Jangan Asal Sebut Mastah: Mitos dan Fakta dalam Blogging

“Mas Rudi yang langganan juara lomba itu kan?” begitu kira-kira komentar beberapa teman bloger setelah berkenalan denganku pada perhelatan BloggerDay awal tahun 2019 di Bandung. Komentar lain yang berkaitan pun terluncur, “Gimana sih Mas biar bisa menang lomba terus?” tanya peserta lain yang akhirnya minta berfoto, haha.

Namun kalau boleh jujur, saya sebenarnya sedih mendengar ujaran teman-teman narablog yang kebanyakan baru kali pertama bertemu. Respons mereka memang positif, tapi tidak sepenuhnya saya harapkan.

Baca juga: Rindu Menggantung di Trans Studio Bandung: Yang Tersisa dari BloggerDay 2019

Saya tak berniat membangun personal branding sebagai jawara lomba, maka komentar semacam, “Mastah nih!” tidak terlalu memberikan kepuasan. Mungkin terkesan naif, tapi saya membayangkan komentar-komentar yang muncul lebih menyentuh konten atau materi yang pernah saya unggah di blog. Ya mirip percakapan para bloger jadul yang cenderung remeh tapi menyenangkan. Walau tak viral, konten-konten personal lebih menghidupkan suasana. Ngobrol tentang pengalaman sederhana, soal anak atau pekerjaan, tetangga julid, atau pilihan sulit masa lalu yang akhirnya berujung pada keputusan tepat sebenarnya jauh lebih menggairahkan.

Bang Aswi dan Teh Nchie, dua bloger Bandung yang turut berjasa dalam penyelenggaraan BloggerDay 2019

Dalam BloggerDay 2019 ada beberapa nama bloger jadul yang saya kenal: Bang Aswi, Nchie Hanie, Teh Erry si Bibi Titi Teliti, Eva Sri Rahayu, dan Noorma. Setidaknya itulah nama-nama yang kukenal sejak awal saya ngeblog sejak tahun 2011. Mengingat nama-nama itu, ditambah kecenderungan pentahbisan mastah yang sering terdengar di blogosphere Indonesia, saya jadi tergoda untuk menuliskan beberapa mitos atau fakta dalam blogging–tentu dari sudut pandang saya pribadi.

Apa saja mitos dan fakta yang saya maksud? Silakan tuntaskan sendiri. Semoga bermanfaat.

1 | Blog gratisan tak bisa dapat cuan

Tak jarang bloger pemula meragukan bahwa blog gratisan yaitu yang domainnya masih diikuti ekstensi .wordpress dan .blogspot dotcom tak bisa menghasilkan uang. Keyakinan ini muncul seiring dengan banyaknya brand atau agency yang mensyaratkan domain TLD (top level domain) untuk bisa melamar pada suatu proyek penulisan. Jika domain masih cuma-cuma, kesempatan memperoleh uang pun seolah menguap begitu saja.

Belum lagi syarat skor DA (Domain Authority) minimal yang memang ditentukan oleh adanya top level domain seperti .com, .net, .web.id, .id, dan .xyz. Makin ciutlah nyali para newbie untuk dapat meraup rezeki dari blognya. Padahal jika tahu caranya, maka pundi-pundi rupiah bisa dipanen dari blog gratisan.

Setidaknya ada dua cara yang bisa ditempuh, yakni dengan mengikuti lomba blog dan mendaftarkan blog pada AdSense. Tahun lalu saya beruntung membawa pulang voucher pendirian usaha dan jasa sewa virtual office senilai 11,5 juta rupiah dari kontes yang diselenggarakan oleh Arvahub, Jakarta.

Saya mengirimkan tulisan di blog yang waktu itu masih beralamat biografiseorangpelupa.blogspot.com yang kemudian saya migrasikan ke TLD menjadi hudu.xyz lantaran pengin lebih singkat dan kebetulan ada promo pembelian TLD .xyz yang memang sedang naik daun.

