Kalau Aku Kalah Lomba: 9 Langkah Muvon yang Mudah

Kalah lomba bikin kecewa? Tentu saja. Itu manusiawi, seperti yang saya rasakan awal tahun 2019. Betapa tidak sedih karena usaha maksimal dan pengorbanan penting seolah tak berkontribusi pada hasil yang diharapkan. Pertengahan Desember 2018 saya meluncur ke Cirebon untuk melakukan reportase di desa binaan Astra. Pulang pergi saya naik bus lewat sebuah aplikasi karena lebih murah dan waktunya lebih fleksibel dibanding naik kereta. Capek tentu saja berada di dalam bus padahal saya bermasalah dengan perjalanan darat yang berjam-jam.

Baca juga: Wisata Cirebon: Mi Koclok dan Masjid Merah Panjunan

Jauh-jauh ke Cirebon, wawancara narasumber dari pagi sampai siang, disambung sore, rupanya tidak mendongkrak tulisan jadi juara. Sedih tak bisa disembunyikan, rasa kecewa tak bisa dihindarkan. Kecewa pada kompetensi diri dan kecakapan yang medioker, yang merasa sudah menghasilkan tulisan terbaik tapi keok — bahkan tak sanggup merangsek ke juara harapan atau favorit. Separah itukah tulisanku? Gumam saya suatu hari, nggumun tak habis pikir dengan kemauan juri.

Video dan testimoni

Namun kasus saya tak sebanding dengan perjuangan Mas Amir, bloger Kebumen yang ulet banget. Lulusan STM yang beralih jadi full-time blogger setelah melalui sekian pekerjaan termasuk buruh bangunan. Entah berapa kali dia kalah lomba sampai akhirnya kemenangan demi kemenangan menyambanginya, mencapai puluhan seperti yang ia tulis di blognya. Semangat belajarnya tinggi dan mindset-nya berubah positif begitu serius menggeluti dunia content writing.

Bukan cuma belajar bikin infografik, tapi juga videografi. Foto dan video ia sisipkan dalam sebuah lomba yang dihelat penyedia hosting yang sama-sama kami ikuti awal bulan ini. Saya menduga ia akan menang karena tulisannya lengkap seperti biasa, dilengkapi dua video pula. Apalagi ceritanya sangat relevan dengan tema dan pandemi saat ini. Namun nasib baik rupanya belum berpihak pada dia.

Dia gagal keluar sebagai pemenang, sama seperti saya. Sama seperti saya yang gagal dalam lomba Astra dua tahun silam walau saya sudah merasa mengerahkan semua kemampuan. Foto, infografik, narasi, dan cerita saya atur sangat hati-hati. Pengerjaannya pun berlangsung cukup lama karena saya ingin tulisan itu optimal dan keluar sebagai jawara. “Saya kok merasa Mas Rudi akan dapet salah satu hadiah lomba ini,” begitu ujar Mas Eko bloger Pemalang yang juga sering menang lomba.

Baca juga: Dari Cirebon untuk Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan dan Kerukunan Berbasis Lingkungan

Namun testimoni positif itu, juga komentar-komentar menyenangkan di bawah blogpost tersebut, betapa pun sungguh melegakan hati nyatanya tak membuat saya jadi pemenang. Apa yang saya lakukan ketika didera kekalahan? Perlukah saya menghujat panitia atau menyerang juri dengan argumen unggul gara-gara saya tidak dimenangkan padahal tulisan itu saya garap dengan serius dalam waktu yang lama?

9 langkah mudah

1 | Sedih

Merasakan kesedihan, menyelami perasaan bahwa kita rapuh — tak apa asalkan tidak kebablasan. Sedih sewajarnya, tak perlu dimungkiri sebagai perasaan yang tak lazim. Ini proses alami, bagian dari mekanisme organik yang membentuk diri kita – tak ada guna dinafikan asal porsinya proporsional.  

2 | Jeda

Sangat penting untuk mengambil jeda dari medsos. Saya langsung memutus rantai akses pada media sosial beberapa hari setelah kekalahan. Kalah lomba tak jarang membutakan nurani dan mengunggulkan ego diri yang jika dituruti bisa saja memancing di air keruh. Yes, I may be tempted to feed my own ego. Kalau tak cermat, saya bisa saja lepas kendali dengan mengunggah kekecewaan karena kalah lalu mencaci maki juri dan bahkan meneror peserta yang menang. Stop sementara deh bermedsos pas emosi tidak stabil.

