para donatur menggulirkan program pemberdayaan untuk Kelompok Tani Sirubuih Indah Nan Jaya yang berjumlah 25 orang. Samsinar dan suaminya termasuk di dalamnya.

Fasilitas yang diberikan mulai dari bibit hingga tempat pengolahan pascapanen. Yang paling penting, para petani mendapat pendampingan, pembinaan, pemasaran, hingga pengolahan limbah produk menjadi pupuk kompos. Berkat kerja keras dan dukungan program Dompet Dhuafa, Samsinar kini mengolah 2,5 hektar dengan 2.500 batang kopi. Setiap dua pekan ia bisa memanen setidaknya 200-300 kg. Pasar Koperasi Solok Radjo mampu menampung rata-rata 30 ton/bulan. Dengan kebutuhan ekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Amerika, dan Thailand, pasar komoditas istimewa ini terbuka lebar.

Saya tak bisa menahan haru membaca sepenggal kisah Ibu Samsinar. Dalam email tersebut disebutkan seolah-olah saya telah berkontribusi besar dalam menngkatkan ekonominya. Yang jelas, akselerasi hidupnya terwujud berkat zakat dan infak yang donatur titipkan pada Dompet Dhuafa yang dikelola secara serius sehingga mampu menciptakan manfaat luas bagi petani kopi seperti Ibu Samsinar. Kisah sukses Bu Samsinar menegaskan bahwa sekecil apa pun donasi kita rasanya akan berdampak luar biasa karena didistribusikan untuk penerima yang tepat dan potensial.

8 | Dukungan tokoh

Dengan begitu banyak program pemberdayaan dan layanan untuk bangsa, kesuksesan demi kesuksesan para penerima manfaat ziswaf memang layak diapresiasi. Bukan hanya ditandai dengan meningkatnya jumlah donatur, tetapi juga melalui testimoni para tokoh yang diakui kapasitasnya. Pendapat mereka setidaknya mengonfirmasi komitmen Dompet Dhuafa untuk terus mengembangkan potensi umat.

9 | Pengalaman panjang

Dengan kiprah panjang sejak tahun 1993, Dompet Dhuafa telah menunjukkan komitmen serius dalam membentangkan kebaikan zakat dan energi berbagi di penjuru tanah air. Pengalaman selama nyaris 30 tahun dan jangkauan sebanyak 19 juta penerima manfaat adalah wujud bahwa donatur terus percaya pada setiap program dan pertanggungjawabannya.

Rezeki Tak Terduga

Menutup tulisan ini, izinkan saya menceritakan kisah nyata yang saya alami akhir tahun lalu. Saya dan istri begitu gembira sebab akan diamanahi anak ketiga. Saat janin berusia tiga bulan, istri berkali-kali mengalami hipertensi bahkan sampai gelap mata dan lemah sehingga harus bed rest total.

Dalam kondisi demikian, suatu malam seorang sahabat mengejutkan kami dengan pesan lewat WhatsApp. Ia bermaksud meminjam uang karena honor yang mestinya ia terima belum juga cair. Perih kedua mata saya setelah melihat foto yang ia kirimkan. Sebuah wadah plastik dengan beberapa lembar gorengan tipis. Itulah yang ia makan sekeluarga selama beberapa hari karena tak sanggup membeli beras: tepung terigu ditambah gula lalu digoreng!

Saya segera meminta izin pada istri untuk membagi uang kami yang tersisa. Kami pun sebenarnya tengah menanti fee beberapa pekerjaan yang tak kunjung cair, dan bahkan mundur. Malam hari selepas Isya saya meluncur ke mesin ATM untuk mentransfer sesuai kemampuan kami. Paling tidak ia bisa beli beras dan makan dengan layak.

Seminggu kemudian istri mengalami perdarahan hebat sehingga mesti saya bawa ke rumah sakit. Anak-anak kebetulan sedang berlibur di rumah nenek. Dokter menuturkan agar janin diambil lewat kuretase karena ia sudah gugur. Pecahlah tangis kami berdua. Bukan hanya karena kehilangan calon bayi yang sangat dinanti, tetapi juga oleh bayangan biaya yang harus kami keluarkan untuk operasi tersebut.

Malam hari saat masuk ruang IGD, uang yang tersisa di ATM hanya cukup untuk biaya rawat inap dua hari ditambah uang di dompet untuk menebus obat langsung karena kami tak punya asuransi. Hari berlalu, saya senang istri akan diizinkan pulang. Tapi juga waswas sebab belum terkumpul cukup uang untuk menutup seluruh biaya kuretase.