Lomba-lomba lain pun tak kalah semangat mengambil pemenang meskipun blog mereka masih gratisan. Dalam dua lomba bertema hutan yang saya ikuti tahun lalu dan tahun ini, para peserta yang terjaring sebagai finalis 30 besar ternyata banyak juga yang blognya gratisan. Kemungkinan terbuka luar mengingat kontenlah yang dinilai dalam sebuah lomba alih-alih alamat blognya. Jangan salah, seluruh finalis mendapat hadiah uang loh, jadi pemenang bisa mendapatkan keuntungan ganda yakni dari hadiah utama dan fee seleksi.

Adapun blog gratisan yang dimanfaatkan untuk mendulang dolar dari AdSense, saya pikir tak perlu lagi diragukan. Sudah ada banyak bloger yang berhasil menikmati keuntungan dari blog gratisan lewat akun AdSense. Silakan browsing dan temukan nama-nama mereka.

Kalau malas melakukan monetisasi atau lomba yang dihelat brand besar, coba ikut giveaway atau tantangan menulis yang masih diadakan oleh narablog lain seperti creameno.com yang ajek menawarkan challenge dengan banyak hadiah. Masih mau ngeles?

2 | Skor DA tinggi = jaminan fee

Apakah skor DA sebuah blog menjamin blogernya diganjar dengan fee besar atas kemitraan yang dijalin dengan brand atau agency? Faktanya tidak. Apalagi di masa pandemi, kadang employer menawarkan fee yang standar padahal menghendaki skor DA yang cukup tinggi. Singkat kata, sering terjadi ketika dua blog dengan skor DA terpaut jauh tapi ditawari fee yang sama atau setidaknya mirip.

Selalu ada faktor X (katakanlah itu memang rezeki) dalam sebuah prospek kemitraan bagi seorang bloger. Skor DA bukanlah parameter satu-satunya bagi brand atau agency untuk memburu bloger dan menaksir valuasi blognya. Belum lama ini saya mengerjakan tulisan di blog lain berskor DA 6 dengan imbalan fee yang sama dengan blog ini padahal Blog Belalang Cerewet ber-DA 25.

Jadi, adakah gunanya membusungkan dada lantaran skor DA blog kita tinggi dan sebaliknya tertunduk lesu akibat skor DA yang rendah? Semua kembali kepada kenikmatan menulis dan keikhlasan menjalani peran sebagai bloger. Betul?

3 | Theme premium jamin kemenangan

Rezeki dari blogging tak mungkin dilepaskan dari lomba blog yang selalu ada dan bahkan jumlahnya semakin bertambah dari bulan ke bulan. Bahkan sering dalam satu bulan tenggat (deadline) bisa berbarengan atau sambung menyambung.

Saya pribadi senang mengikuti lomba blog karena selain mengincar uang (sebagai salah satu sumber pendapatan), masih banyak manfaat ikut lomba blog yang kita bisa petik. Lazimnya dalam sebuah perlombaan, kita harus mengerahkan segala kemampuan agar bisa keluar sebagai salah satu pemenang. Bukan cuma mematuhi syarat teknis, tapi juga menelisik kemauan juri atau panitia yang bisa saja gampang-gampang susah.

Baca juga: Tips Menang Lomba Blog dengan Cara SIMPLE

Salah satu kiat menaklukkan hati juri adalah menampilkan blog yang rapi. Desain memikat bisa menarik juri salah satunya berkat kehadiran infografik ciamik dan layout blog yang atraktif. Biasanya bloger mengandalkan theme atau template versi premium yang memungkinkan layar berubah secara dinamis saat kursor digerakkan ke bawah. Divi dan elementor, inilah dua template yang kerap diandalkan untuk mendongkrak layout agar tampil brilian.

Namun adakah jaminan bahwa peserta lomba dengan blog ber-theme atau template premium akan menang? Sama sekali tidak. Lagi-lagi adagium lama perlu diingat: content is the king. Meskipun template premium dengan desain melayang-layang sangat memukau, penilaian juri tetap didasarkan pada keselarasan pada tema, kedalaman pembahasan, relevansi contoh, dan elaborasi dengan kondisi kekinian.