3 | Curhat

Langkah yang saya tempuh setelah kalah dalam lomba adalah berbincang dengan orang yang saya percaya. Dalam hal ini saya biasa curhat dengan istri. Apa saja unek-unek seputar lomba bisa saya tumpahkan. Mulai dari kualitas tulisan pemenang, butir syarat dan kriteria lomba, profil dan netralitas juri, dan apa pun yang berhubungan. Alih-alih mendapat afirmasi untuk mendukung dugaan kecurangan, misalnya, saya malah sering dikritik oleh Bunda Xi kenapa tulisan saya kalah, haha … Ibarat jatuh ketimpa tangga deh!

Kalau tak punya pasangan, atau jika pasangan cuek terhadap kekalahan kita dalam lomba, BBC-Mania bisa coba curhat dengan teman dekat atau orang yang dipercaya. Suatu hari seorang teman bloger mengontak saya lewat WhatsApp dan menanyakan bagaimana perasaan saya saat kalah lomba blog. Perih dan kecewa, tentu saja karena harapan tak jadi kenyataan. Dia bertanya begitu karena baru saja kalah dan cukup memengaruhi emosinya. Maka saya ceritakanlah langkah-langkah atasi kegalauan pas kalah lomba ala saya.

4 | Blogpost organik

Bagaimana pun prosesnya, sesi curhat selalu membuahkan ketetapan hati yang lebih baik. Resolusi lebih solid terlahir berkat obrol-obrol santai itu. Begitu hati sedikit lega dan kira-kira bisa move-on, coba buka file Ms Word untuk menyusun daftar blogpost organik. Banyak manfaat menulis blogpost organik loh; bukan cuma potensi datangnya pembaca lebih banyak karena lebih personal tetapi juga sebagai jeda jika blog terlalu banyak tulisan berbayar. Stop dulu ikut lomba dan fokus pada organic posts. Ketika dirundung kekalahan, seringkali pikiran belum jernih betul sehingga ikut lomba lain malah tidak optimal.

Baca juga: Beberapa Manfaat Menulis Blogpost Organik 

5 | Empati

Tumbuhkan empati sebelum kita membabi buta menyalahkan penitia atau menyerang pemenang saat kita kalah lomba. Tidak bisa dibohongi memang berat saat kalah lomba, termasuk blog competition. Alih-alih mengagungkan tulisan kita, coba berempati seandainya kita yang menang lalu peserta yang kalah mengiri dan menyerang kita. Bagaimana kira-kira perasaan kita jika di-julidin begitu?  

6 | Sadar diri

Bagian ini tidak saya suka, tapi sangat penting dalam proses menyembuhkan diri pascakekalahan lomba apa pun, terutama lomba blog. Menyadari bahwa kita punya banyak kekurangan dan keterbatasan, termasuk kompetensi dan sumber daya yang perlu diasah terus adalah wajib hukumnya. Daya analitis, kecermatan memilih angle, gaya narasi, elaborasi ide sangat mungkin jauh api dari panggang. Setidaknya tidak punya titik temu dengan perspektif juri sehingga belum jadi juara.

Saya pernah mengunggah status tentang kekalahan lomba blog di Facebook atau Twitter. Kira-kira bunyinya begini:

Yang berat dari kalah lomba bukanlah gagal mendapatkan hadiah, tetapi kesadaran diri bahwa diri ini masih bodoh dan harus banyak belajar.

Saya rasakan betul bahwa menyadari kebodohan itu kenyataan yang pedih tapi tak terelakkan. Sadar diri ketika kalah itu penting agar kita tak tinggi hati, bahwa masih banyak kontestan yang mumpuni di luar sana, dan bahwa kita butuh lebih banyak menggali potensi dengan menambah ilmu.

Ada langit di atas langit mungkin ungkapan klise tapi spiritnya 100% valid: tak ada alasan buat kita untuk bersikap songong atau mengunggulkan diri sendiri dengan harus menang lomba terus-menerus hanya karena kita langganan menang dan merasa sudah all-out mengerjakannya. “No, no, no!” kata King Julien dalam film Madagascar. Maka kalah lomba aitu wajar dan biasa saja. Bukan hal memalukan.