Pelajaran Terpenting

Tiga hari kemudian kabar gembira pun datang. Saya memenangkan kuis di Twitter dengan hadiah sebuah smartpone canggih dari sebuah provider telekomunikasi yang sangat besar. Tak hentinya kami bersyukur sambil mencoba tak menangis. Smartphone itu langsung terjual, alhamdulillah. Begitu kabar kuretase itu terdengar oleh seorang teman yang biasa memberi job, ia pun berkenan membayarkan honor untuk ditukar dengan pekerjaan yang belum saya kerjakan. Kebaikan berbagi terbukti kembali!

Smartphone baru sangat membantu walau hanya numpang lewat.

Akhirnya kami pulang dengan hati tenang. Biaya tertutup, bahkan tersisa. Boleh jadi itu berkat doa sahabat yang kelaparan yang kami bantu malam itu. Atau bisa pula itu buah dari doa ibu yang tak henti mendoakan kami anaknya. Apa pun itu, kami sangat yakin bahwa itu adalah cara Allah mengajarkan bahwa mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan adalah tindakan mulia entah saat kita berkelimpahan ataupun sewaktu kekurangan.

Selalu ada cara—sesederhana apa pun—untuk menebarkan kebaikan sehingga kehidupan kita bergizi, menyala-nyala dengan energi yang menyulut lebih banyak kebaikan lainnya.

84 Comments

  1. Percaya banget kalau energi menebar kebaikan itu akan terus menggulirkan hak dari Allah utk yg terus istiqamah. MasyaaAllah pengalamannya Mas Rudi, banyak untold story yg belum pernah dikisahkan. Dan pengalaman terakhir mirip yg kisahku di MLTAS ya mas sekilas. InsyaaAllah Allah ganti dgn yg lebih baik, termasuk kehadiran buah hati yg dinanti ya mas. Salam ke istri~

    Like

    1. Betul sekali, Cikgu. Selalu ada ganti dan kisah tak terduga saat kita bersedia mengulurkan tangan dan menyumbangkan tenaga. Kisah kuretase istri kemarin memang mirip banget ya sama penggalan kisah di buku itu, hehe. Bedanya yang nyumbang aja 🙂 Salam sehat selalu dan saling menguatkan!

      Like

  2. Masyaallah pengalaman yang sangat inspiratif mas, malu saya karena belum bisa menebar kebaikan padahal telah banyak menerima rahmat dariNya

    Like

  3. MasyaAllah tabarakallah aku speechless mas gak bisa ngomong, memang kalkulator manusia tidak sama dengan kalkulator Allah. Terima kasih atas semua pelajaran hidup yang sudah disampaikan mas.

    Like

    1. Ya begitulah, Mbak. Itung-itungan kita sering bikin waswas karena tak jarang diliputi pamrih. Tapi ya wajar namanya juga manusia, sering takut hehe. Terima kasih juga atas kunjungan dan dukungannya, Mbak.

      Like

  4. Ketika kita yakin memberi tanpa mengharap pamrih, insya Allah kebaikan itu lepas di alam semesta dan dikembalikan oleh Allah kepada kita dalam bentuk yg lain. Yg sering kita alami adl kurang yakin. Betapa banyak orang di luar sana yg rajin bersedekah, tapi justru kebingungan “membuang hartanya” karena yg kembali kpd mereka justru jumlahnya jadi turah-turah. Hukum keseimbangan memang berlaku dalam hal bersedekah, plus bonusnya di alam akhirat. Semoga kita diberikan keyakinan dan keistiqamahan dlm berbuat kebajikan. Umur tinggal sedikit iniiiihhh, hiks hiks hiks …. 😭😭😭😭

    Like

    1. Iya, Bu. Saat memberi kita seolah ‘membuang’ harta kita sehingga kepemilikan kita jadi berkurang dan malah seolah hilang. Padahal itulah hakikatnya yang anti kita nikmati di akhirat, yang mungkin bisa menyelamatkan nasib kita di hari penghisaban saat ibadah ritual kita ternyata penuh pretensi dan nirkeikhlasan. Semoga umur yang tersisa bisa kita manfaatkan untuk terus membagikan kebahagiaan ya, menebar kebaikan untuk mereka yang membutuhkan. Soal imbalan, biar jadi urusan Tuhan.