Saya menulis begini sebab pernah mendapati teman yang blognya ber-theme premium tapi belum menang, bahkan dikalahkan oleh peserta lain yang blognya statis. Jadi bersemangatlah, BBC Mania!

4 | Jawara lomba pasti berjaya

Bahwa ada bloger yang sering memenangi lomba blog, itu adalah fakta. Bisa jadi dia telah mengantongi formula jitu untuk menaklukkan hati juri sehingga memihnya sebagai jawara. Namun jawara lomba pasti menang, itu mitos belaka. Banyak contoh teman bloger yang sering atau langganan menang ternyata keok pada lomba lainnya.

Tidak sedikit loh frekuensi kekalahan mereka yang kita anggap ‘mastah’ dalam sekian lomba yang mungkin tak kita ketahui. Saya bayangkan lomba blog ibarat belantara liar yang butuh dikenali agar kita bisa membawa bekal yang memadai. Seorang juri boleh jadi suka gaya menulis bloger A tetapi juri lain sangat mungkin lebih menggandrungi gaya bercerita bloger B, C, dan juri lain lagi lebih terpesona pada tata grafis blog D, dan seterusnya.

So, adakah yang namanya ‘mastah’ sebagaimana yang sering kita dengar atau bahkan ucapkan sendiri?

5 | Personal branding yang salah

Personal branding-ku salah dong, Mbak!” ujar seorang peserta webinar saat kami belajar tentang personal branding. Bloger itu mempertanyakan langkah yang selama ini ia ambil yang ternyata tidak sama hasilnya dengan presentasi Mbak Vicky Laurentina yang malam itu didapuk sebagai narasumber.

Mbak Vicky lantas mengoreksi bahwa soal personal branding tidak mengenal salah dan benar. Yang ada adalah tepat dan kurang tepat karena setiap bloger memiliki target atau objective masing-masing. Apa yang ingin mereka capai dan ingin mereka kesankan sebagai citra diri pun berbeda sebab bergantung pada value yang ingin diangkat dirinya.

Saya jadi berpikir bahwa tidak semua bloger wajib punya personal branding. Kenapa? Sebab tujuan orang ngeblog sama banyaknya seperti jumlah bloger Indonesia. Ada yang sekadar mencari jeda dari pekerjaan. Ada yang ingin mencari pendapatan tambahan an sich tanpa ambisi membangun citra, ada yang ingin melakukan terapi melalui tulisan, ada yang …

Jadi sangat mungkin ada bloger yang personal branding-nya adalah ketiadaan personal branding. Jadi saking tak punya value tertentu, motivasi yang jelas, dan ambisi yang spesifik, maka sulit sekali mereka dicirikan untuk bisa memiliki atau tidak memiliki personal branding. Pada sesi webinar bersama Rumahweb yang menghadirkan Ndorokakung dan Ainun Chomsun, saya malah berkelakar di kolom chat bahwa jangan-jangan:

my personal branding is the absence of personal branding.

Namun beda soal untuk bloger profesional ya, yang saya bahas adalah bloger secara umum yang tidak semuanya ingin membentuk citra diri di jagat blogging. Kalau orientasinya profesional, ya tentu kudu ikut pakem dan formula dalam personal branding, dua di antaranya adalah value yang jelas dan konsisten (jujur) dalam mencitrakan diri sebagaimana disampaikan Mbak Vicky dan Ndorokakung – Ainun.

Bloger mastah, adakah itu?

Menutup tulisan ini, apakah ada sosok mastah atau bloger master? Menurut saya itu ungkapan yang berlebihan dan bisa saja tidak valid. Master apa dulu nih? Masa setiap bloger yang sering menang lomba bisa disebut mastah? Skill atau ilmu apa yang sudah mereka kuasai sehingga layak disebut master? Perlukan penyebutan itu? Apa implikasinya? Positif atau negatif?

Kalaupun harus disebut, sebaiknya lebih spesifik: “Wah, master lomba blog nih!” alih-alih cuma bilang, “Mastah nih!” Sebab ada yang jago menulis tapi tak suka ikut lomba, ada yang pintar SEO, piawai desain infografik, lihai menggali data, dan banyak skill lain yang bisa membuat mereka disebut mastah.

