7 Kiat Hidup Sehat Tanpa Obat

“Ini gara-gara keberatan nama,” sergah ibu sambil sesekali mengusap Bumi yang tergolek lemah di atas kasur rumah sakit. Kepercayaan tradisi Jawa memang masih melekat kuat pada ibu terkait nama yang panjang semacam ini. Jarum infus masih tertancap di pergelangan tangannya. Matanya terlelap setelah seharian mengaduh kesakitan. Si bungsu ini kami panggil Bumi -dari namanya Xi Xaidar Birru Banyubumi- dengan maksud agar ia baik dan tulus seperti bumi yang menumbuhkan apa saja sesuai yang ditanam. Tentulah kami tak hendak membantah ucapan ibu pada kondisi demikian meski isu pergantian nama sering mengemuka pada si bungsu.

Infeksi Menyakitkan

Pertengahan tahun 2016, sewaktu kami masih tinggal di Bogor, ia mendadak sakit dan harus dirawat di ruang HCU. Sel darah merahnya menyusut drastis tanpa ketahuan penyebabnya sehingga infusi darah tak terelakkan. Masker oksigen dipasang, mesin ECG diaktifkan untuk merekam detak jantungnya, dan entah berapa kali perawat mengambil sampel darahnya yang mendadak membeku sebelum memenuhi tabung injeksi. Walhasil, proses penyedotan darah sampel berlangsung penuh drama menyakitkan, baik bagi Bumi maupun kami yang menyaksikannya. Tangis dan jeritan berkali-kali kami tahankan. Syukurlah 4 hari kemudian ia diperbolehkan pulang. Dokter mengabarkan bahwa itu akibat infeksi virus atau bakteri, namun tak tahu jenisnya apa.

natsbee pagar

Awal tahun 2017 ketika kami telah pindah ke Lamongan agar lebih dekat ibu, kejadian perih itu berulang. Bumi mendadak demam tinggi dan lagi-lagi harus dirawat intensif. Dokter pun gagal menemukan penyebabnya selain menyimpulkan adanya infeksi bakteri/virus sebagaimana saat di Bogor. Kami berasumsi faktor utamanya adalah lantaran peralihan cuaca yang ekstrem dari Bogor yang sejuk ke Lamongan yang panas. Ditambah lagi Bumi punya kebiasaan buruk memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya, seperti pensil atau pulpen saat menggambar dan mungkin objek lain yang mungkin tak kami ketahui.

Sama seperti Bumi, saya memiliki tenggorokan yang rentan. Batuk atau radang kerap menyambangi sampai menyiksa sekali. Untunglah di pasar tradisional terdekat ada lapak yang menjual buah lemon segar. Bila tenggorokan mulai serak dan terindikasi akan batuk, lemon kami iris dan seduh dengan madu. Ditambah asupan air hangat secara teratur, Minuman Madu Lemon terbukti ampuh setelah beberapa hari biasanya tenggorokan pulih kembali. Meriang juga berkurang.

Kalau radang menyerang

Apalagi saya yang setiap hari bekerja di depan laptop sebagai pekerja freelance. Mulai dari menulis, ngeblog, mengedit naskah, hingga mendesain isi buku saya kerjakan sambil duduk berjam-jam di depan laptop. Kebiasaan buruk ini turut menyumbang melemahnya daya tahan tubuh. Jika deadline mendekat, tak jarang saya mesti begadang, esoknya badan mulai meriang dan tenggorokan diserang radang. Saya paling takut radang sebab berimbas pada batuk kronis yang sangat mengganggu. Tak bisa bekerja, gak bisa ngapa-ngapain deh! Berobat ke dokter memang ampuh sebab biasanya diresepkan antibiotik (AB). Namun penggunaan AB terlalu sering tak baik bagi kesehatan kita, bukan? Bakteri jahat jadi kebal dan butuh dosis lebih tinggi untuk menaklukkannya, sedangkan bakteri baik berpotensi ikut terbunuh. Gawat kan?

7 kiat bernama Natsbee

Sejak itulah kami berdamai dengan kondisi. Biarlah cuaca panas dan hujan silih berganti, tapi kami tetap enjoy. Sebab kini kami sudah punya kiat untuk hidup sehat tanpa obat yang saya sebut sebagai formula N-A-T-S-B-E-E. Apa maksudnya? Natsbee adalah tujuh huruf yang mewakili kiat-kiat menjaga kesehatan tanpa mengandalkan obat-obatan melulu. Simak penjelasan berikut, gaes.

n 

Saya bersyukur kami sekeluarga, termasuk anak-anak, tidak memiliki kesulitan dalam menikmati segala jenis makanan. Sayur, daging, buah, hingga jamu tak sulit kami nikmati. Anak-anak suka apa saja, bahkan meminum ramuan herbal yang biasanya dijauhi anak-anak. Saya malah takjub dengan selera makan mereka yang luar biasa. Kami sudah memeriksakan kondisi ini pada ahli kesehatan, termasuk dokter tumbuh kembang anak dan kami dinyatakan bebas dari cacingan! Meski tak ada kesulitan soal selera makan, tapi nutrisi yang lengkap dan seimbang selalu jadi pertimbangan utama.