      Like

  5. Bener mas, rezeki bukan hanya harta, maka dari itu, saya pribadi juga mencoba positif thinking, dan memang bentuk syukur kita bisa berupa berbagi, berdonasi kepada sesama. Bahagia gitu ngelihat mereka bahagia. 🙂

    Like

    1. Begitulah, Sol. Kalau menunggu kaya, kita bakal cari alasan terus untuk tidak berbagi atau beramal karena merasa tak kaya-kaya. Bahagia melihat orang lain bahagia, sungguh kebahagiaan yang tak terbeli.

      Like

  6. pernah juga berpikir, seseorang yang sudah bersedekah kenapa masih dapat musibah. Tapi berhenti bertanya lagi, saya melihatnya bukan mengapa diberi musibah, harus melihat hikmah di balik musibah, mungkin dengan cara seperti itu, teguran halus yang mungkin saya ceroboh saat melakukan suatu hal, positive thingking

    Like

    1. Betul, Kak. Positive thinking alias husnuzan lebih asyik karena yang terjadi sama kita, enak atau ga enak, hanyalah perspektif–dan yakinlah itu adalah yang terbaik buat kita. Biar kita bisa belajar dan berkembang, entah lewat sedekah sendiri atau pengalaman orang lain.

      Like

  7. Berbagi disaat sempit banyak tantangannya, kita harus ikhlas ya. Kita berbagi materi, mungkin balasannay dikasih niknamt sehat.
    Baca kisah tentang perjalanan Nabi Isa As jadi pengingat untuk ikhlas melepaskan 🙂

    Liked by 1 person

    1. Iya, Mbak. Biasanya makin berat ya beramal pas kita juga kekurangan. Setan bisik-bisik biar kita irit karena kita sendiri pun sedang atau bakal terus butuh duit atau materi yang sedang langka. Moga-moga kita bisa sabar dan istiqamah bantu sesama.

      Like

    1. Bagus itu, Kak, merasa kurang dan kurang untuk bersedekah. Biar kita termotivasi buat berbagi kebaikan buat orang lain sebab kebaikan berbagi manfaatnya bukan cuma buat mereka tapi terutama buat kita juga. Jadi makin hepi dan insyaallah rezeki mengalir pasti.

      Like

    1. Itulah intinya, Mbak. Energi kebaikan menular pada yang lain dan memicu rezeki lain mengarah ke kita. Tantangannya ya ikhlas dan istiqamah. Terima kasih sudah berkunjung.

      Like

  8. Tulisan yg inspiratif, membacanya membuat saya merenung lebih dalam. Saya setuju, kita harus terus menebar kebaikan. Bisa materi, atau yg lainnya yg kita punya

    Like

  9. Mendadak saya merasa kerdil usai membaca tulisan di atas. Ya Allah, betapa seringnya diri ini hitung-hitungan saat sebuah peluang sedekah terbuka lebar di depan mata. Padahal, boleh jadi, itu semua adalah ujian karena setelahnya Allah akan menghadiahkan nikmat yang tak ternilai harganya. Astaghfirullah al adzim.

    Liked by 1 person

    1. Bukan cuma Mbak, saya pun begitu kok, namanya manusia, sering dilingkupi kalkulasi matematis. Wajar asal ga kseringan hehe. Pokoknya peluang sedekah jangan sampai dilewatkan ya, Mbak, sayang banget enggak sembarang orang dihampiri kesempatan itu–juga potensi kejutan dari Allah kapan saja! Apa kabar, Malaysia, Mbak?

      Like

  10. Pernah juga berpikir kalau hikmah di balik zakat itu allah akan melipatgabdakan rizki kita. Padahal adanya sedekah atau pemberian zakat dngan niat lillahi taala dapat menghalau musibah atau ujian yg menimpa kita ya mas
    Kisahnya beneran inspiratif mas.

    Liked by 1 person

    1. Begitulah, kadang karena ketakutan ya manusiawi lantaran kita sendiri masih sering merasa kurang. Butuh latihan dan pelajaran, salah satunya dari kisah relawan atau Pak Mo yang saya tulis di atas.

      Like

    1. Bisa jadi demikian, Mbak. Cuma mata atau pikiran manusia awam sering tertipu atau tergoda untuk menyimpulkan sebaliknya ya. Bahwa kematian yang cepat adalah musibah, padahal sangat mungkin itu anugerah terindah karena menyelamatkannya dari dunia yang makin tak menentu.