Jadi, jangan asal sebut mastah, boleh?

50 Comments

  1. Iya iya nggak sebut mastah tapi master wkwkwk tulisan pak Rudi soal personal branding bikin ketawa kok aku banget ya hahaha aku bingung soal personal branding karena menulis apa yang aku mau.

    Like

    1. Ya, tidak perlu repot bikin personal branding kalau gitu, Mbak Hani. Santai saja, seperti kata Pakde Cholik ngeblok sing enak tapi ga enake, hehe. Yang penting menikmati menulis dan tahu batas, sesekali dapat rezeki, sudah toh? Kecuali kalau Mbak pengin memperkuat personal branding sebagai seseorang dengan tujuan tertentu, nah harus tuh patuhi pakem yang ada. Sisanyam enjoy aja!

      Like

  2. Belalangcerewet blog berjuta manfaat dan motivasi. Bener ne mas blog gratisan juga bisa mendapatkan cuan? Haha
    Blog aku msh gratisan walau sdh approve adsense. Tapi,,,ya udahlah aku sadar content belum seberapa banyak. Aku msh fokus konsisten dulu nulis. Makasi sharenya mas

    Like

    1. Terima kasih, Mas Ismet. Seperti saya sebutkan dalam tulisan, blog gratisan bisa dimanfaatkan untuk mendulang keuntungan dengan cara mengikutkannya pada lomba menulis di blog atau monetizing menggunakan AdSense. Selamat mencoba! 🙂

      Like

  3. Setuju, jd sebaiknya kalopun mau memakai kata ‘mastah’, sebaiknya lebih spesifik ya mas, mastah dalam hal apa nih :D…

    Bbrp poin di atas, aku beberapa kali lihat blog dengan domain gratisan menang lomba, ato bahkan aktif dlm monetisasi blognya. Jd memang, mitos bgt yg bilang hanya blog berdomain berbayar yg bisa menghasilkan uang :). Buatku yaa, yg penting isi kontennya, cara penulisannya. Aku termasuk yg msh menganggab content is a king sih. Jd walopun msh gratisan, tp isinya bagus, aku percaya bakal banyak yg tertarik utk memakai blog tsb.

    Liked by 1 person

    1. Betul, Mbak Fanny. Kayak Mbak Fanny ini mastah pas nulis blogpost pelesiran dengan gaya yang membuai, hehe.
      Saya juga sepakat bahwa kontenlah yang utama. Tampilan visual pendukung saja, bukan segalanya. Seperti blog Mbak Eno kan, meski temanya keseharian dan sepele tapi banyak pembacanya?

      Like

  4. Kadang aku berpikir, kok masih ada ya, yang ajak kerjasama aku yang DA nya cuma 10😭 tapi balik lagi rezeki hehe. Untuk poin theme premium dkk aku setuju. Karena lomba2 yang kumenangi, kalo kuamati malah nggak ada infografisnya, dan tampilan blog yang melayang2. (Ya balik lagi ke kemauan penyelenggara juga sih). Aku seneng banget baca tulisan ini. Konten tetap yang utama. Dan Mastah dalam hal apa? Betul banget. Sebut spesifik. Nggak pakai branding diri juga gpp. Ya sebagai blogger itu sendiri brandingnya 🙂 makasih mas Belalang atas pandangannya mengenai blogging. Tulisan padat tapi sangat jelas dan mencerahkan. Cukup jleb juga pada poin tertentu.

    Liked by 1 person

    1. Itulah, Septi, kalau percaya rezeki insyaallah hidup ini tenang. Ya tentunya karena faktor konten kita yang menarik minat mereka untuk mau memberi pekerjaan. Septi sendiri sudah beberapa kali kan memenangi lomba bergengsi yang penilaiannya lebih menekankan pada kualitas tulisan ketimbang tampilan? Lomba blog Kemendikbud sama apa lagi ya, aku lupa? Tetap semangat belajar dan memperbarui konten blog!