Kami sungguh beruntung, di tempat baru sekarang pasar tradisional tidak jauh dari rumah. Beras dan segala jenis sayuran mengandung karbohidrat jelas sangat gampang diperoleh karena wilayah kami memang sentra penghasil beras. Sayuran dan buah segar juga selalu tersedia. Ikan, daging, telur, dan beragam produk olahannya pun siap diboyong dengan mudah. Kesegaran bahan-bahan pangan ini mendukung gaya hidup sehat yang kini tengah giat kami lakukan.

Nutrisi berupa karbohidrat, vitamin, dan mineral yang tercukupi memang sangat mendukung kesiapan dalam beraktivitas. Kondisi nutrisi yang kurang atau tidak seimbang, apalagi jika terjadi pada anak-anak bisa mengakibatkan pertumbuhan tubuh yang lambat (stunting), obesitas, kurangnya kecerdasan, hingga mudah terserang penyakit.

Salah satu hal yang harus kami tingkatkan mungkin pengetahuan mengenai cara pengolahan makanan yang lebih sehat dan kreatif. Pencarian banyak ide tentang resep-resep masakan sehat dan penyajian yang kreatif ini akan terus menjadi upaya kami ke depan. Ini harus dilakukan agar kami tidak merasa bosan. Maklum, tempat wisata kuliner di tempat kami tidak sebanyak di kota-kota besar. Sisi baiknya, makanan sehat siap sedia, hemat di kantong pula!

 a

Siapa pun dan di mana pun, baik yang tinggal di perkotaan maupun di pedesaan seperti kami tentu tidak terlepas dari stress. Mempertahankan kondisi hormon kortisol yang dihasilkan dari kelenjar adrenal pada level yang stabil justru bisa menjadi pendorong untuk bekerja dengan penuh semangat. Namun apa jadinya jika level hormon pemicu stres itu sudah melewati ambang batas? Yup, tentu akan menimbulkan dampak negatif dan menjadi penyakit.

Oleh karena itu, kita mesti pandai-pandai mengelolanya. Mematuhi ritme bekerja dengan jadwal yang teratur (ini yang tersulit), mencintai profesi dan aktivitas yang kami lakukan, serta memiliki waktu khusus untuk rekreasi sebagai upaya refreshing menjadi hal yang terus-menerus kami lakukan. Tak lupa juga untuk senantiasa mendekatkan diri dan beribadah pada Tuhan. Berbekal hati yang tenang dan damai, kita bakal jadi pribadi yang sehat jiwa dan raga. Setuju?

 t

Sejak masih tinggal di Bogor hingga kini menetap di kota soto dan pecel lele, kami memang suka berolah raga. Tentu ada perubahan seiring dengan adaptasi terhadap lingkungan dan cuaca. Jika dulu kami suka jogging, renang, dan main bulu tangkis, kini olah raga yang kami lakukan beralih komposisinya antara jogging, renang, dan bersepeda. Cuaca yang cenderung sering terik membuat bulu tangkis kurang dinikmati, apalagi oleh istri. Bersepeda di pagi hari terasa lebih mengasyikkan karena bisa sekalian mendatangi spot-spot wisata kuliner tradisional yang khas.

asik

Selain olah raga yang disengaja, kami aktif beraktivitas seperti berkebun, mengunjungi perpustakaan daerah, kerja bakti di lingkungan perumahan, dan terutama saya mengajar bahasa Inggris di Saung Literasi yang memungkinkan otot untuk terus bergerak. Selain terhindar hipokinesia (yaitu gejala kurang gerak) yang berbahaya, saya sekalian bisa silaturahim sekaligus melestarikan lingkungan. Anda enggak percaya? Silakan coba!

 s.png

Bunda—yaitu istri saya—yang lahir dan besar di Jakarta sering menuturkan kesulitan yang dia hadapi ketika berbelanja di pasar lantaran bahasa yang digunakan oleh komunitas di pasar itu. Meski paham secara pasif, kerumitan biasanya muncul akibat perbedaan kosa kata yang berbeda dengan bahasa Indonesia, terutama pada level ngoko dan kromo. Namun satu hal yang biasanya mencairkan ketidakpahaman satu sama lain, yaitu senyuman. Tiap kali muncul kesalahan yang tidak disengaja, senyum dan ungkapan maaf membuat para penjual bersikap simpatik kepada istri yang masih dalam proses belajar bahasa Jawa.