      Like

  11. Wah menyenangkan banget bisa berbagi dan menyalakan kebaikan untuk banyak hal. Semoga wabah ini segera berlalu dan banyak kebaikan lagi yang bisa kita tebarkan ya mas.

    Like

    1. Iya, Kak. Menjadi bagian dari senyuman orang lain sungguh nikmat rasanya. Semoga setelah pandemi berlalu, kita masih istikamah membantu sesama, Menebar kebaikan bikin hati kita semakin lapang.

      Like

  12. Menurut daku juga demikian, Sedekah itu sama dengan menabung, yang nantinya akan dituai saat tiba masa untuk panen. Makanya dengan menebar kebaikan yang salah satu dengan bersedekah akan mendatangkan hikmah yang tak diduga hasilnya

    Like

    1. Semacam investasi yang tak ternilai, Mbak Fenni, karena kita enggak tahu kenikmatan atau solusi yang pernah kita alami atau akan kita dapatkan jangan-jangan adalah berkat sedekah atau kebaikan yang pernah kita tebarkan. Hati senang, banyak pelajaran kita dapatkan.

      Like

  13. masyaallah… kisah dan ulasan yang sangat inspiratif. memang, hidup itu begitu bermakna jika mampu berbagi dengan orang banyak.

    Like

    1. Begitulah, Mbak. Tak ada alasan untuk menunda atau enggan berbagi karena kebaikan berbagi bukan hanya untuk orang yang kita tolong saja, tetapi hakikatnya buat kita sendiri–agar hidup kita berkah dan dimudahkan berbuat kebaikan lebih banyak lagi,

      Like

  14. Iya niiih….aku juga kadang berpikir gitu. Udah rajin sedekah kok masih sakit aja? Rajin sedekah tapi kok susah terus hidupnya? Pas baca tulisan Mas Rudi baru kepikir: sakit dan susah itu bisa jadi kadarnya udah diturunkan, jadi jauuuuh lebih ringan.

    Like

    1. Iya, Mbak Enno. Boleh jadi sesuatu yang kita anggap musibah ternyata cara Allah mengasihi lewat bentuk lain nikmat agar kita lebih sabar dan bersyukur. Semacam blessing in disguise, hehe. Walaupun tentu saja sebagai manusia kita pengin dapat kenikmatan sebagaimana yang diterima orang lain.

      Like

  15. Kadang terbatasnya kemampuan kita membuat kita tidak tahu apa hikmah di balik sebuah peristiwa. Yang bisa kita lakukan hanya berbaik sangka dan mengambil hikmah dari setiap hal yang menimpa kita. Sungguh tulisan yang inspiratif dan membuat semangat untuk berbagi semakin besar. .

    Like

    1. Betul banget, Mbak Sapti. Pengetahuan kita memang terbatas, jadi berbaik sangka terhadap ketentuan Tuhan tentu lebih menguntungkan karena sekaligus jadi doa yang baik. Semangat berbuat baik enggak boleh terhalang hanya karena kita sendiri serbakurang sebab boleh jadi itu perasaan akibat bisikan nafsu, ya tidak? Berbuat baik atau membantu orang adalah cara terbaik untuk mengajukan nasib baik kepada Tuhan. Insyaaallah….

      Like

  16. Merinding ih aku bacanya. Haru biru gitu. The power of sedekah ya Mas… Kita bantu orang lain, Allah bantu kita juga lewat orang lain.

    Like

  17. Kalimat yang kita minta tidak selalu baik untuk kita ini bener banget yah. Banyak berharap akan sesuatu dan memintanya tapi terkadang saat belum dikabulkan merasa sedih gitu padahal memang bisa jadi belum tentu baik untuk kita. Btw,program berdayakan umatnya bagus banget nih,ikut membeli juga produknya biar membantu ya.

    Like

    1. Tepat, Mbak Ririn! Apa yang menurut kita baik dan ngotot kita perjuangkan belum tentu baik seandainya benar-benar kita miliki. Walau berat enggak berhasil medapat sesuatu, tapi selalu ada hikmah tersembunyi yang ternyata berbuah manis buat kita dan keluarga. Begitulah, akhirnya sabar dan tawakkal jadi kuncinya–jangan menyerah berbuat baik tapi jangan patah arang kalau gagal mendapat. Dompet Dhuafa memang salah satu LAZ yang punya program lengkap, Mbak. Pengalamannya puluhan tahun dan pemberdayaannya terbukti menyentuh dan meringankan beban mamsyarakat.