      Like

  5. Duh, lega baca postingan mas yang ini. Saya nulis blog sudah lama, tapi ya gitu-gitu aja. Kadang ada blog yang nggak bisa kebuka lagi trus saya bikin aja blog baru. Sekarang ada blog baru lagi yang isinya baru dua postingan. Dan isi blog-blog saya biasanya macem-macem. Makanya tiap ketemu kata-kata personal branding, jadi bingung, sebenarnya branding aku apa yah. Orang yang mbulet? Hadeh. So, setelah baca postingan ini, setuju … untuk masa-masa sekarang branding is not so important to me. Yang penting itu konten. Gapapa nulis macem-macem asal bagus. Oke … makasih ya, Mas, atas sharingnya

    Like

    1. Haha, santai saja, Indah! Yang penting menikmati proses menulis. Kalau ingin serius menggeluti blog sebagai saran mendulang rupiah atau membangun prestise barulah personal branding dibutuhkan. Terima kasih sudah membaca ya. Semangat!

      Like

  6. Yang paling menggemaskan, ada orang yang sok koar koar dimana-mana soal SEO
    Giliran diminta insight saja masih bingung buka Google Analytic bahkan tidak tahu baca trafik
    La dia ngeSEO ngapain aja?
    Trus gitu bangga banyak yang dukung karena disangka jago

    Like

      1. Nek ngunu aku yo Mbaktah wkwkwkw
        Well apapun itu maksud saya tempatkan diri sesuai dengan kadarnya
        Kalau dianggap jago karena memang berada di sekitar yang tidak jago yaa wajar

        Saya hanya mangkel sama orang yang sok tahu tapi ditanya hal sederhan bingung luar biasa dan jawabannya jadi ngalor ngidul
        Sakno sing sinau benar benar pemula

        Like

  7. Blog gratisan kl blogspot yg dirawat bagus, SEO bagus, masih bisa mendatangkan uang lewat adsense ya.

    Sekarang, yg TLD pun tdk bisa berbuat banyak kl fee belum jg bisa dicairkan.

    Like

  8. Suka banget tulisannya, bang. Saya sepakat bahwa dalam dunia blogging, ada banyak aspek yang bisa di-mastah-kan orang-orang yang berbeda.

    Bahwa ada standar2 tertentu yang dibuat oleh agency seolah-olah membuat blog sempurna, itu yah begitu adanya. Tapi aslinya blogging itu gak sekecil soal cuan saja. Banyak blogger2 kece yang saya temukan memang pure menulis saja, dan konten mereka mastah banget.

    Like

    1. Nah, Rella sudah membuktikan dengan melihatnya sendiri kan? Yang penting, tetap semangat menulis dan menghasilkan karya–dengan atau tanpa apresiasi seperti hadiah lomba.

      Like

  9. Wiidihhh mantap mas artikelnya, berisi. Jadi intinya jadi blogger tuh kembali ke pribadi masing-masing ya mau dibawa kemana blog nya. Bebas, mau personal branding mau nggak juga gapapa, yang penting menulis dari hati, dan nggak terpaksa.

    Like

  10. Kalau saya lebih suka menggunakan kata blogger senior daripada mastah, kalau mastah itu pastinya lebih ahli di bidang tertentu dan spesifik, ngomong2 soal branding saya masih masih jauh banget deh ini bingung juga apa yang mau dibrandingkan, branding itu berat 🙈

    Like

  11. Saya awalnya sering membaca nama Belalang Cerewet di facebook. saya kira malah perempuan, makanya saya pernah salah menyapa hahaha.
    Dan Mas Rudi memang sudah keren di dunia blog. Kalau saya, saat ini masih jarang ikut lombba blog, Mas. Kayaknya belum ada 10 kali. Tapi membaca ulasan Mas Rudi, saya jadi semangat lagi. Karena memang, saat ikut lomba blog, kita mengeluarkan seluruh kemampuan, ya hehehe.

    Like

  12. Kalau gak disebut mastah mungkin disebutnya langganan juara, haha. Menurut daku wajar bila disebut mastah, karena pengalaman di dunia bloggernya yang lebih dulu, ketimbang daku. Istilahnya udah nyobain asam garam perblogeran hihi.
    Daku pertama kali dapat cuan blog ya karena pernah di posisi blog gratisan.