Dari berbagai penelitian, kebiasaan tersenyum memang sudah terbukti membuat kita sehat dan awet muda. Hormon endorfin yang membuat bahagia dan otot-otot bibir yang menggerakkan senyuman itu juga semakin menambah kesejukan di wajah. Sobat BBC Mania tentu sepakat bahwa senyum adalah bahasa universal yang positif di mana saja.

 b

Detoksifikasi kini banyak dilakukan orang seiring meningkatnya kesadaran bahwa lingkungan dan bahan makanan di sekitar kita sudah banyak yang terpapar racun atau polutan. Penggunaan pupuk kimia dalam tanaman, tercemarnya ikan-ikan di danau, sungai, atau lautan oleh mercuri, hingga polusi asap kendaraan, cerobong pabrik, atau kebakaran hutan disinyalir menurunkan tingkat kesehatan di sebagian besar masyarakat.

Banyak cara untuk melenyapkan racun-racun dalam tubuh, misalnya dengan banyak mengonsumsi air putih, minum jus buah atau sayuran (serat), ramuan alami herbal, hingga membuat infused water. Sebagai manusia modern yang setiap hari sibuk, saya mau tak mau ikut melakukan detoks. Sesekali saya membuat larutan lemon segar yang biasa kami dapat di pasar dan mencampurnya dengan madu. Lemon yang banyak mengandung vitamin C dan madu dengan segudang manfaat terbukti selama berabad-abad berkhasiat dalam menjaga kesehatan. Selain sangat segar, kombinasi keduanya dapat meningkatkan daya tahan atau imunitas tubuh untuk menghadang berbagai penyakit.

Bukan hanya kaya Vitamin C, lemon juga mengandung vitamin esensial seperti B-kompleks, serat, kalsium, zat besi, magnesium, dan berfungsi sebagai antibiotik alami. Wah, saya banget nih–jadi enggak perlu ke dokter kalau radang kan! Dengan kalori yang rendah, bisa dibayangkan betapa hebat efek lemon jika digabung dengan madu. Dikenal memiliki antioksidan, madu mampu menekan alergi, mempertajam memori, meredakan batuk, mengatasi susah tidur, hingga mengobati luka-luka tertentu. Bahkan sejumlah kajian menyebutkan bahwa konsumsi madu sebagai pengganti sukrosa dapat mencegah bertambahnya berat badan sekaligus dapat mengaktifkan hormon-hormon yang menekan selera makan. Layak dicoba kan?

Maka lemon dan madu kini jadi solusi wajib bagi kami sekeluarga. Saya bisa mengandalkan lemon dan madu untuk mengusir radang tenggorokan dan rasa lelah akibat aktivitas dan pekerjaan yang padat. Sedangkan Bumi bisa terbebas dari infeksi berulang karena madu dan lemon dapat mendongkrak daya tahan tubuhnya. Berkat ramuan ajaib ini, Rumi kakaknya bisa tetap bugar sehingga aman berlatih Taekwondo setiap pekan. Adapun Bunda bisa terus aktif menulis dan mengerjakan beragam tugas rumah tangga dengan asupan minuman berkhasiat tinggi.

Sayangnya, ada saja perasaan malas untuk meracik ramuan ini. Untunglah, solusi praktis kini tersedia tanpa mengurangi manfaat lemon dan madu segar yang dikemas dalam produk bernama NATSBEE Honey Lemon. Yang paling saya suka, paduan lemon dan madu dalam Natsbee terasa alami, rasanya otentik, berbeda dari merek lain yang sering berasa obat atau zat kimia. Praktis dibawa ke mana pun buat nemenin anak-anak ke perpustakaan, pas latihan Taekwondo, belajar mengajar di Saung Literasi, hingga piknik keluarga agar semakin bersemangat.

natsbee botol splash2

Bekal makanan buatan Bunda yang dilengkapi dengan Natsbee terbukti bisa menambah semangat kami menjalani berbagai aktivitas tersebut. Anak-anak pun bisa menikmati Natsbee dengan penuh antusias tanpa rasa takut akan kandungan gula yang berlebih. Komposisi atau kandungan Angka Kecukupan Gizi bahkan jelas tertera di bagian tengah dan bawah kemasan sehingga kami bisa memberi ukuran yang tepat dan aman pada mereka. Sensasi rasa segar dari Natsbee, apalagi jika dalam kondisi dingin begitu menyejukkan di hari-hari yang sering kali panas dan cuaca gerah. Kalau kami yakin dengan detoks ala Natsbee, kalian juga bisa kok konsumsi Natsbee untuk Bersihkan Hari Aktifmu!