      Like

  18. saung literasi ini benar benar mengajarkan banyak kebaikan dan mengajarkan sejak dini budaya membaca tentu sangat baik. aku juga setuju banget dengan Menebar Kebaikan, Memanen Keberkahan. Semakin banyak berbuat baik semakin menenangkan, kita ngga pernah tahu kebaikan balasan kembali dari mana

    Like

    1. Terima kasih atas dukungannya, Kak. Berbuat sesuai kemampuan selalu menyenangkan, apalagi melihat senyuman orang yang bebannya teringankan. Menebar kebaikan akan membuahkan kegembiraan dan keberkahan, insyaallah.

      Like

  19. Semoga sukses dan lancar selalu program berbagi nasi bungkusnya ya. Btw Dompet Dhuafa emang instansi amal yang sangat kredibel 😊

    Like

  20. ikhlas, itulah kunci dalam berbagi ya Mas.
    semoga kita semua dimudahkan dalam hal berbagi, bagaimana pun situasi yang kita hadapi.
    sukses terus ya Saung Literasinya.

    Like

    1. Yang paling berat memang ikhlas dan kontinuitas alias istiqamah. Untuk melatihnya ya dengan terus berbuat baik, berjejaring dengan komunitas agar semangat ga pudar dan bisa saling menguatkan.

      Like

  21. Ada beberapa temanku yang juga penggiat nasi bungkus seperti cerita ini. Alasan mereka sederhana. Berbagi. Berapapun yang kita punya, berbagilah kepada yang membutuhkan. Sesederhana itu, ngga perlu berfikir ruwet harus menunggu kaya atau harta berlebih untuk berbagi.

    Cerita-cerita di artikel ini nyentil banget, Mas!

    Like

    1. Iya, Mbak. Memberi tak harus menunggu kita berlimpah harta. Menebar kebaikan bisa berupa apa saja, di mana saja, sesederhana sebungkus nasi buat orang kelaparan. Saling menyemangati, Mbak Rachma!

      Like

  22. Wah mulia sekali ttg kisah orang sbg donatur yang rutin mengirimkan uang setiap pekan ternyata diuji dengan sakit keras bahkan hingga dirawat di ruang ICU. Ya Allah semulia itu saja masih berbuat baik ya Mas. Semoga kita selalu dimampukan utk menebar kebaikan. Oh ya sekarang menjadi mudah ya kalau mau sedekah dll begini.

    Like

    1. Iya, Miss. Walau didera penyakit, tak henti mereka ulurkan tangan buat orang yang kelaparan. Pelajaran penting buat kita semua kan, aku juga jadi malu, kudu niru sebisa mungkin.

      Like

  23. Paragraf terakhir menjadi pengingat saya, bahwa selalu ada cara—sesederhana apa pun—untuk menebarkan kebaikan sehingga kehidupan kita bergizi, menyala-nyala dengan energi yang menyulut lebih banyak kebaikan lainnya.
    Terima kasih sudah mengingatkan untuk selalu menebar kebaikan, Mas

    Like

    1. Semangatterus, Mbak Nurul! Berbagi memang membuat hidup tambah berenergi kok, sekecil apa pun, perlahan-lahan akan membentuk sikap dan kebiasaan. Menebar kebaikan selalu menyenangkan dan menteramkan.

      Like

  24. Kecerewetan yang sangat berfaedah kak, membaca ini perasaan saya ikut terhanyut. Selama ini kita eh saya hanya pakai sudut pandang sendiri, padahal kalau dibalik kondisi yang kita alami bisa jadi jauh lebih baik dari yang kita pikirkan. Thanks alot

    Like

  25. Membiasakan hal baik adalah hal yang berat di awal, setelah tahu banyak yang kita dapatkan karena hal itu segala hal yang baik tentu saja, kita akan semakin senang memberi. Takdir Allah siapa yang tau, yang jelas, kita selalu menilai segalanya dengan bentuk fisiknya saja, benar kata mbak. Semoga kita menjadi orang dermawan meskipun dalam keadaan yang sulit.