7 | Belum rezeki

Sudah merasa optimal menulis, dengan angle cerdik, narasi memikat dan elaborasi ide yang ciamik, tapi kok tetap kalah? Ya, anggap saja belum rezeki. Pikirkanlah bahwa rezeki memang silih berganti; hari ini hadiah menyambangi orang lain sebab bulan lalu kita sudah mendapatkannya. “Belum rezeki,” adalah mantra ajaib yang bisa menyembuhkan luka ketika kita gagal mendapat apa yang kita inginkan.

Saya teringat seorang Twitter personality yang belum lama ini bikin status:

“Kalau kita gagal memanfaatkan kesempatan, anggaplah Tuhan tengah mengarahkan kita menuju peluang yang lebih sempurna.”

Lebih baik behusnuzan bahwa para pemenang itu memang sedang butuh guyuran hadiah. Kita tidak? Ya butuh juga, tapi bisa saja dari arah lain yang tidak kita sangka, setuju?

8 | Pelajari pemenang

Kalau ada kuota data dan tidak malas, saya usahakan membaca karya tulis pemenang dalam lomba yang saya ikuti, atau lomba lain yang saya minati tapi saya tak ikut berpartisipasi. Dalam banyak kasus, saya memekik dalam hati karena merasa bahwa karya saya sebenarnya 11-12 dengan para jawara tapi kenapa tak keluar sebagai pemenang juga? Itu kenyataan pahit, tapi sebenarnya bukan isu besar. Ya balik lagi, belum rezeki. Titik.

Baca juga: Tips Menang Lomba Blog dengan Cara SIMPLE

9 | Istigfar

Yang tak kalah penting adalah meminta ampun kepada Allah. Istigfar sebanyak-banyaknya, biar diri ini enggak melampaui batas. Tidak merasa serbabisa, serbamampu, serbasegalanya. Kata Pak Ustaz, menyitir hadis Nabi, istigfar sebanyak-banyaknya bisa mendatangkan tiga manfaat: ketenangan hati, rezeki tak disangka-sangka, jalan keluar yang kita butuhkan. Serius deh, coba aja!

Istigfar dalam konteks kalah lomba sangat relevan untuk membersihkan kecongkakan hati, untuk menetralkan egoisme virtual yang diam-diam menggerogoti diri. Percayalah ia sangat berbahaya jika tidak dikendalikan. Di sebuah hadis lain Rasul mengingatkan bahwa dosa-dosa bisa menghalangi datangnya rezeki.

Jangan-jangan gara-gara dosa

Nah, bisa tidak kita simpulkan bahwa kekalahan kita mendapat rezeki berupa hadiah lomba adalah akibat dosa/kesalahan kita yang tidak kita sadari? Mungkin loh ya, barangkali. Termasuk akumulasi dosa lantaran merasa kita harus menang terus-menerus dengan mengerdilkan peserta lain atau penilaian juri?

Namun satu hal yang saya yakini: kesalahan dan dosa saya sangat banyak, sebanyak keinginan untuk meraup hadiah dari lomba apa pun, untuk memetik panen rezeki dari arah mana pun asalkan halal. Namun kita tidak bisa selalu mendapat apa yang kita inginkan, Sob! Dan itu biasa saja, untuk memberi kita pelajaran.

Move-on di Hari Bloger Nasional

Jadi apa inti blogpost yang sengaja saya unggah pada Hari Bloger Nasional ini? Entahlah, yang jelas belum lama ini saya juga kalah lomba kok, hehe. Dua lomba sekaligus. Sudah bisa move-on karena dua entri yang saya ikutkan di blog ini dan di blog lainnya—setelah saya renungkan—memang belum spesifik menyasar tema yang dikehendaki meskipun sudah digarap dengan mumpuni.

Menutup tulisan di hari penting ini, saya ingin mengingatkan diri sendiri dengan salah satu cuitan Bunda Sidqi, sobat bloger asal Surabaya. Saya memandangnya dari dua kacamata. Pertama, secara spiritual: kalau pengin apa pun–coba lebih dekati, akrabi Tuhan, tuntaskan perintah-Nya dengan ikhlas dan dengan penuh kenikmatan.

Kedua, hukum kausalitas: kalau mau berhasil ya harus total berkarya. Kerahkan kemampuan, gali potensi; exert yourself, best result will follow. Sempurnakan ikhtiar dengan doa dan tawakal. Nah, best result itu bukan berarti harus berupa kemenangan loh. Kita tak tahu kejutan apa yang menanti dari tulisan yang kita ikutkan lomba.