Intinya, hidup kita bakal makin #AsikTanpaToxic berkat Natsbee Honey Lemon. Tapi ingat, toksin atau zat racun bukan hanya disebabkan oleh makanan atau organisme asing loh. Di sekitar kita kadang ada juga orang-orang toxic yang bikin hidup kita runyam dan tertekan akibat kehadiran atau komentar mereka yang kontraproduktif. So, agar tetap waras dan kreatif, selektiflah dalam memilih lingkaran pergaulan yang menunjang keberhasilan kita.

 e.png

Satu-satunya hal yang sangat ‘nyebelin’ buat kami sekeluarga, terutama istri yang alergi terhadap asap dan debu, adalah kebiasaan sebagian besar masyarakat di kampung kami yang gemar merokok. Dalam setiap acara apa pun, seperti resepsi pernikahan, syukuran, pindahan, hingga kumpul-kumpul di warung kopi tidak pernah terlupa pada sajian rokok di meja-meja. Tentu saja kami tidak bisa berbuat banyak selain berupaya menghindar. Melawan mayoritas? Tentu bukan langkah yang mudah, hehe.

Padahal sudah begitu banyak kampanye untuk menyadarkan bahwa kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, hingga narkoba tidak saja menimbulkan berbagai penyakit bagi tubuh pengonsumsinya, tetapi juga berakibat negatif bagi orang-orang yang pasif berada di sekitarnya. Nah, kiat keenam agar hidup sehat tanpa obat adalah menghindari gaya hidup tidak sehat. Hindari rokok dan makan berlebihan. Kurangi mengudap camilan selama nonton TV dan jangan langsung mengonsumsi buah setelah makan nasi sebab akan berpotensi menimbulkan racun.

 natsbee2 copy

Setiap kebaikan yang kita bagikan pada hakikatnya akan kembali kepada kita. Ada sensasi kebahagiaan yang luar biasa unik dan tidak bisa digambarkan setelah kita berbuat kebaikan atau memberi manfaat bagi orang lain. Keyakinan itulah yang memotivasi kami melakukan hal-hal yang sifatnya berderma (charity). Sejak di Bogor, saya dan istri belajar untuk membangun empati dan berbagi meski kondisi kadang tidak selalu berlebih. Setiap Jumat, misalnya, kami ikut serta dalam kegiatan Berbagi Nasi (Bernas) yakni membagikan nasi pada pemulung dan orang-orang yang terlunta di jalan.

fun with natsbee

More fun with Natsbee Honey Lemon!

Kegiatan serupa masih kami kerjakan meskipun secara mandiri di tempat baru. Berbagi adalah salah satu pintu dan kebahagiaan akan menjadi bunga-bunga yang menyambut kita ketika memasuki pintu itu. Selesai kegiatan berbagi, Natsbee menyegarkan kami kembali. Dengan kesadaran itu pula kami meneruskan Bright English Institute (BEI) yang sudah kami rintis sewaktu di Bogor selama 3 tahun. Kini BEI bernaung di bawah Saung Literasi yang kami cita-citakan menjadi embrio tempat belajar menyenangkan bagi anak-anak kurang mampu dan terus berlanjut secara cuma-cuma.

Saya yang didera infeksi saluran kemih selama belasan tahun dan kerap lemah mendadak sehat bugar tatkala mengajar di Saung Literasi. Saya bayangkan seluruh saraf dan jaringan dalam tubuh tunduk dalam syukur ketika melihat senyum bahagia anak-anak yang matanya menyala karena asa masa depan. Saya dan istri yakin mereka bisa berkembang dan sukses, sebagaimana kami yakin ketujuh formula N-A-T-S-B-E-E yang saya tulis ini cukup mudah dan bisa dilakukan siapa saja untuk bisa sehat jiwa dan raga.

Saya sudah menyusun kiat agar sehat tanpa obat. Formula 7 langkah yang mudahSiapkah BBC Mania hidup #AsikTanpaToxic? Start with Natsbee!

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “7 Kiat Hidup Sehat Tanpa Obat

  1. Formula N-A-T-S-B-E-E nya keren euyyy… Hebat Kang Rudi ga ngerokok ya. Klo suamiku masih tp klo di dlm rumah atau depan anak2 ga sih apalagi klo lg di rmh mertua bs betah tanpa rokok hehe…

    Like

  2. Sangat bermanfaat tipsnya bang. Saya juga pengennya sih gak kertegantungan sama obat, mau alami aja. Yang penting hidup diisi dengan hal-hal positif ya, jadi dapat meminimalisir toxic di tubuh.

    Ternyata di mana-mana ya, kalo ada acara besar, asap rokok selalu ngebul, itu berbungkus-bungkus rokok tergeletak di meja, buat tamu atau anak-anak muda yang nongkrong, hmmmm… Ini penyebab toxic paling bahaya, hehehe

    Good luck buat lombanya bang…..

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s