    Like

  13. Banyak juga blog gratisan yang bisa cuan. Nggak bisa dapat job dari klien, toh masih bisa dipasangi AdSense atau ikutan lomba blog.

    Skor DA tinggi juga nggak jaminan loh. Saya pernah satu campaign dengan blogger yang blognya punya DA sangat tinggi. Padahal seharusnya beliau mendapatkan fee yang jauh lebih besar, tapi faktanya jumlah fee tetap sama.

    Jadi intinya rezeki tetap menjadi rahasia Ilahi yang tidak akan pernah kita ketahui dan pastinya rezeki tidak akan pernah tertukar.

    Like

    1. Itulah, Kang. Terbukti sendiri kan bahwa skor DA yang tinggi ternyata enggak menjamin fee yang tinggi. Intinya ya asyik-asyik saja ngeblog mah, yang penting hepi dan menikmati sambil terus mengembangkan diri. Rezeki sudah ditakar, jadi tak akan tertukar, betul!

      Like

  14. Blog gratisan memang banyak yang dapat cuan. Adsense-nya gede-gede. Mereka gak mikirin DA, PA, Spam Score, dll. Yang penting nulis, banyak pengunjung, adsense ngalir deras.

    DA memang gak menjamin,.setuju banget, karena ada faktor lain-rezeki bagi orang itu.

    Btw, Mas Rudi ini memang mastah juara lomba blog. Sering banget menang. Keren.

    Like

  15. Kangen ngeblog zaman dulu ya…Kayaknya lebih santai…hehe…Tapi kan engga mungkin diputar balik jamnya. Yadwa ikuti aja zamannya, walaupun engga ngoyo…pluuus, belum punya personal branding juga sih…
    Malah setres mikir, branding-brandingan…hehe…
    Mas rudi memang udah pantes kok master lomba blog.
    Btw…tampilannya ganti ya? Lebih clean…

    Like

    1. Iya, Mbak Hani. Yang penting kita menikmati menulis dan memperbarui konten di blog. Selebihnya soal lomba dan personal branding, digarap sambil jalan saja.
      Alhamdulillah, habis ganti theme karena butuh penyegaran, hehe. Terima kasih buat kejelian Mbak. Selamat berpuasa!

      Like

  16. “tujuan orang ngeblog sama banyaknya seperti jumlah bloger Indonesia”

    Hahaha… Kalau begitu, asal jalan aja ya berarti kak. Atau dengan kata lain, gak usah mengerucutkan diri karena persaingan semakin ketat

    Like

  17. duhhh, harus banyak belajar nih saya. Sejujurnya saya belum pernah ikutan lomba blog. Someday harus ikutan nih. Yang pertama untuk memastikan bahwa mutu tulisan kita memang bagus dan sesuai, yang kedua supaua kualitas bisa semakin meningkat dengan cara melihat kualitas tulisan dari yang menang. Ok deh, semangat ikutan lomba blog juga ah!

    Like

  18. Bener juga ya, Mas. Saya sering lihat pemenang lomba blog itu blognya masih belum TLD. Bahkan banyak bloger keren yang masih pakai blogspot.com dan tetap bisa menghasilkan cuan. Tapi memang nama mas Rudi sudah identik dengan pemenang lomba blog nih.

    Like

  19. Sebenarnya gak ada sih mastah atau suhu cuman julukan panggilan aja sperti habib atau Hyung gitu karena agar merasa akrab aja saat berbicara gitu

    Like

  20. Salah satu temanku blognya tak tld. Dapat job? Sering. Dikirimin barang untuk review? Banyaaak. Rezeki emang masing-masing yaaa

    Like

  21. Topik yang menarik. Intinya sih banyak peluang di dunia blogger ya Mas. Dan benar nih nggak cuma blogger dengan TLD yang bisa dapat cuan. Yang masib gratisan juga bisa dapat penghasilan dari blog seperti yang sudah Mas singgung di atas. Bisa dari adsense atau dengan menjuarai lomba blog.

    Like

Leave a Reply to Bambang Irwanto Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s