Apa yang BBC-Mania lakukan saat kalah lomba? Samakah dengan saya? Bagi dong saran dan komentar kalian.

23 Comments

    1. Setiap ikut lomba, saya tidak berharap 100 % tapi 50 %.
      Fifty fifty menang dan kalah
      Tapi tetap lebih baik dibanding ngga ikut.
      Kalo ga ikut persentase menang 0 .% kalah 100 %

      Like

  1. Kalau saya biasanya kalau mengikuti lomba itu, saya cari yang tema blog nya paling gampang dan gak terlalu berat syarat & kententuannya.

    Saya juga udah 2x ikut lomba blog tapi kalah terus, reaksi saya sih b aja alias tidak masalah karena ini pertama kalinya saya terjun ke dunia lomba blog. Namanya juga ikut-ikutan blog.
    Menurut saya, lomba blog itu bukan hanya untuk mencari hadiah atau uang, tetapi sebagai uji kemampuan pengetahuan dan juga tingkat menulis nya.

    Selamat Hari Blogger ya kak, semoga bloggernya semakin maju dan terus berkembang.

    Like

    1. Sama, Kak. Aku juga cari temanya yang menarik dan mudah digarap agar kita maksimal bikin tulisan. Betul banget, Kak. Lomba bukan semata cari hadiah, tapi saran mengasah keterampilan menulis dan menguji ketahanan. Selamat Hari Bloger Nasional, semoga konsisten menulis dan semangat ngeblog! 😀

      Liked by 1 person

      1. kadang kalau mau ikut lomba gitu cari sesuai tema yang ngerti aja alias sesuai kemampuan pengetahuan kita masing-masing, misalnya suka nulis tentang ekonomi keuangan, berarti pingin nyari lomba blog tentang ekonomi

        Like

      2. Walopun saya belum pernah ikut lomba blog, tips move on kalah blog ini mantul banget nih mas Rudi. Dan saya setuju sekali dengan poin di atas kalo istighfar bisa mendatangkan 3 manfaat yaitu ketenangan hati, rezeki yg tak disangka dan jalan keluar dari arah yg tidak terduga.

        Like

  2. Ha ha ha. Saya baru ngalamin 2x kalah ngelomba dalam waktu berdekatan. Sama lah, gak suka juga ‘sadar diri’ tapi ya memang harus sadar diri. Tulisan belum sempurna di mata juri. Apa boleh buat. Move on jadi sesuatu yang perlu waktu jeda. Sering malas ikut lomba ya belum pernah menang sih 😅

    Like

    1. Betul, Kak. Belajar terus untuk menambah ilmu dan jam terbang. Soal menang, itu bonus. Kalau aku memang jadi salah satu sumber penghasilan sih, hehe, jadi kudu semangat terus ngelomba.

      Like

  3. Aku belum pernah ikut lomba blog kak. Soalnya ada rasa takut memulai ikutan wkwkkww

    Tipsnya menarik nih. Nggak boleh baper yaaa, harus banyak mencoba dan pantang menyerah. KArena rejeki sudah diatur Allah swt.
    Hehe

    Like

    1. AAku sering karena lumayan buat dapur bisa ngebul, hehe. Memang yang sulit tuh ga baper pas kalah, aku kadang ngerasa ga legowo pas kalah. Rezeki sudah diatur, itulah mestinya jadi patokan biar hati adem.

      Like

  4. Tentang kalah lomba ini, aku belum mengalami … Ya karena memang baru sekali ikut dan kebetulan menang. Tapi aku mengamati ke teman-teman yang getol ikut lomba dan melihat bahwa ikut lomba itu nothing to lose. Kalau ngga menang ya tulisan diubah dikit dan udah jadi postingan organik.

    Like

  5. Persiapan untuk mengikuti lomba blog ternyata penuh perjuangan ya. Selama ini iku lomba blog hanya sekedar pengembira. Jadi, sadar diri kalau tidak menang😊

    Like

  6. Dulu banget aku termasuk yang maniak lomba. Banyak banget diikuti meski hadiahnya kecil. Hari ini lihat-lihat dulu, antara hadiah dan usaha kira-kira sebanding gak. Soalnya inginnya sempurna meski kalau ga dapat nyeseknya nyesek banget

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s