    Like

  26. Walaupun gak banyak, tapi kalo berbagi dengan Ikhlas apalagi tepat sasaran itu rasanya lebih nikmat di hati. Itu lah nikmatnya bersedekah ya kak. Semoga kita semua tetap terus dapat menebar kebaikan dimanapun kita berada

    Like

  27. Aku jika jadi orang kaya di saat pandemi ingin banget berbagi pada yg tepat dan yg membutuhkan.. asalkan untuk bisa menyalakan kehidupan dan menebar kebaikan saat bulan Ramadhan ini

    Like

    1. Tenang, Mas Rozi. Tak harus nunggu kaya kok biar bisa membantu orang lain. Bisa membagikan tenaga atau keterampilan yang dikuasai. Tapi saya doakan Mas bisa jadi orang kaya yang rajin berbagi dan menolong otang, ga lelah menebar kebaikan. Aamiin….

      Like

  28. Masha allah, kebaikan memang luar biasa bisa menular ya kak, apalagi sekarang sudah banyak platform yang memudahkan untuk donasi, jadi meskipun belum bisa donasi tenaga, bisa dengan materil 🙂

    Like

    1. Iya, betul banget. Kebaikan memang menular dan cepat menjalar. Kalau mau berbagi, bentuknya bisa bermacam-macam sesuai kemampuan dan kapasitas pribadi. Mau berdonasi di era teknologi juga makin gampang kan, bisa lewat aplikasi atau website. Cepat dan antiribet!

      Like

  29. Alhamdulillah dompet dhuafa portalnya makin bagus ya mas, donasi udah bisa pake transfer dan pembayaran online lainnya. Mudah-mudahan makin banyak orang tergerak untuk saling memberi

    Like

    1. Iya banget, Dompet Dhuafa memudahkan kita berdonasi. Menyumbang lewat media apa saja, gampang. Tinggal pilih sesuaikan dengan sektor yang mau didukung, praktis dan cepat. Yuk bantu sebarkan semangat berbagi!

      Like

  30. Pak Belalang panutanku. Aku baru tau klo dulu di Bogor buka kursus bahasa Inggris.
    Saluut ih, semoga Saung Literasinya juga semakin maju.
    Semoga kebaikannya terus jalan dan menular ke org2 lainnya yaaaa. ^^

    Like

    1. Ya Mel tapi enggak lama, sekitar 3 tahunan terus pindah rumah. Makasih ya, jadi kangen Bogor nih. Semoga wabahnya cepat berlalu biar bisa pelesiran ke Kota Hujan. Kangen soto mie dan uduk Bogor hehe….

      Like

  31. Masya Allah merinding membaca kalimat ini “Kamu tahu tidak bahwa kamu mestinya meninggal saat jatuh tadi. Namun Allah menurunkannya menjadi sekadar luka-luka sehingga kamu tetap hidup berkat sedekah.”

    Kita memang tak pernah tahu Allah membalas sedekah kita dengan cara apa, harus tetap berbaik sangka.

    Sukses terus untuk Saung Literasi dan Nasi Bungkus Community-nya kak

    Like

    1. Betul itu, Kak. Kalau diukur dalam materi saja, mungkin kita bakal mengeluh aja. Enggak tahu kita sebenarnya sudah dibalas dengan nikmat luar biasa tapi enggak kita sadari. Tetap husnuzan, benar sekali. Terima kasih ya dukungan dan doanya!

      Like

  32. Apa kabaar mas..lama ngga menjejak di sini. Semoga sehat selalu ya. Aku pun percaya bahwa Allah SWT telah mengatur segalanya dengan indah, termasuk berbagai kebaikan dan ketulusan hati kita. Rezeki, dalam berbagai bentuk, adalah salah satu misteri-Nya yang harus selalu kita syukuri.

    Like

    1. Hi, Mbak Indah! Lamaa taka berkabar, masih di Amerika atau dah balik ke Indonesia? Allah tahu apa yang benar-benar kita butuhkan, gitu kan Mbak?! Harus yakin kita dikasih yang terbaik walaupun seolah ga enak. Menerima dengan tulus ketentuan-Nya memang butuh belajar–salah satunya belajar bersyukur ya. Semoga sehat selalu ya Mbak….

      Like

    1. Betul, Mbak Niar. Imbalannya seringkali misterius, baik arah datang, bentuk, ataupun jumlahnya. Iya sudah masuk tahun ketiga Mbak menetap di Lamongan. Apa kabar Makasar?

      Like

  33. Ulasannya inspiratif sekali kak, masya Allah sangat menginspirasi. Berbagi kebaikan kepada yang membutuhkan, insya Allah nanti Allah yang akan cukupkan rezeki kita. Aaamiiin.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s